
di rumah utama Leon kini tengah kesal baru terbangun dari tidurnya tidak melihat di mana keberadaan Tania, pukul 10.00 pagi ini Leon akan berangkat ke kantor namun tidak ada sosok wanita itu yang menyiapkan segala sesuatunya untuk Leon berangkat bekerja.
seperti menyiapkan pakaian, menyiapkan sarapan pagi dan juga menyiapkan air hangat di bed cup ''Bi Inah di mana Tania?'' tanya Leon sedikit panik ''maaf tuan muda saya sedari pagi tadi tidak melihat di mana keberadaan Nona Tania'' Leon mengibaskan tangannya mengusir pembantu yang sedang menunduk hormat.
'ke mana sih perginya gadis itu, tidak bisa kah dia tidak membuat masalah sehari saja rasanya kepalaku mau pecah jika saja di dunia ini ada dua Tania' Leon berjalan menuju pintu gerbang dan akan menanyakan kepada penjaga gerbang di mana Tania berada.
''apakah kalian melihat istri saya?'' satpam yang semalam memperbolehkan Tania keluar pun mengangguk ''Iya Pak subuh tadi pukul 04.4 Nona Tania keluar tapi tidak memberitahu ingin keluar ke mana'' dengan kondisi belum mandi Leon segera mencari Tania.
yang membuat Leon bingung ingin mencari kemana keberadaan gadis itu sedangkan Leon sama sekali tidak tahu di mana biasanya Tania menyendiri ataupun bersembunyi jika sedang ada masalah.
berkali-kali menelpon namun nomor yang dituju tidak aktif dan untuk melacak pun sangat sulit pastinya ''di mana sih gadis itu benar-benar meresahkan'' Leon berdecak kesal sembari mencari tahu kira-kira di mana keberadaan gadis itu sampai Leon tanpa berpikir panjang langsung menemukan ide Di mana biasanya Tania menyendiri.
Leon memulai perjalanan menuju pemakaman karena baginya tidak ada tempat yang seindah dan senyaman pemakaman yang sepi, sunyi dan juga hening.
...''halo salam kenal, sudah lama ya kita tidak pernah bertemu, kuharap kamu tidak akan pernah melupakanku dan akan terus dan terus mengingat kenangan-kenangan kita yang dulu sangat indah, Aku tahu kamu sudah menikah semoga langgeng ya, aku akan selalu mendukungmu jangan bersedih lagi''...
setelah membaca surat yang ada di buket bunga pandangan Tania kini teralihkan oleh suara mobil Lamborghini yang masuk ke dalam area parkiran pemakaman ''duh pasti pria satu itu mencari masalah lagi deh'' Tania meletakkan buket bunga itu di dekat area pemakaman dan pura-pura terfokus membaca doa.
sebenarnya bukan berpura-pura hanya saja mengalihkan perhatian agar tidak terkena masalah yang entah akan bagaimana nantinya ''kamu tahu waktu tidak?" Leon mencengkeram tangan Tania kuat-kuat dan Tania langsung berdiri dari duduknya ''jangan marah-marah loh" kata Tania dengan suara lirih dan akan menangis, Tania menyingkirkan tangan Leon yang mencengkram kuat tangannya.
lalu Tania memeluk Leon, Leon yang di peluk tentunya heran anak ini sepertinya sedang menghindari masalah ''kita pulang sekarang" ajak Leon dengan nada dingin "nanti, kita jalan-jalan dulu" Leon menggelengkan kepalanya dan memaksa Tania untuk pulang.
sesampainya di mobil rasanya Tania ingin kabur dan tak ingin pulang, pulang kerumah hanya akan membuat perdebatan semakin panjang dan bahkan tidak akan ada ujungnya "seharusnya kamu tahu waktu Tania, bukannya malah berlama-lamaan di makam tanpa memikirkan suamimu" kata Leon dengan penuh emosi "iya mas Tania tahu, memangnya salah jika Tania ingin berlama-lamaan karena rindu kedua orang tua Tania?" Tania memilih untuk merendahkan nada bicaranya.
__ADS_1
sulit memang jika berbicara dengan orang yang sedikit-sedikit emosian jadi sebisa mungkin Tania mengimbanginya dengan cara merendahkan nada bicaranya agar kemarahan Leon tidak semakin menjadi ''di rumah kan ada pembantu seharusnya tidak perlu repot-repot menjemput Tania'' kata Tania dengan nada tak kalah lembutnya dari yang baru saja ia katakan.
''jangan membuat saya harus mengulanginya kedua kali, jika saya sudah memiliki istri lalu pekerjaan istri harus pembantu yang mengerjakan?'' seketika Tania teringat akan foto-foto yang ada di kamar Leon semalam ''loh mas Leon masih menganggap Tania sebagai istri?'' paham akan pembicaraan akan mengarah ke mana Leon langsung memotong pembicaraan Tania saat akan melanjutkan pertanyaannya ''tolong Tania foto itu adalah foto lama jangan diungkit-ungkit lagi aku pun bisa mengungkitmu jadi anggap saja itu tidak pernah terjadi dan jalani kehidupan yang seharusnya dijalani tanpa adanya masalah, saya sedang pusing dengan perusahaan saya sendiri jangan kamu tambah dengan permasalahan yang sepele ini'' Tania hanya bisa bungkam dan terdiam, dirinya tak mungkin bersikap egois ini mengingat Leon lebih banyak masalah dan lebih banyak tanggungan yang ada di kantor dari pada di rumah yang harus berdebat dengan Tania hampir setiap hari.
setibanya mobil di rumah Leon mendapatkan telepon di gerbang agar Tania datang ke rumah sakit dan menemani putrinya karena Kirana akan pulang sebentar untuk sekedar membereskan pakaian putrinya dan membawanya kembali ke rumah sakit.
drrt drrt drrt drrt drrt drrt
drrt drrt drrt drrt drrt drrt
''Iya halo mah ada apa?'' tanya Leon sembari turun dari mobil mewahnya itu.
''bawa Tania ke sini ya kalau tidak sibuk, Mama akan pulang sebentar biar di rumah sakit ada yang menjaga Tasya, Tasya tidak ingin ditinggal bersama beberapa pembantu'' jelas Kirana.
sedangkan Leon ia memilih untuk berolahraga sebentar di ruang fitnesnya, sembari olahraga Leon jadi teringat akan awal pernikahannya bersama Tania di mana pernikahan yang penuh kebencian penuh dengan di kaliku dan bahkan penyiksaan untuk Tania.
tapi sekarang setelah Tania hamil Leon sama sekali tidak tega untuk menyakiti Tania kembali, jangankan untuk menyakiti membentak Tania pun sudah jarang-jarang dan dikurangi nadanya, Leon merasa kasihan kepada Tania dan juga bayinya, tentunya tak mudah hamil di usia muda seperti ini dan harus menghadapi Leon yang benar-benar sikapnya sangat keras.
tak jarang Levine terkadang sebagai asisten pribadinya harus siap-siap menanggung ke emosian atasannya ini yang tidak bisa diprediksi.
setelah olahraga Leon menghampiri Tania yang di kamar sudah cantik dengan dressnya, perutnya yang semakin membesar itu membuat Leon gemas tapi Leon tahan dan memilih untuk bergegas mandi setelah keringatnya kering.
''Mbak maaf ya tadi Tania tidak bisa bantu-bantu karena sedikit ada masalah'' kata Tania yang langsung menata piring di meja makan ''ah tidak apa-apa kok Mbak ini sudah menjadi kewajiban kami dan pekerjaan kami jadi Mbak Tania tidak perlu ikut membantu kami Mbak Tania kan atasan kami'' Tania tertawa kecil menurut Tania derajat mereka sama dan bahkan lebih miris setelah Tania yang melahirkan nanti mungkin karena perjanjian di antara Tania dan Leon yang sepakat setelah Tania melahirkan nanti Tania akan meninggalkan dunia ini Dan juga bayinya.
__ADS_1
saat Tania menunggu kedatangan suaminya yang sedang mandi di atas sana Tania iseng-iseng bermain ponsel setelah tadi mengecas hp-nya sebentar di atas, di grup sekolah kini teman-teman Tania tengah membahas sepupu Tania yang kini bangkrut dan gulung tikar.
Tania sebenarnya merasa kasihan jika harus melihat sepupunya itu hidup susah, apalagi Tania sudah pernah merasakan lontang-lantung ke sana kemari hanya untuk mencari tempat tinggal dan pada akhirnya tinggal di pemakaman.
'apa aku harus menemui mereka ya? aku juga kan pernah tinggal bersama mereka jadi aku Tidak sepantasnya membiarkan mereka hidup susah seperti ini' kata batin Tania yang mulai merasa iba, beginilah sikap Tania jika sedang disakiti ia akan merasa bahwa ini adalah nasibnya, dan jika melihat orang yang tersakiti ia akan merasa bahwa Tania harus membantunya dan tidak bisa membiarkannya begitu saja.
''Mbak kira-kira banyak nggak ya sisa makanan ini? Mbak dan yang lainnya sudah pada makan belum?'' Tania bertanya dengan penuh semangat dan hati-hati takutnya makanan ini akan termakan oleh pembantu dan Tania tidak bisa mengeluarkannya untuk saudaranya itu ''kami semua sudah makan kok Mbak, hanya Mbak Tania saja dan Pak Leon yang belum makan jadi kami merasa tidak enak dan harus menunggu agar kalian selesai sarapan dulu'' Tania mengangguk kecil ''kalau begitu nanti sisanya dibungkus ya Mbak saya ingin memberikannya kepada seseorang'' setelah berkata seperti itu tiba-tiba saja Leon datang dan mendengar perkataan dari Tania mengenai ingin memberikan makanan ke seseorang.
sebenarnya siapa seseorang itu ''untuk siapa kamu membungkuskan makanan?'' Leon merasa tak mungkin jika Tania membungkuskan makanan ini untuk adiknya karena memang Kirana ibunya sangat tinggi dalam memilah makanan apalagi putrinya sedang sakit dan bahkan Kirana jika sedang sakit pun selera makannya sama dengan putrinya agar putrinya mau makan.
''untuk orang yang membutuhkan daripada sisanya dibuang?'' Leon masih merasa curiga, orang membutuhkan Seperti apa sebenarnya ''biar pembantu saja yang mengantarkannya saya akan mengantarkan kamu setelah sarapan ini ke rumah sakit, Mama sudah menunggu di sana karena ingin cepat-cepat pulang'' Tania mengangguk kecil, dan setelah sarapan tentunya Tania memberitahukannya kepada sopir terlebih dahulu agar tidak ketahuan oleh suaminya.
jika ketahuan memberikan makanan ini kepada saudaranya sendiri tentu saja Tania akan habis, Leon sangat membenci wiromo jadi sebisa mungkin Tania merahasiakannya.
di dapur setelah Tania dan juga Leon selesai sarapan para pembantu sibuk bergosip, menggosipkan Tania yang sangat baik jarang-jarang majikan seperti Tania yang mau care dan bahkan menganggap pembantu sebagai saudara, tak hanya itu saja bahkan di mana-mana para majikan akan merasa tak selevel dengan pembantunya dan menyuruh tanpa tahu waktu sedangkan Tania jangankan menyuruh ia lebih baik mengerjakan semuanya sendiri daripada harus menyuruh-nyuruh orang selagi ia bisa mengerjakannya sendiri.
mereka benar-benar mengapresiasi majikan seperti Tania dan bahkan kalau bisa dipertahankan, bayang-bayang mereka belum mengenai calon anak baru sangatlah jahat dan tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun tapi ternyata majikannya yang saat ini sangatlah baik dan tidak pernah marah-marah sama sekali.
tapi terakhir kali mereka mendengarkan perdebatan di atas tangga sana Di mana mereka berdua tengah cekcok karena masalah foto-foto yang ada di dalam kamar dan alhasil tentunya pembantu dimarahi habis-habisan karena belum menyingkirkan foto-foto itu.
sebenarnya semua ini 100% bukanlah kesalahan pembantu melainkan kesalahan Leon yang tidak memberitahu terlebih dahulu kepada pembantu bahwasanya ingin pulang ke rumah utama jadi mereka sudah ada persiapan.
Maaf banget ya kalau ceritanya sedikit dan terkesan loncat-loncat, apa lagi kalau ada typo maaf banget, nanti kalau ada kesempatan bakal di revisi lagiπππ
__ADS_1
Bersambung**...