
Di perlakukan bak seorang putri, Alea merasa kurang nyaman. Ia yang tidak biasa di layani, kini harus merasakan kenikmatan. Makanan sudah tersaji, rumah sudah beres dan rapih, bahkan apapun tinggal minta.
Berbeda terbalik dengan kehidupanya sebelum ia mengenal Adila. Ia harus membantu ibunya jualan kue, bahkan menyiapkan segala kebutuhan sekolah adiknya, saat ibunya sedang berkeliling menjajajakan kue jualanya.
Hari ini, Alea berniat pulang kerumah ibunya. Ia ingin melihat barang apa saja yang di berikan Adila pada ibunya. Tapi sebelum pergi, Alea harus meminta ijin terlebih dulu pada Adila. Walaupun pria itu bukan siapa-siapanya, tapi ia yang sudah memberikan semua kenyamanan ini untuknya.
Alea meraih ponselnya, lalu mulai menghubungi Adila. Tidak perlu menunggu lama, panggilan pun terhubung.
"Yes baby? Ada apa?" Sapa Adila dari ujung telpon.
"Aku mau kerumah ibu. Udah dua hari aku ngga pulang. Boleh kan?" Tanya Alea.
"Oh ya udah. Kamu di antar supir ya. Nanti aku suruh orang buat jemput kamu."
"Ngga usah. Aku naik taksi online aja."
"No bantah ya sayang. Udah ya, ini aku telpon supir nya dulu. Kalau aku ngga pulang nanti malam, kamu tidur di rumah ibu aja."
"Apaan sih! Kaya suami istri aja. Lagian aku juga mau kerja nanti malam!"
"Alea!! Jangan bantah! Jelas!" Suara Adila saat marah masih terdengar sama, walaupun di telpon. Dan jika sudah seperti ini, ia tidak bisa membantahnya.
"Ya udah, lima menit belum datang juga supirnya, aku jalan." Ucap Alea lalu mengakhiri panggilanya.
"Emang dia aja yang bisa gertak." Gumam Alea lalu meraih tas nya, dan keluar dari kamar.
Saat ia membuka pintu, terdengar suara mba Marni yang memanggilnya. Ia lupa, jika ia tidak tinggal sendiri di apartment mewah itu.
"Mba mau kemana?" Tanya mba Marni yang kini berdiri di hadapanya.
"Aku mau pulang kerumah ibu dulu. Nanti aku balik lagi. Permisi." Jawab Alea sembari menganguk sopan lalu bergegas keluar.
Alea meminta supir menurunkanya, di depan jalan besar. Karena ia harus berjalan kaki, masuk ke dalam gang rumahnya. Ia juga tidak ingin para tetangga melihatnya di antar dengan mobil mewah.
Hinga akhirnya, Alea sampai di depan rumahnya. Suasananya berubah. Rumahnya terlihat rapih dari luar. Tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Bu." Ucap Alea sembari mengetuk pintu rumahnya.
"Bentar!" Suara ibunya terdengar dari dalam rumah, dan tidak berselang lama, pintu rumahnya pun terbuka.
Senyuman dari wajah perempuan paruh baya itu mengembang. Ia memeluk anaknya dengan erat, dan mengandeng tanganya, mengajak masuk ke dalam rumah.
Setelah tadi ia di kejutkan dengan apartment dan juga segala isinya, kini ia di kejutkan dengan barang mewah yang ada di dalam rumahnya.
Sofa lusuh yang sudah banyak bolong dimana-mana, kini berganti dengan soga mewah baru. Televisi yang jaman dulu, kini berganti menjadi televisi keluaran terbaru.
"Bu, ini apa?" Tanya Alea dengan wajah bingung. Ia masih belum puas melihat sekeliling rumahnya, lalu masuk ke dalam kamar. Dan ternyata, isi kamar tidurnya pun semua sudah berganti. Ada komputer beserta ranjang berukuran sedang.
"Ini dari pak Adila. Kemarin dia kesini. Ibu ngga nyangka, beliau baik banget. Tadinya ibu mau balikin semua ini. Tapi pak Adila marah dan menolaknya." Ibunya duduk di tepian tempat tidur sembari menatap puterinya.
Alea semakin terikat dengan Adila. Padahal ia tidak ingin terhutang budi banyak pada lelaki itu. Karena ia belum memiliki perasaan apapun, meski ia sudah tidur bersama, namun itu semua karena terpaksa.
"Kapan dia kesini? Terus, tumben ibu ngga kerja?" Alea merasa aneh, karena biasanya, ibunya sedang tidak ada dirumah di jam seperti ini.
"Ibu di larang kerja Lea. Tapi sekarang, ibu masukin kue ibu ke toko yang baru buka, di ujung jalan sana."
"Iya nak. Pak Adila bilang, kasian melihat ibu jalan kaki setiap hari. Jadi ibu hanya membuat kue, lalu memasukanya ke toko itu."
"Jangan bilang, itu toko kue buat ibu juga." Alea benar-benar curiga. Karena ia tidak tau ada toko kue di ujung jalan.
"Sepertinya milik kamu. Karena namanya toko kue Alea."
Mata Alea membulat sempurna. Tubuhnya terasa lemas, ia lalu duduk di samping ibunya, dengan nafas yang terasa sesak.
"Kamu gapapa?" Ibunya terlihat sangat cemas, melihat wajah anaknya yang mendadak pucat.
Ingin memastikan toko itu milik siapa, Alea beranjak dari tempat duduknya dan berlarian keluar. Ia bahkan tidak memperdulikan teriakan ibunya, yang memanggilnya.
Ia beralrian melewati jalan tikus, agar ia cepat sampai di ujung jalan. Dengan nafas tersenggal-senggal, akhirnya Alea sampai di depan toko kue itu.
Tertulis denngan sangat besar, nama toko kue itu, 'Alea bakery'. Ia berjalan perlahan dan masuk ke dalam toko yang terlihat mewah.
"Siang bu. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang pegawai yang kini berdiri di depan meja kasir.
__ADS_1
"Ini toko siapa?" Tanpa basa-basi, Alea langsung bertanya pada intinya.
"Ini toko ibu Alea. Calon istrinya pak Adila. Maaf, ibu siapa?" Sepertinya pelayan ini orang baru. Karena ia tidak mengenali Alea.
Seorang pria paruh baya, keluar dari dalam ruangan yang ada di toko itu. Ia tersentak kaget, saat melihat Alea berdiri di ambang pintu.
"Ibu Alea." Sapa pria itu sembari menganguk sopan pada Alea.
Pelayan tadi, menatap pria itu dan Alea bergantian. Ia terlihat serba salah dan menganguk sopan pada Alea.
"Ini toko siapa?" Tanya Alea pada pria paruh baya itu.
"Loh, ini toko kue ibu." Jawab pria itu.
Alea buru-buru keluar, lalu mengambil ponselnya dan mengambil foto toko itu, lalu mengirimnya pada Adila. Dan di saat yang bersamaan, ada satu panggilan dari Nadia. Tanpa menunggu lama, ia lalu menjawab panggilan dari Nadia.
"Lo dimana? Bantuin gue!!" Suara Nadia terdengar seperti tengah menangis.
"Ada apa? Lo kenapa?" Tanya Alea bingung.
"Gue mau kerumah lo. Plis tolong gue." Jawab Nadia lalu mengakhiri panggilanya begitu saja.
Tidak ingin, Nadia sampai kerumahnya dan bertemu dengan ibunya, ia mengirimkan lokasi apartment nya. Ia pun bergegas pulang kembali kesana. Soal toko kue, ia lupakan sejenak.
Ternyata ia datang bersamaan dengan Nadia, yang baru turun dari taksi. Matanya terlihat sembab, sepertinya ia baru saja menangis.
"Ada apa?" Tanya Alea sembari menatap Nadia.
Tanganya gemetar, ia kembali meneteskan air matanya, dan memeluk Alea dengan erat. Keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di plataran parkiran apartment.
"Gue di ancam." Sembari terisak tangis, Nadia mengenggam tangan Alea.
"Di ancam siapa? Dan kenapa?"
"Di ancam mau di bunuh."
__ADS_1