
"emmhhh unghh" Tania terperanjat sembari meremas jari jemari Leon yang tengah meremas kedua ***********, tubuh Tania bagaikan candu bagi Leon, sering kali Leon melakukan kebiasaan nya ini di tempat-tempat yang tak semestinya.
terakhir kali Leon melakukan kebiasaan ektrem nya ini pada saat mengantarkan Tania sekolah, di dalam mobil lebih tepatnya saat mobil masih terparkir di garasi Leon menyetubuhi Tania hingga Tania menangis dan terisak karena Leon memaksa Tania dengan cara-cara tak lazim.
Tania di paksa menelan cairan yang keluar dari kepemilikan Leon, Tania pula di paksa untuk memuaskan kebutuhan biologis majikannya ini, adegan-adegan seperti di film-film dewasa Tania alami secara pribadi.
seperti di cekik, di Jambak serta di perkosa tiada henti di setiap harinya "Mas itu terlalu dalam" Tania akan beranjak dari duduknya namun Leon tahan, Leon mencium bibir Tania dengan ganas, sedangkan Tania yang tengah gusar itu membalasnya dengan perlahan-lahan.
"ungh sakit pelan-pelan Mas" pinta Tania lirih, Tania yang berada di dekapan Leon hanya bisa memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya kebelakang tepat di dada bidang pria yang berstatus sebagai suaminya.
Leon menghujani Tania dengan ciuman, entah di leher dan berbagai sudut tubuh mungil ini, Tania pagi ini terlihat sangat begitu lemas dan tak berdaya, bisanya Tania akan melawan karena kesakitan tapi kini terlihat diam.
suara Tania pun lirih membuat Leon seperti tengah bermain dengan patung yang tak bergerak "sudah turunlah" setelah melakukan pelepasan Leon langsung menurunkan Tania.
Tania langsung berlarian menuju kamar mandi dan melakukan ritual mual-mual paginya "huekk huek huekk huek huekk uhuk uhuk uhuk, hiks hiks hiks hiks tidak enak sekali rasanya" Tania menangis sesenggukan Leon yang mendengarnya pun langsung menghampiri Tania.
"saya akan berangkat ke kantor, kamu berangkat sekolah atau tidak?!" tanya Leon dengan nada masih dingin, Tania yang terduduk dan masih memegangi perutnya pun menggelengkan kepalanya.
Tania mana bisa dengan badan yang tidak fit seperti ini sekolah, yang ada di sekolah Tania bisa bolak-balik ke kamar mandi karena mual-mual, Leon memilih meninggalkan Tania sendiri dan pergi menuju kantor.
kebetulan Levin baru saja menelfon nya dan mengatakan sudah berada di halaman rumah mewah milik Leon sendiri.
di sekolah baru saja ada pengumuman mengenai persiapan ujian sekolah, seperti biasanya pulang lebih awal, semakin waktu berjalan hari semakin cepat, Mona dan juga Agam memilih pulang untuk mengganti pakaiannya dan pergi ke sebuah hotel untuk menghabiskan waktu bersama dengan bersenang-senang.
padahal Mona dan juga Agam bisa melakukan apapun di rumah mereka tanpa takut kedua orang tua mereka tau, namun Agam ingin mencoba hal baru di hotel berbintang ini "Gam kamu ga akan ninggalin aku kan?" ucap Mona yang berada di pelukan Agam.
"kamu ngomong apa sih Mon, aku ga akan ninggalin kamu" Agam mencubit manja hidung Mona "iya sekarang kamu bilang ga akan ninggalin aku, bisa jadi beberapa tahun kemudian kamu ninggalin aku" Mona mulai meneteskan air matanya, entah ada apa Mona tiba-tiba menangis seperti ini.
"engga Mona, ga akan kita dari kecil udah sama-sama bahkan aku sudah berani merenggut mahkota mu, dengan begitu kamu akan menjadi milik aku untuk selamanya" Mona mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Agam.
tubuh keduanya tanpa busana dan di balut selimut putih membuat mereka tidur nyenyak, namun tidak dengan Tania yang di siang hari begini tidak bisa tidur dan melakukan apapun.
__ADS_1
yang di lakukan Tania hanyalah berbaring dan menangis seharian, rasa kesal entah dari mana tiba-tiba muncul di Lubuk hati Tania yang paling dalam, rasa benci dan kesal kini menjadi satu seperti pasukan perang yang akan siap untuk bertempur.
"hissh aku ini kenapa sih!! hiks hiks hiks hiks " triak Tania di dalam kamar sembari menangis, berdiam diri membuatnya jenuh, entah apa yang harus di lakukan nya agar tidak jenuh dan bosan sendiri di dalam rumah mewah bak istana ini, ya istana yang tak memiliki penghuni lebih tepatnya seperti rumah kosong yang berhantu.
Ting
..."kenali gejala-gejala awal kehamilan yang jarang moms sadari, seperti mual, kelelahan, dan juga.."...
Tania langsung membuka artikel Internet yang tiba-tiba muncul, maklum Tania kini menggunakan WiFi rumah ini yang sandinya berhasil Tania tebak, saat tengah sibuk membaca Tania langsung berlarian ke arah kamar mandi untuk mual-mual dan muntah-muntah.
"apa aku hamil?" gumam Tania sembari memegangi perutnya yang rata, Tania sempat tersenyum tipis dengan begitu janin yang ada di perutnya ini bisa menjadi alasan Tania agar Leon tak kasar padanya lagi.
Tania mulai berfikir dan mengingat kapan terakhir kali dirinya menstruasi, dan Tania mulai ternganga tepat di bulan ini sudah 2minggu lebih Tania tidak datang bulan "tidak-tidak aku tidak boleh dan tidak bisa berasumsi seperti itu, bisa saja aku sedang sakit dan mual-mual ini karena masuk angin" Tania mulai menenangkan dirinya, tak di pungkiri Tania merasa sangat senang dan bahagia jika memang dirinya hamil.
"sebentar aku cek uang ku dulu" gumam Tania, karena hasil berjualan onlinenya cukup untuk kebutuhan Tania "baiklah ini lebih dari cukup untuk membeli sebuah tes pek" Tania langsung memesan sesuatu di ponselnya dan menunggu dengan hati yang senang, sembari menunggu Tania juga menyiapkan perlengkapan untuk mengetes air seninya.
beberapa menit menunggu akhirnya pesanan Tania datang, maklum gojek yang Tania gunakan sudah sangat langganan "semoga saja hasilnya positif" Tania mengatupkan kedua tangannya dan berdoa, selama berdoa Tania memejamkan matanya, dan setelah beberapa menit berdoa Tania langsung membuka matanya dan terpampang jelas warna merah bergaris dua itu.
Tania menangis bahagia sembari memegangi perutnya, buah hatinya rupanya sudah mulai tumbuh di rahimnya, kesenangan dan kebahagiaan Tania di landasi dengan keinginannya untuk memiliki anak agar tidak merasa kesepian di kesehariannya.
seketika senyuman Tania pudar saat mengingat ucapan Leon yang tidak ingin memiliki anak dari Tania wanita yang sangat di bencinya, selama ini Leon sudah menyiapkan pil KB untuk Tania minum namun Tania tak pernah meminumnya karena takut itu racun.
Tania sering membuangnya di closed untuk menyembunyikan kebohongannya itu bahwa dirinya telah meminum obat yang di berikan Leon.
--------------
semua masalah di kantor kini sudah klir hanya saja Leon dan Levin masih merasa tak tenang karena paman Tania akhir-akhir ini menyibukkan dirinya untuk di wawancarai.
kalau saja Leon tidak memandang publik mungkin paman Tania sudah babak belur di hajar Leon habis-habisan "sepertinya kita sudah tidak perlu basa basi" Leon menghisap rokok nya dan memandang Levin yang amat serius memandang peti yang berisikan peninggalan Leo.
peti ini Leon ambil secara paksa dan mengatakan akan berdamai baik-baik, padahal setelah peti ini terbuka Leon tak segan-segan akan membunuh paman Tania dengan sadis bila perlu Leon akan memutilasi nya dan membagi tubuh pria itu menjadi bagian-bagian kecil.
__ADS_1
setelahnya Leon akan memberikan bagian-bagian kecil itu dengan hiu yang ada di laut lepas, sedangkan untuk Tania Leon belum memikirkannya tapi yang pasti Leon akan melenyapkannya satu persatu hingga ke akarnya.
"kira-kira isinya apa ya Aku jadi sangat penasaran'' Levin berkata sembari melihat ke sana kemari peti kuno yang seperti peti harta karun yang ada di film-film "apapun itu isinya yang terpenting kita harus melihat terlebih dahulu entah penting ataupun tidak mungkin di dalam hati ini ada sebuah petunjuk lain yang mengarah dengan kematian Leo'' Levin mengangguk sembari memegang tangannya di dagu seolah-olah berpikir seperti Leon.
hingga saat ini Leon sama sekali tidak terima atas kematian adiknya yang secara tidak wajar, bukti-bukti seolah-olah lenyap bukan hanya lenyap bahkan Leon yang sibuk membuatnya tidak begitu memperhatikan akan kasus-kasus ini yang rupanya tidak diusut secara tuntas.
bersambung...
Rumah Leon Wilson arganta
JS
...like...
__ADS_1
...COMENT...
...vote...