
anggota mafia milik Leon juga kalang kabut entah dari segala penjuru mana mereka sudah mencari dan di beberapa negara mana tapi tetap saja keberadaan Tania sama sekali tidak tercium oleh mereka.
Leon langsung membawa pria satu ini ke markas anggota mafia nya pria satu ini terlihat santai seolah-olah dalam dirinya sendiri tidak ada beban jika harus ditangkap dan harus dihabisi.
padahal mafia harimau putih adalah yang paling ditakuti tetapi pria ini seperti tidak memiliki rasa takut itulah yang membuat Leon dan juga Levin heran bahkan sangat menurut sekali untuk diajak masuk ke dalam mobil dan lebih anehnya lagi kedua pria yang tidak tertangkap itu malah melihat temannya ini ditangkap dan masuk ke dalam mobil sungguh aneh tapi nyata beginilah keadaannya.
''kau rasa jujur dengan begitu kami akan meringankan siksaanmu'' kata Levin yang jambak rambut pria itu ''bahkan untuk mati saja saya siap, Saya tidak akan memberitahukan keberadaan Tania kepada anda wahai Pak Leon yang sangat ditakuti di negara ini daripada saya memberitahukan keberadaannya lebih baik saya disiksa sampai mati karena saya tidak ikhlas jika anda menyakiti Tania secuil darah pun'' pria yang Leon tangkap ini kini nada bicaranya benar-benar tidak ada rasa takut seolah-olah rasa takutnya di dalam hatinya sudah tidak ada dan telah sirna.
di markas Leon langsung membawa pria satu ini ke ruang yang sepi di mana ruang inilah yang gunakan untuk menyiksa orang-orang yang sulit untuk jujur rata-rata dari mereka akan jujur dan yang lainnya memilih untuk melindungi bosnya dan rela mati.
''tolong katakan padaku dan katakan sejujur-jujurnya di mana keberadaan Tania'' kata Leon yang nadanya mulai merendah beberapa hari ini mencari Tania Leon benar-benar sangat lelah bahkan tenaganya benar-benar terkuras keluarganya selalu mengintimidasi Leon dan selalu memarahi Leon habis-habisan.
Leon yang sudah disudutkan sama sekali tidak bisa membalas percakapan mereka karena semua ini seutuhnya kesalahan Leon semua.
''sudah saya katakan bukan saya tidak akan memberitahukan Di mana keberadaan istri anda, anda tidak mencintai Tania jadi untuk apa saya memberitahukannya lebih baik Tania berada di orang yang tepat'' Leon menghampiri pria itu yang terduduk dengan posisi tangan terikat di belakang dihajarnya pria itu dengan tangannya yang super keras.
saat pria itu dipukul sebenarnya pria itu sudah merasakan kesakitan tapi sebisa mungkin ia tahan dan malah tertawa Leon bisa merasakan ekspresi wajah itu.
''hahaha bukankah benar kau tidak mencintai Tania hingga membiarkan hidup lontang-lantung di pinggir jalan?'' Leon menarik kerah pria itu dan menatapnya dan mata tajamnya ''kau tidak mengetahui apa-apa mengenai ku jadi tolong!! aku sangat memohon kepadamu Di mana keberadaan Tania brengsek!!!!" Leon berjalan melangkah mundur hingga tubuhnya terbentur tembok lalu dirinya mulai duduk *******-***** rambutnya dan merasa frustasi dengan keadaan seperti ini.
dirinya benar-benar kehilangan separuh jiwanya rasanya untuk hidup pun seperti tidak ada niat, dan tidak ada tenaga lagi yang bisa membuatnya kuat ''sebaiknya kau katakan di mana keberadaan Tania, kau sudah berumur pastinya kau sudah menikah dan mungkin sudah memiliki anak seharusnya kau tahu perasaan ayah Seperti apa bukan?'' kata Levin percakapan di ruangan ini terkesan sendu tidak ada penyiksaan yang bertubi-tubi dan tidak ada kata-kata yang benar-benar membentak-bentak seperti yang tadi.
''aku mengerti itu tapi atasanku berkata aku tidak boleh memberitahukan Di mana keberadaan Tania sebelum atasanmu itu menyadari bahwa istrinya sangatlah istimewa, atasanmu itu terlalu bodoh sudah diperingatkan berkali-kali selalu mengabaikan bahkan terkesan gengsi dengan perasaannya sendiri aku pun akan gengsi mengatakannya kepada kalian dan bahkan lebih baik memilih mati'' pria satu ini benar-benar membuat Leon pusing dan beberapa belas menit suasana hening di ruangan ini.
lampu yang redup benar-benar seredup kehidupan Leon saat ini, kehidupan hampa yang sudah tidak berwarna lagi, warna itu kini sudah pudar dan menghilang entah ke mana ingin rasanya diwarnai kembali namun warna itu sangat sulit untuk ditemukan.
__ADS_1
seperti lukisan yang tak berwarna tidak ada kesan Indah dan menarik di dalamnya hanya ada corak saja Yang terukir.
''kumohon katakan padaku'' Leon berjalan gontai dan mulai terduduk lemas di hadapan pria itu dirinya mulai menangis dan itu membuat Levin tercengang baru kali ini dirinya melihat atasannya menangis seumur hidupnya tak pernah Levine melihat Leon menangis.
mau disiksa Seperti apa ataupun patah tulang dan semacamnya ia akan diam dan tidak akan sampai menangis seperti ini.
terdengar dari ibu dan kerabat-kerabat Leon setelah Leon dilahirkan hingga saat ini, Leon hanya menangis 3 kali ini saja di mana tangisan pertama adalah tangisan di mana Leon baru dilahirkan sedangkan tangisan kedua adalah tangisan di mana kepergian Leo sedangkan tangisan ketiga adalah tangisan untuk istri tercintanya.
Levine memang pria yang sedikit cengeng bahkan waktu itu dirinya menangis di pelaminan karena meminta maaf kepada kedua orang tuanya dan tak hanya di situ saja bahkan saat istrinya pingsan Levine panik dan malah menangis takut terjadi sesuatu pada istrinya.
dari sini Levine baru menyadari bahwa atasannya ini benar-benar mencintai Tania dan rasa gengsi yang ada di hatinya kini sirna dengan tangisan itu, tangisan yang membuktikan bahwasanya cintanya benar-benar tulus.
''apakah anda benar-benar mencintai Tania?'' tanya pria itu yang malah kini terbalik seperti pria itu yang tengah menginterogasi Leon ''aku benar-benar sangat mencintainya Aku bahkan sangat merasa kehilangannya saat ini apalagi dia tengah mengandung anakku'' pria itu bermain mata dengan Levine dan meminta Levine untuk melepaskan ikatan di tangannya.
sebenarnya Levine enggan melepaskan ikatan itu tapi sepertinya pria ini sudah akan jujur jadi lepaskan saja toh jika berani bermacam-macam yang ada pria itu akan keder di sini.
pria itu menuliskan alamat di sebuah kertas yang diberikan oleh Levin entahlah Levin benar-benar serbaguna tiba-tiba di sakunya itu ada sebuah kertas dan pulpen.
ajaib memang tapi memang sebelumnya Levin menyiapkan kertas itu untuk mencatat barang-barang apa saja yang harus dibeli karena permintaan istrinya eh tahu-tahunya malah untuk mencatat alamat di mana keberadaan Tania.
''atasanku juga berpesan jangan sampaikan kepada keluargamu hanya kalian saja yang tahu, kalau pemikiran Pak Leon ke Italia akan dibunuh dan semacamnya itu tidak akan terjadi bawalah pasukan sebanyak-banyaknya tidak apa-apa saya memberitahukan ini benar-benar'' Leon langsung mengangguk dan paham mungkin bos dari pria satu ini tidak ingin privasinya terbongkar oleh keluarga Leon sendiri.
Leon meminta kepada semua anggota mafianya untuk memperlakukan pria satu ini dengan baik sampai dirinya benar-benar kembali ke negara ini lagi.
dalam perjalanan pulang Leon meletakkan kertas itu ke dadanya Levin dapat merasakan bahwa sahabatnya sekaligus atasannya ini benar-benar rindu kepada istrinya.
__ADS_1
keesokan harinya Levine mengantarkan Leon ke bandara, sebenarnya Levin ingin ikut tapi tidak diperbolehkan oleh Leon mengingat di rumah Levine sudah ada istri yang menunggunya.
Leon harus memberikan ruang kepada Levine karena beberapa hari ini turut sibuk dalam pencarian Tania jadi biarlah Leon sendiri yang mengurusi masalahnya walaupun dirinya memang harus mengerahkan beberapa anggota mafianya untuk ikut dengannya ini semua dilakukannya untuk antisipasi saja.
di dalam pesawat Leon menghirup nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan sembari melihat foto Tania yang tengah hamil 5 bulan.
entahlah dalam perkiraan Leon akan sebentar di pesawat nyatanya memakan waktu beberapa jam yang menurut Leon hampir berhari-hari karena Leon sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
di Italia setelah turun dari pesawat tiba-tiba ada seseorang kebangsaan dari Itali menghampirinya "è vero che sei il giovane maestro leon wilson arganta? (apakah benar anda tuan muda leon wilson arganta?)'' tanya pria itu.
"si, sono Leon Wilson Arganta (ya, saya adalah leon wilson arganta)" kata Leon membalas ucapan dari pria itu ''Sono stato mandato dal mio capo a prenderti, vieni con me (saya di utuskan oleh atasan saya untuk menjemput anda, mari ikut dengan saya)" Leon sebenarnya sedikit ragu untuk mengikuti pria ini tapi demi bertemu dengan Tania dirinya harus ikut ini adalah sebuah jalan pintas.
''si, ti seguirò (ya, saya akan mengikutimu)" Leon diajak keluar dari bandara menuju pusat kota tak lama mereka mulai memasuki gang rumah yang cukup elit walaupun tak seelit dari rumah Leon yang super duper luas mengingat mata uang luar negeri sesuai dengan kebutuhan di negara tersebut tidak dengan Indonesia jika uang dari Amerika dikirim ke Indonesia itu jumlahnya sudah sangat fantastis.
sesampainya di rumah itu pria itu langsung berkomunikasi dengan penjaga gerbang ''Ho portato un ospite dall'Indonesia per incontrare il nostro capo, per favore apri il cancello (saya membawa tamu dari Indonesia untuk bertemu dengan atasan kita, tolong bukakan gerbangnya)" kata pria yang membawa Leon.
''Il nostro capo se n'è andato questo pomeriggio perché la signorina Tania aveva già le contrazioni (atasan kita sudah pergi siang tadi karena Nona Tania sudah mengalami kontraksi)'' Leon yang mengerti langsung cemas jangan-jangan Tania sudah melahirkan lagi tanpa dirinya dan malah didampingi oleh pria lain.
''Per favore, dimmi dov'è l'ospedale. Io sono il marito, quindi ho il diritto di incontrare mia moglie (Coba katakan di mana letak rumah sakit itu saya adalah suaminya jadi saya berhak untuk bertemu dengan istri saya)'' kata Leon yang mulai panik.
penjaga gerbang itu menjelaskan detail Di mana keberadaan Tania setelah itu Leon dan juga utusan dari entah siapalah atasan itu langsung pergi menuju rumah sakit yang sudah diberikan alamatnya tadi.
tinggalkan like dan komennya kakak😊
__ADS_1
Bersambung...