
''Pak bisa Tidak soalnya jangan sebanyak ini, saya ini adiknya Leon Wilson arganta loh pemilik perusahaan Wilson entertainment dan Wilson modis fashion" ucap Tasya yang mulai membanggakan diri agar dosen yang ada di hadapannya ini merasa takut.
tapi bukannya merasa takut Felix malah merasa biasa saja karena dirinya sendiri pun asisten pribadi Kakak dari Tasya di mana kakak Tasya pasti akan lebih mempercayainya daripada adiknya sendiri mengingat status asisten pribadi adalah tangan kanan sedangkan adik tentunya hanya sebatas hubungan saudara dan darah, di mana seorang kakak akan memarahi adiknya jika melakukan kesalahan tidak dengan tangan kanan jika melakukan kesalahan pastinya akan dikoreksi dan harus membenahinya dengan sedemikian rupa ditambah lagi Felix diberikan gaji.
jadi tidak akan kakak Tasya ataupun kerabat Tasya mendatangi Felix hanya karena masalah sepele seperti ini.
"lalu apa urusannya dengan saya? mau dia pengusaha besar mau dia penguasa di negara ini bahkan seluruh dunia ini itu tidak ada urusannya dengan saya, jadi cepat kerjakan ini jika kamu tidak ingin mengerjakan silakan panggil kedua orang tua kamu untuk menghadap dengan saya" pria satu ini benar-benar menjebak Tasya, Tasya pula tidak mungkin memanggil kedua orang tuanya yang ada ia akan terkena masalah lagi.
sudah berangkat ke kampus membawa motor seorang diri ditambah lagi tadi dikejar-kejar polisi dan sekarang di sekolah terkena hukuman.
''iya iya dasar Dosen cerewet" ketus Tasya "coba kamu ulangi apa yang kamu katakan tadi? kamu adalah putri dari Wilson dari keluarga yang sangat terkenal tapi apakah begini sikap putri dari Riko Wilson arganta hmm?" Tasya memilih diam dan tak bergeming ia melanjutkan apa yang harus ia kerjakan daripada harus berdebat dengan pria yang ada di hadapannya.
seumur hidup Tasya baru kali ini ia dihadapi dengan pria yang tak merasa takut pada dirinya, dengan gampang dan entengnya malah menantang Tasya untuk membawa kedua orang tuanya kemari.
''kenapa sih Bapak masih di sini saja, saya bisa kok mengerjakannya sendiri tanpa harus dipantau'' Felix tersenyum Devil mana ada orang yang akan percaya dengan perkataan Tasya apalagi Tasya terbilang bocah.
''kamu kira saya bodoh, dengan saya pergi dari hadapan kamu, kamu pasti akan browsing di internet dan mengerjakannya dengan sangat mudah, pelajaran akuntansi ini sudah dipelajari sejak SMA seharusnya kamu paham dan mengerti jangan-jangan di pelajaran ekonomi kamu tidak pernah masuk lagi'' ledek Felix saat melihat wajah tegang dan wajah serius Tasya ''enak aja Tasya itu selalu berangkat hanya gurunya saja yang tak pernah berangkat dan memakan gaji buta'' sikap Tasya yang ceplas-ceplos membuat Felix tertawa ini adalah kali pertamanya ada seorang wanita yang sikapnya terlalu blak-blakan di hadapannya.
tidak seperti wanita-wanita lain di luaran sana yang sangat menjaga citranya dan selalu menampilkan penampilan yang bukan aslinya.
__ADS_1
''pacar kamu pasti tertekan jika memiliki pacar yang sembrono seperti ini'' tatapan Tasya kini sinis namun tatapannya itu bukan yang membuat Felix takut Felix malah tertawa terbahak-bahak karena ekspresi Tasya yang sangat lucu "Bapak meledek saya? Iya saya tidak pernah pacaran salahnya memangnya di mana Dengan begitu saya kan bukan wanita murahan yang mau jadi piala dan dipegang oleh banyak teman seperti dari pria satu ke pria yang lainnya'' Felix memegangi perutnya.
jangan-jangan tidak ada pria yang mendekati Tasya karena sikap Tasya yang terlalu tomboy dan juga terlalu terbuka dengan kepribadiannya ya walaupun tidak terlalu tomboy-tomboy amat dan bisa dibilang feminim juga tapi jika di hadapan Felix entah mengapa wanita satu ini terlihat begitu berpower.
''kenapa kamu kebingungan cara mengerjakannya?'' dengan santai Tasya menggelengkan kepalanya dan masih sibuk memasukkan angka-angka yang harus dimasukkan dengan tepat ditambah lagi hitungannya yang tidak boleh salah.
''jangan terlalu meremehkan anak didik Anda, gini gini juga Tasya masuk peringkat 10 besar loh" ucap Tasya membanggakan dirinya sendiri di depan dosen barunya ''apa? masuk peringkat 10 besar kamu sudah bangga? kamu baru bisa bangga kalau kamu masuk peringkat 3 besar'' tutur Felix kepada murid didiknya ini.
lama mereka berbincang-bincang sembari Tasya mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen manajemen nya itu akhirnya semua pun selesai.
ya walaupun hasilnya tidak terlalu sempurna dan masih ada angka-angka yang penempatannya salah Felix bisa memaklumi itu "Ya sudah sana kamu keluar dari ruangan saya, besok-besok di saat saya mengajar jangan sampai kamu telat lagi saya sangat anti dengan mahasiswi yang telat seperti ini'' ucap Felix memperingatkan Tasya.
sedangkan di kantin terlihat Mona dan juga Agam tengah duduk santai memakan semangkuk bakso dan juga es teh yang ada di sampingnya.
''eh lo berdua nggak setiap kawan banget sih, tahu temennya lagi dihukum itu ditungguin bukannya malah kalian duluan ke kantin'' omel Tasya kepada kedua temannya itu ''tadinya kita juga akan menjemput kamu di ruangan dosen, tapi kan tidak enak ditambah lagi kita berdua sudah lapar, jugaan kamu aneh sih kenapa bisa telat di pelajaran dosen baru itu kan sama aja kamu yang cari masalah duluan'' jelas Mona.
sedangkan Agam hanya diam menikmati bakso yang panas dan lezat itu "biasa tadi pagi aku memilih berangkat menggunakan motor karena sopirku terlalu lama, karena aku telat jadi aku menaiki motor tanpa sepengetahuan Pak sopir dan juga sepengetahuan mama dan juga papa, dan saat di jalan tadi ada razia Aku mau tak mau harus mencari jalan tikus, dan setelah benar-benar lepas dari kejaran pak polisi malah di kampus ada dosen baru yang menyebalkan itu'' crocos Tasya sembari melipat kedua tangannya di dada.
''udah dari pada lo ngomel terus mending pesen bakso gih pasti lapar kan?'' Tasya menganggukkan kepalanya sembari berjalan menuju ibu-ibu kantin yang sedang menyajikan bakso-bakso yang super duper lezat.
__ADS_1
setelah berdebat dengan dosen baru tentunya tenaga Tasya habis terkuras jadi, Tasya harus mengisi staminanya dengan makan makanan yang lezat tentunya yang bisa membangkitkan dan memulihkan tenaganya kembali.
''eh lo tau nggak sih tuh adiknya pak Leon dipanggil dosen baru tahu karena telat, anehnya dosen baru itu berani banget sampai panggil Tasya ke ruangannya'' bisik salah satu mahasiswi yang tak jauh dari Tasya ''Iya sih gue juga sampai heran, semoga aja tuh dosen ganteng nggak dikeluarin dari universitas ini kalau sampai dia keluarin dari kampus yang ada kita nggak bisa lihat lagi dosen yang super duper tampan seperti dia'' ucap salah satu mahasiswi kembali membalas perkataan temannya tadi.
''ekhem, kalian berdua nggak perlu panik Dosen baru yang ngeselin itu nggak bakal dikeluarin kok, karena yang masukin dosen itu adalah kakak gue sendiri'' kedua mahasiswi itu mengelus dadanya selamat karena dosen baru itu tidak akan pernah terancam dikeluarkan kecuali keluar secara pribadi dan secara kehendaknya sendiri.
baru saja selesai bicara dengan mahasiswi itu Tasya berjalan akan menghampiri Mona tapi langkahnya terhenti karena berpapasan dengan dosen yang baru saja ditemuinya terakhir kali.
''wleee'' Tasya menjulurkan lidahnya meledek Felix yang akan memesan makan siang 'bocah satu ini benar-benar menyebalkan, tunggu saja aku akan membuatmu tidak betah diajar denganku' batin Felix yang mencoba sabar menghadapi Tasya yang sifatnya masih kekanak-kanakan.
ditambah lagi karena kodrat Tasya dari orang yang berpunya Tasya tidak terlalu banyak memiliki teman, jadi bisa bersikap nyeleneh seperti ini itu adalah sebuah kebebasan yang tidak diatur-atur oleh keluarganya.
''baru aja kamu dihukum sama dia bisa-bisanya kamu julurin lidah ke dia, nanti yang ada kamu dapat hukuman lagi loh'' Agam mengingatkan Tasya sembari meraih tisu yang ada di hadapannya ''wajah dosen itu menyebalkan jadi aku menjulurkan lidahku untuk memberitahukan bahwa dia tidak setampan yang dia kira dan tidak memiliki wewenang yang besar di universitas ini tahu, tenang saja selagi ada aku kalian berdua akan terbebas dari hukuman dosen Felix marjono'' Mona yang mendengarkan sembari meminum jus buah itu pun terbentuk batuk.
uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk
''Tasya kamu jangan mengarang-ngarang namanya dong, nama dengan marga sebagus itu bisa-bisanya kamu bilang marganya marjono" Agam yang mendengarnya tertawa sedangkan Mona sedikit tidak terima dengan nama sebagus itu diganti dengan nama yang marganya terbilang seperti bapak-bapak.
maaf banget Kalau ceritanya Kurang nyambung kalau ada waktu pasti bakal dibetulin lagi jangan lupa tinggalkan like dan comennya, kalau ada yang kurang nyambung komen di bawah aja nanti langsung bisa diganti.
__ADS_1
Bersambung...