
di kantor kini Leon dan juga Levine tengah digencar dengan permasalahan yang semakin sulit, penyelidikan mengenai kematian Leo sangatlah ambigu, ada banyak celah-celah yang bisa merujuk pada bukti-bukti namun tidak sepenuhnya bukti itu benar adanya.
seolah-olah semua ini memang sudah di skenario dari awal, bahkan langkah-langkah Leon sesuai dengan urutan yang barang bukti yang ditemukan entah secara tidak sengaja ataupun benar-benar disengaja oleh seseorang yang sudah memiliki rencana ini lebih awal.
''menurutku gadis yang saat ini berstatus menjadi istrimu adalah kunci satu-satunya untuk memecahkan permasalahan ini, aku merasa janggal jika kita terus mengikuti ini yang ada kantor akan terbengkalai, sepertinya kasus ini meminta kita untuk mengalihkan perhatian kita terhadap perusahaan'' usul Levine yang mulai mendeteksi akan keadaan saat ini hingga beberapa hari kemudian jika mereka masih melanjutkan penyelidikan yang tanpa ada ikut campur tangan kepolisian.
''apa yang kau katakan ada benarnya, Paman Tania sedikit sulit tak semudah yang kubayangkan dia sepertinya tahu akan karakteristik diriku yang tidak pernah bermain-main dengan perkataanku'' Leon memandang peti itu kembali dan memijat-mijat keningnya ikut pusing dengan permasalahan yang sudah bertahun-tahun ini tidak menemukan titik terang.
ketika Levine sedang pusing dengan pikirannya sendiri tiba-tiba Levine melihat ekspresi wajah dari Leon yang tak seperti biasanya ia lihat, Leon terlihat melamun dan merenung seperti tengah ada pikiran yang benar-benar membebani pikirannya.
''apakah ada masalah? kalau memang benar-benar ada mungkin anda bisa mengatakannya kepada saya agar saya bisa membantu?'' tawar Levine karena keadaan Leon yang bingung ini tidak seperti yang sering Levine lihat di keseharian, Leon selama ini bukanlah pria yang bimbang dengan keputusannya sekali ia sudah mengambil keputusan maka itulah yang akan dilaksanakan.
tapi sepertinya ada hal yang tidak Levin ketahui sampai-sampai membuat atasannya ini merenung dan bingung ''kita tidak bisa melenyapkan Tania begitu saja, karena dia tengah hamil anakku'' sontak Levin langsung berdiri dari duduknya hal ini benar-benar di luar dari dugaannya.
''bukankah Jika dia hamil bisa digugurkan? lalu apa yang membuat Anda panik sudahlah perkataan Anda membuat saya bingung saja saya kira apa'' Levin kembali dulu santai walaupun jantungnya masih tidak terkontrol karena kaget ''masalahnya aku sudah menyetujui tidak akan menggugurkan kandungannya sampai bayi itu lahir barulah kita membunuh Tania'' Levine yang mendengar terlihat frustasi dan mengusap-usap wajahnya kasar.
seharusnya yang berada di posisi itu adalah Leon yang merasa frustasi dan bingung tapi mengapa Levine seolah-olah tengah memperagakan kondisi Leon yang sebenarnya tanpa diperlihatkan ''baru kali ini aku melihatmu begitu baik hati, tolonglah jangan begitu bodoh karena seorang wanita sepertinya kau sudah diperdaya oleh gadis itu sampai-sampai kau menyetujui perkataannya untuk menunda kematiannya sendiri'' kesal karena perkataan Levine yang mengatakan bahwasanya Leon diperdaya oleh Tania, Leon langsung berdiri dari duduknya menghampiri Levine dan meraih kerah bajunya.
__ADS_1
''lalu Kau pikir aku lemah? kau mengatakan aku bodoh? ingatlah aku tak sebodoh yang kau pikirkan!" Leon menghempaskan tubuh Levine yang membuat Levine berjalan mundur dan hampir terjatuh ke lantai ''Aku melakukan semua ini agar tidak ada tuntutan lagi dari kedua orang tuaku mengenai anak, jadi aku tidak akan menikah lagi bukan?'' Leon tersenyum Devil hingga tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan suasana tegang di ruangan ini.
tok tok tok tok tok
tok tok tok tok tok
"Masuk!" seru Leon yang masih berada di posisi berdiri sedangkan Levine ia menunduk mengambil sikap hormat untuk segera pergi ''selamat siang" sapa Tania yang masuk ke dalam ruangan CEO sembari melihat kanan dan kiri ''masuklah dan kau sebaiknya cepat-cepat keluar'' Levin mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.
perasaan Tania benar-benar takut karena perkataan Leon yang mengusir Levine itu sedikit membentak ''Ada apa ya Mas Leon tiba-tiba meminta Tania kemari?" Leon berdecak kesal tiba-tiba dirinya lupa menyuruh Tania kemari untuk apa.
namun mereka memilih duduk di sofa tidak berhadapan dengan meja kerja Leon yang ada nanti mereka terlihat seperti seorang dosen yang tengah berhadapan dengan mahasiswa lagi.
''di mana Bank nya, dan kapan terakhir kali Leo mengunjungi bank?'' pertanyaan Leon seolah-olah menuntut untungnya Tania dalam menjawab tidak bertele-tele dan masih mengingat dikit demi sedikit kenangan yang sudah cukup lumayan lama ''tiga bulan sebelum kematian Kak Leo dia pergi ke bank, kalau tidak salah banknya itu ada di luar kota di Bandung, di sana Tania sudah tidak ingat karena waktu itu Tania lelah di perjalanan dan tertidur dalam mobil'' bertambah pusinglah Leon karena Tania tidak mengetahui nama bank nya.
''coba ingat-ingat kembali di mana letak bank itu, tidak mungkin saya menyusuri kota itu untuk mencari barang tak berguna itu'' Tania masih menggelengkan kepalanya gelengan itu seolah-olah mengatakan dengan sebenar-benarnya bahwasanya Tania sudah tidak mengingat apa-apa lagi.
Tania mencoba mengingat kembali namun sama sekali tak terbesit ingatan "Tania sama sekali tidak mengingatnya lagi hanya itu saja yang Tania ingat'' ucap Tania dengan nada lirih dan begitu lembut.
__ADS_1
''Mas boleh tidak Tania meminta sesuatu?'' Leon yang tengah berpikir sembari melamun itu tidak mendengarkan apa yang Tania katakan tiba-tiba saja Tania sudah berada di dekatnya sembari merangkul lengannya ''Apa yang kamu lakukan?'' kata Leon sembari menatap Tania yang terlihat sedikit lesu ''Tania ingin meminta sesuatu boleh tidak?'' Leon mengernyitkan dahinya bisa-bisanya gadis satu ini meminta tanpa rasa takut padanya.
padahal dalam keseharian Tania sangat takut jika harus berhadapan dengan Leon dan selalu menangis diam-diam setelah dimarahi habis-habisan orang Leon ''lancang sekali kamu meminta sesuatu pada saya'' Tania memanyunkan bibirnya dan melepaskan rangkulan tangannya itu di lengan Leon.
''dasar pelit! Apa susahnya sih memberikan apa yang istrinya minta'' Tania melipat kedua tangannya di dada entahlah bocil satu ini sepertinya tata kramanya hilang semenjak hamil "Hei kamu tidak sadar dengan posisimu? apakah saya harus mengulangi kata-kata itu lagi hingga membuatmu sadar diri dan tak meminta apapun pada saya hingga menuntut ini itu'' air mata Tania tiba-tiba menetes lagi-lagi dirinya diingatkan yang membuat Tania jengah dan merasa sedih.
''bisa tidak sih Mas Leon jangan mengingatkan mengenai posisi, Tania juga tahu mengenai posisi Tania tanpa diingatkan'' Leon yang sedang pusing dengan permasalahannya kini bertambah pusing dengan permasalahannya, Tania yang tiba-tiba datang dan menuntut sesuatu dan juga permasalahan Paman Tania yang tak ada ujungnya seperti sedang diputar dalam arus yang deras.
Leon tak perduli dengan apa yang diinginkan Tania, Leon memilih untuk kembali bekerja dari pada mengurusi gadis yang kini semakin neko-neko dengan keinginannya 'his dasar pelit, kalau saja punya uang banyak bisa kali aku berjalan sendiri tanpa meminta tolong' semakin Tania kesal semakin Tania menjadi dengan keinginannya ia menatap Leon yang benar-benar fokus bekerja.
bahkan matanya sama sekali tak melirik kearah Tania yang tengah memperhatikannya, Tania langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Leon di meja kerjanya ''apalagi?'' tanya Leon dingin sembari mengetik sesuatu di laptopnya ''Tania mau nonton bioskop'' Leon tak bergeming ia masih fokus dengan pekerjaannya.
''Ya sudah kalau begitu jika tidak ada apa-apa Tania mau pulang saja'' Tania memilih pulang dengan angkutan umum, sesampainya di rumah Tania langsung masuk ke dalam kamarnya dan memegangi perutnya ''Maaf ya baby Mama belum bisa merayu papa kamu untuk menonton bioskop bersama-sama, lain waktu saja ya'' ucap Tania dengan Nanda yang begitu lucu.
setelah mengunci pintu kamar Tania yang sudah gerah dengan pakaiannya langsung membukanya begitu saja dan hanya mengenakan bra dan juga CD.
Bersambung...
__ADS_1