
Beruntung, Alea cepat menemukan Nadia, sampai akhirnya, nyawa Nadia bisa teselamatkan, setelah mencoba mengkahiri hidupnya.
Kini Alea bisa bernafas lega, dan menemui Nadiandi ruang rawatnya. Setelah daritadi, dokter belum memperbolehkan ia untuk masuk.
Wajah lemas dan pucat, sembari terbaring di atas tempat tidur, membuat Alea harus menitikan air matanya. Ia tidak menyangka, jika beban Nadia sangat berat, sampai ia harus berbuat nekat seperti ini.
"Nad, kamu gapapa?" Tanya Alea lirih. Ia mengelus tangan sahabatnya itu dengab lembut. Sebisa mungkin, ia menahan air matanya, agar tidak jatuh, di hadapan Nadia.
"Kenapa lo selametin gue Al? Kenapa?!" Tangisan Nadia kembali pecah. Ia terus memukul tanganya, ke tempat tidur.
"Jangan bilang gitu. Cara lo ini salah. Lo masih bisa perbaiki semuanya. Ada gue, yang akan bantu lo." ucap Alea sembari mengenggam tangan Nadia.
"Gue ngga mau ngerepotin siapapun. Gue tahu, gue ini bodoh! Dan gue terlalu naif, buat dengerin kata lo. Mungkin, kalau gue berubah dari lama, nasib gue ngga akan kaya gini." jawab Nadia sembari terisak tangis.
Alea hanya bisa menghapus air mata sahabatnya itu, lalu memeluknya dengan erat. Ia tau, disaat seperti ini, yang Nadia butuhkan hanyalah dukungan, dan kasih sayang yang tulus. Dan seharusnya, keluarga Nadia juga mendukung. Bukan malah, membebankan semuanya pada Nadia. Tanoa mereka tahu, apa yang Nadia lakuin di luaran, hanya untuk mendapatkan uang.
Sebelum masuk keruangan Nadia, Alea sudah meminta Nia, untuk menghubungi keluarga Nadia. Untunglah, Alea masih menyimpan nomor ponsel ibunya. Sampai akhirnya, ibunya akan menyusul Nadia ke rumah sakit.
"Nia, udah ada kabar?" Tanya Alea.
"Belum bu. Mungkin masih di jalan." jawab Nia.
"Siapa Al? Adila? Gue mohon, lo jangan bawa dia kesini. Gue ngga mau, dia makin marah sama lo, karena apa yang udah gue lakuin sama dia." Ucap Nadia. Ternyata ia tahu, jika Adila marah padanya.
"Bukan Nad. Adila lagi meeting di Bandung. Dan mungkin pulang nya sore. Dia juga ngga marah ko sama lo. Makanya gue bawa lo kerumah sakit keluarganya." Jawab Alea.
Sebenarnya, Adila memang marah pada Alea, saat tahu Alea masih membantu Nadia. Tapi setelah Alea berikan penjelasan, suaminya mulai paham dan mengerti. Sampai akhirnya, ia pun menyuruh Alea membawa Nadia kerumah sakit milik keluarganya. Agar Nadia bisa mendapatkan penanganan yang serius.
"Lo ngga lagi bohong kan Al? Gue ngga mau, kalau lo jadi berantem sama Adila, gara-gara gue." Ucap Nadia.
__ADS_1
"Ya ngga lah. Mau gue telpon Adilanya? Ntar lo goda lagi." Ejek Alea, sembari tersenyum.
"Gila lo! Dulu gue hilaf." jawab Nadia lalu tersenyum.
Setidaknya, Alea sudah berhasil membuat Nadia kembali tersenyum. Meski dengan candaan seperti ini.
Tidak berselang lama, Nia berbisik pada Alea, jika ibu dan adik Nadia sudah menunggu di luar ruangan. Tanpa menunggu lama, Alea pun menyuruh Nia, untuk mengajak orang tua Nadia masuk.
Perempuan paruh baya, dengan gaya yang glamor, serta seorang perempuan muda, sepertinya masih duduk di bangku SMA, masuk ke dalam ruangan. Tidak ada wajah sedih, ataupun panik, saat mereka masuk. Mereka terlihat biasa saja.
"Mamah?" Ucap Nadia kaget.
"Kamu ini, bisa-bisanya mau akhiri hidup, terus kalau kamu mati, siapa yang akan bayarin hutang mamah?" jawab ibunya.
Alea tersentak kaget, mendengar ucapan ibu Nadia. Pakaian dan tas, serta sepatu yang ia kenakan, dan juga adik Nadia, sangat tidak sebanding dengan apa yang ia katakan.
"Mah, tolong jangan bahas ini di depan temen Nadia. Mendingan mamah pulang sekarang." ucap Nadia.
Dada Alea terasa sesak, mendengar ucapan seorang ibu, yang malah membebankan semuanya pada sang anak. Bukan hanya karena itu, terjadi pada Nadia. Tapi rasanya tidak etis, jika seorang ibu melakukan hal itu.
"Iya kak, Bela juga butuh handphone baru. Liat nih, temen Bela udah punya keluaran teebaru semua." Ucap adiknya.
Alea sudah tidak bisa lagi, menahan kekesalanya. Niat tidak ingin mencampuri urusan keluarga Nadia, tapi ia harus berbibacara, apalagi kondisi Nadia masih belum stabil.
"Bu, tolong, kondisi Nadia baru saja membaik. Ibu tolong jangan buat emosi, dan batin Nadia kembali tersiksa. Harusnya, ibu sebagai keluarga memberikan dukungan untuk nadia, bukan malah membuatnya seperti ini." Ucap Alea.
"Kamu siapa?" tanya adik Nadia.
Sungguh tidak ada sopan santun, di keluarga Nadia ini. Bahkan anak kecil saja, bertanya seperti itu, pada orang yang lebih tua darinya.
__ADS_1
"Bicara yang sopan! Dia teman kaka!" bentak Nadia.
"Ko kamu malah bentak Bela? Ingat ya, kamu harus bayarin semua hutang, sesuai perjanjian." Ucap ibu Nadia.
"Bu, apa yang ibu lakukan sudah sangat keterlaluan. Ibu bisa saya laporkan, karena ibu melakukan hal ini, pada Nadia, anak kandung ibu sendiri!" jawab Alea.
"Anak kandung? Siapa yang bilang anak kandung?" Tanya ibu Nadia, sembari menatap sinis.
Alea terperanjat kaget, lalu menatap Nadia. Selama ia berteman, ternyata Nadia menyimpan rahasia ini darinya.
"Al, udah ya. Lo ngga usah ikut campur." Ucap Nadia sembari menitikan air matanya.
"Maksud ibu?" tanya Alea. Ia menatap ibu Nadia, dan juga Adiknya lekat-lekat.
"Dia ini, anak yang suami saya adopsi. Dan sekarang, suami saya sudah ngga ada. Dan saya sudah membesarkan anak ini dengan baik. Ngga salah dong, kalau saya minta imbalan?" jawab ibu Nadia.
Lutut Alea terasa lemas. Pantas saja, selama ini, keluarga Nadia tidak pernah mencarinya, dan malah membiarkan Nadia bekerja seperti itu.
"Mah cukup! Mendingan mamah pulang, nanti Nadia akan bayar semua hutang mamah!" Teriak Nadia sembari terisak tangis.
"Mana uangnya? Mamah mau beliin handphone buat Bela. Katanya, kamu semalam sama bos besar kan?" Ibunya malah menengadahkan tangan pada Nadia. Sungguh tidak tahu malu, dan tidak tahu diri.
"Bu, ibu bisa saya tuntut. Saya akan laporkan ibu, karena dengan sengaja menjual anak ibu. Walaupun dia anak adopsi, tapi ada surat perjanjian yang kalian sepakati dulu!" ucap Nia dengan tegas.
"Heh, kamu ngga usah ikut campur!" jawab Bela.
"Kamu, sekolah di SMA Nusantara?" Tanya Alea. Ia tidak sengaja, melihat gantungan kunci yang ada di tas anak itu.
SMA Nusantara, ada di bawah Wijaya grup. Jadi Alea bisa dengan mudah melakukan apa saja.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? Kaget, liat gue sekolah, di sekolah mahal?" Jawab perempuan itu.
"Bagus lah. Kebetulan, saya keluarga pemilik sekolah itu. Dan saya bisa keluarkan kamu dari sana, saat ini juga!"