CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 27


__ADS_3

''entahlah justru itu yang sedang menjadi pertanyaan Leon perusahaan ini semakin berkembang pesat dan bahkan semua karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaannya bukanlah orang yang berasal dari dalam negeri'' Riko mengangguk-anggukan kepalanya cukup rumit memang jika mendapatkan saingan yang sepertinya tidak mau menyaingi melainkan seperti mengancam dan ingin menuntut sesuatu.


''apakah sebelumnya kau memiliki salah paham dengan teman-temanmu yang ada di Amerika, atau sewaktu kau berlibur di Australia?'' Leon menggelengkan kepalanya selama ini Leon bergaul hanya untuk kepentingan perusahaan seperti saling membahas properti saja selebihnya ia sibuk dengan perusahaan-perusahaan yang tidak ada ujungnya dan laba untung dalam perusahaan.


jadi menurut Leon, Leon sama sekali tidak memiliki musuh dan kemungkinan besar musuh ini muncul dari Tania semenjak masuk ke dalam hidup Leon ''perusahaan corporation ini menyinggung perihal Tania, jadi kemungkinan besar perusahaan ini ingin melindungi Tania'' Riko tertawa meremehkan seolah-olah Tania bukanlah wanita yang berharga bukanlah menantu yang patut dibanggakannya.


''hng, mimpi saja gadis itu bisa mendapat dekingan perusahaan yang cukup besar masih untung kita tidak membunuhnya karena dia masih mengandung'' kata Riko benar-benar membuat Leon merasa itu semua bisa terjadi Dan benar-benar terjadi bahkan sampai pesan itu tertulis dan tertera gadis yang ada bersama Leon dan Leon tidak bisa membuang jauh-jauh kata itu yang memang merujuknya kepada istrinya.


Ting!


''Mas siang ini akan jemput Tania atau tidak? jika tidak Tania akan memesan taksi saja'' pesan yang Tania kirimkan kepada Leon.


berhubung Leon yang tak begitu sibuk-sibuk amat karena sudah ada karyawan-karyawannya dan bawahannya yang bekerja jadi Leon memilih untuk menyempatkan dirinya menjemput Tania dan mengajaknya untuk jalan-jalan sebentar bukan untuk menyenangkan hati Tania melainkan memancing orang-orang luar orang-orang yang bekerja sama atau bisa dibilang orang suruhan dari perusahaan corporation yang sedang memata-matai Tania dan juga dirinya.


"jangan kemana-mana Saya akan menjemput kamu" balas Leon dan setelah itu sudah tidak ada lagi percakapan di antara keduanya kecuali gadis yang ada di balik layar telepon yang menerima pesan dari Leon.


hati wanita satu ini benar-benar berbunga-bunga Karena memang tadi sempat lesu dan tidak enak hati dan tidak enak badan karena tiba-tiba sopir menjemput Tasya saja tanpa menjemput dirinya.


''siang-siang bengong begini sedang menunggu siapa sih memangnya sampai senyum-senyum begini jangan-jangan pacarnya ya? tapi tidak mungkin sih prinsip kamu kan tidak akan berpacaran sebelum bekerja dan sebelum sukses'' Tania tersenyum memang benar apa yang dikatakan oleh mang Ujang itulah janji Tania di mana ia tidak akan berpacaran sebelum dirinya sukses dan memiliki apapun yang dimau.


''bukan pacar kok mang, biasa majikan akan membawa Tania belanja bulanan maklum kan majikan Tania di rumah tak ada istri yang selalu on the way jadi sebagai calon istri yang baik Tania tentunya harus maju dong'' mang Ujang tertawa terbahak-bahak karena Tania sudah mulai berani membahas perihal orang berpengaruh di negara ini.


tanpa mang Ujang sadari Tania saat ini bahkan sudah menjadi pendamping hidup dari pria berpengaruh itu ''hahaha Tania, Tania di siang bolong seperti ini kamu berkhayalnya sudah sangat tinggi awas nanti jatuh sakit loh'' ucap mang Udin mengingatkan ya walaupun sebenarnya bukan mimpi melainkan kenyataan tapi Tania bawa santai saja dan dibawa ketawa karena memang setelah dilihat-lihat lagi ekspresi wajah mang Udin yang tertawa membuat Tania pula ikut tertawa karena tidak tahan melihat ekspresi wajah mang Udin.


ekspresi tawa Tania seketika terhenti saat melihat seseorang wanita yang mengenakan Hoodie dan celana jeans berwarna hitam menatapnya dari arah jauh arah berlawanan dari gerbang sekolah ''Apa sih yang sedang kamu lihat Tania?" Tania duduk mendekat dengan mang Udin agar tidak terlalu kelihatan jika sedang membicarakan wanita yang ada di seberang sana.

__ADS_1


''mang Udin merasa ada yang aneh nggak sih sama wanita satu itu sepertinya kalau melihat Tania seperti Intel tau Intel kan? itu loh yang suka memata-matai target'' mang Udin menoyor kepala Tania ''sok tahu kamu itu, dia itu sudah hampir seminggu memang di sini sering mang Udin tanya-tanya juga kok katanya sih dia sedang menunggu adiknya yang sekolah di sini, tuh kan baru saja dibilangin adiknya sudah keluar dari sekolahan makanya apa-apanya jangan salah paham dong'' Tania memanyunkan bibirnya jelas-jelas tadi Tania melihat bahwasanya wanita itu menatap Tania seolah-olah sedang mencari tahu.


''tapi aneh dong tatapannya itu sangat berbeda loh mang Udin mang Ujang atau bisa dibilang mang Ujang maharuddin'' jelas Tania dengan nada sedikit kesal ''wah jangan-jangan kamu pernah punya salah lagi sama dia terus dia dendam sama kamu ih ngeri'' Tania menghela nafasnya perlahan sejak kapan Tania memiliki masalah dengan orang yang tidak dikenal bahkan dengan orang yang dikenal pun Tania sama sekali tidak mau membuat masalah Bagaimana dengan orang yang tidak dikenal mang Udin memang benar-benar luar biasa pemikirannya.


''mang Udin kalau senggang kita ke rumah sakit yuk sepertinya kita perlu cek kesehatannya mang Udin deh siapa tahu syarat-syaraf mang Udin ada yang putus jadi harus disambung kembali'' kata Tania dengan nada alangkah kesalnya walaupun wanita itu sudah menaiki mobil bersama adiknya tetap saja Tania merasa diperhatikan.


''sudah sana kamu pulang tunggu apa lagi di sini apa tunggu mang Ujang usir dulu baru pergi?'' Tania melipat kedua tangannya di dada menunggu seorang pria tampan yang akan menjemputnya pulang sekolah ''mungkin kamu tidak jadi dijemput sudahlah jalan kaki saja sama itung-itung olahraga'' tiba-tiba saat botol Tumblr milik Tania jatuh dan saat itu pula Tania akan mengambilnya tiba-tiba dari arah kamar mandi tidak jauh dari pos satpam terdapat seorang pria yang seumuran dengan Tania namun Tania tidak terlalu paham dengan pria itu yang mengenakan seragam sekolah sama sepertinya.


apa kah mungkin anak baru tapi kan tahun ini adalah tahun di mana siswa-siswi kelas 3 akan terfokus dengan ujian Bagaimana bisa akan menerima murid baru entah adik kelas ataupun setara dengan Tania.


''duh hari ini kok aneh banget sih emang, Pak itu tuh yang sedang berjalan menuju parkiran Dia anak baru?'' Tania bertanya dengan penuh selidik sedangkan Pak satpam menanggapinya dengan kata-kata yang begitu santai tanpa tahu bahwa Tania kini sedang panik Jika diperhatikan dengan orang yang berbeda-beda terus.


memangnya ada apa sih dengan dirinya sampai-sampai banyak yang memperhatikan ''dia memang murid lama di sini tapi sekolahnya online bukan offline seperti sekarang ini, dia dari Maluku sekolah di sini karena domisili orang tuanya ya begitulah kehidupan orang kaya sungguh rumit dan sulit dimengerti memangnya kamu yang mendapatkan beasiswa jadi tidak perlu ribet-ribet domisili bukan?'' Tania mengangguk dan tibalah mobil mewah yang akan menjemput Tania pulang.


''wih ini beneran kamu dijemput sama atasan kamu?'' Tania mengangguk serius karena memang mang Ujang orangnya terlalu banyak bercanda dan sulit untuk percaya dengan Tania yang memang jika lawan bicaranya mang Ujang akan banyak bercandanya daripada seriusnya.


''kok lama banget sih Mas jemputnya?'' Tania bertanya sembari membenarkan rambutnya sedangkan Leon memilih tak bergeming bagaikan seorang patung yang tidak bisa berbicara ''tadi ada yang memperhatikan Tania dengan tatapan tak biasa, apakah Mas Leon yang menyuruhnya untuk memata-matai Tania?'' seketika lamunan Leon yang sedang mengendarai mobil buyar.


siapa yang memata-matai Tania sedangkan Leon sama sekali tidak mengerahkan anak buahnya untuk menjaga Tania dan bahkan untuk apa menjaga Tania yang tidak ada nilai harganya ''saya sama sekali tidak menyuruh orang-orang saya untuk mengawasimu'' Tania hanya menghela nafasnya saja lalu siapa yang memata-matainya.


''apakah sudah lama ada orang yang memata-mataimu?'' Tania menggelengkan kepalanya lalu menjawab dengan santai ''ada satu mingguan, tapi entahlah kadang tatapannya itu aneh saat Tania akan jatuh dari tangga karena didorong tiba-tiba dia bermain mata dengan orang-orang sekitar aneh bukan?'' beginilah tipe Tania yang asik dalam berbicara tanpa melihat siapa lawan bicaranya, padahal dulu Tania sangat takut dan selalu berdoa di sepertiga malamnya agar tidak bertemu dengan Leon dan tidak dimarahi apalagi sampai dibentak-bentak dan dimaki-maki.


tapi kini Tania berbicara dengan Leon sudah selayaknya teman dan seperti sudah kenal sangat lama ''mengenai Tasya, tadi Tasya mulai menjauhi Tania karena ingin mengetahui masalah kita'' bertambahlah pusing Leon masalah yang satunya saja belum selesai sudah datang lagi masalah baru yang berasal dari adiknya.


tak dipungkiri Leon memang tidak bisa menyepelekan keseriusan dan kematangan adiknya dalam menyelidiki sesuatu, jika saja Tasya mengetahuinya bisa-bisa rencana yang semula direncanakan oleh Leon akan hancur dan tidak akan terlaksana.

__ADS_1


''jauhi Tasya sementara, jangan sampai kamu mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin bertambah penasaran'' Tania mengangguk paham walaupun sepertinya sulit untuk menyembunyikan rahasia ini dari Tasya yang super duper teliti ''bahkan Tasya dengan melihat raut wajah Tania saja sudah mengetahui isi hati Tania, jadi dengan cara apa Tania harus menutupi semua ini, bisa dibilang Tasya seperti Leon yang tidak akan pernah setengah-setengah dalam memecahkan masalah'' saat di tengah perjalanan mereka pun berhenti di lampu merah.


banyak sekali pengendara yang berhenti cukup lama sampai Tania merasa risih kembali dengan tatapan seseorang yang berada tak jauh dari lampu merah ''coba lihatlah pria yang memakai masker dan kacamata itu mas'' pinta Tania tanpa menunjuk dan Leon langsung paham karena memang hanya pria itulah yang mengenakan masker dan juga kacamata.


''dia kembali lagi memperhatikan mobil Mas Leon dan lihat yang ada di ujung sana mobil berwarna merah yang menurunkan kaca mobilnya sembari merokok, lihatlah tatapannya seperti itu saat menatap Tania, entah karena Tania yang terlalu kepedean atau memang masyarakat saat ini sedang bergelagat aneh'' Leon mulai menyadarinya memang tatapan itu terkesan seperti sedang mengawasi dan tatapan itu sama sekali tidak bisa disepelekan bisa jadi CEO dari perusahaan corporation memiliki koneksi yang cukup di negara ini.


ini benar-benar ancaman yang bukan hanya mengancam perusahaannya melainkan mengancam jiwa, tapi tak mungkin bagi Leon untuk meminta bantuan kepada kakeknya yang berada di Amerika yang ada kakeknya nanti akan menambah beban dan menganggap Leon masih menjadi seorang anak yang mengekor dan tidak bisa mandiri.


drrt drrt drrt drrt drrt


drrt drrt drrt drrt drrt


''Ada apa Levin?'' jawab Leon setelah memasang earphone-nya.


''gawat, perusahaan corporation bergerak lebih cepat dari Yang kukira, mereka telah memenangkan tender besar'' kunci satu-satunya bukanlah persaingan melalui perusahaan Karena perusahaan keduanya sama-sama kuat dan sama-sama memiliki koneksi, namun bedanya tuas kendali berada di tangan Leon sendiri di mana jika terjadi sesuatu kepada Tania berarti sama saja terjadi sesuatu pada perusahaannya.


''kita tidak boleh gegabah, Karena perusahaan itu baru saja memulai tender sedangkan kita sudah menjalankan tender cukup banyak dan sebentar lagi akan menyelesaikan proyek besar, jadi setelah proyek pembangunan mall dan juga hotel selesai kita akan segera menemui CEO itu'' Levine yang semulanya bekerja benar-benar gigih dan benar-benar penuh tenaga kini menjadi lesu Bagaimana bisa mereka mundur satu langkah.


''loh tidak bisa seperti itu dong, kita jangan mundur satu langkah langkah mereka akan semakin maju semakin di depan dari kita'' protes Levine dengan nada benar-benar emosi, seharusnya yang berada di titik emosi ini adalah Leon tapi sebisa mungkin Leon mengontrolnya karena bagi Leon kemenangan bukan dihasilkan dari seberapa hebat kita untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar di luar ekspektasi tapi kemenangan dimenangkan oleh orang yang cerdas dan tidak membuang-buang waktu.


''ikuti saja apa yang kukatakan ini demi kebaikan kita semua, bisa jadi perusahaan itu di bawah naungan yang memang sulit untuk dikalahkan, kita tidak bisa memandang perusahaan kita lebih hebat dari yang lain cukup diam saja kita akan menikmati dan merasakan kemenangannya karena kunci satu-satunya ada di tangan kita sendiri''


setelah percakapan berakhir Leon kembali mengemudikan mobilnya dan bertanya kemana Tania ingin pergi, ini adalah kali pertamanya Leon menawarkan dirinya kepada Tania untuk menuruti permintaan Tania yang sepertinya tidak akan mudah dituruti kecuali menonton bioskop saja.


''Bagaimana kalau kita ke pasar malam?'' dan benar saja lagi-lagi pasar malam yang menjadi tujuan kepergian mereka ''memangnya tidak ada tempat lain seperti pasar malam? kita kan masih bisa main ke Timezone atau ke tempat wisata yang lebih dari pasar malam?'' Tania menggelengkan kepalanya dan tersenyum benar-benar puas dan tak ada yang bisa Leon lakukan kecuali mengikuti permintaan bocil satu ini.

__ADS_1


Leon kali ini benar-benar merasa diikuti dan entah mengapa orang-orang suruhan dari perusahaan corporation ini memata-matai dengan cara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi yang membuat Leon malah merasa risih.


Bersambung...


__ADS_2