CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 65


__ADS_3

panas siang hari ini benar-benar luar biasa bahkan Tasya yang sedang mengemudikan motornya seorang diri bercucuran keringat selain merasa takut di Jalan raya ada polisi Tasya juga takut sampai di rumah nanti dimarahi.


'duh nggak lagi-lagi deh keluar sendirian pakai motor gini' dan benar Tasya mulai berkomat kamit saat lampu merah lama sekali berubah menjadi lampu hijau.


motor yang dicurigai oleh polisi yang mungkin tadi mengejarnya akan mendekati Tasya dan untungnya lampu merah sudah berubah menjadi hijau segera Tasya menancapkan gasnya tidak terlalu tinggi namun sebisa mungkin menghindari.


sembari mengemudikan motornya sesekali Tasya melihat kaca spion 'untunglah aman aku sudah tidak dikejar lagi' Tasya tersenyum senang ingin mengemudikan mobil tapi tidak boleh karena tidak memiliki SIM.


ingin juga mengemudikan motor dan sama tidak memiliki SIM juga jadi polisi bisa melihat gerak-gerik orang yang panik atau pun tidak.


sering terdengar dari cerita-cerita teman Tasya yang ada di kampus saat mereka tidak memiliki SIM polisi akan sering merazia dan menangkapnya, tetapi jika sudah memiliki SIM polisi bahkan tidak pernah menangkapnya dan bahkan membiarkannya berlalu tanpa mencegahnya dan mengecek sudah punya SIM atau belum.


tin tin tin tin tin


tin tin tin tin tin


''Ya ampun kamu Tasya susah banget sih Mama hubungi, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu di jalan bagaimana kamu kan belum memiliki SIM jangan berani berani dan jangan coba-coba keluar lagi tanpa izin apa lagi sampai mengemudikan motor seorang diri Mama tidak akan pernah mengizinkan itu'' omel Kirana kepada putrinya yang hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


''iya iya, habis Pak sopir tadi kelamaan jadinya kan Tasya telat ke kampus, sudah telat tadi dihukum pula sama dosen'' Pak sopir hanya menundukkan kepalanya saja karena memang sopir Tasya kurang prepare pagi-pagi ini dan biasanya Tasya akan memberitahukan lebih awal kalau ingin berangkat lebih pagi tapi tadi pagi tidak jadi Pak sopir kelabakan dan harus mengecek kondisi mobil.


Kirana dapat memaklumi itu karena memang Tasya adalah wanita yang apa-apanya selalu dadakan.


''iya lain kali jangan diulangi lagi, itu juga salah kamu karena kamu memberitahukan kepada Pak sopir itu dadakan saat kamu mau berangkat jadi Pak sopir tidak sempat untuk mengecek keadaan mobil'' Tasya memanyunkan bibirnya lalu berjalan menghentak-hentakkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.


sudahlah tebakannya benar di mana saat pulang akan dimarahi oleh mamanya.


'kenapa sih tidak boleh buat SIM, andai saja diperbolehkan Tasya kan ke mana-mana bisa sendiri' batin Tasya sembari melihat papanya yang sedang berkutat dengan laptopnya di ruang keluarga.


dengan santainya Tasya duduk tepat di samping papanya dan melipat kedua tangannya di dada ''pintar sekali kamu habis dimarahi mama langsung duduk di samping papa, kamu mau cari perlindungan?'' Tasya dengan wajah sok angkuhnya menggelengkan kepalanya dan menaikkan kepalanya menatap ayahnya dengan tatapan tidak biasa.

__ADS_1


''Papa berpikiran seperti itu, ingat ya Tasya ini sudah besar jadi untuk apa mencari perlindungan seharusnya Tasya marah kepada papa dan juga mama, Tasya kan sudah besar mengapa tidak boleh memiliki SIM, biar ke mana-mana Tasya tidak perlu dengan sopir'' Rico langsung menata putrinya yang sedang komplain dengannya.


''kamu kalau mau komplain dengan Mama dong, mamamu tidak mengizinkan kamu membuat SIM karena takut terjadi sesuatu pada kamu di jalananti apalagi kamu anaknya sembrono'' Tasya mulai berpikir ia tak Ia juga apalagi kalau sudah panik Tasya akan kehilangan sebagian pemikiran akal sehatnya dan memilih untuk menghalalkan segala cara seperti contohnya tadi saat dikejar polisi dan itu pun kedua orang tuanya jangan sampai tahu.


kalau pun tahu habislah riwayat Tasya tidak diizinkan untuk memiliki SIM seumur hidup.


''Iya Iya deh terserah Ya sudah Pasya mau ke kamar mau istirahat'' Tasya mulai menaiki anak tangga sedangkan Riko yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor di telepon oleh nomor yang tidak dikenal.


drrt drrt drrt drrt drrt


drrt drrt drrt drrt drrt


"halo selamat siang, apa benar dengan keluarga dari Tasya arganta widyantara?'' suara seseorang pria yang terdengar berat dari seberang telepon sana.


^^^''ya benar saya dengan ayahnya sendiri'' jawab Riko santai karena giginya juga sedikit penasaran sebenarnya putrinya ini membuat kesalahan apa sampai-sampai ada seorang bapak-bapak seumuran dengannya menelpon.^^^


''jadi begini pak anak bapak yang bernama Tasya telah melakukan pelanggaran, Nona Tasya mengemudikan motornya secara ugal-ugalan menggunakan motor Vespa matic berwarna pink, kami tadi sudah sempat mengejarnya dan menyetopnya dengan cara baik-baik namun Nona Tasya malah menancapkan gasnya dan mencoba kabur dari kami'' Riko langsung melirik ke arah Tasya yang sedang menaiki anak tangga sembari menggigit jari telunjuknya.


''karena no Natasha masih belajar dan belum memiliki SIM...'' penjelasan dari seorang polisi itu pun disela oleh Riko yang sedang mengerjai putrinya.


^^^''oh baik Pak kalau begitu saya akan membawa putri saya dan bapak polisi bisa memberikan hukuman apa saja saya akan mendampingi putri saya'' Tasya kini menangis saat ayahnya mempasrahkan dirinya kepada polisi untuk menghukumnya.^^^


sambungan telepon pun sudah terputus sedangkan Kirana yang tahu suaminya jahil hanya bisa menggelengkan kepalanya.


''sudah sana ganti baju kita sekarang ke kantor polisi, atau mau memakai pakaian seperti ini saja?'' Tasya menggelengkan kepalanya sembari bersimpuh ''iya iya Tasya tidak akan mengulangi lagi kok mengendarai motor, tapi tolong dong papa selesaikan jangan sampai Tasya masuk ke kantor polisi hiks hiks hiks hiks" Rico tak bergeming padahal Riko sedang mengetik sesuatu karena polisi yang perkataannya tadi sempat terpotong mengirimkan sebuah pesan.


''berhubung Nona Tasya adalah seorang pelajar atau mahasiswi kami tidak akan memberikan hukuman yang berat ataupun sanksi tilang dan sebagainya, kami hanya akan memberikan teguran saja atau pun jikalau tadi Nona Tasya mau berhenti kami akan memberikan hukuman berupa menghafal Pancasila ataupun lagu Indonesia raya hanya itu saja pak' pesan itu langsung Riko balas.


''Iya Pak tidak apa-apa, justru saya merasa bersalah karena sudah membiarkan putri saya mengendarai motor tanpa memiliki SIM, sebelumnya juga saya meminta maaf karena sudah memutuskan sambungan telepon secara sepihak karena tadi anak saya sedang meringik, sedang saya takut-takuti agar tidak berani lagi mengendarai motor tanpa seizin orang tua'' setelah membalas pesan itu Riko langsung menatap putrinya yang menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Sudah sudah jangan menangis, papa sudah menghubungi pak polisi katanya kamu tidak jadi dihukum dan diperingatkan untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor maupun mobil kalau tidak memiliki SIM, kalau kamu sampai nekat kamu bisa dipenjara loh" Tasya dengan anggukan langsung memeluk ayahnya.


"tidak berani mengulanginya lagi kan?" singgung Kirana yang akan tertawa namun ditahan olehnya karena kasihan juga melihat putrinya menangis ketakutan karena akan diserahkan kepada pihak yang berwajib.


sedangkan di tempat lain di negara yang berbeda Tania baru saja terbangun dari tidurnya.


baru saja terbangun dirinya diperlihatkan oleh suaminya yang tidur terlelap di samping kedua putranya yang berada di tengah-tengah.


melihat suaminya yang sedang tertidur Tania memilih untuk mandi terlebih dahulu karena masih banyak yang harus ia kerjakan sebelum kedua anaknya terbangun.


selesai membersihkan tubuhnya Tania mendapatkan pesan dari Leo bahwasanya Leo selama sebulan lebih ini tidak akan ada di rumah melainkan ia akan pergi beberapa waktu.


''kamu sudah bangun sayang?'' Leon mulai membuka matanya lebar-lebar dilihatnya istrinya pernah menyisir rambut di depan kaca rias ''Iya Mas, Ya sudah ayo bangun keburu Reyfan Dan Reyhan bangun'' Leon langsung turun dari ranjang menghampiri istrinya dan mencium lembut kedua pipi istri tercintanya itu.


''kamu makin ke sini makin tambah cantik saja'' Tania tertawa kecil saat Leon mulai menggombali dirinya ''iih sudah deh tidak perlu gombal-gombal, lebih baik mandi sana'' usir Tania yang tak ingin diusal-usal.


dan benar saat suaminya sedang mandi kedua bayi kembar itu terbangun dan membuat Tania langsung mengelus dadanya.


kalau hanya satu anak yang bangun pun tidak apa-apa masalahnya sekaligus dua di mana salah satunya menangis kencang maka akan dibalas dengan yang ada di sebelahnya seolah-olah keduanya tidak ingin saling mengalah.


''Mas pakai handuk dulu, tolong Tania bayi kita keduanya menangis'' seru Tania dan Leon yang mendengarnya langsung keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya ''sini biar yang satunya Mas Leon tidur kan kamu susui yang satunya.


Tania tersenyum tipis akhirnya suaminya ini ada kontribusi untuk membantunya mengurus kedua putranya.




''sudah pintar ya kamu menganggu aktivitas orang tua hmm?" ucap Leon lirih sembari memeluk putranya.

__ADS_1


like kakak💞💞


Bersambung...


__ADS_2