
Malam ini, Alea menuruti perkataan Adila untuk tidak pergi bekerja lagi. Dan malam ini, Adila mengajak Alea untuk pergi dinner di restoran mewah.
Keduanya sudah siap dengan pakaian rapih. Alea dengan gaun berwarna merah nya, dengan rambut panjang terurai, serta riasan yang tidak terlalu mencolok. Semntara Adila, hanya memakai baju kemeja panjang berwarna putih, dan celana jeans, serta sepatuh putih, yang ia kenakan saat pertama kali bertemu dengan Alea.
"Mba, malam ini saya sama Alea mau makan diluar. Mba ngga usah masak ya." Ucap Adila pada mba Marni.
"Baik pak." Dengan sopan, wanita paruh baya itu menganguk pelan, dan kembali ke dapur.
Adila dan Alea pun bergegas pergi setelah berpamitan dengan mba Marni. Tangan Adila terus mengenggam tangan Alea, sampai di plataran parkir.
Keduanya terlihat sangat serasi, yang satu tampan, dan si perempuanya sangat cantik. Keduanya kembali menjadi pusat perhatian saat keluar dari lobi apartment.
Dengan sigap, Adila membuka pintu mobilnya untuk Alea.
"Silahkan masuk tuan puteri." Ie membungkukan tubuhnya, dan tersenyum manis pada Alea.
Perempuan mana, yang tidak terpana di perlakukan seperti itu.
"Makasih." Jawab Alea gugup. Ia salah tingkah di perlakukan seperti itu oleh Adila.
Dengan cepat, Adila masuk ke dalam mobil, dan langsung menancap gas. Alunan lagu bernada indah, menemani perjalanan mereka sampai ke restoran mewah.
Saat sampai, keduanya kembali di sambut oleh pelayan restoran. Sebelum datang, Adila sudah memesan tempat vip untuk Alea. Restoran itu sangat mewah dan megah.
Alea sangat gugup, saat masuk ke dalam restoran mewah itu. Mengapa tidak, ini kali pertamanya ia datang ke tempat sebagus itu, dan di perlakukan seperti tuan puteri. Tangan Adila tidak melepeskan tangan Alea sama sekali.
"Silahkan pak." Ucap pelayan itu dengan sopan.
Alea dan Adila pun masuk ke dalam sebuah ruangan. Dimana, tempat itu hanya ada mereka berdua. Semua makananya sudah tersaji di meja. Dan ada bunga mawar merah di atas meja.
"Ini untuk calon istriku." Adila memberikan bunga itu pada Alea, lalu mencium kening nya.
"Makasih." Jawab Alea, yang lagi-lagi harus terlihat gugup.
"Kamu suka tempatnya? Atau kamu mau tempat lain?" Tanya Adila yang kini tengah sibuk menuangkan segelas wine.
__ADS_1
"Suka banget. Tapi ini terlalu mewah untuk aku." Jawaban yang sangat jujur, yang baru saja keluar dari mulut Alea.
"Untuk orang special kaya kamu, tempatnya juga harus special." Adila lalu memberikan segelaa wine pada Alea.
Karena sudah tau, wine itu ada alkoholnya, Alea hanya menerima gelasnya, tanpa meminumnya. Ia kembali meletakan gelas itu, dan mulai mencicipi makanan yang sudah tersaji di atas meja.
......................
Setelah selsai makan malam, Adila tiba-tiba menceritakan siapa penelpon yang ia panggil mamih itu. Perempuan yang tak lain adalah ibunya sendiri.
Tentu saja Alea merasa malu, karena ia sudah menuduh yang tidak-tidak pada Adila. Tapi, ia tetap harus bersikap biasa saja, agar Adila tidak curiga, jika ia pernah cemburu, saat Adila memanggil mamih.
"Abis ini mau kemana? Pulang atau mau jalan?" Tanya Adila.
Rasanya tidak mungkin pergi jalan memakai gaun seperti ini. Apalagi dengan heels yang tinggi, yang membuat Alea sulit untuk berjalan.
"Pulang aja ya. Aku ngga nyaman pake baju ini." Jawab Alea sembari menatap pakaianya.
"Kamu cantik ko sayang. Bagus pake itu."
"Emang bagus. Tapi aku ngga bisa jalan pake baju kaya gini. Risih tau."
Sebenarnya, Alea senang, jika Adila tidak pulang ke apartment. Tapi ia juga tidak ingin sendirian di sana. Meski ada mba Marni, tapi tetap saja, rasanya akan lain.
"Ya udah. Aku juga pulang kerumah ibu." Ucap Alea. Ia tidak bermaksud melarang Adila, dengan mengatakan hal ini.
"Kamu ngga bolehin aku pulang kerumah mamih?" Tanya Adila dengan wajah menggoda.
"Apaan sih. Ngga gitu. Ya, daripada aku tidur di apart sendirian."
"Oke kalau gitu, kamu ikut aku kerumah mamih." Adila langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu meraih tangan Alea, dan mengajaknya keluar.
Dengan wajah bingung, Alea terus mengikuti langkah Adila sampai ke plataran parkir.
"Tunggu! Ini mau kemana?" Tanya Alea sebelum ia masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Udah masuk aja." Seolah mendorong Alea untuk masuk ke dalam mobil, Adila berdiri di belakang Alea. Hingga akhirnya, mau tidak mau, Alea harus masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Adila sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah perumahan Elit dan mewah.
Adila menghentikan mobilnya, di depan rumah bertingkat dua. Besar dan mewah, itulah yang Alea lihat. Ia sampai lupa berkedip, saat melihat rumah itu.
Dengan sigap, Adila kembali membuka pintu mobilnya, lalu mengandeng tangan Alea, dan membawanya masuk ke dalam.
Seorang perempuan muda, keluar dari balik pintu. Ia menyapa Adila dengan sopan. Sepertinya, itu asisten rumah tangganya.
"Mamih mana?" Tanya Adila pada asisten rumah tangganya.
"Udah pergi tuan. Tadi sore, ibu langsung ke US. Karena ada telpon mendadak." Jawab asisten rumah tangganya.
Akhirnya, Alea bisa bernafas lega, setelah mendengar jika ibu Adila sudah pergi. Ia tidak perlu mengenalkan dirinya pada ibu Adila.
"Kita telat." Gumam Adila lalu menatap Alea.
"Mau disiapkan makanan tuan?" Tanya asisten rumah tangganya dengan sopan.
"Tidak. Saya mau langsung ke kamar." Jawab Adila. "Ayo sayang." Ia kembali mengenggam tangan Alea dan membawanya ke lantai atas.
Saat masuk ke dalam kamarnya, ternyata kamarnya sangat luas. Bahkan sudah sama seperti rumah ibunya.
"Kamu kenapa ngajak aku ke kamar? Nanti orang tua kamu marah." Ucap Alea dengan wajah polos. Ia tidak biasa dengan sikap Adila yang seperti ini.
Namun laki-laki itu, bukanya menjawab, ia malah memeluk Alea dari belakang. Seperti biasa, ia mencium tengkuk leher Alea dengan lembut.
"Jangan gini dong. Nanti ada yang datang." Ucap Alea. Ia takut jika ibunya, atau keluarganya tiba-tiba datang dan melihat kelakuan Adila.
"Siapa yang berani masuk ke kamar ku." Jawabnya. Sebelah tanganya, mulai mengengam dada Alea dengan lembut. Belahan bajunya, membuat Adila dengan muda meraksuk ke dalam.
"Masa baru tadi, udah mau main lagi." Alea berharap Adila tidak meminta permainan seperti tadi lagi. Karena ia sudah mulai kelelahan.
"Gapapa dong sayang. Kamu kan punya aku. Jadi bebas mau ngapain aja." Bisiknya, membuat bulu kuduk Alea merinding.
__ADS_1
"Jangan ya. Besok aja. Aku capek."
"No! Tidak ada penolakan."