
Itulah sebab, mengapa setiap perempuan, mendambakan pria mapan, untuk menjadi pasangan hidupnya. Selain memberikan jaminan hidup, yang pasti tidak akan kekurangan, ia juga akan mendapatkan kemudahan, termasuk di hargai oleh semua orang.
Apartment, furniture dan usaha, sekarang mobil. Mobil mewah, yang selalu di pakai oleh para artis kenamaan, dan hanya bisa melihat orang-orang memakainya, kini Alea mempunyai mobil itu.
"Kamu suka kan? Besok, kalau belum bisa nyetir sendiri, aku cariin supir. Biar kamu juga ngga perlu naik taksi online lagi." Ucap Adila yang kini tengah fokus pada kemudinya.
Jalanan siang itu cukup ramai, macet dimana-mana. Sehingga perjalanan mereka cukup lama, sampai ke apartment.
"Apa ini ngga berlebihan?" Tanya Alea. Baginya, mobil adalah barang mewah, yang tidak akan pernah mampu ia beli dengan uangnya sendiri.
"Ya ngga lah sayang. Calon istri CEO itu, harus elegant. Ngga boleh buat malu."
"Kalau buat malu, ngapain kamu pilih aku?"
"Mulai salah paham. Mulai!!" Adila kembali fokus pada kemudinya, dan tidak ingin membahas masalah ini lagi. Ia tidak mau Alea marah padanya, karena salah paham.
"Kamu sendiri yang bilang, jangan buat malu. Ya udah, kalau buat malu, ngga usah sama aku." Alea yang masih belum terima dengan perkataan Adila kembali memabahasnya.
Tapi kali ini, Adila memilih unruk membesarkan volume radio nya, agar ia tidan mendengar apapun yang Alea katakan.
Karena jalanan yang masih macet, Adila menepikan mobilnya tepat di depan butik. Ia lalu turun lebih dulu, dan kembali membuka pintu mobil Alea. Ia bergaya seolah, ia supir pribadi Alea, yang menjelma menjadi kekasih.
"Silahkan tuan puteri." Tubuhnya membungkuk, sebelah tanganya di belakang, dan tatapan matanya menatap Alea.
Kali ini, Alea enggan untuk turun, karena di perlakukan seperti itu. Ia memilih menutup pintu mobilnya kembali.
"Sayang buka!!" Teriakan Adila terdengar samar. Namun wajahnya terlihat sangat lucu. Ia mengintip di kaca mobil, dengan tangan yang terus mengetuk kaca mobil itu.
Wajah tampan yang biasa terlihat sombong, kini bisa menjadi sosok lucu, yang membuat perut Alea sakit, karena puasa tertawa. Hingga akhirnya ia merasa kasian, dan membuka pintu mobil itu.
"Makanya, jangan kaya gitu." Alea lalu turun dan mengandeng tangan Adila. Ia merasa bersalah, karena sudah memperlakukan Adila seperti tadi.
"Jail ya." Dengan gemas Adila mencubit hidung Alea, dan mencium pucuk kepalanya. Keduanya lalu masuk ke dalak butik.
Pelayan butik yang sangat ramah, menyapa keduanya. Dan sepertinya, Adila pelanggan tetap di butik itu.
"Selamat siang pak Adila. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang pelayan perempuan sembari menatap dengan sopan.
__ADS_1
"Diana ada?" Tanya Adila sembari menatap pakaian yang ada disana.
"Ada pak. Mau saya panggilin?"
"Ngga usah, saya keruanganya saja." Adila lalu pergi, mengajak Alea kesebuah ruangan yang ada di dalam butik itu.
Seorang perempuan cantik, dengan rambut terurai panjang, tengah duduk di meja kerjanya. Matanya menatap serius pada layar komputer yang ada di hadapanya.
"Kerja mulu!" Adila mengebrak mejanya dan mengembangkan senyumnya pada perempuan bernama Diana itu.
Refleks, perempuan itu melempar bolpoint ke wajah Adila.
"Sialan lo!!" Bentak Diana.
Adila hanya terkekeh pelan, lalu duduk di sofa yang ada diruangan itu.
"Ada apa? Baru lagi? Yang mana lagi ini?" Tanya Diana yang masih fokus pada layar komputernya.
"Jangan buat fitnah. Dia sumbunya pendek." Adila lalu menatap Alea dan mencium pipinya. Ia sama sekali tidak merasa malu dengan Diana yang ada disana.
"Mau pacaran jangan disini. Gue lagi kerja."
"Yang ada, lo buat gue rugi!"
"Siapa bilang? Gue kesini mau rubah gaun yang kemarin di pesan." Jelas Adila.
Diana lalu menatap Adila dan juga Alea. Ia seolah tidak percaya dengan yang di katakan oleh Adila. Mungkin ia mengira, setelah hubunganya dengan Alvi kandas, Adila tidak akan melanjutkan.pemesanan gaun pengantin.
"Kenalin, ini Alea. Calon istriku yang sebenarnya." Ucap Adila menatap Alea yang ada di samping nya.
Gugup, dan canggung, itulah yang Alea rasakan saat ini. Ia tidak bisa berkata apapun. Karena ia benar-benar malu, dan bingung dengan pembicaraan dua orang ini.
"Cantik." Ucap Diana sembari menatap Alea. Akhirnya ia beralih duduk di sofa single. Ia terus menatap Alea dari atas sampai bawah.
"Perlu di permak lagi sih." Gumam Diana.
"Itu tujuan gue datang kesini. Lo bisa kan?" Dengan wajah semangat Adila menatap Alea.
__ADS_1
"Ya udah, ikut gue." Diana langsung beranjak dan keluar dari ruangan itu.
"Ini ada apa sih?" Bisik Alea dengan wajah bingung.
"Nurut aja." Adila lalu menarik tangan Alea dan membawanya keluar menyusul Diana.
Keduanya berjalan ke lantai atas. Yang ternyata ada sebuah salon disana. Diana yang sudah siap dengan gunting,
"Sini duduk. Kita bikin cowok tengil ini tergila-gila." Diana menepuk-nepuk kursi yang ada di hadapanya.
Dengan senyuman Adila mendorong tubuh Alea, hingga akhirnya ia duduk di kursi panas itu.
Permak pun di mulai. Sembari menunggu calon istrinya di permak, Adila memilih menunggu di lobi. Ia membuka ponselnya, dan kaget saat melihat beritanya ada di media sosial.
"Apa-apaan ini!" Gumam nya dengan wajah kesal.
Fotonya dan juga Alvi terpampang di semua berita online. Yang lebih parahnya lagi, disana tertulis, jika Alvi dan Adila tetap akan melangsungkan pernikahan.
Tanpa menunggu lama, Adila langsung menghubungi sekretaris nya. Ia menyuruhnya untuk menurunkan semua berita yang beredar.
"Maaf pak, saya sudah coba tadi, tapi Alvi grup sudah menyuap semua orang. Jadi kita ngga bisa berbuat apapun lagi." Jawab Sekeetarisnya dari ujung telpon.
"Saya gaji kamu, bayar kamu mahal-mahal, buat handle urusan seperti ini!" Bentak Adila. Ia beranjak dari tempat duduknya, sembari berkacak pinggang. Padahal baru saja ia akan memulai kehidupan baru tanpa ada gangguan Alvi.
"Baik pak. Saya minta maaf. Saya akan urus secepatnya." Jawab sekretaris nya.
"Bagus." Adila langsung mengakhiri panggilan telponya begitu saja.
Tidak berselang lama, Diana turum seorang diri. Ia menatap Adila yang berwajah muram. Sebagai sahabat, Diana tau apa yang saat ini tengah Adila pikirkan.
"Ngapain susah sih. Biarin aja beritanya nyebar. Yang malu kan dia." Ucap Diana yang kini duduk santai.
"Alea mana?" Tanya Adila sembari mencari sosok perempuan yang ia sayangi.
"Masih di facial. Tunggu aja. Udah, lo mending buka kartu si Alvi itu di media sosial. Biar orang tau, siapa dia sebenarnya." Jawab Diana.
Adila terdiam sejenak, lalu kembali menatap Diana.
__ADS_1
"Balas dendam lebih sakit man."