CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 46


__ADS_3

dokter Erna masih memberikan nasihat dan juga saran kepada Leon bahkan sangat menonjol kepada Leon yang membuat Leon cukup sadar bahwasanya memang Tania tidak bisa terlalu dikasari untuk saat ini sampai melahirkan nanti.


drrt drrt drrt drrt drrt drrt


drrt drrt drrt drrt drrt drrt


penjaga gerbang menerima telepon dari seseorang langsung diangkat olehnya Karena itu adalah atasan keduanya setelah atasannya yang sekarang ''Bagaimana kondisi di sana apakah dokter Erna sudah memeriksa kondisi Tania?'' tanya seorang pria yang suaranya sudah tidak asing lagi ya siapa lagi kalau bukan CEO dari corporation yang namanya disamarkan.


''menurut pendengaran saya sendiri prosesnya berjalan dengan lancar hanya saja tadi ada perdebatan antara nona Tasya dan juga sepupunya karena membela Tania'' di balik telepon seorang CEO itu hanya menganggukan kepalanya lalu melihat foto-foto Tania dulu yang menggemaskan yang ia pajang di dalam kamarnya.


''Baiklah teruskan pekerjaanmu jika ada sesuatu yang janggal segera hubungi aku, dokter Erna termasuk mata-mataku jadi jangan pernah main di belakangku Kau akan tahu konsekuensinya nanti jika sampai itu terjadi'' setelah memperingatkan penjaga gerbang yang menjaga rumah Leon CEO corporation itu langsung memutuskan sambungan telepon.


sedangkan Tania yang setelah diperiksa kini sudah terbaring di atas ranjangnya dan akan tertidur namun tertahan oleh obat yang belum ia minum dan juga susu.



''mau ke mana?'' Leon bertanya saat Tania menuruni ranjang ''mau minum obat dan juga meminum susu'' mendengar kata susu Leon langsung memfokuskan pandangannya kepada dua buah dada Tania yang besar.


'haissh, gadis satu ini mengapa semakin ke sini semakin seksi saja'' Leon membiarkan Tania untuk meminum vitamin dan juga meminum susu terlebih dahulu sebelum dirinya mengeksekusi gadis yang terbilang masih belia.


di tempat lain Levine membawa Yura jalan-jalan tetapi permintaan Yura sangatlah nyeleneh karena ingin jalan-jalan di pasar malam ''bukankah lebih enak jika kita jalan-jalan di mall dan berbelanja di sana ya dari pada kita harus berada di tempat seperti ini'' Yura tersenyum tipis dan langsung turun dari mobil disusul dengan Levine yang masih penasaran dengan kesederhanaan wanita satu ini.


''begini ya pak, kita harus banyak-banyak bersyukur apalagi Pak Levin kan termasuk orang yang berpunya kita harus melihat ke bawah Bagaimana sih kehidupan masyarakat masyarakat sederhana, kita tidak perlu melihat ke atas jika kita melihat ke atas yang ada kita akan merasa tinggi hati sedangkan di atas langit masih ada langit'' Levin terdiam dan tak bisa berkata-kata setelah mendengarkan Yura berbicara.

__ADS_1


apa yang Yura bicarakan memang benar adanya kita tak selalu melihat ke atas sesekali kita harus melihat ke bawah melihat orang-orang yang membutuhkan dan juga melihat orang orang yang bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan oleh sang pencipta.


bukannya malah kita berbangga hati dan merasa lebih tinggi dari yang lain padahal masih ada orang yang lebih tinggi lagi dari kita namun masih ingin melihat ke arah belakang ''Baiklah saya akan mengikuti kamu hari ini kemanapun kamu pergi'' mereka bermain di pasar malam sampai tak ingat waktu hingga jam menunjukkan pukul 11.00 malam.


tapi dipukul segini mereka bukannya pulang malah mampir ke sebuah layar tancap, film ini bisa dibilang film dewasa dan penontonnya pun semua di kalangan dewasa, di dalamnya terdapat adegan-adegan yang mengerikan seperti pembunuhan dan juga pemberantasan di sebuah rumah mewah.


Yura di dalam mobil sampai ketakutan dan tidak berani melihat darah yang terus menetes dari seseorang yang di sana sebagai pemeran utama tapi saat akan sampai ending, Levin memandangi wajah Yura yang tersipu malu karena pemeran utama itu kini tengah bersetubuh dengan istrinya yang sudah beberapa bulan tidak bertemu.


keduanya memadu kasih dengan sangat mesra, Yura sudah seperti menonton film horor menutup wajahnya dengan jaket "Yura" panggil Levine lirih "hmm? apakah filmnya sudah selesai?'' Levine menggelengkan kepalanya justru Levin langsung mendekati Yura.


cup


Levin mengecup manis pipi Yura, dan itu membuat jantung Yura berdebar-debar dan tak menentu ''Pak Levine'' sebut Yura dengan nada lirih "kenapa? bukannya tidak apa-apa itu namanya tanda sayang saya sama kamu'' dengan cepat Yura langsung memalingkan pandangannya ke arah jendela mobil.


''kalau tidak mau kita di sini saja sampai besok tidak apa-apa'' Yura masih memilih berdiam diri daripada dirinya harus ikut pulang ke rumah Levin yang nantinya akan lebih sulit dan lebih rumit lagi urusannya ''memangnya tidak ada pilihan lain?'' Yura mulai bernegosiasi ''ada, ini adalah pilihan yang menentukan saya akan mengantarkan kamu pulang atau tidak jika kamu tidak bisa ya terpaksa kita menginap di sini'' Yura mulai menatap Levine dirinya sudah sangat kelelahan karena bermain di pasar malam yang masih belum tutup karena memang banyak anak muda yang ke sana kemari mencoba wahana-wahana.


''Ya sudah katakan saja kalau diulur-ulur begini yang ada nanti saat sampai di kontrakan Yura akan dimarahi oleh ibu kos'' kata Yura dengan nada memohon ''cium saya" Yura langsung membelalakkan matanya dan menatap Levine yang wajahnya terlihat serius tak ada bercanda-bercandanya.


Levin menaikkan satu alisnya melihat ekspresi wajah Yura yang kebingungan ''ini sudah jam 01.00 malam loh pak ayolah kita pulang saja'' ajak Yura dengan benar-benar memohon agar lebih menuruti perkataannya pulang ''bukankah saya sudah mengatakan kalau kamu cium saya, maka saya akan mengantarkan kamu pulang'' akhirnya Yura mau tak mau melakukan itu.


iya mulai duduk mendekat dengan Levine sedangkan Levine sendiri masih memandangi wajah polos Yura, Yura mulai mencondongkan tubuhnya ingin mencium pipi Levin, tapi Levin tiba-tiba memegang pinggang Yura dan mengangkat tubuh itu lalu di dudukan di pangkuannya.


dengan ekspresi nya yang kaget membuat Yura masih termenung tenaga dari mana Levin sampai sekuat itu menggotong tubuhnya ke pangkuan Levin ''maaf pak bukankah tidak pantas jika saya duduk seperti ini'' Yura mulai melepaskan tangan Levine yang melingkar di pinggang nya ''syutt tidak apa-apa sebentar saja" Levine memegang dagu Yura sedangkan Yura memegang dada Levine untuk menjaga jarak.

__ADS_1


''saya tidak bisa" Yura memalingkan pandangannya dan berusaha untuk menolak ciuman dari Levine ''kamu bisa" Levine mulai menempelkan bibirnya pada bibir Yura, sedangkan Yura yang kaku yang tak pernah berciuman hanya mengikuti alunan bibir Levin.


lidah buas Levin kini mulai menyusuri dan menyesapi bibir Yura, tangan Levin pula memberikan sentuhan di dada Yura, beberapa menit mereka berciuman Levin langsung melepaskannya memberikan kesempatan Yura untuk beristirahat sejenak.


''sudah kan? kalau begitu kita pulang" ajak Yura namun Levin menggelengkan kepalanya dan mencium bibir Yura kembali, Yura tak bisa menolaknya karena ciuman itu terkesan memaksa.


setelah berciuman Levin malah mengajak Yura untuk lebih intim lagi, Yura menolak keras itu namun Levin yang kalap mengajak Yura ke sebuah hotel yang tak jauh dari pasar malam ini "pak perbuatan pak Levin ini salah" Yura kembali mengingatkan.


tapi di malam menjelang pagi ini juga Levin check in di hotel itu sedangkan Yura wanita yang tidak terlalu bawel dan malu jika ribut di keramaian hanya bisa mengikuti langkah Levine karena Levine menarik tangannya.


''pak tolong, saya tidak mau" tolak Yura dengan nada lirih "kamu pasti bisa Yura, ayolah saya janji setelah ini saya akan menemui keluargamu dan mengajak kamu serius sampai menikah nanti" Yura seakan-akan percaya dengan apa yang Levin katakan, entah Levin berkata benar ataupun tidak hari ini Yura sudah cukup lelah untuk sekedar berdebat saja.


sedangkan di sisi lain Tania sama sekali tidak bisa tertidur karena lapar ingin memasak ke bawah rasanya malas ''mas" panggil Tania sendiri mengguncang-guncangkan perlahan tubuh suaminya ''hmm'' Leon menjawab perkataan Tania dengan deheman saja ''lapar'' Leon tak menggubris lagi perkataan Tania dan Tania yang asal kembali membangunkannya.


''mas, ayo dong masakin Tania makanan'' pinta Tania sembari mengguncang-guncang kembali tubuh suaminya yang kini langsung menoleh ke arahnya ''kamu lihat tidak ini jam berapa Kan masih bisa besok jangan mengganggu waktu istirahat saya'' Tania sama sekali tak perduli mau istirahat mau bagaimanapun namanya saja lapar tentunya tidak bisa diganggu gugat.


akhirnya Leon menyerah dan ikut turun ke bawah untuk membuatkan Tania masakannya walaupun tak tahu harus memasak apa karena memang Leon tipikal orang yang selalu memakan makanan yang sudah dihidangkan ''Apa yang harus saya masak cepatlah Saya sudah mengantuk dan ingin tidur kembali'' Tania mengambil nasi yang ada di rice cooker lalu mengeluarkan telur, daun bawang, kecap dan juga bumbu-bumbu lainnya ''buatkan Tania nasi goreng spesial oh iya ini kan tadi sore ada sisaan ayam Tania akan mensuwir-suwir untuk dicampurkan ke nasi gorengnya nanti'' Leon bingung dirinya sama sekali tidak pernah memasak jadi harus bagaimana tentunya harus ada arahan.


''apa dulu yang harus saya kerjakan'' Tania menyodorkan brambang bawang untuk dikupasi oleh Leon dan Leon dengan malas mengupasinya di jam 01.25 malam ini ''setelah brambang bawang dikupas langsung diiris-iris saja'' Leon mengikuti struktur yang tanya katakan sampai tak terasa pada pukul 01.38 malam menjelang pagi ini masakan yang Leon dan juga Tania buat selesai.


Tania memberikannya nama nasi goreng spesial ala CEO Leon "ayo dong Mas makan ini kan ada banyak porsinya'' Leon hanya mengangguk toh dirinya juga sangat penasaran dengan nasi goreng yang dibuatnya sendiri.


jangan lupa like nya kakak jempol kalian itu adalah sebuah dukungan untuk author, jadi like banyak² ya terimakasih buat yang udah membaca novel ini😋

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2