
''kamu ini sama sekali tidak bisa diajak bercanda ya, Ya sudah saya masuk dulu ke dalam ya jangan kangen sama saya'' ledek Levin ''hahaha Bapak ini terlalu lucu Saya tidak mungkin kangen dengan Pak Levine asisten ter Playboy di negara ini'' Yura mengembangkan senyumnya yang sangat terpaksa dan kembali berkutat dengan laptopnya.
dan saat Levine baru saja membuka pintu CEO, Levine dikejutkan oleh Leon yang mondar-mandir di depan meja kerjanya entah apa yang tengah dipikirkan sepertinya berat sekali ''ada apa Tidak seperti biasanya kau mondar-mandir di depan meja kerjamu sendiri?'' entahlah Leon saat ini bingung dengan pemikirannya sendiri.
masalah pembunuhan adiknya saja belum selesai kini bertambah dengan permasalahan Tasya permasalahan Tasya belum selesai mengingat permasalahan Tania dan juga CEO dari corporation, Leon benar-benar digempur dengan banyak permasalahan yang selalu datang silih berganti.
''Aku sedang bingung dengan permasalahanku ini, mengenai rencana awal kita akan menyelidiki kematian Leo kini beralih terus dengan masalah yang terus berdatangan, aku menjadi bingung dan pusing bahkan wiromo yang seharusnya merasakan kejinya dan pahitnya kehidupan sekarang malah bahagia bersama putrinya'' Levine mulai berpikir memang ada benarnya wiromo yang bukannya tersiksa perlahan demi perlahan kini malah merasakan kebahagiaan.
padahal wiromo dan juga Tania adalah tujuan utama mereka tapi sekarang ada garda terdepan yang membela Tania namun mengenai wiromo Leon dan juga Levine tidak mengetahui detail apakah ada sosok orang di belakang wiromo yang akan membantu dan mendukung wiromo.
''kurasa perusahaan corporation itu tidak akan membela wiromo, karena dari dulu memang keluarga Tania sangat tidak harmonis dengan keluarga wiromo'' akhirnya berkat Levine yang mempertegas perkataannya mengenai bahwasanya perusahaan corporation tidak akan membela wiromo, secara cekatan Leon langsung mengambil keputusan untuk segera mengeksekusi wiromo agar permasalahan cepat selesai dan tak ada lagi yang ditunda-tunda kecuali kehamilan Tania sampai melahirkan nanti.
''segera buat somasi untuk perusahaan wiromo Aku tidak ingin bertele-tele dan tidak ingin berlama-lama menyaksikan kebahagiaan mereka yang hanya sesaat'' dengan cepat Levin langsung mengancungkan jempolnya siapapun pasti sanggup untuk merobohkan satu perusahaan ini saja.
perusahaan Wilson arganta kini tak henti-hentinya artikelnya bermunculan, bahkan pihak televisi sampai kewalahan untuk menyiarkan berita-berita terbaru yang waktunya sangatlah terbatas karena banyak film-film sinetron yang sedang ditayangkan.
malam ini pun ada sebuah berita televisi dadakan yang khusus untuk membahas perusahaan Wilson arganta saja yaitu acaranya bernama the company Wilson arganta, mereka akan membahas dan menguak masalah-masalah yang ada di seputar perusahaan Wilson arganta.
''hahaha benar-benar secepat itu dan setanggap itu Leon langsung bergerak cepat tanpa menunda-nundanya ya benar-benar Di luar dugaan memang'' kata seseorang yang sedang bersantai di kursi kerjanya ''oh iya Felix segera buat artikel dan juga transfer sejumlah uang sebagai penghargaan karena sudah mau maju satu langkah dari kita'' asisten Felix langsung membungkukkan tubuhnya dan siap untuk mentransfer sejumlah uang yang sudah disediakan.
Felix sebenarnya merasa heran dengan atasannya ini selalu saja menarik ulur perusahaan yang ingin diserangnya walaupun sebenarnya tidak ingin diserang melainkan hanya sebatas ancaman untuk melindungi gadis yang ada bersama Leon.
''oh iya Bagaimana mengenai kondisi Tania di rumah sakit?'' Felix memberikan surat keterangan dari rumah sakit ''kondisinya sudah semakin stabil kemungkinan besok sudah diperbolehkan pulang namun tetap harus berobat jalan karena kondisinya bisa saja naik turun'' jelas Felix ''baguslah, tetap awasi keadaan gadis itu jangan sampai ada yang terluka darinya'' atasan Felix langsung masuk ke dalam kamarnya sedangkan Felix kembali melanjutkan tugasnya untuk membuat artikel dan juga transferan yang akan Ia kirim ke perusahaan Leon.
padahal Leon sama sekali tidak menginginkan dan tidak membutuhkan transferan yang jumlahnya tidak seberapa.
malam menjelang kembali padahal baru saja siang sudah kembali lagi dengan malam, di malam hari ini pula Tania sudah bersiap-siap akan pulang ke rumah walaupun mertuanya tidak mengizinkannya dan menunggu sampai besok pagi saja.
__ADS_1
tentunya Tania tidak ingin terlalu lama di rumah sakit karena suasananya seperti tidak nyaman di badan dan juga biayanya Yang pastinya sangat mahal mengingat fasilitasnya bintang lima ''tunggu Leon jemput saja ya jangan pulang sendiri, Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu nanti saja jangan pulang sendiri intinya Mama tidak akan mengizinkan Jika kamu pulang sendiri oke?'' Tania mengangguk sembari mengelus-elus tangan Tasya yang kini sudah mulai membaik walaupun tangannya belum menyatu sempurna.
''takutnya Mas Leon datangnya besok ma, kan malam ini Mas Leon ada acara di televisi'' Tasya yang mendengarnya pun langsung meminta ibunya untuk menyalakan televisi dan melihat sebenarnya kakaknya tampil di televisi ingin menceritakan mengenai apa sampai-sampai beritanya mencuat dan melebar seperti ini.
tidak mungkin hanya karena dirinya saja apalagi judulnya sudah terlihat jelas mengenai perusahaan Wilson arganta ''kakak jika sedang di televisi ataupun sedang bekerja pasti terlihat tampan dan juga sangat berkarisma beda lagi kalau sudah di rumah pasti dia galak dan tidak pernah ada baik-baiknya kepada adiknya'' Kirana tersenyum tipis.
''jangan seperti itu dong Tasya, kakak kamu kemarin membawa kamu kemari dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri karena takut terjadi sesuatu padamu, jadi jangan seperti itu ya sama kakak kamu harus sayang sama kakak dan tidak boleh melawan kata-kata kakak seperti apa yang dikatakan nenek tidak boleh dilawan oke?'' Tasya menganggukkan kepalanya lalu terlihat berbincangan-perbincangan yang cukup memanas di awal pembukaan.
Diandra sahabat Leon datang untuk menjenguk Tasya dengan membawa banyak sekali buah tangan, Tania sama sekali tak melirik ke arah Diandra baginya kasus pelecehan waktu itu sudah cukup membuatnya trauma dan malas untuk melihat wanita yang sama sekali tidak memiliki hati nurani.
siapapun pastinya akan mengalami trauma berat dan trauma yang mendalam jika dilecehkan seperti itu dan dijadikan bahan tertawaan banyak orang, semua orang seakan-akan sudah tidak ada yang perduli bahkan tawa mereka sangatlah lepas tanpa rasa bersalah.
''oh iya Tania perkenalkan dia Diandra sahabat kecil Leon'' Kirana mencoba memperkenalkan Tania dan juga Diandra tapi Tania menjabat tangan Diandra hanya sekilas saja ''Iya Ma, sebelumnya kita juga sudah bertemu kok di pesta ulang tahun Tante Diandra'' mendengar Tania berkata mama kepada Kirana tentu saja itu sudah menjadi peluang pendekatan yang cukup serius antara Tania dan juga Kirana.
''jadi begini tante seharusnya kalau masih bertunangan tidak baik jika sudah memanggil nama dengan sebutan mama'' Tania memicingkan matanya dan merasa kesal memangnya dia ini siapa berani-beraninya melarang sebutan nama itu, status sahabat ya sahabat tidak mungkin akan menjadi seorang istri ataupun seorang penasehat bagi Leon jika sudah ada Tania maka tidak akan ada yang menggesernya itupun menurut Tania sendiri bahkan selama masih ada Tania, Tania masih tetap akan mempertahankan posisinya.
Tasya tidak ingin membela Tania terlebih dahulu sampai benar-benar terkuak sebenarnya ada kejanggalan apa dan apa yang disembunyikan oleh Diandra sampai-sampai ter-cover rapi seperti Agatha.
''ada benarnya Tania, sebaiknya nada bicaramu direndahkan ya'' Tania mengangguk saja walaupun sebenarnya tidak mau ''baguslah jangan sampai ditegur terlebih dahulu oleh calon mertuamu, seharusnya Malu dong kamu kan sudah besar tidak perlu diberitahu dulu baru mengerti'' rupanya Diandra ingin menjelek-jelekkan Tania di depan mertuanya tapi tentunya Kirana tidak akan terpengaruh mengingat Kirana sudah cukup paham dengan sikap Tania yang asli.
Tania tidak akan bersikap cuek dan tidak akan bersikap seperti sombong dan tengil jika tidak ada sebabnya ''sebenarnya Tania sudah mengerti tapi Tania hanya ingin mengingatkan agar tante lebih mengerti bahwa jangan mentang-mentang saya umurnya masih kecil Saya terlalu direndahkan, jadi tolong hargai saya Jika ingin dihargai'' perkataan itu sungguh ulti yang membuat lawan mati kutu dan tidak bisa bergerak.
Diandra langsung melirik sekilas ke arah Tasya dan juga Kirana lalu mulai tertawa "hahaha sudahlah jangan terlalu tegang seperti ini, Diandra membawa cukup banyak makanan mari kita makan bersama-sama'' Tania hanya melirik ke arah makanan yang di bawa oleh Diandra dirinya sama sekali tidak ingin menyentuh makanan itu.
''Ma izin pakai kamar ya, Tania sudah mengantuk" ucap Tania karena dirinya ingin menghindari Diandra "iya boleh sayang, nanti kalau Leon datang Mama akan segera membangunkan kamu" Diandra masih dengan tatapan sinisnya menatap Tania, sedangkan Tasya mulai tidak menyukai Diandra yang rupanya tak jauh berbeda dengan Agatha mantan pacar kakaknya.
terlihat Diandra benar-benar sedang cari muka dan bahkan menawarkan diri untuk menyuapi Tasya, tetapi Tasya tak mau ''mungkin Tasya sudah kenyang Diandra, oh iya kapan kamu akan kembali lagi ke Amerika?" kata Kirana sembari mengecek ponselnya yang sedari tadi bergetar.
__ADS_1
rupanya suaminya yang memberikan kabar bahwa baru saja sampai di Washington Amerika serikat, Kirana hanya membaca pesan itu dan menutup kembali ponselnya.
''siapa ma?" tanya Tasya penasaran "papa kamu sudah sampai di Washington Amerika'' Tasya menghela nafasnya berat rasanya lelah dan letih bercampur menjadi satu di dalam batinnya, sudah cukup kemarin saja Tasya menangis tersedu-sedu setelah menelan pil pahit dari ayahnya sendiri.
"untuk apa dia ke Amerika? untuk mencari wanita itu? percuma semua sudah terlambat!" kata Tasya dengan bibirnya yang bergetar "kamu tidak boleh berkata seperti itu Tasya, maksud papa baik kok, yasudah sekarang minum obat lalu istirahat ya ini sudah malam, kak Tania saja sudah beristirahat di dalam kamar" pinta Kirana dan di angguki oleh putrinya ini.
sedih memang melihat kondisi putrinya kini terbaring di ranjang rumah sakit dengan sekujur tubuh di penuhi luka-luka pukulan dan bahkan terdapat beberapa rambut Tasya yang rontok setelah di Jambak beberapa kali.
mungkin jika Kirana melihat Vidio rekaman CCTV ia akan pingsan melihat putrinya ini di aniaya, untuk sekedar mencubit dan menjewer pun Kirana tak pernah kecuali jika sedang bercandaan saja, itu pun pelan tidak akan keras karena memang prinsip Kirana dalam mendidik anak perempuan dengan lembut, sedangkan pria memang harus sedikit gertakan agar tidak manja.
nyatanya Tasya yang di didik lembut tetap mendapatkan gemblengan dari kakaknya yang tidak menyukai sikap manja dan ketidak disiplinan adiknya, seperti berangkat sekolah semaunya, berbelanja tanpa henti sampai jatah uang jajannya habis dan meminta uang kepada ayahnya lagi.
sikap pemborosan itu memang harus di tegur mengingat Tasya seorang wanita dan berjaga-jaga jika saja suaminya bangkrut dan Tasya mau di ajak hidup susah, tidak gengsi dan bahkan bisa membantu finansial suaminya, hanya itu saja yang Leon inginkan.
namun sepertinya Dirinya bukan mendidik adiknya malah mendidik istrinya sendiri, seperti apa-apa istrinya yang melakukan perkerjaan rumah, bahkan sampai berjualan online untuk menyambung biaya hidupnya sendiri.
tapi beberapa hari terakhir ini Leon selalu memberikan uang belanja dan yang keperluan Tania, tapi Tania selalu menolaknya dan itu bertambah membuat Leon merasa bersalah dan Malu, kalau tidak di terima sama saja Leon bergantung hidup pada istrinya, dimana istrinya yang mencari kebutuhan nya sendiri, bahkan Tania tak pernah memakai makeup di rumah.
Lama waktu berjalan akhirnya Leon tiba pukul 03.22 dimana ibunya tidur di samping brankar adiknya "sudah pulang" tanya Kirana yang terbangun ''iya ma sudah, dimana Tania?" tanya Leon yang mendaratkan tubuhnya di sofa "Tania sampai tertidur karena terlalu lama menunggu mu, sebaiknya kau temani dia dulu" Leon melirik jam di tangannya lalu berfikir untuk tidur sebentar sebelum besok ia kembali berkerja dan mengantarkan istrinya untuk pulang.
''darimana saja?" tanya Tania saat melihat tubuh Leon baru saja memasuki kamar "dari kantor kenapa?" tanya Leon kembali "bisa menepati janji tidak? tadi mas Leon bilang setelah selesai acara akan mengantarkan Tania pulang, tapi malah kemana sampai jam segini baru ke rumah sakit?" kata Tania yang mulai meneteskan air matanya "kamu kenapa sih! tidak perlu cengeng seperti ini, kalau mau pulang ayok saya antarkan pulang tidak perlu menangis seperti ini" marah Leon.
''seharusnya Tania yang marah bukannya mas Leon yang marah-marah!" kesal Tania yang memukul dada Leon saat mendekatinya "marah untuk apa? seharusnya kamu mengerti saya ini banyak pekerjaan bukannya malah berperilaku seenaknya seperti ini, marah-marah dan menangis tidak jelas, saya berkerja juga untuk kamu dan anak kita nanti, jadi jangan terlalu berlebihan" kata Leon yang mengambil tas berisikan baju-baju Tania, karena Leon akan mengantarkan Tania pulang ke rumah ibunya.
padahal Leon ingin istirahat sebentar namun sulit karena harus bercek-cok dengan istrinya yang kecil dan labil, bahkan sangat sulit untuk berkomunikasi dengan istri yang tak seumuran dan belum dewasa, mengingat umur Leon dan Tania beda 10tahun jadi Leon sebisa mungkin harus memakluminya Dimana Tania selalu ingin di mengerti dan di tambah sedang hamil pastinya emosinya naik turun.
tentunya Leon tidak bisa menyikapinya dengan emosi, melainkan dengan kepala dingin dengan penuh kesabaran pula "ya sudah ayo pulang, saya juga ingin istirahat di rumah bukannya malah mendengarkan mu marah-marah tidak jelas" Tania keluar kamar terlebih dahulu sembari memegangi perutnya itu "kalian mau kemana?" tanya Kirana yang terlihat tengah menyisir rambut putrinya yang tertidur "kita mau pulang ma" jawab Tania yang diikuti oleh Leon di belakangnya.
__ADS_1
Bersambung...