CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 36


__ADS_3

''ya ampun nenek, siapa yang menyuruh nenek mengemis seperti ini hiks hiks hiks hiks hiks" Tania menangis dan menggenggam tangan neneknya yang duduk di kursi belakang ''tidak ada yang menyuruh kok ini semua inisiatif nenek untuk membantu perekonomian keluarga'' Tania langsung memalingkan pandangannya ke arah kaca dan menahan tangisnya yang begitu mendalam dan begitu pilu.


Leon langsung melirik ke arah istrinya yang menangis itu, sebenarnya Tania ini anak yang baik dan anak yang memiliki hati nurani seperti ibunya, tapi entah mengapa bisa-bisanya keluarga Tania membunuh adiknya.


''nak Leon antarkan nenek pulang saja ya ke rumah'' Leon melirik ke arah Tania dan bingung ''tidak tidak nenek pulang saja ke rumah Mas Leon ya bersama Tania'' ajak Tania, Tania mengajak neneknya tanpa seper tujuan Leon tapi Leon juga tidak bisa menyela perkataan itu karena Leon juga merasa kasihan kepada nenek yang sudah tua renta seperti ini.


''nenek tidak bisa, nenek terlalu jahat untuk tinggal di rumah mewah milik nak Leon dan juga kamu antarkan saja nenek pulang ya'' Tania masih mencoba membujuk hingga pada akhirnya mau tak mau Tania yang sudah kewalahan membujuk mengalah dan mengantarkan neneknya ini pulang ke rumah kontrakan yang begitu kecil.


Leon tak menurunkan nenek Tania di depan kontrakan pas melainkan beberapa jarak sedangkan Tania mulai turun di bawah gerimisnya air hujan mengantarkan neneknya ini pulang.


''sudah sana kamu pulang Tania, takutnya nanti kamu dimarahin lagi oleh pamanmu'' Tania masih menggenggam tangan neneknya rasanya sama sekali tidak ingin berpisah dan masih ingin berlama-lamaan dengan neneknya ini ''oh iya ini Tania ada uang sedikit untuk nenek disimpan ya, kalau besok Tania tidak sibuk Tania akan usahakan cepat-cepat ke rumah ini dan menengok nenek'' nenek Tania menangis saat menatap uang 5 lembar pecahan Rp100.000.


ingin rasanya menolak uang itu, bisa pulang tanpa membawa uang yang ada akan dimarahi habis-habisan, jadi mau tak mau nenek Tania menerima uang itu ''terima kasih banyak Tania, nenek tidak bisa berkata apa-apa lagi semoga kamu sehat selalu dan panjang umur ya nak'' Tania tersenyum senang lalu menggapai tangan neneknya ini yang mengantupkan tangannya menjadi dua mengucap berterima kasih kepadanya.


''tidak perlu berterima kasih nenek, yang ada Tania yang berterima kasih karena nenek telah merawat Tania dulu, doakan ya semoga cicit nenek sehat-sehat'' ditempelkannya tangan nenek Tania ke dalam perut Tania dan itu membuat nenek Tania kaget sampai melongo.


''kamu hamil?'' Tania mengangguk ''iya Nek, sudah 2 bulan lebih'' Tania tertawa kecil ''pantesan saja terlihat buncit, Ya sudah pulang sana kasihan suami kamu menunggu kamu di dalam mobil terlalu lama'' Tania mengangguk dan akhirnya ia berpamitan pulang kepada neneknya.


di dalam mobil Leon memejam kan matanya melihat Tania berlarian di bawah gerimisnya hujan ''jangan lari-larian'' Leon mulai turun dari mobilnya dan melihat Tania yang masih berlarian kecil sembari menutupi wajahnya dari air hujan ''kenapa sih?'' tanya Tania heran ''kamu bilang kenapa? kamu ini sedang hamil jangan lari-larian seperti itu lagi yang ada jika saya melihat kamu berlari-larian lagi saya akan memotong kaki kamu'' Tania melirik ke arah perutnya.


perutnya memang membuncit lantas jika berlarian kecil salahnya di mana? ''jangan terlalu berlebihan deh orang tidak apa-apa Ya sudah ayo pulang'' ajak Tania namun Leon masih tetap menatap Tania dengan tajam.


''berlebihan kamu bilang? jika terjadi sesuatu pada calon anak saya, saya tidak akan segan segan membuat perhitungan kepada mu'' Tania menganggukan saja kepalanya agar masalah ini cepat selesai dan mereka cepat-cepat pulang.

__ADS_1


sedangkan di dalam rumah kontrakan rupanya wiromo mendengar percakapan antara neneknya dan juga Tania tadi ''keponakan macam apa yang hanya memberikan uang Rp500.000 saja, seharusnya nenek minta yang banyak bukannya malah sok-sokan menolak'' marah wiromo.


''Iya nenek ini bagaimana sih Bagaimana kehidupan kita untuk selanjutnya kalau hanya mendapatkan uang Rp500.000 seperti ini, ongkos naik taksi itu mahal belum lagi jajan Anya di sekolah'' nenek Tania gini diintimidasi oleh ketiga orang yang benar-benar jahat.


tiga bulan sudah berlalu, Anya yang tidak memiliki pemasukan sama sekali benar-benar stress ditambah lagi Ia akan menghadapi ujian yang biayanya mahal.


mau tak mau Anya memiliki jalan pintas untuk menjual dirinya, di sebuah aplikasi Anya mendapatkan orderan, segera Anya bersiap-siap, yang terpenting malam ini ia mendapatkan uang banyak untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya dan juga biaya sekolahnya.


di sebuah gedung perjudian Anya menghentikan langkah kakinya, Ia menelan salivanya dalam-dalam sudah cukup lama memang Anya tidak bermain dunia malam ditambah lagi ini adalah hari pertamanya memasuki dunia perjudian.


di dalam sama sekali tidak ada wanita muda seusianya yang ada hanya seorang tante-tante dan ibu-ibu yang merokok sembari mengocok Dadu dan ada juga yang bermain kartu ''halo gadis manis kamu Anya kan?" Anya mengganggu kan kepalanya lalu ditarik tubuhnya ke dalam pangkuan pria berumur 40-an itu.


sebenarnya Anya merinding karena pria yang akan ia layani ini seusia ayahnya sendiri "join bisa kan?" Anya langsung menggelengkan kepalanya ''Om kasih 50 juta join 5 orang bagaimana?'' mendengar nominal yang cukup menggiurkan Anya langsung mengangguk kan kepalanya.


di sisi lain Tania yang ujiannya akan online kesal karena perutnya ini tidak bisa diajak kerjasama ''Ya ampun nak kamu bisa tidak sih besarnya itu nanti saja setelah Mama selesai ujian jangan pas waktu mau ujian besar'' omel Tania kepada perutnya yang besar itu di mana usia kandungannya ini sudah memasuki 5 bulan ditambah lagi bayinya ini kembar.



''hahaha kamu seperti orang gila saja berbicara dengan perut, justru bukannya lebih enak online ya daripada kita harus ke sekolah dan diawasi itu lebih mencekam tahu'' Tania menggelengkan kepalanya justru dengan sekolah Tania akan merasa senang dan bahagia.


tidak jenuh seperti di rumah jalan-jalan pun dibatasi ''aku jenuh Tasya, semua bajuku tidak muat lihatlah tubuhku Seperti apa sekarang besar sekali bukan?'' Tasya mengangguk dan kembali tertawa ''sabar namanya saja ibu hamil, oh iya nanti mendekati kamu melahirkan kakek akan datang ke sini'' bukannya senang Tania malah panik bisa-bisa riwayatnya selesai setelah melahirkan nanti.


mendengar itu Tania tidak senang ekspresi wajahnya menjadi muram ''kenapa sih kok tiba-tiba ekspresi wajahmu berbeda setelah aku mengatakan bahwa kakek akan kemari?'' Tania langsung tersadar oleh lamunannya dan tersenyum tipis ''nggak apa-apa kok, sekarang kita turun ke bawah ya udah sore takutnya nggak keburu untuk masak sebentar lagi kan Mas Leon pulang'' Tasya mengangguk dan menuntun Tania yang kesulitan dalam berjalan karena perutnya yang besar.

__ADS_1


sebenarnya usia kehamilan 5 bulan tidak sebesar ini tapi namanya saja hamil bayi kembar jadi terlihat besar ''Mbak Lastri malam ini mau masak apa?'' Mbak Lastri kini menyodorkan menu di hari itu juga di mana jadwal makan sudah diatur ''pasti Mama yang buat ya?'' Mbak Lastri mengangguk siapa lagi di rumah ini yang rajin membuat jadwal makanan kecuali mertua Tania itu.


''Ya sudah deh bawa sini bumbu-bumbunya akan Tania rajang'' saat Tania berkata seperti itu mertua Tania berkacak pinggang seolah-olah ingin memarahi Tania yang masih bekerja ''jangan berikan apapun kepada Tania sudah berapa kali Mama bilang jangan membantu-bantu pembantu, itu sudah tugas mereka kamu hanya tinggal menyuruh-nyuruh saja kamu ini sedang hamil jadi jangan pegang sesuatu oke?'' Tania menghela nafasnya dan mengangguk saja.


''Iya Mama, Mas Leon kira-kira malam ini pulang tidak ya?'' tanya Tania sembari memegangi pinggangnya ''tadi telepon Mama katanya malam ini pulang tapi kurang tahu juga siapa tahu ada meeting dadakan, oh iya Bagaimana persiapan ujiannya sudah ada tahapan?'' Tania mengangguk guru Tania memang selalu datang setiap pagi untuk memberikan soal-soal ujian yang Tania kerjakan sendiri.


agar nanti saat ujian sekolah berlangsung Tania tidak akan kaget dengan soal-soal yang begitu menyulitkan ''ya seperti itu mah hanya latihan-latihan soal saja'' saat sedang berbincang-bincang telepon Tania berdering.


telepon Tania ini sudah bukan telepon jadul lagi sudah bukan telepon lama lagi melainkan telepon terbaru yang diberikan oleh Leon ''siapa sayang" tanya Kirana yang melihat menantunya ini berjalan sembari mengelus perutnya akan mengangkat telepon ''Mas Leon Ma'' sesampainya di ruang tamu Tania langsung mengangkat telepon.


drrt drrt drrt drrt drrt drrt


drrt drrt drrt drrt drrt drrt


"Iya halo mas ada apa?" tanya Tania.


''kapan ada rencana ke dokter?'' mendengar kata dokter Tania langsung mengernyitkan dahinya apakah suaminya ini mengajak Tania untuk memeriksakan bayinya ke dokter, mengingat selama hamil ini Tania sama sekali tidak pernah ke dokter, terakhir kali Tania hanya ke bidan untuk USG dan itupun saat usianya 4 bulan di mana bayi itu kembar dan setelahnya tidak pernah lagi memeriksakan kandungan, mungkin bidan hanya mengingatkan untuk kembali lagi dan melihat jenis kelaminnya saja setelah itu Tania tak pernah kembali ke bidan, yang ada di rumah di disetok beberapa vitamin dan juga susu ibu hamil saja.


''tidak tahu tidak ada yang mengajak jadi tidak ke dokter'' Tania mencoba memancing siapa tahu pemikirannya itu benar ''Ya sudah nanti malam setelah makan malam kita ke dokter sekalian USG'' dengan senang hati Tania langsung menutup mulutnya dan tersenyum bahagia akhirnya dirinya memiliki kesempatan untuk ke dokter bersama suaminya.


jangan lupa like and vote nya kakak, dan COMENT juga pastinya biar author tambah semangat, soalnya baru bikin novel nih masa ngga ada yang nyemangatin 😑😂😋


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2