
"Bos?"
Mata bulat Nadia membelalak, msnatap Alea dari ujung kaki, sampai ujung rambutnya. Wanita dengan pakaian tidak senonoh itu, lantas menarik tangan Alea, menjauh dari Nia.
"Lo udah jadi bos?" Tanya Nadia.
"Emang kenapa? Ada masalah sama lo?"
"Gue serius, lo jadi pemilik hotel ini sekarang?"
"Bukan, gue cuma pegawai." Kilah Alea.
Ia sangat hafal dengan sifat sahabatnya ini, yang bisa melakukan apa saja demi uang.
"Lo jangan bohong dong. Gue tau, lo pasti bos nya kan? Duit lo banyak kan?" Tanya Nadia lagi.
"Gue ngga ada waktu buat ladenin lo!" Alea lalu keluar begitu saja, meninggalkan Nadia. Ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya, agar Nadia tidak menganggunya lagi.
Setelah punya cukup banyak uang, bahkan berlebih, ternyata hidup Alea semakin tambah banyak masalah. Dari mulai kehidupan ayahnya, yang baru ia ketahui sekarang, di tambah Nadia, yang sudah pasti akan terus menganggunya.
"Nia, kalau perempuan tadi chek in di hotel kita lagi, tolong namanya di blacklist saja." ucap Alea.
"Baik bu." Jawab Nia sembari fokus pada kemudinya.
Tujuanya saat ini, adalah apartment ibunya. Kali ini, ia harus berhasil menanyakan tentang rahasia ayahnya, yang selama ini di sembunyikan ibunya.
Namun tiba-tiba, ponselnya berdering. Alea meraih ponselnya, dan melihat nama Adila. Tanpa menunggu lama, ia langsung menekan tombol hijau, dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Baby, congratulations sayang." sapa Adila dari ujung telepon. Dari suaranya, ia terdengar semangat. Sepertinya ada hal baik yang terjadi.
"Selamat apa?"
"Kamu dimana sekarang? Kita makan siang di cafe yang dekat kantor ku ya. Aku tunggu disana sekarang." Panggilan pun terputus begitu saja. Sudah menjadi kebiasaan Adila, selalu menutup panggilan tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu.
Kini ponsel Nia yang berdering. Ternyata Adila mengirimkan lokasinya saat ini, agar Alea bisa menyusulnya.
"Gimana ini bu?" Tanya Nia sembari menatap Alea dari kaca spion.
"Kita kesana dulu saja Nia." Jawab Alea.
Lagi-lagi, Alea harus menunda untuk bertemu dengan ibunya.
__ADS_1
......................
Setelah 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah cafe. Alea di sambut dengan sopan oleh pelayan disana. Dengan di antar pelayan, Alea di bawa ke sebuah ruangan VIP.
Ternyata Adila sudah menunggunya disana. Sebuket bunga mawar putih, menyapa nya siang itu. Alunan musik romantis, menemani keduanya.
"Kamu hebat. Aku bangga denganmu." Ucap Adila sembari memeluk Alea.
"Apasih? Selamat apa? Kamu daritadi ngomong gitu, tapi ngga jelas karena apa." Jawab Alea lalu melepaskan pelukan suaminya.
Adila menunjukan ponselnya, dan memperlihatkan isi pesan dengan investor yang tadi bertemu dengan Alea. Ternyata mereka setuju memberikan dana nya, untuk membangun hotel yang baru lagi.
Sebuah pencapaian yang tidak pernah Alea bayangkan sebelumnya. Akhirnya, ia bisa membanggakan Adila dan juga ibu mertuanya.
"Ini serius?" Tanya Alea yang masih tidak percaya.
"Aku serius sayang. Kamu bisa lihat sendiri isi pesanya bagaimana. Mereka kagum dengan kepintaran kamu." Jawab Adila.
Alea terdiam, dan menitikan air matanya. Ia bangga dengan dirinya sendiri. Di awal karir nya menjadi direktur, akhirnya ia bisa memberikan kontribusinya pada perusahaan milik ibu mertua nya itu.
"Sebagai hadiah, aku mau mempertemukan kamu dengan seseorang." Ucap Adila. Ia lalu meminta pelayan untuk memanggil seseorang yang Alea sama sekali tidak tahu itu siapa.
"Mila?"
Ya, perempuan itu adalah Mila, anak yang kemarin datang bersama ayahnya.
"Ngapain kamu bawa dia kesini?" Tanya Alea dengan nada tinggi.
Benar-benar sebuah kejutan yang membuat Alea kesal.
"Sayang, tenang dulu. Mila mau memberitahukan satu rahasia sama kamu." Jawab Adila.
"Rahasia apa? Dia mau mengemis disini? Dia mau membuat aku dan ibuku lebih menderita lagi? Itu maksud kamu?" Tanya Alea. Matanya menyalang menatap suaminya itu.
Alea tidak habis pikir, bagaimana bisa Adila memanggil Mila dia saat seharusnya ia bahagia dengan pencapaianya.
"Sepertinya, kamu belum siap bertemu dengan aku." Ucap Mila.
"Siapa yang siap, bertemu dengan orang, yang sudah buat hidupku hancur! Kamu bisa rasakan gimana jadi aku hah?"
"Justru aku ada disini, aku ingin kamu tahu, kalau selama ini, ayah ngga pernah bersalah!" Mila akhirnya meneteskan air matanya. Ia lalu mengeluarkan foto album nya di masa kecilnya dulu.
__ADS_1
Disana, ada foto ayahnya, yang tengah mengendong seorang gadis kecil, sembari membereskan rumah. Ntah apa maksud Mila memperlihatkan Foto ini.
"Aku mau pulang!" Alea lalu meraih tasnya, dan hendak keluar dari ruangan itu. Namun dengan cepat, Adila menahan tangan Alea, dan membawanya kembali duduk di tempatnya tadi.
"Kamu harus dengarkan penjelasan Mila dulu." Ucap Adila.
"Apa sih? Kamu percaya sama perempuan ini? Kamu percaya sama anak dari perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangga ibuku? Kamu per...."
"Aku bukan anak perempuan itu!" Dengan berani, Mila menyela perkataan Alea.
Seketika, Alea terdiam sejenak, lalu menatap Mila. Perempuan yang kemarin bertingkah kasar, kini berubah menjadu cengeng. Ia terisak tangis, sembari menutup wajahnya.
"Maksud kamu apa?" Tanya Alea lagi.
"Dia, bukan anak kandung ayah kamu, ataupun perempuan itu. Dia anak yang di urus sejak kecil, dan di ambil dari panti asuhan." Jawab Adila.
Alea semakin tidak mengerti arah pembicaraan Adila. Ia lalu menatap Mila, dengan penuh tanya.
Perasaanya campur aduk. Senang, sedih, kesal, bercampur jadi satu.
"Aku sudah berusaha mencari tahu, tentang keluarga ayah kamu. Dan ayah kamu, hanyalah korban. Korban dari kelicikan perempuan yang sangat terobsesi sama ayah kamu." Jelas Adila.
Alea mengernyitkan kening nya, dan menatap Mila. Dengan kasar, ia menarik tangan Mila.
"Jelasin!" bentak Alea.
"Semua yang di katakan Adila semuanya benar. Tidak ada lagi yang aku tutupi! Aku sudah menceritakan semuanya pada Adila." jelas Mila sembari terisak tangis.
Alea tidak ingin percaya begitu saja. Bisa saja perempuan ini, dengan sengaja mengarang cerita, agar Alea percaya. Sebelum bukti yang jelas, Mila berikan pada Alea.
"Halah, palingan ini akal-akalan kamu saja kan? Supaya aku, kasihan sama kamu, dan kamu bisa bekerja di perusahaan suamiku, iya kan?" tanya Alea lagi.
Tidak ingin istrinya semakin kesal, Adila mengeluarkan sebuah map dari dalam tas nya. Ia lalu memberikanya pada Alea.
"Ini apa?" Tanya Alea bingung.
"Buka saja sayang. Semua yang kamu inginkan, ada disana. Aku sudah berusaha, agar kamu tidak perlu capek mencarinya lagi." Jawab Adila.
"Iya apa?" tanya Alea dengan kesal.
"Itu surat dari panti asuhan!"
__ADS_1