CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 63


__ADS_3

di rumah mewah asisten Levine istrinya kini tengah merajut sebuah syal, Iya merajut sembari menyanyikan lagu yang ia sukai ''pagi-pagi begini aktivitasnya sudah menjahit saja'' Yura langsung memandang suaminya ''ini bukan menjahit tapi sedang merajut Mas'' kata Yura membenarkan perkataan suaminya yang salah.


suaminya tersenyum rupanya dirinya tidak bisa membedakan mana menjahit dan mana merajut maklum bertahun-tahun Yang Levin lakukan hanyalah mengerjakan pekerjaan kantor saja kalaupun senggang ia gunakan untuk beristirahat ataupun berlibur.


''Bagaimana sekretaris baru itu tidak genit kan denganmu apa jangan-jangan kamu lagi yang genit sama dia'' kata Yura sembari memandang suaminya yang tiba-tiba tersedak saat sedang minum ''uhuk uhuk uhuk tidak mungkin dong sayang mana mungkin Mas Levine menduakan kamu dia itu biasa-biasa saja kok dan bahkan terkesan sopan tidak ingin bersalaman dengan mas Levine karena menghargai bahwa kamu adalah istri dari Mas Levine'' kata-kata Levine yang sedang menyanjung istrinya ini.


''Bagaimana Mas mengenai kondisi Mbak Tania dan juga Pak Leon'' Levine mulai menghela nafasnya seharusnya istrinya ini tidak perlu menanyakan kondisi Leon karena Leon pasti akan baik-baik saja tidak seperti dirinya ini yang disibukkan oleh project-project yang terus berdatangan silih berganti dan tidak memberikan jeda untuk dirinya beristirahat dan bersantai-santai ria dengan istrinya.


''dia baik-baik saja kok yang sedang tidak baik-baik saja ini suamimu yang selalu bekerja tiada henti sedangkan aku yang memiliki seorang istri sama sekali tidak peka'' Yura tertawa rupanya suaminya ini sedang menyindir dirinya ''kamu kan sudah besar dan aku pun tahu kamu sedang lelah dengan pekerjaan bukankah selama ini jika kamu pulang bekerja aku selalu melayanimu menyediakan makan malam menyiapkan air panas untukmu mandi dan memberikan pelayanan terbaik untukmu'' Levin tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu memeluk istrinya ini dengan penuh kasih sayang.


drrt drrt drrt drrt drrt drrt


drrt drrt drrt drrt drrt drrt


Levin benar-benar geram dengan teleponnya yang berdering, tidak bisakah ponselnya ini berdiam beberapa menit saja untuk memberikan refleksi kepada dirinya yang sedang melepaskan rasa-rasa penat.


''aku langsung to the point saja, hari ini kau cuti, karena ayahku akan mengurus perusahaanku bersama dengan asisten pribadinya jadi selamat berlibur untuk seharian ini" kata Leon di balik telepon tanpa basa-basi.


''nah begitu dong, akhirnya aku bisa berlibur" kata Levin yang merasa lega akhirnya dirinya mendapatkan dispensasi ''jika tidak seperti ini maka kau akan ngedumel sendiri di belakangku'' kata Leon di balik layar sembari menghisap rokok yang ada di tangannya.


setelah mereka berbincang-bincang sebentar akhirnya sambungan telfon pun terputus dan Levin langsung mengajak istrinya di pagi hari ini untuk berolahraga sebentar di dalam kamar.


di tempat lain Leon yang baru saja menyudahi percakapannya bersama Levin ditelepon tiba-tiba ada seseorang yang melemparkan kertas namun di dalamnya terdapat batu di mana gumpalan kertas disertai batu di dalamnya itu sampai memecahkan kaca rumah milik Leo.


prang!!!!


mata Leon kini tertuju pada pria berjubah hitam, setelah pria jubah hitam itu terpergok oleh Leon dengan sekencang-kencangnya Ia berlari sedangkan Leon masih berdiam terpaku pada ada masalah apa pria itu sampai-sampai melempar rumah adiknya ini dengan kertas berisikan batu.


diambilnya kertas berisikan batu itu lalu mulai dibacanya kata-kata yang ada di dalam kertas.


...''Leo, dimana janji mu!! putriku kini sedang hamil!! jika tidak ada etikat baik maka hati-hati wanita yang ada bersamamu akan ku musnahkan''...


Leo yang mendengar suara pecahan kaca kini tengah terdiam terpaku melihat kakaknya sedang membaca sebuah kertas ''kau menghamili seorang wanita?" Leo menganggukkan kepalanya mungkin saja musuh dari Leo ini beranggapan bahwasanya Leon ini adalah Leo dan Tania adalah istri Leo padahal Tania adalah istri Leon lihat saja sampai terjadi sesuatu pada istrinya Leon tak akan tanggung-tanggung membuat perhitungan entah kepada Leo sendiri maupun kepada musuhnya yang tak diketahui.

__ADS_1


''Bagaimana bisa kau memiliki musuh?'' Leo mulai memberikan isyarat mengajak Leon untuk ke tempat yang lebih nyaman untuk mereka berdua bercerita ''jadi begini, beberapa tahun yang lalu aku bergabung dengan mafia asal Amerika bisa dibilang musuh dari kakek, aku mulai belajar banyak darinya entah dari segi membela diri ataupun dari segi mengelola perusahaan dan awalnya memang aku diberi modal oleh anggota mafia itu tapi aku mengkhianatinya karena aku sedang terfokus dengan tujuanku untuk melindungi Tania dan mengubah sistem perusahaan kakek yang terlalu berlebihan dalam membuat keputusan seperti memutus kontrak secara sepihak dan merugikan perusahaan-perusahaan kecil, perusahaan yang sedang berkembang seharusnya tidak diperlakukan seperti itu, di tambah lagi aku sedang menjalin hubungan asmara dengan putrinya'' kata Leo yang mulai memperjelas.


seharusnya tanpa dijelaskan oleh Leo, Leon harusnya sudah mengerti dan mau berada di pihaknya "aku setuju dengan apa yang kau katakan tapi langkahmu benar-benar sudah jauh dan salah kaprah, jika kakek tahu kau memiliki musuh yang ada keluarga Wilson arganta akan memiliki skandal yang tidak ada jedanya, belum lagi setelah kita pulang nanti identitasmu akan dibongkar" ucap Leon yang memandang adiknya dengan tatapan pasrah tentang bagaimana kedepannya nanti apalagi kini sudah ada kehadiran si kecil.


di mana tantangannya akan semakin berat melindungi pewaris dari Leon arganta "aku pula sudah tidak memiliki pemikiran dan tidak mungkin aku kembali ke anggota mafia itu yang ada aku akan dibunuh, seharusnya kau sebagai kakakku mau membantuku bukannya menyalahkanku seperti ini, Aku mengakui memang aku salah tapi tolonglah kali ini saja" Leon menyodorkan ponselnya yang berisi mengenai kontrak dengan perusahaan ternama di Amerika yang masih ada sangkut pautnya rupanya dengan anggota mafia itu.


"kalau begitu ini bisa menjadi peluang besar bagi kita membuat skenario bahwasanya perusahaan ini digadang-gadang tengah berada di ujung tanduk dan akan segera gulung tikar'' ya itulah rencana licik Leo untuk membuat perusahaan lawan tunduk ''seharusnya kau melakukan rencana licik itu seperti ini bukannya malah kau berpura-pura mati itu sama sekali bukan cara yang sempurna dan bagus" singgung Leon Di mana rencana adiknya ini sangatlah konyol.


dari bukti-bukti yang selama ini Leon selidiki memang sangatlah janggal ternyata Leo masih hidup dan sehat walafiat tanpa kekurangan apapun malah bisa membangun perusahaannya sendiri.


"kita tidak perlu membuat masalah yang kita perlukan adalah membuat somasi agar anggota mafia itu dibubarkan itu sudah cukup" Leon berkata dengan santainya tanpa tahu jantung adiknya ini sudah berdebar-debar karena merasa takut "aku hanya mengikuti saranmu saja jadi tolonglah bantu aku, bukankah aku juga sudah membantu istrimu sampai melahirkan sekarang ini? tapi bagaimana dengan kekasihku yang sedang hamil?" Leon menaikkan satu alisnya rupanya adiknya ini malah mengungkit masalah balas budi.


selama ini Leon sudah cukup stress mencari Di mana keberadaan adiknya hingga menyiksa istrinya sendiri.


tapi sekarang dengan entengnya ia mengatakan sudah membantu istrinya dan terkesan menginginkan bantuan dari Leon secara lebih.


"ck CK CK, pantas saja kau tidak tahan dengan siksaan kakek yang bertubi-tubi ternyata belum apa-apa kau sudah menyerah dan melakukan apapun sesuai Kehendak mu sendiri tanpa memikirkan konsekuensinya, lalu dengan gampangnya kau berkata sudah menolong istriku? selama ini aku menyiksa istriku sendiri karena perbuatan mu Leo, keluarga besar kita sepenuhnya menuduh bahwasanya keluarga Tania lah yang membunuhmu, kalau kau ingin masalah ini cepat selesai maka nikahilah putri dari ketua mafia itu" ungkap Leon yang sebenarnya tidak ingin menceritakan masalah ini.


"baiklah aku akan berusaha menyelesaikan masalah itu sendiri, tapi aku sangat meminta mohon padamu Jika terjadi sesuatu padaku jadilah penolong pertamaku" Leon beranjak dari duduknya menepuk bahu Leo dan mengangguk "kau bisa menghubungiku kapan saja dan selagi aku bisa membantumu aku pasti akan membantumu, tapi ingat jangan jadikan Tania sebagai landasan balas budi" Leo menganggukkan kepala dan mengerti rupanya kakaknya ini sudah benar-benar mencintai Tania.


''tolong bersihkan serpihan kaca ini dan gantikan dengan kaca anti peluru" ucap Leo kepada kepala pelayan yang mengatur semua para pembantu di rumah ini "baik Tuan akan segera kami laksanakan" Leo pergi meninggalkan kepala pelayan itu bersama beberapa pembantu yang turut ikut di belakangnya.


 


keesokan harinya pagi sudah menjelang Tasya kini buru-buru berangkat ke kampus seorang diri, Iya memaksakan dirinya menggunakan motor matic tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


ini semua Tasya lakukan untuk melatih kemandiriannya ditambah lagi jalan juga pasti sudah sangat macet dengan adanya motor tentu bisa menghalau kemacetan itu.


'duh Bagaimana ini bisa-bisa dimarahi lagi sama dosen baru itu, mana wajah dosen baru itu mengesalkan dan persis seperti Kak Leon' Tasya mengemudikan motornya secara ugal-ugalan membuat polisi yang melihatnya pun langsung mengejarnya.


Tasya sudah panik bukan main karena dirinya tidak memiliki SIM langsung tancap gas 'Ya ampun cobaan apa lagi di pagi hari ini Tuhan, aku harus lolos dari kejaran mereka jika tidak Mama dan papa pasti akan marah besar' untuk mengelabuhi aparat polisi Tasya masuk ke sebuah gang yang cukup sempit dirinya berkelok-kelok entah ke mana arahnya dirinya pun tak tahu.


setibanya di gang bercabang ia mengarahkan motornya ke arah jembatan ya walaupun sulit harus ia lewati.

__ADS_1


"Hei jangan kabur kamu'' motor yang belum berplat dan juga Tasya yang mengenakan masker dan juga helm sangat sulit dikenali oleh polisi membuat polisi kebingungan sendiri karena dirinya mengajar menggunakan mobil.


Tasya kembali menancapkan gasnya dan mulai membuka ponselnya dirasa tempat sudah aman "oh ternyata jalan pintas kalau begini caranya bisa cepat dong ke kampus" tapi namanya saja sudah hari apes walaupun sudah masuk ke gedung universitas yang luas ini tetap saja dirinya telat.


dengan malas Tasya mengetuk pintu dan meminta izin untuk dapat memasuki kelas seperti biasanya "permisi Pak Maaf saya terlambat karena tadi di jalan macet" Mona yang melihat kedatangan Tasya pun memijat-mijat kepalanya bisa-bisa pagi ini Tasya dijadikan tumbal oleh dosen baru yang bernama Felix.


tak dipungkiri Felix baru saja memarahi murid yang terlambat itu pun baru saja ditambah lagi kedatangan Tasya entah apa yang akan diterima oleh Tasya saat ini.


''ambil posisi jongkok" kata Felix dengan wajah datarnya walaupun tampan jika sikapnya sangat dingin dan cuek mana ada tampan-tampannya di wajah Tasya "saya kan cuman terlambat 10 menit Pak masa iya sih suruh jongkok'' omel Tasya kesal "kalau kamu tidak ingin mengambil posisi jongkok sekarang keluar dari kelas saya" dengan amat terpaksa Tasya memilih keluar dari pelajaran Pak Felix ini daripada dirinya harus berdebat.


hari ini mood Tasya sedang tidak baik-baik saja, baru saja dikejar oleh polisi dan kebut-kebutan untuk mencapai kampus tiba-tiba sesampainya di kampus malah dihukum.


biasanya saat telat pun tidak akan dimarahi seperti ini tapi dosen ini saja yang terlalu berlebihan dan tidak mau menerima dan mentolerir alasan seperti apapun.


''siapa nama dia'' kata Felix sembari membuka bukunya entah apa yang akan ditulisnya di dalam buku "Tasya pak" dan benar tebakan dari Mona pasti nama Tasya tengah ditulis di buku.


''sepertinya Tasya akan mendapatkan masalah" bisik Agam kepada kekasihnya itu yang dengan seksama memperhatikan dosen barunya tengah menulis "bocah satu itu ada-ada saja sih mengapa bisa telat seperti ini" gumam Mona yang merasa tidak terima jika nantinya terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


setelah keberadaan Tania yang menghilang entah ke mana Tasya lah yang menggantikan posisinya walaupun tidak bisa seutuhnya menggantikan setidaknya Tasya sudah menjadi partner yang benar-benar bisa mensupport.


''Baiklah tugas kelompok sudah saya berikan saya harap minggu depan di pertemuan kita tugas itu sudah selesai dan sudah dikumpulkan setelah dikumpulkan silakan kalian presentasi kalau bisa buat 2 penelitian tentang kalian sendiri lalu di duplikat satunya untuk dikumpul dan satunya untuk bimbingan kalian sebelum maju untuk presentasi, sekian dari saya selamat pagi" ucap Felix yang langsung pergi meninggalkan mahasiswa dan mahasiswi yang masih terpukau dengan ketampanannya.


''pagi Pak'' jawab mereka semua serempak setelah tubuh itu benar-benar pergi meninggalkan ruangan "kamu ikut saya" Tasya memicingkan matanya apalagi masalah yang akan diterimanya "duh kalau begini caranya bisa-bisa saya mati tegang'' gumam Tasya sembari melipat kedua tangannya di dada dan mengikuti langkah kaki Felix "Apa yang kamu katakan barusan? lain kali dalam berbicara itu disaring dulu ucapan adalah doa Jika kamu benar-benar mati tegang di samping saya itu yang ada akan merepotkan saya!" Tasya memanyunkan bibirnya.


rupanya dosen satu ini tidak bisa diajak bercanda dan kondisinya sangatlah tidak memungkinkan bagi Tasya meminta keringanan untuk hukumannya nanti.


''karena kamu terlambat dalam pelajaran saya, saya akan memberikan kamu tugas membuat rancangan dan juga tabel mengenai perusahaan kenangan dan juga masukan jumlah-jumlah uang yang sudah tertera dalam soal ini, setelah selesai langsung berikan kepada saya jika belum selesai kamu tidak akan boleh keluar dari ruangan saya" Tasya menelan salivanya dalam-dalam.


malas sekali rasanya menghitung uang yang tidak nyata, terkadang walaupun nyata Tasya masih mengandalkan mesin untuk menghitungnya daripada harus susah-susah menghitung dengan tangan dan melihat berapa banyak selisihnya.


like nya jangan lupa kakak💞👋


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2