
Betapa malunya Alea di perlakukan seperti itu disaat ia bekerja. Semua orang kini menatap kepadanya. Hanya mba Kiki yang tetap setia berdiri di sampingnya sembari merangkul tubuh Alea.
Alvi seolah membalaskan apa yang sudah di lakukan Adila padanya saat berada di parkiran mall.
"Mba cukup! Mba jangan nuduh sembarangan!" Bentak mba Kiki.
"Kamu ngga usah ikut campur! Saya punya buktinya!" Tegas Alvi. Saat ia akan mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba Adila merebut ponsel milik Alvi.
Semua mata tertuju pada Alvi dan juga Adila. Pasangan yang baru saja mengumumkan acara pernikahanya, kini harus bersitegang di depan umum.
"Kamu apa sih? Lepas ngga?" Ucap Alvi. Ia menatap Adila, dan berusaha merebut ponselnya kembali. Tapi ia gagal. Dan kini, Adila merebut microphone yang sejak tadi di pegang Alvi.
"Cek, Cek. Ada suaranya kan?" Adila lalu tersenyum dan kembali memberikan ponselnya pada Alvi. Kini, giliran dia yang mengambil ponsel miliknya dari dalam sakunya.
"Udah ada suaranya ya. Oke, selamat sore semuanya. Mohon maaf, kalau acara sore ini jadi berantakan dan di luar dugaan ya." Ucap Adila. Ia lalu menatap Alvi dan tersenyum. "Mohon maaf, saya awalnya ngga mau membongkar semua ini, karena saya tidak ingin, nama Alvi grup jadi hancur. Tapi, setelah saya pikir lagi, dan melihat kelakuan ibu Alvi, saya jadi berpikir ulang, untuk memberitahukan bagaimana kelakuan ibu Alvi yang sebenarnya. Disini, saya pegang sebuah rekaman, dimana ibu Alvi sudah selingkuh di belakang saya." Tukasnya.
Adila lalu memutar video itu, dan memperlihatkanya pada seluruh tamu, walau yang terdengar hanya percakapan Alvi dan seorang laki-laki.
Dari suara itu, terdengar Alvi tengah membicarakan, jika ia berjanji akan menceraikan Adila, setelah ia mewarisi seluruh aset perusahaanya. Dan ia juga akan membuat Adila memberikan proyek yang ia menangkan.
Ssluruh tamu terlihat kaget. Mereka saling berbisik pada orang yang ada di samping nya. Bukan hanya tamu, kedua orang tua Alvi langsung berdiri dan menghampiri Alvi.
"Itu semua bohong!!" Teriak Alvi tidak terima.
"Tidak perlu teriak. Semua juga sudah ada buktinya. Dan disini, perempuan yang tadi ibu Alvi bilang atau tuduhkan Pelakor, pada perempuan yang berdiri disana, semua itu bohong. Ibu Alvi cemburu, dan tidak terima, karena saya lebih memilih perempuan cantik disana." Jelas Adila. Ia lalu menghampiri Alea, dan mengandeng tangan Alea, di depan semua orang yang ada disana.
__ADS_1
Kali ini, Alea hanya terdiam membisu, tanpa kata. Ia bingung harus berbuat apa untuk saat ini.
"Jadi saya mohon maaf, pertunangan ini saya batalkan." Adila lalu memberikan microphone itu pada mba Kiki, dan ia turun bersama Alea. Ia terus memberikan senyumanya pada semua orang yang ada disana.
"Tunggu!!" Alvi kembali berteriak. Namun kali ini, Adila tidak memperdulikanya, dan terus melangkahlan kakinya keluar dari hotel itu.
Namun Alvi berlarian mengejar Adila dan Alea yang sudah berada di loby hotel. Tanpa di duga, Alvi kembali menyirmkan air pada Alea. Tapi kali ini, tubuh Adila yang terkena siraman itu, karena Adila menghalangi Alea dengan tubuhnya.
"Dasar pelakor!!" Teriak Alvi lalu melemparkan gelasnya hingga pecah.
Adila dan Alea kini menjadi pusat perhatian semua tamu yang baru saja datang ke hotel. Mungkin mereka bingung, dengan apa yang kini terjadi pada mereka.
"Kamu gapapa?" Tanya Adila yang kini memeluk Alea dari belakang.
Alea hanya mengeleng pelan, dengan wajah pucat. Ia sungguh ketakutan, dengan apa yang terjadi saat ini.
"Tolong om ajarin anak om ini. Kalau om masih mau, perusahaan orang tua saya, mendanai perusahaan om!" Ancam Adila. Ia langsung mengajak Alea pergi, setelah memberikan peringatan pada ayah Alvi.
......................
Tangan Alea masih bergetar. Jantung nya pun masih berdetak kencang. Ia benar-benar ketakutan dan merasa di permalukan di depan banyak orang. Meski lagi-lagi, Adila membelanya, dan menyelamatkanya.
Sepanjang perjalanan, Adila terus fokus pada kemudinya. Sementara Alea terus menatap jalanan. Pikiranya sangat kacau saat ini.
Hingga akhirnya, Adila menepikan mobilnya di tepi jalan. Ia msnarik rem tangan, dan menghidukan lampu sein. Setelah itu, ia.menatap Alea yang kini tengah melamun. Kedua tanganya berusaha mengenggam tangan Alea dan menciumnya berkali-kali.
__ADS_1
Merasa bersalah, dan kasian, kecewa pada dirinya sendiri, itulah yang saat ini Adila rasakan. Baru beberapa hari mengenal Alea, ia sudah mengubah hidup gadis itu menjadi lebih burum dari sebelumnya.
"Maafin aku. Aku salah, aku selalu baut kamu menderita. Aku beneran menyesal." Suara Adila terdenger pilu. Ia menundukan kepalanya sembari mengenggam tangan Alea.
"Ngga perlu minta maaf. Disini kamu juga korban. Jadi, lebih baik kamu sembuhin diri kamu sebelum kamu mencoba menyembuhlan luka hati aku, yang kamu buat." Alea tak kuasa menahan air matanya, yang akhirnya mengalir deras di pipinya. Alea memang terluka, tapi yang lebih terluka adalah Adila. Sudah di hianati, namun masih tetap mencoba tegar.
"Aku yang ajak kamu masuk ke dalam luka aku. Andai saja, kamu ngga hadir dalam hidup aku, mungkin kamu masih jadi Alea yang ceria. Maafin aku. Aku memang salah, aku pria yang bodoh." Adila lalu memukulkan kepalanya dengan tanganya sendiri.
Alea yang kaget, dan takut, serta kasian pada Adila, ia lalu memeluk Adila dan berusaha menenangkan Adila.
"Udah. Kamu ngga salah. Kita semua korban." Teriak Alea sembari mengusap pucuk kepala Adila.
Pria yang sombong dan angkuh itu, akhirnya meneteskan air matanya dan memeluk Alea. Selama ini, ia hanya bisa memendam kesedihanya seorang diri. Dan menutupinya dengan sifat angkuhnya. Namun sore itu, Adila tidak lagi menahanya, dan menumpahkan semuanya di hadapan Alea. Perempuan yang baru ia temui beberapa hari lalu, namun sudah melukiskan sejuta kenangan indah.
"Aku sayang kamu. Kamu punya aku. Kamu ngga boleh nangis lagi." Akhirnya Alea mengatakan hal itu pada Adila. Hal yang selama ini ia pendam. Perasaan yang sebelumnya masih samar, akhirnya terbuka dengan jelas sore itu.
Dengan wajah kaget, Adila lalu menatap Alea. Seolah ia meminta kejelasan dengan apa yang baru saja Alea katakan.
"Iya aku sayang kamu. Makasih, udah buat hidupku berubah. Dan tau apa arti cinta." Tanpa segan, Alea langsung mencium bibir Adila sekejap dengan lembut.
"Kamu serius sayang aku? Kamu mau jadi istri aku?" Tanya Adila.
"Serius." Jawab Alea dengan tegas.
Kali ini, giliran Adila yang langsung mencium bibir Alea dengan lembut dan penuh cinta. Sebelah tanganya sudah mulai mengerayangi tubuh Alea. Tapi, Alea menolaknya, karena ia sadar saat ini ia masih berada di atas mobil.
__ADS_1
"Di apart aja mainya ya."