
seketika semua kamera tertuju pada Leon dan juga asisten Levin, dari flash kamera mulai menyorot wajah tampan Leon yang cerah dan juga memiliki kharisma yang kuat, para karyawan bersorak-sorak mereka sangat-sangat senang karena tak menyangka atasannya ini sangat begitu tampan dan mempesona.
para bodyguard Leon yang cukup banyak ini kewalahan karena dirinya didorong-dorong oleh para wartawan wartawan dan juga media-media dari beberapa stasiun televisi.
asisten Levin mengekor tepat di belakang Leon dirinya sempat melirik sekilas ke arah Agatha dan juga Raymond yang wajahnya syok benar-benar syok Levine dapat menebaknya itu bahkan bukan hanya Levine saja mungkin yang bisa menebak ekspresi wajah keduanya.
''Pak Leon i love you!!!" sorak-sorak para karyawan dan juga beberapa penonton yang ingin melihat konferensi pers itu secara langsung namun tetap saja mereka menonton dibatasi dan hanya bisa melihat di layar yang sudah disediakan.
Leon tersenyum tipis saat kamera mulai menjepret dan mengambil gambarnya dalam sisi yang berbeda-beda, risih memang tapi mau bagaimana lagi dirinya tak mungkin menyembunyikan jati dirinya terlalu lama karena tak ingin terpaut banyak masalah.
Riko Ayah Leon seringkali mengatakan bahwasanya kita tak perlu menguak jati diri kita walaupun Ayah Leon sudah terkenal di negara ini tetap saja sebagai anaknya Leon tak mungkin mempublish dirinya begitu saja.
''selamat sore semua'' sapa Leon "sore!!'' jawab mereka semua dengan nada yang cukup kencang karena mereka berteriak-teriak, sebenarnya di mana-mana konvensi pers tempat yang tenang tapi ini seperti pasar karena mereka syok melihat kedatangan Leon yang tak pernah mereka temui.
di balik wajah-wajah mereka terdapat satu wajah yang muram dan bahkan sedih, ya siapa lagi kalau bukan Agatha yang menahan air matanya yang akan menetes.
Raymond sedikit kesal dan bahkan rasanya ingin sekali marah pada istrinya yang menatap sendu pada mantan kekasihnya itu ''kita pergi sekarang'' ajak Raymond dengan nada benar-benar emosi "tunggu sebentar kita belum mendengar pembukaannya bukankah tidak sopan jika kita langsung pergi begitu saja'' tahan Agatha yang mengerti bahwasanya Raymond tengah marah.
''terserah jika kamu masih ingin di sini maka di sini saja sampai besok'' Agatha langsung mengambil tasnya dan bergegas berdiri menyusul Raymond yang langkahnya semakin menjauh dari dirinya.
sembari berjalan menghampiri Raymond mata Agatha terus tertuju pada pria yang sedang duduk di meja konferensi pers sembari menyapa karyawan-karyawannya.
__ADS_1
sedangkan asisten Levine yang duduk tepat di samping Leon pun melipat kedua tangannya di dada sembari tersenyum sinis ke arah Agatha dan juga Raymond yang sedang berjalan menjauh dari mereka.
Levine puas sekali hari ini karena rasa sakit atasannya ini tak sebanding dengan apa yang sudah ditorehkan oleh Agatha, Apa susahnya mengambil keputusan bahwa tidak ingin menikah dengan Raymond hanya karena desakan orang tuanya, Leon bahkan memiliki segalanya sedangkan Raymond kaya hanya karena hasil kerjanya di perusahaan Wilson arganta ini.
Jika saja Leon sudah tidak memiliki hati mungkin Leon sudah dari kemarin memecat Raymond dari perusahaannya ini, tapi Leon sadar urusan luar tidak bisa diikut campuri dengan urusan dalam yang nantinya malah semakin runyam.
waktu demi waktu berlalu tak terasa malam sudah sangat larut, Leon pulang benar-benar lelah dan bahkan langsung tidur tanpa mandi terlebih dahulu karena saking lelahnya di perjalanan dan juga banyak wartawan yang menanyai akan hal-hal yang menurut Leon tak penting.
demi nama baik perusahaan Leon akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan santai dan apa adanya ya walaupun malas setidaknya ini adalah sebuah kontribusi dirinya untuk Citra perusahaannya.
tiba-tiba saat Leon akan memejamkan matanya dirinya teringat akan sosok Tania wanita yang kini menjadi dendam pertamanya, Leon mengeluarkan ponselnya dan mulai berpikir apa yang harus ia lakukan kembali agar gadis itu benar-benar tersiksa di saat Leon lelah, Leon pastinya emosi dan bahkan seringkali meluapkan emosinya kepada beberapa pembantu.
emosi yang Leon keluarkan hanyalah sebuah kata-kata saja dan bentakan tidak dengan memecahkan barang-barang di rumah tapi ini adalah ide pilihan Leon yang mungkin akan menjadi referensi dirinya untuk membuat Tania berada di rumahnya dan menyiksakannya perlahan demi perlahan.
Agam dan juga Mona bahkan sudah tak pernah bertengkar selisih paham seperti waktu itu entah saat keadaan genting atau pun dalam keadaan biasa-biasa saja.
"kita seharusnya berdamai dengan Tania'' ucap Mona sembari melamun menatap pot bunga yang ada di hadapannya padahal malam sudah larut tetapi mereka masih di teras membicarakan perihal Tania.
rumah Mona dan juga Agam adalah bersebelahan jadi mereka berbicara tepat di balkon atas rumah yang berdempet namun terpisahkan oleh tembok yang sudah didesain seperti satu rumah.
"apa kita tidak mendengarkan penjelasan Tania dulu sepertinya kita terlalu gegabah menjauhi Tania '' Agam menatap bintang-bintang dan sedikit menyesal ''kamu sih kalau ada apa-apa selalu gegabah jadi begini kan waktu ke pesta ulang tahun yang bohongan itu Kau juga sangat antusias padahal kami berdua sudah menolak, sekarang saja tahu baru ingin berdamai dengan Tania dasar aneh'' tutur Mona lalu meja yang di sana terisi dua teh digebrak oleh Agam.
__ADS_1
"bisa-bisanya kau menyalahkanku? waktu ku beritahu perihal Tania kau tidak inginkan Tania tinggal bersamamu sekarang saja kau baru terasa jadi jangan menyalahkanku deh kita semua ikut Andil dalam masalah ini'' mereka kembali bertengkar walaupun bertengkarnya biasa saja namun ini cukup dirindukan keduanya.
Mona kembali melamun lalu dirinya memikirkan Bagaimana caranya agar dirinya dan juga Tania bisa berdamai dan juga Tania bisa menjelaskan akan apa yang ada di foto itu.
'''eh mau ke mana'' panggil Agam saat melihat Mona berlarian masuk ke dalam kamarnya "tunggu sebentar aku akan mengambil sesuatu jangan masuk dulu ke kamarmu ini penting" Agam menggangguk kecil lalu menunggu Mona yang cukup lama di dalam sana.
tak lama karena menunggu Mona yang masuk cukup lama Agam terpikirkan akan ide Bagaimana caranya dirinya bisa berdamai dengan Tania akhirnya Agam juga ikut masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengambil sesuatu barang.
Mona dan juga Agam keluar dari kamarnya masing-masing menuju balkon secara bersamaan hingga mereka kini duduk di meja yang sama namun di kursi yang berbeda jika Mona di sebelah kanan, Agam ada di sebelah kiri meja mereka bersatu di tembok ya! namanya saja beda rumah namun saling berdekatan.
''sepertinya kita memiliki pemikiran yang sama hahaha'' tawa Agam saat mereka membawa kotak yang sama dan juga buku ''iya iya deh Ya sudah Apa yang ingin kamu tulis dan kira-kira hadiah apa ya yang cocok untuk permintaan maaf kita?'' Agam dan juga Mona sama-sama berpikir hingga tiba-tiba ayah Mona pun keluar dari arah bawah ke kamar Mona dan melihat Mona bersama dengan Agam tengah menulis sesuatu.
Ayah Mona menghampiri Mona dan melipat kedua tangannya di dada sembari menggeleng-gelengkan kepalanya putrinya di tengah malam seperti ini belum tidur ''ini sudah jam berapa belajarnya dilanjut besok lagi ya'' Mona memanyunkan bibirnya dirinya baru saja terpikirkan ide kata-kata cemerlang yang bagus dan epic tapi sudah disuruh tidur saja.
''papa bisa tidak sih nanti saja kita ini sedang berpikir keras besok ada ulangan loh sebentar lagi tidur kok tidak ada 15 menit kita sudah tidur ya'' pinta Mona dengan nada memohon dan sedikit kesal ''ya sudah, Agam Om titip Mona ya, kalau terjadi sesuatu pada Mona Om akan salahkan kamu'' Agam tertawa kecil dengan candaan ayah Mona lalu dirinya mengambil sikap hormat.
''siap 45 Om'' Ayah Mona tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya tak terasa putrinya yang dulu kecil dan cengeng kini sudah bertumbuh dewasa, dulu Mona seringkali menangis jika tidak diperbolehkan ikut bermain bersama Agam karena Agam akan bermain dengan teman-temannya yang laki-laki.
Mona menangis memberontak dan Agam selalu menolaknya tidak ingin diikuti terus-menerus oleh Mona hingga pada akhirnya Ayah Mona dan juga Ayah Agam memberikan pengarahan agar mereka main bersama-sama dan tidak jauh-jauh, keduanya harus saling menjaga satu sama lain.
maka dari itu sampai sekarang Ayah Mona sangat mempercayakan Agam untuk menjaga Mona, Mona memiliki kakak laki-laki bernama Alvin Wijaya cukup galak memang tapi kakaknya ini 100% percaya pada Agam dan bahkan jika keduanya bermain antara Agam dan juga Alvin Mona akan dilupakan begitu saja seolah-olah seperti tidak ada di antara mereka.
__ADS_1
Bersambung...