CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 44


__ADS_3

baru saja tertidur tiba-tiba mertua Tania datang Tania harus terbangun kembali dari tidurnya dan menyambut kedatangan ibunya itu bersama dengan Tasya ''di mana Leon nak?" tanya Kirana sembari meletakkan tasnya di atas meja makan ''ada di ruang kerjanya mah bersama dengan temannya'' ketika Kirana menghampiri putranya Tasya mendekati Tania yang terlihat begitu lelah.


''kamu kenapa besok sudah ulangan bukannya belajar malah lesu-lusuh seperti ini'' Tania tertawa sedikit ya walaupun tidak ingin tertawa setidaknya Iya menghibur adik iparnya ini ''Aku sedang sedikit lelah jadi tadi ingin istirahat eh ada mama mertua dan kamu'' raut wajah Tasya tiba-tiba sedih saat melihat Tania yang berusaha bersikap tegar di hadapannya.


di dalam perjalanan tadi ibunya sudah membahas mengenai jika Tania melahirkan nanti apa yang akan terjadi pada Tania dan itu membuat Tasya tidak rela jika harus kehilangan Tania dan digantikan oleh orang baru yang tidak dikenal nya.


''Ya sudah dilanjutkan saja istirahatnya Aku akan menyusul Mama ke atas sana'' dielusnya perut Tania perlahan, sedangkan Tania karena mengantuk dan lelah berat ia tertidur di meja makan.


'maaf Tania kali ini aku tidak bisa membantumu karena kakekku sudah sampai di sini' nenek Tania yang melihat Tania tertidur di meja makan tidak bisa mengganggunya karena dari tadi Tania sudah terganggu dengan suara-suara yang mengagetkannya hingga harus bangun.


tapi baru saja neneknya ada niatan untuk tidak mengganggu Tania, Tania sudah terbangun dari tidurnya lagi karena Ibu mertuanya dan juga adik iparnya meminta untuk dibuatkan dua cangkir teh ''jangan dipaksa kalau sudah tidak kuat sini biar nenek ambil alih saja'' Tania tetap menolaknya dan berusaha mengerjakan semuanya sendiri.


mampu tak mampu sanggup tak sanggup inilah konsekuensinya dan setelah selesai saat Tania berada di ruang keluarga dan akan membereskan mejanya neneknya turut membantu "sudah nenek tidak perlu membantu bantu Tania masih kuat'' kata Tania yang sebenarnya sudah tidak kuat.


''nenek tidak bisa membiarkanmu mengerjakan semuanya sendiri, pastinya kamu sangat lelah ditambah lagi kamu kini tengah hamil trisemester kedua jadi biarkan nenek membantu ya'' Tania setuju dengan apa yang dikatakan oleh neneknya yang ingin membantunya karena merasa iba melihat Tania membereskan sana-sini dan tak kunjung selesai.

__ADS_1


''terima kasih ya nek, nenek ini merupakan nenek yang terbaik bagi Tania yang selalu ada untuk Tania entah dulu di saat di rumah paman ataupun saat di rumah yang saat ini" Tania berkata kepada neneknya dan neneknya pun merasa tak enak hati, justru dirinya lah yang menyusahkan Tania menambah beban Tania.


yang seharusnya Tania hidup bahagia dengan masa depan yang indah kini malah hidup bagaikan seorang burung di dalam sangkar ''setelah membereskan sofa apa yang akan kamu lakukan lagi?" Tania duduk sejenak di sofa dan mulai merenung.


merenung memikirkan bagaimana kehidupan neneknya selanjutnya setelah ia tiada nanti, memikirkan apakah neneknya akan bertahan atau akan berakhir seperti dirinya nanti "ini minum, berkerja boleh tapi harus ingat istirahat dan juga jaga kesehatan, kasian bayimu jika ibunya berkerja tiada henti begini" nenek Tania mencoba mengingatkan Tania yang kini sudah mulai tersadar dari lamunannya.



''iya nek, oh iya Tania akan menyetrika baju kerja mas Leon di atas, setelah itu akan menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak nenek jika ingin istirahat, istirahatlah" kata Tania sembari beranjak dari duduknya.


di dalam kamar Tania hanya mengenakan dalaman saja, mengingat saat ini Tania risih mengenakan pakaian panjang dan juga sumuk jika malam ''mba Laura sudah pulang?" Tania bertanya sembari memijat-mijat kepala suaminya yang terbaring di ranjang.


''sudah, kakek dan juga nenek malam ini datang pakailah pakaian yang tertutup'' Tania mengangguk, kenapa sih harus malam bukankah masih ada siang ''iya mas" Tania masuk kedalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


setelah mengganti pakaiannya Tania dan juga Leon mulai turun dan akan menyambut kedatangan kakek dan nenek Leon dari Amerika dan juga Korea ''coba kemari" pinta nenek Dahlia kepada Tania dengan suara dingin acuh tak acuh, nenek Dahlia mengelus-elus perut Tania.

__ADS_1


mereka tersenyum senang saat mengelusnya, tapi tidak saat Melihat ibu yang tengah mengandungnya ''akhirnya dalam keluarga ini ada keturunan bayi kembar laki-laki lagi setelah Leon dan juga Leo'' nenek Dahlia masih memegangi perut Tania, sedangkan Tania memasang senyum ramah kepada keluarga itu.


tapi tidak dengan keluarga itu yang bersikap dingin kepada Tania, Tania sebisa mungkin memaklumi sikap mereka yang memang menganggapnya sebagai anak pembunuh.


mau sekeras apapun dirinya berusaha menjelaskan tidak akan ada yang mendengarnya bahkan suaminya sendiri pun tak perduli lagi walaupun sudah tahu siapa biang keladinya tetap Tania akan menjalankan konsekuensinya.


''ayo sebaiknya kita makan malam dulu setelah itu kita tunggu dokter Erna datang bersama dengan pegawai medis lainnya'' ajak Kirana dan akhirnya mereka pun menyantap makan malam ini dengan lahap, semua makanan di meja makan habis kecuali yang ada di piring Tania sengaja Tania tak makan untuk neneknya.


''nenek ini makan malam untuk nenek'' Tania menyodorkan piring berisikan lauk pauk dan nasi tak lupa dengan botol air minumnya juga ''terima kasih ya Tania besok-besok biar nenek saja yang mengambil langsung di meja makan setelah semuanya selesai makan'' Tania menggelengkan kepalanya ''biar Tania saja yang mengantarkan ke sini nek, nenek hanya tinggal makan saja'' ucap Tania dengan ada lembut dan setelah memberikan makanan ia kembali lagi ke dapur untuk mencuci piring dan beberapa perabotan yang kotor setelah makan malam tadi.


''biar kubantu ya Kak'' tawar Tasya yang ingin mengambil bagian ''jangan aku bisa mengerjakannya sendiri kok, nanti kalau kamu ikut-ikutan yang ada aku lagi yang dimarahi, sudah sana kembalilah kepada keluarga yang lain'' Tasya mulai memeluk Tania dirinya benar-benar sedih jika saja Tania pergi dari keluarga ini.


Tasya menangis tersedu-sedu sembari memegang perut Tania juga ''kuharap kita akan tetap bersama Tania, entah akan bagaimana nanti nasib anakmu jika kau tidak ada'' Tania terdiam sejenak itulah yang tengah ia pikirkan apakah Ibu sambung dari anaknya nanti baik dan tidak jahat? atau bahkan sangat penyayang.


WhatsApp Guys jangan lupa di like dan Maaf upnya jarang-jarang, terus pantengin novel autor ya tinggalkan like dan komen juga aku butuh banget nih dukungan dari kalian.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2