
tok tok tok tok tok
tok tok tok tok tok
"masuk!" seru Leon yang langsung menyembunyikan petinya di bawah kolong meja kerjanya "maaf tuan muda Leon jika mengganggu di depan ada Nona Agatha yang ingin bertemu, saya sudah mengatakan bahwa Nona Agatha tidak bisa menemui tuan muda tetapi Nona Agatha memaksa'' Leon dan juga Levine saling pandang seolah-olah kedua mata mereka saling berbicara Ada apa Agatha ingin bertemu dengan Leon.
padahal bagi mereka Agatha sudah bukan siapa-siapa lagi, Agatha hanya masa lalu yang harus segera ditinggalkan.
"suruh dia masuk, jangan lupa buatkan dua kopi dan satu teh'' pinta Leon, Leon sengaja meminta dua kopi agar Levine menemaninya di ruangan, Leon tak ingin berduaan dengan Agatha yang ada akan membuka luka lama "baik Tuan dua kopi dan satu cangkir teh akan segera datang'' sekretaris Yura langsung berpamitan pergi dan tak lama setelah Yura keluar dari ruangan CEO Agatha masuk dengan pakaiannya yang cukup seksi.
entahlah ide dari mana wanita satu ini tidak seperti biasanya mengenakan pakaian seksi seperti ini, dulu saat Leon dan Agatha berpacaran, Agatha adalah wanita yang sederhana dan tidak menyukai tatanan rias yang terlalu menonjol apalagi terlalu terbuka seperti saat ini.
Leon melirik sekilas lalu kembali saling pandang dengan asisten pribadinya seolah-olah tatapan keduanya tengah mengobrol akan penampilan Agatha yang berbeda hari ini.
'tidakkah Kau Melihat penampilannya sekarang begitu berbeda?' sorot mata Levine yang berbicara kepada Leon 'tidak perlu kau tanyakan aku pun sudah tahu sepertinya Agatha tengah mencari celah untuk kembali padaku jadi tetaplah di sini sampai dia pergi' Levin manggut-manggut entahlah mereka berdua seperti mempunyai telepati berbicara melalui mata dan juga batin.
"selamat pagi Leon dan selamat pagi asisten Levine'' sapa Agatha dengan ramah dan juga manis "pagi'' jawab Levin dengan nada malas tapi tidak dengan pria yang duduk sembari berpura-pura fokus kepada laptopnya Iya sama sekali tak menggubris perkataan wanita yang sudah 3 tahun belakangan ini menemaninya.
suasana terlihat sangat hening Agatha sedikit canggung karena keberadaannya Tidak dianggap jika Leon fokus dengan laptopnya berbeda dengan asisten Levine yang tengah sibuk dengan ponselnya melihat email dari klien.
"emm jadi begini, Om Riko memintaku untuk mengawasimu Leon, lebih tepatnya mengawasi istrimu yang ada di rumah'' seketika Leon terhenti dengan aktivitasnya yang berpura-pura sibuk Ada apa dengan ayahnya mengapa tiba-tiba meminta Agatha untuk menjadi mata-mata.
bahkan meminta Agatha untuk mengawasi istri kecilnya yang berada di rumah di mana istri kecilnya itu menjadi istri yang tak lama lagi akan pergi meninggalkan bumi ini "jangan mengada-ngada, saya sama sekali tidak ingin ada seorang wanita yang ikut mencampuri urusan rumah tanggaku, bukankah setelah kau menikah dengan Raymond Aku tidak pernah mengganggu kehidupanmu'' Leon berbicara dengan nada perlahan namun nada perlahan itu seperti nada memperingatkan agar Agatha tidak terlalu mencampuri urusannya.
"tapi ini permintaan Om Rico Leon, aku tidak mungkin menolaknya aku juga membutuhkan pekerjaan apalagi aku sudah bercerai dengan Raymond dan keluargaku tidak ingin melihatku lagi" rasanya Leon ingin tertawa geli bisa-bisanya setelah dibuang begitu saja bak sampah yang tak terpakai Agatha ingin kembali bersama Leon.
__ADS_1
tapi ada benarnya juga dengan begitu Leon bisa membuat Agatha merasa panas di rumahnya karena penampilan Agatha dan juga Tania sangat berbeda jauh.
Tania adalah gadis cantik nan manis memiliki lesung pipi dan rambut yang panjang lurus tergerai, walaupun pendek tapi gadis imut satu ini tidak bisa dibandingkan dan disamakan dengan Agatha yang tidak ada apa-apanya.
"boleh-boleh saja, jadi kapan kau akan bekerja di rumahku" Levine menatap tajam ke arah Leon seakan-akan tatapannya itu meminta penjelasan bagaimana bisa Leon menerima Agatha begitu saja untuk tinggal di rumahnya 'Kau tidak perlu khawatir aku sudah memiliki rencana lain sebaiknya kau diam saja' balas tatapan Leon sedangkan Agatha langsung berkata akan keinginannya.
"sore ini aku akan langsung pergi ke rumahmu, by the way boleh kan kita sekamar?" Leon tersenyum sinis gelagat Agatha sudah bisa ditebak Bagaimana bisa seorang majikan disamakan dengan seorang babu apalagi sampai satu kamar dengan babu "bisa-bisanya kau menawar untuk satu kamar? siapa statusmu hingga berani-beraninya ingin sekamar denganku?'' Agatha sudah tidak bisa berkata-kata lagi apa yang dikatakan Agatha memang terlalu berlebihan dan terkesan menjatuhkan harga dirinya.
Levine sebenarnya ingin tertawa tapi sebisa mungkin ia tahan baru kali ini ada wanita yang sudah tidak mempunyai urat malu atau mungkin urat malunya sudah diputus sampai berbicara saja melantur dari apa yang dikatakan oleh Leon.
"permisi tuan muda ini dua kopinya dan juga satu tehnya'' Yura menyodorkan minuman itu sembari tersenyum manis, sebagai seorang sekretaris Yura lebih banyak diam dan tak banyak bicara namun dalam bekerja Yura selalu diacungi jempol oleh Levine karena apa yang dikerjakan Yura pasti beres.
''Maaf saya tidak bisa terlalu lama-lama di sini, Maaf sekretaris Yura anda minum saja tidak apa-apa saya masih ada perlu hari ini permisi'' Leon menaikkan satu alisnya rupanya wanita ini sudah sangat merasa tersudutkan dengan apa yang dikatakan Leon.
beberapa hari terakhir Leon menyelidiki mengenai Agatha yang selama ini adalah wanita broken home selalu dituntut ini itu dan dijual oleh ibu tirinya sendiri Leon sempat merasa kasihan namun sikap Agatha yang angkuh dan sombong membuat Leon tidak jadi merasa kasihan.
justru wanita seperti Agatha harus diberi pelajaran dan pengertian bahwasanya sosok laki-laki akan mencari sosok wanita yang benar-benar baik dan tidak menyusahkan seperti Agatha yang selalu menginginkan sesuatu namun dengan cara memaksa.
cara paksaan tidak dengan memaksa dengan perkataan melainkan dengan gaya di mana Agatha akan mempraktekkan bahwasanya teman-temannya memiliki tas sedangkan Agatha tidak jadi itu membuat Leon langsung membelikannya.
selama ini Leon memang tak mengulik mengenai masa lalu Agatha bahkan bisa dibilang Leon yang sibuk dengan pekerjaannya sangat jarang sekali membuka ponsel dan mengecek-ngecek pekerjaan yang ada di dalam negeri.
"sebenarnya apa rencanamu Bagaimana bisa kau meletakkan masa lalumu dan masa depanmu di satu tempat yang sama'' Leon mengernyitkan dahinya Bagaimana bisa Levin mendefinisikan bahwasanya Tania adalah masa depannya ''haish Tania bukanlah masa depanku, Aku sengaja membuat keduanya berada di satu tempat agar aku bisa lebih mudah untuk melenyapkan keduanya'' Levine masih tidak memahami akan kata-kata yang dilontarkan Leon.
Apa hubungannya Agatha dengan Tania dan untuk apa Leon melenyapkan Agatha padahal Agatha tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini "sepertinya aku tidak mungkin membicarakannya di sini'' perkataan Leon benar-benar serius bukan Levine namanya kalau tidak bertanya secara tuntas.
__ADS_1
''katakanlah, bukankah aku tangan kanan mu jadi aku perlu mengetahui masalah mu'' Leon langsung membuka ponselnya dan menunjukkan foto-foto Agatha dengan seorang bayi ''ini anak Agatha?'' tanya Levine ''Iya seperti yang kau lihat tapi identitas anak ini jika aku bongkar secara langsung di hadapanmu mungkin akan membuatmu sangat kaget dan syok'' siapa yang tak akan penasaran dengan nada bicara Leon yang sangat misterius.
anak siapa sebenarnya yang digendong oleh Agatha, wajah itu sepertinya tidak asing Levine seperti pernah melihatnya bahkan di setiap kesehariannya ''cepat katakanlah jangan membuatku merasa penasaran'' pinta Levin Leon langsung menggeser layar ponselnya ke foto berikutnya di sana ada foto ayah Levine dan juga Agatha tengah menggendong seorang bayi.
di sana tertera tanggal dan juga tahun yang sudah berlalu 3 tahun lamanya di mana waktu itu bukanlah waktu yang sebentar ''apa yang kau maksud anak ini adalah anak ayahku dan juga Agatha?'' Leon mengangguk semua bukti ini Leon dapatkan dari mata-matanya yang bekerja di perusahaan Levin langsung yang dikelola ayahnya.
ya kepercayaan Leon sebagai mata-mata di perusahaan Ayah Levin adalah tangan kanan Ayah Levine sendiri "Baiklah kalau begitu aku sangat setuju jika wanita ini cepat-cepat dilenyapkan jika sampai ibuku tahu yang ada keadaan akan semakin runyam dan keluargaku akan hancur berantakan karena ibuku tidak pernah mentolerir mengenai perselingkuhan'' Leon sudah benar-benar paham karena dulu ayah Levine dan juga ibunya akan bercerai karena Ayah Levin berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
mereka pun sudah sampai di persidangan perceraian di kala itu namun karena mediasi Ibu Levin masih memberikan kesempatan dimana kesempatannya itu ada perjanjian jika perselingkuhan terjadi lagi Ibu Levine tidak akan mentolerir dan tidak akan mengampuni masalah yang besar itu.
''sebaiknya jangan terlalu kau tonjolkan rasa bencimu terhadap Agatha aku akan menyiksanya sama seperti Tania yang bekerja tiada henti tapi tetap memiliki jeda waktu istirahat jika berada di sekolah" Levin benar-benar tak bergeming ia masih terdiam terpaku memikirkan jika seandainya ibunya mengetahui masalah besar ini bahkan ayahnya sampai memiliki anak dengan wanita lain akan sesakit apa hati ibunya.
"aku pergi terlebih dahulu badanku merasa tidak enak jika ada apa-apa kabari saja sekretaris Yura atau beberapa bodyguard untuk mengantarkanmu pulang'' tanpa dikatakan pula Leon sudah mengerti akan raut wajah yang dipancarkan oleh Levine, Levine pergi dengan tergesa-gesa.
"mama Bagaimana rencana papa bagus tidak jika Agatha satu rumah dengan Leon'' Kirana menggelengkan kepalanya baginya itu terlalu berlebihan jika wanita seusia Tania harus merasakan sakit hati sakit fisik yang terlalu bertubi-tubi.
"Mama kenapa sih tidak pernah mendukung papa" kesal Riko karena istrinya kerap membela anak si pembunuh itu "mau bagaimanapun Mama tidak akan pernah mendukung akan ide-ide papa yang menyakiti gadis belia seperti Tania, Tania masih terlalu kecil pa dia masih perlu bimbingan dari kedua orang tuanya bukannya malah disiksa seperti ini" ucap Kirana lirih sembari menyeruput segelas teh yang ada di tangannya.
sayup-sayup terdengar suara musik di mana Putri kesayangan mereka tengah bernyanyi di lantai 2 dengan suara sound yang cukup besar "bimbingan Apa maksud Mama? gadis dari anak pembunuh sepertinya sama sekali tidak perlu bimbingan'' tegas Riko baginya anak laki-laki adalah penerus tahta keluarga tidak dengan wanita yang hanya bisa mewarisi tanpa berkembang.
maka dari itu rasa kehilangan Riko benar-benar bertubi-tubi namun tidak hanya Riko Kirana sebagai seorang ibu pasti sangat merasa sakit dan merasa kehilangan.
Bersambung....
__ADS_1