
''adik kamu kan sudah besar Mas, biarkan saja dia memiliki SIM, hidupnya selama ini mungkin terasa terkekang dan butuh sedikit kebebasan'' ucap Tania kepada suaminya yang sepertinya sedang berpikir dengan cara apa dirinya bisa membatalkan surat izin mengemudi itu, agar tidak dipegang oleh adiknya.
''sudahlah Tania ini akan menjadi urusan Mas Leon, dia memang sudah besar dan dewasa tetapi pemikirannya itu masih kekanak-kanakan, Mas Leon selamanya tidak akan tenang" Tania sudah tidak merespon lagi perkataan dari Leon, keluarga yang cukup rumit ini benar-benar membuatnya pusing.
selalu ada saja kejutan-kejutan di setiap harinya "apakah Leo ada menghubungi kamu?" sambung Leon dan jawaban dari Tania hanyalah menggelengkan kepalanya, seolah-olah gelengan kepalanya itu berkata bahwa sama sekali tidak ada notifikasi pesan ataupun telepon dari Leo.
"haish, mengapa dia pergi tidak mengabari sih" Leon berkutik pada ponselnya sesekali melihat ke arah istrinya yang sedang dongkol.
Leon dapat mengerti perasaan Tania yang kesal karena tidak jadi keluar.
tapi harus dengan cara apa Leon menghibur Tania sedangkan diisi kepalanya hanya ada adiknya dan juga keluarganya saat ini.
"sekarang kamu mau apa? apa kita bereksperimen di dapur memasak atau berenang?" dengan cepat Tania lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya.
''dasar emang ya laki-laki nggak peka" Leon mengernyitkan dahinya memandang Tania.
dari segi apa Leon dikatakan tidak peka sebagai seorang pria, Leon pula sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membuat istrinya ini bahagia.
apakah Leon harus jungkir balik atau bagaimana?.
''jujur Mas Leon tidak tahu harus apa saat ini, mau kamu bilang tidak peka dan sebagainya mas Leon hanya bisa mengikuti apa saja perkataan kamu, sekarang kamu mau apa?" sembari menyusui bayinya Tania teringat oleh sosok kedua orang tuanya dan juga adiknya yang pergi meninggalkannya.
''Tania merindukan ayah dan juga bunda serta adik'' dengan nada suara yang begitu lembut Tania berkata kepada Leon.
Leon tentu saja hanya bisa terdiam mana bisa dirinya membangkitkan orang yang sudah tiada.
__ADS_1
"lalu?" katanya Leon lagi dengan nada lirih.
"Tania ingin setelah kita pulang dari Italia, kita mengunjungi makam ayah, Bunda dan juga adik'' melihat istrinya yang sedih tentu saja Leon tidak bisa tinggal diam, Leon langsung menghampiri tubuh mungil itu dan memeluknya dengan lembut.
''kamu tidak perlu memikirkan itu, yang terpenting kita besarkan dulu anak kita sampai berusia 3 bulan nanti, setelah itu kita akan cepat-cepat pulang ke Indonesia dan bertemu dengan sanak saudara di sana, tentunya kita bisa membenahi makam kedua orang tua kita" entahlah Bagaimana perasaan Tania saat ini.
Leon pula merasa bingung karena posisinya saat ini adalah Tania dirugikan oleh keluarga Wilson arganta.
sudah kehilangan kedua orang tuanya, adiknya serta kebahagiaannya.
ditambah lagi untuk saat ini harus mengurus dua anak sekaligus.
''kamu tidak perlu bersedih, selagi Mas Leon ada di sisi kamu semua akan baik-baik saja, tidak akan terjadi lagi hal seperti ini, maafkan mas Leon sayang jika selama ini benar-benar telah menyiksa kamu'' dengan air mata yang terus menetes Leon masih memeluk tubuh mungil Tania.
isahkan tangis yang begitu mendalam Leon rasakan, Tania hanya bisa tegar sembari menggelengkan kepalanya seolah-olah gelengan kepalanya berkata dirinya tidak apa-apa benar-benar tidak apa-apa.
''lihatlah, dia tertawa karena melihat ibunya cengeng" Tania tertawa kecil lalu melihat tatapan Leon dengan tulus sembari menggenggam tangannya "trimakasih karena sudah bersedia melahirkan bayi selucu dan seimut mereka" Tania menganggukkan kepalanya.
saat keduanya berciuman Leon hampir melupakan bahwa Tania masih dalam masa nifas.
setelah berciuman rasanya benar-benar tak karuan, sudah lama pula tidak menjamah tubuh istrinya rasanya sudah tak tahan.
"kenapa? tidak tahan ya?" ledek Tania yang paham dengan ekspresi wajah itu "haih, siapa bilang tahan tahu" Tania menaikan satu alisnya sedangkan Reyfan yang berada di ranjang tertawa merekah tanpa suara.
seolah-olah bayi ini tahu apa yang tengah di rasakan oleh ayahnya.
__ADS_1
''kamu berani meledek ayah hmm? lihat saja setelah dewasa nanti kamu akan ayah berikan pelajaran!" Leon menggendong putranya itu dan menjemurnya di bawah sinar matahari pagi di dekat balkon yang terlindungi dari kaca anti peluru.
ya! Leon patut waspada mengingat waktu itu ada yang melemparkan ancaman kepada Leon yang rupanya surat itu untuk Leo.
sedangkan di tempat lain Leo kini tengah berhadapan dengan cucu satu-satunya dari reval abadi kakek Leo.
"Marry me Margaretha, sorry for our developing baby in here (menikahlah dengan ku Margaretha, kasihan bayi kita yang sedang berkembang di dalam sini)" Leo mengelus lembut perut buncit berusia 3bulanan itu.
"but Leo, did grandpa approve of this marriage? (tapi Leo, apa kakek menyetujui pernikahan ini?)" Leo langsung menganggukkan kepalanya.
kakek mana yang akan menolak jika seorang pria mau bertanggung jawab dengan perbuatannya.
apa lagi posisi cucu satu-satunya ini adalah yatim piatu, hanya memiliki seorang kakek saja.
"Calm down, grandpa has agreed to our marriage (tenanglah, kakek sudah menyetujui pernikahan kita) Margaretha langsung memeluk tubuh Leo erat-erat.
Leo adalah pria yang benar-benar berani dengan segala sesuatu apa yang telah ia perbuat, seperti menyetubuhi cucu tersayang Devon ini.
dimana dikala itu hujan lebat dan di paviliun hanya ada mereka berdua saja.
Margaretha sama sekali tak menolak dan tak keberatan dengan perlakuan Leo, ya maklum saja karena Margaretha pula menyukai Leo.
Bersambung....
Okee guys, terimakasih sudah pantengin novel author sejauh ini, walaupun masih ada tahap revisi lagi, tapi author seneng banget karena dukungan dari kalian
__ADS_1
thankyou guys