
"yasudah kalau begitu saya tinggal" Tania langsung keluar dari kamar dan mulai membantu perkerjaan di dapur sedangkan di sebelah kamar Leon terdapat seorang wanita yang tengah menatap tidak suka saat tubuh Tania mulai menjauh dari kamar utama.
''dasar gadis pembunuh! lihat saja cepat atau lambat aku akan segera menyingkirkan mu dari rumah ini dan Kau pasti akan tahu siapa sebenarnya aku'' Gumam Agatha sembari melipat kedua tangannya di dada dan masih memperhatikan langkah Demi langkah Tania yang menuruni anak tangga.
andaikan saja di rumah ini sedang tidak ada orang tuamu dan juga adiknya mungkin Agatha akan membuat perhitungan dengan wanita satu itu.
''di mana Leon Tania?'' Kirana bertanya sembari tangannya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk makan malam ''Mas Leon akan mandi terlebih dahulu habis itu akan langsung makan malam'' Tania melihat betapa mertuanya cekatan dalam menyiapkan makan malam.
Tania wajib mencontohnya apalagi Tania tidak mempunyai pembantu seperti mertuanya yang selalu dibantu, apa-apa Tania lakukan sendiri jadi dari sini Tania harus bisa kerja cepat tepat.
saat sedang asyik mengobrol dan menyajikan makan malam tiba-tiba Agatha datang dengan senyuman manisnya ''selamat malam Tante Kirana, Maaf ya tidak bisa membantu karena tadi Agatha baru saja selesai mandi'' ujar Agatha tanpa ditanya oleh satu orang pun yang berada di dapur.
''Iya tidak apa-apa duduklah'' ucap Kirana sedangkan Tania masih sibuk mencuci perabotan-perabotan bekas memasak tadi, Tania benar-benar kesal Di mana otak wanita satu itu tidak bisakah ia ikut membantu untuk membereskan dapur bukannya datang-datang malah duduk.
yang Tania tahu singgungan orang tua mengenai untuk duduk adalah agar kita mengerti dan mau membantu tanpa bersantai-santai tapi ini malah kebalikannya Agatha malah bersantai-santai sembari memainkan ponselnya.
''Tania memangnya kau tidak risih dengan kehadiran orang ketiga itu?'' Tasya bertanya dengan nada berbisik agar tidak terdengar oleh ibunya dan juga orang yang bersangkutan langsung ''sebenarnya sih risih tapi mau bagaimana lagi Aku tak mungkin mengusirnya'' Tasya mulai memikirkan ide-ide gila.
Tasya tidak ingin posisi Tania sebagai kakak iparnya tersingkirkan karena adanya orang baru, dari dulu memang Tasya tak terlalu menyukai Agatha walaupun Agatha seorang model tetap saja Tasya tak menyukainya terlebih lagi dengan dandanannya yang terlalu berlebihan dan juga terlalu menor.
''Tania aku memiliki ide'' Tania mulai mendekat dan ingin mendengarkan akan ide yang didapatkan oleh Tasya ''aku akan tinggal di sini dan kita akan menyerang wanita itu berdua bagaimana??'' Tania mengangguk senang dengan begitu pekerjaannya selama ini tak akan terasa lelah.
''apa mama dan papa akan mengizinkan jika kamu tinggal di sini? tapi sepertinya papa tidak akan mengizinkan'' tanpa diberitahu dan tanpa meminta izin terlebih dahulu Tania sudah bisa menebaknya apalagi Ayah mertuanya itu sangat tidak menyukai dirinya.
__ADS_1
terlihat beberapa minggu yang lalu saat mereka datang ke rumah Ayah mertuanya itu menatap sinis kepada Tania seakan-akan memiliki dendam tertentu, dari tatapan itu Tania mulai sadar mungkin Ayah mertuanya sudah mengetahui akan pembunuhan Leo.
padahal pelakunya bukanlah kedua orang tua Tania melainkan pamannya, paman yang juga telah membunuh kedua orang tuanya dan juga adiknya ''sudahlah tidak perlu dipikirkan aku masih memiliki 1001 cara untuk membuat papa mengizinkanku tinggal di sini, jarak sekolah dari sini itu sangatlah dekat jadi mungkin aku akan beralasan seperti itu jika tidak berhasil aku akan mengatakan bahwasanya aku tidak akan berangkat sekolah Jika tidak tinggal di sini'' Tania menghela nafasnya mendengar ancaman-ancaman yang ekstrem itu.
ancaman-ancaman itu berlaku bagi orang kaya yang pastinya keinginannya akan langsung dituruti jika mengancam seperti itu, Tania sama sekali tidak pernah marah dan tidak pernah mengancam kedua orang tuanya mengenai hal pendidikan ataupun semacamnya.
yang terpenting Tania sudah bisa makan dan menikmati masakan rumah itu sudah menjadi nikmat tersendiri baginya ''Tasya kalau tidak boleh tidak apa-apa tidak perlu dipaksakan, aku masih bisa kok menghadapi semuanya sendiri'' tanpa Tania dan juga Tasya sadari Kirana mendengarkan percakapan itu tentunya Kirana sangat mendukung akan aksi kedua putrinya ini ingin mengusir calon pelakor.
bahkan sudah bukan calon pelakor melainkan pelakor di rumah ini ''Mama setuju jika Tasya tinggal di sini'' Kirana memotong perbincangan antara Tasya dan juga Tania yang berada di wastafel pencucian piring ''tuh kan kamu tenang saja Tania kupastikan aku akan tinggal di sini'' Tania mengangguk kecil dan tersenyum ke arah mertuanya.
saat berbincang-bincang semerbak wangi parfum yang elegan kini tercium tubuh kekar pria tampan, putih dan juga berperawakan tinggi mulai menuruni anak tangga dengan setelan kaos dan celana pendek.
makan malam pun dimulai setelah Leon turun, seperti biasanya Tania akan menyajikan makanan terlebih dahulu kepada suaminya lalu ke piringnya sedangkan yang lain langsung mengambil nasi ke piringnya masing-masing.
makan malam, malam ini sangatlah kondusif bahkan wanita yang tengah di was-was dan diwanti-wanti ini tidak mengeluarkan satu kata pun di meja makan, wanita ini hanya diam membisu sembari mencuri-curi pandang pada Leon yang menikmati makan malamnya.
''apakah kau tidak akan ke luar negeri lagi menemui kakekmu Leon?'' tanya Kirana dengan begitu penderitaan Tania akan terasa tidak seberapa jika pria satu ini tak satu rumah dengan menantunya ''Leon tidak akan kembali ke Amerika, Leon akan fokus dengan perusahaan di sini'' ucap Leon dengan nada dingin Tania hanya melirik sekilas lalu terdiam cukup lama karena parfum yang dikenakan oleh suaminya membuat dirinya merasa mual.
Tania langsung berdiri dari duduknya lalu berlarian menuju kamar mandi dan mual-mual seperti biasanya "huekk huek huekk huek'' Kirana yang mendengar suara itu langsung menghampiri menantunya ''kenapa? masuk angin ya?'' tanya Kirana sembari memberikan tisu untuk bibir Tania yang basah setelah dibasuh dengan air.
''mama, sebenarnya Tania hamil tapi mama jangan mengatakannya pada mas Leon ya?'' pinta Tania sembari menggenggam tangan mertuanya itu, Tania sengaja memberitahukan lebih awal kepada mertuanya ini agar nantinya tidak terlalu panjang masalahnya jika tidak ada yang tahu ''memangnya kenapa jikalau mengetahuinya bukan dengan begitu Leon akan lebih lembut padamu dan tidak akan pernah kasar'' Tania menangis dan menggelengkan kepalanya bisa-bisa jika Leon mengetahui akan kehamilannya ini Leon akan menuntut gugurkan kandungan ini.
''sebenarnya dari awal menikah saat berhubungan intim, mas Leon memberikan Tania obat dan Tania harus meminumnya tepat waktu agar Tania tidak hamil, tapi Tania tidak pernah meminumnya karena Tania takut sampai terakhir kali Tania mengecek tespek bergaris dua, jika Mas Leon tahu pasti mas Leon akan meminta Tania untuk menggugurkannya'' Kirana yang mengerti langsung memeluk menantunya ini.
__ADS_1
tentunya tidak mudah menjadi seorang wanita yang kuat seperti Tania menerima ujian demi ujian hingga pada saatnya nanti tiba ''sudah sudah tidak apa-apa Mama tidak akan menceritakannya kepada Leon'' dalam dekapan seorang ibu Tania menangis.
pelukan ini adalah pelukan yang ia rindukan pelukan yang tak pernah ia dapatkan lagi kecuali dari ibu mertuanya ''Mama ada apa sih Tasya tunggu-tunggu kok tidak kembali-kembali ke meja makan'' Tasya melongok ke dalam arah kamar mandi dilihatnya ibunya tengah memeluk Tania ''Kak Tania sakit dan muntah-muntah'' ucap Kirana menutupi dari putrinya satu ini.
bukan apa-apa Tasya adalah termasuk Putri yang sulit untuk menjaga rahasia jika kesal Tasya akan mengungkapkan semuanya yang membuat kondisi mungkin akan semakin runyam jika gadis satu ini mengetahuinya.
''Mama akan mengantar Kak Tania ke kamar kamu lanjutkan saja makan malamnya nanti Mama akan menyusul'' Tasya mengangguk setuju dan Tania langsung dibawa Kirana menuju lantai 2, di lantai 3 hanya digunakan untuk nge-gym dan juga ruang kerja untuk Leon.
beberapa ruangan yang kosong Leon biarkan saja "sudah berapa lama kandungan usia kandungan mu?" Kirana mengelus-elus perut yang masih rata itu "2 Minggu ma, mual-mual yang Tania alami benar-benar parah bahkan sampai tidak bisa menikmati sarapan setiap pagi" ucap Tania yang mengeluhkan akan apa yang ia rasakan selama hamil muda ini.
''tidak apa-apa itu wajar kok, Mama juga dulu seperti itu mual-mual tiada henti dan sampai tidak ada asupan makanan ke dalam perut, kamu termasuk kuat walaupun dengan kondisi kelelahan kamu masih bisa berdiri tegak dan terlihat seperti tidak terjadi apa-apa'' ucapan pujian itu adalah bentuk apresiasi Kirana untuk Tania agar lebih semangat untuk menjalani kesehariannya yang mungkin kedepannya akan semakin sulit.
Leon dan juga Riko bukanlah tipe pria yang bermain-main dengan perkataannya, sikap tegas dari kedua pria ini tidak bisa diganggu gugat lagi jika memang A tetap A, jika B maka akan tetap B.
begitupun dengan rencana kedua pria itu mengenai masalah Tania dan juga keluarganya, walaupun terkesan tenang cepat atau lambat semua pasti akan terjadi, tapi sebisa mungkin Kirana akan mencegah semua itu.
Tania memiliki hak untuk bahagia dan memiliki hak untuk mengasuh anaknya nanti anak yang akan menjadi cucu Kirana ''mau makan apa biar mama bawakan atau mau minum apa?'' tawar Kirana namun Tania malah menggelengkan kepalanya.
''Tania tidak lapar Ma, kalau mama ingin turun dan makan malam dulu tidak apa-apa Tania akan beristirahat terlebih dahulu, Tania sudah merasa sangat lelah karena mengangkat barang-barang tadi'' ucap Tania dengan senyuman termanisnya inilah yang membuat Kirana tidak akan rela tidak akan terima jika suaminya dan juga putranya akan membunuh gadis sebaik ini yang sangat sulit untuk ditemui di manapun.
''Ya sudah Mama tinggal ya kalau ada apa-apa telepon Mama, Mama akan siap membantumu'' Tania sedikit tertawa dalam kondisi seperti ini masih ada orang yang peduli denganya ''Iya Iya mama mertuaku yang cantik jelita'' ledek Tania agar suasana tak begitu tegang ''tidak kamu tidak Tasya sikapnya sama-sama jahil ya suka meledek orang tua hahaha'' Tania dan juga Kirana tertawa seakan-akan keduanya tidak memiliki beban pikiran padahal yang mereka rasakan sangatlah takut dalam menjalani kehidupan selanjutnya akan kenyataan-kenyataan yang mungkin saja sulit untuk diterka-terka oleh akal pikiran mereka sendiri.
Bersambung...
__ADS_1