CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 33


__ADS_3

di dalam mobil sama sekali tidak ada percakapan, mereka saling terdiam dan tak menggubris satu sama lain, jika Tania sibuk dengan ponselnya sedangkan Leon fokus dengan memandang jalanan yang di pagi buta ini sepi sekali pengendara, baik mobil maupun motor.


setibanya di gerbang Leon mengklakson dimana penjaga gerbang di rumah ibunya buru-buru untuk membuka gerbang, setelah gerbang terbuka Leon melajukan kembali mobilnya menuju garasi, setelah itu turun bersama-sama dengan Tania.


Leon membawa barang-barang Tania masuk diiringi dengan Tania yang berjalan di belakangnya, saat menaiki anak tangga Tania melihat foto keluarga yang disana terdapat foto Leo, wajah Leo benar-benar mirip dengan suaminya bahkan mungkin jika Leo ada Tania tidak mungkin bisa membedakannya.


namun Tania bertambah kaget saat melihat di dalam kamar Leon terdapat foto-foto Agatha dan juga Diandra, seketika Tania naik pitam melihat banyak foto itu apa lagi foto itu terkesan telanjang dan memamerkan beberapa bagian tubuhnya dengan pakaian kurang bahan.


diambilnya foto itu lalu Tania membantingnya dengan sekuat tenaga sampai-sampai serpihan kaca yang membalut foto itu pecah berserakan di lantai, Leon yang baru saja meletakkan tas berisi pakaian langsung menoleh dan melihat kearah Tania yang baru saja membanting foto itu.


"maksudnya apa!!" triak Tania dengan sekencang-kencangnya "kenapa? sudah tau foto lama lalu kenapa!" Leon membentak Tania pula sudah tidak tanggung-tanggung lagi, kondisi pintu kamar yang terbuka membuat para pembantu yang sedang memasak di bawah sana terdengar karena suara mereka menggema.


''kalau foto lama seharusnya dibuang bukannya malah dipajang seperti ini, kenapa? masih mengharapkan wanita yang kini sudah kabur entah ke mana setelah melukai adik Mas Leon? atau mengharapkan yang katanya sahabat Mas Leon sendiri yang sudah melecehkan istrinya'' perkataan Tania benar-benar membuat Leon merasa muak sebenarnya apalagi yang gadis ini permasalahkan.


seharusnya Tania bisa mengerti bahwa Leon sama sekali tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya kalau tidak ada hal-hal penting, sekalipun pulang ke rumah orang tuanya itu hanya untuk berbincang-bincang sebentar lalu pergi sama sekali tidak pernah masuk ke dalam kamar.


apalagi setelah menikah dengan Tania untuk sekedar melihat kamar sama sekali tak bisa yang ada disibukan dengan pekerjaan dan juga mengingat ada Tania di rumah yang tidak boleh disia-siakan kesegangannya saat di rumah.


tapi entah mengapa kamar ini selalu dibersihkan namun foto-fotonya tidak pernah disingkirkan, seharusnya tanpa diberitahu mereka harusnya sudah menyingkirkan barang-barang yang tidak berguna ini.

__ADS_1


''jaga ucapanmu Tania, semakin ke sini kamu semakin lancang, kamu selalu mengingatkan kepada saya untuk tidak mengingatkan tapi seharusnya memang saya harus berulang kali mengingatkan kepada kamu bahwa posisimu jauh di bawah Saya dan kamu harus sadar itu, kamu memang istri saya tapi saya menganggapmu sebagai istri karena kamu telah mengandung anak saya, jadi jangan banyak berbicara mengenai saya yang tidak ada sangkut pautnya denganmu'' Tania menangis tersedu-sedu benar-benar menangis yang sudah bukan sewajarnya lagi.


hatinya sakit batinnya sudah benar-benar tersiksa mendengarkan kata-kata itu, apakah dunia sekejam dan sekeji ini hingga Tania sama sekali tidak diperbolehkan untuk bahagia walaupun hanya sedikit.


Tania marah seperti ini tentunya ada sebabnya karena Tania ingin dianggap sebagai bagian dari keluarga ini tidak hanya foto-foto orang luar yang harus dipajang, bukan hanya Tania mungkin yang akan melakukan hal seperti ini jika di kamar suaminya sendiri terdapat beberapa foto wanita yang kekurangan bahan.


''kalau begitu cerai kan saja Tania, dengan begitu Mas Leon tidak akan pusing-pusing kan mengurusi Tania yang selalu seperti ini'' kata Tania sembari menangis dan juga bibir yang bergetar hebat karena tak sanggup mengatakan kata-kata ini ''saya sedang tidak ingin berdebat, Jika kamu keberatan dengan foto-foto yang ada di kamar ini silakan keluar dari kamar saya!'' tanpa pikir panjang Tania langsung keluar dari kamar itu dan berlarian menuruni anak tangga.


sesampainya di pintu gerbang Tania meminta agar Pak satpam membukakan pintu gerbangnya karena Tania ingin keluar ''Pak tolong buka pintu gerbangnya'' pintar Tania sembari menahan air matanya ''maaf Nona tapi kita tidak bisa membuka pintu gerbang ini tanpa izin dari orang rumah'' ucap Pak satpam beralasan ''saya juga orang rumah Pak saya istri dari Pak Leon jadi tolong bukakan pintu gerbangnya'' akhirnya pintu gerbang pun terbuka Tania lanjut berlarian dan menangis di sepanjang jalan.


langkah Tania pun gontai dirinya bingung dan tak tahu arah ingin pergi ke mana, ke rumah sahabatnya pun tidak mungkin akhirnya Tania memutuskan untuk berjalan ke makam kedua orang tuanya.


pukul 08.00 pagi Tania baru saja sampai di pemakaman, kakinya memang sudah tidak tahan lagi tapi harus Tania paksakan, tapi tiba-tiba sesampainya di pemakaman Tania malah dikagetkan oleh beberapa pria berbadan kekar mengelilingi pemakaman kedua orang tuanya.


tak hanya itu bahkan ada satu pria yang sepertinya sangat dijaga sekali keberadaannya ia mengenakan topi dan juga masker ''siapa mereka? mengapa mereka ke pemakaman kedua orang tua ku dan juga adikku'' Tania berjalan perlahan menghampiri mereka namun saat Tania hendak sampai tiba-tiba mereka akan beranjak pergi.


''tunggu sebentar, sebenarnya apa yang kalian lakukan di pemakaman kedua orang tuaku dan juga adikku? kalian tidak sedang aneh-aneh kan di makam ini?'' tanya Tania dengan sedikit menyelidik dan pria yang mengenakan masker hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya.


'his, aneh sebenarnya mereka siapa sih tiba-tiba datang ke pemakaman ke dua orang tuaku lalu pergi' batin Tania dan Tania langsung duduk untuk mendoakan kedua orang tuanya dan juga adiknya yang sudah tenang di alam sana, ponselnya rupanya mati jadi tidak ada yang bisa Tania hubungi, karena tidak ada yang bisa dihubungi Tania memilih untuk sedikit berlama-lama di pemakaman.

__ADS_1


biarkan saja suaminya itu pusing mencari dirinya ke mana saja, biar dia merasakan bagaimana rasanya jika di rumah tidak ada Tania dan tidak ada yang menyediakan pakaiannya serta segala sesuatunya di rumah.


memang di rumah utama ada pembantu tapi tidak mungkin kan Leon terlalu terbuka dengan seorang pembantu kecuali dengan istrinya sendiri, apalagi Leon termasuk pria yang tidak ingin barang-barangnya disentuh secara sembarangan walaupun itu dengan pembantu lama.


mata Tania kini terfokuskan oleh bunga-bunga yang tadi ditaburkan oleh pria yang mengunjungi makam kedua orang tuanya, Tania yang tadinya ingin curhat dan mencurahkan isi hatinya malah melamun memandangi kedua batu nisan itu tanpa berkedip.


''andai saja Ayah dan Bunda masih ada mungkin nasib Tania tidak akan seperti ini, menikah muda dan banyak sekali masalah'' kata Tania dengan raut wajah yang sedih ''maaf Nona tidak baik Jika anda duduk tanpa beralaskan apapun di bawah sana kan kotor ini saya bawakan alas dan juga payung agar tidak kepanasan'' Tania melirik kepada seorang pria yang bersetelan pakaian berwarna hitam seperti pria-pria yang tadi mengunjungi makam kedua orang tua Tania.


''ah iya terima kasih maaf jika merepotkan, sebenarnya saya tidak apa-apa jika duduk di sini tanpa beralaskan apapun'' Tania mencoba menolak kebaikan dari pria itu ''Tidak apa-apa Mbak pakai saja saya juga akan pulang, di sini cuacanya panas nanti nona hitam lagi'' Tania melihat ke arah kanan dan kiri semua nampak sepi tak ada pengunjung yang ziarah sepagi ini mungkin mereka akan ziarah menjelang sore hari.


Tania mau tak mau pula menerimanya tak dipungkiri memang cuaca pagi menjelang siang ini cukup panas dan bahkan Tania sudah bercucuran keringat ''terima kasih ya Pak nanti di lain waktu jika ada kesempatan saya akan mengembalikannya'' pria itu hanya tersenyum tipis lalu berlalu pergi sedangkan Tania kembali merenung dan ber curhat mengenai masalah hidupnya.


Tania bercerita seolah-olah memang ceritanya didengar padahal orang yang sudah mati pun tidak mungkin akan ikut campur dengan urusan orang yang masih hidup jadi bagi Tania orang tuanya cukup menjadi pendengar saja.


mendengar keluh kesahnya yang selama ini dialami olehnya ''baru saja ada orang baik yang memberikan Tania alas untuk duduk dan juga payung untuk Tania berteduh, sebenarnya masih ada orang baik di sekitar Tania tapi entah mengapa orang baik itu ada di saat Tania tidak berada di rumah jika sudah berada di rumah Tania sudah dihadapkan oleh singa kelaparan yang terus saja mengaung Dan tiada hentinya marah-marah tanpa tahu waktu'' ucap Tania sembari mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh di sekitar pemakaman.


sebenarnya pemakaman ini baru saja dibereskan oleh orang yang berziarah pertama tapi ada baiknya jika Tania mengulangnya kembali agar lebih bersih dan terlihat lebih indah dipandang.


''permisi mbak ini ada buket bunga dari seseorang yang ada di sana mohon diterima'' Tania langsung menoleh dan mencari sosok pria yang dikatakan oleh seseorang yang mengantarkan buket bunga ini ''Maaf Pak saya tidak mengenalnya jadi saya tidak bisa menerima buket bunga ini'' tolak Tania dengan cara halus ''tapi nona jika anda tidak menerima buket ini maka saya akan dipecat tolonglah Nona Saya di rumah memiliki seorang anak dan juga istri'' Tania menerima bunga itu dengan sangat terpaksa setelah mendengarkan kurir yang beralasan itu, entah benar ataupun Tidak Tania harus bisa menghargainya tentunya menjadi seorang kurir tidak mudah dan dituntut harus serba bisa jika tidak ia akan mendapatkan bintang 1.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2