CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 34 | Bertekuk lutut


__ADS_3

Selama kita bisa menyembunyikan kebusukan kita di depan pasangan, selama itu pula pasangan akan mengira, bahwa kita adalah orang baik, yang sempurna tanpa ada kekurangan satu apapun.


Dan itulah yang di lakukan oleh Alvi, selama ia berhubungan dengan Adila. Ia pintar menyembunyikan kebusukanya. Meski pada akhirnya, Adila mengetahui jika dirinya selingkuh di belakangnya.


Tapi yang Adila tau hanya sebatas itu. Tentang kelakuanya di luaran, Adila sama sekali tidak tau. Karena dia terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya, sampai ia menutup matanya.


"Untung saja feeling ku tentang dia tidak salah. Andai saja aku percaya lagi, aku tidak akan tau bagaiamana sifatnya yang sebenarnya." Ujar Adila.


Alea hanya terdiam, karena ia masih kesal dengan Rauf. Kepalanya masih terasa sakit, akibat kepentok dashboard mobil.


"Tapi, ya sudah lah. Yang penting, istriku sekarang adalah kamu." Adila kembali melanjutkan perjalananya. Ajakanya untuk dinner diluar, harus ia batalkan, karena Alea sudah tidak mood lagi untuk pergi.


Keduanya kembali pulang kerumhnya.


Sapaan para asisten rumah tangganya, menyambut kedatangan mereka.


"Ada siapa?" Tanya Adila saat melihat ada sepeda motor di depan rumahnya.


Tidak mungkin kolega bisnisnya, atau teman Adila. Karena mereka tidak ada yang memakai sepeda motor sejelek ini.


"Ada tamu pak. Yang mencari ibu Alea." Jawab asisten rumah tangganya.


Alea mengernyitkan dahinya bingung. Karena ia tidak pernah memberitahukan tempat tinggalnya pada siapapun. Sedangkan temanya hanya Nadia. Dan hubungan merekapun, sedang tidak baik-baik saja.


"Siapa?" Tanya Alea penasaran.


"Saya tidak tahu bu." Jawab asisten rumah tangganya.


Tanpa menunggu lama, Alea dan Adila pun masuk ke dalam rumah. Mereka kaget saat melihat perempuan yang kemarin menghinanya saat berada di toko kue.


Ia langsung bersujud di kaki Alea, sembari minta maaf.


"Maafin saya. Saya salah, saya benar-benar minta maaf." Ujar nya sembari menangis pilu.


"Ini ada apa?" Alea yang masih bingung, berusaha membangunkan perempuan itu dan membantunya berdiri.

__ADS_1


Senentara Adila, hanya berdiri sembari berpangku tangan. Karena ia tau, perempuan ini, sudah pasti akan berlutut di depan Alea seperti ini.


Ini memang sebagian dari perbuatan Adila. Ia tidak terima melihat istrinya di hina seperti kemarin. Yang akhirnya, ia menyuruh anak buahnya, untuk menelusuri keluarga perempuan itu.


"Ini ada apa? Ibu ngapain minta maaf?" Tanya Alea.


"Saya menyesal sudah mengatakan hal itu pada ibu Alea. Saya tifak tau, jika ibu Alea adalah menantu keluarga Wijaya. Saya mohon, kembalikan pekerjaan suami saya." Jawab perempuan itu.


Alea semakin tidak paham maksud pembicaraan perempuan ini. Ia lalu mengajaknya untuk duduk, dan berbicara dengan tenang.


"Aku ke atas dulu." Ujar Adila. Ia pun pergi ke kamar nya, dan meninggalkan Alea bersama perempuan itu.


Perempuan itu bernama ibu Laksmi. Ia menceritakan semua kejadian, yang menimpa suaminya tadi pagi, yang harus kehilangan pelajaran, dan tiba-tiba di pecat dari pekerjaanya.


Suami ibu Laksmi, bekerja di salah satu perusahaan milik mertua Alea. Dan ntah mengapa, tiba-tiba saja ia di pecat.


"Saya mohon bu, jangan pecat suami saya. Dia tidak salah apapun. Yang salah disini, hanyalah saya. Saya yang tidak tau diri, dan membuat semuanya menjadi seperti ini." Sembari berurai air mata, ibu Laksmi memohon pada Alea. Ia juga terus mengenggam tangan Alea dengan erat.


Alea memang menantu di keluarga Wijaya, tapi ia sama sekali tidak tau, dan tidak punya kewenangan atas itu. Kecuali karyawan hotel, yang sekarang ia pegang. Hanya Adila suaminya yang mempunyai kewenangan atas karyawanya yang lain.


"Sudah bu. Dan jawaban atasanya, hanya menjawab jika suami saya sudah mendapatkan pesangon. Dan uang itu, sudah di berikan kepada saya." Terang perempuan itu.


Alea langsung teringat, jika kemarin, Adila memberikan uang pada perempuan ini. Apakah itu yang di maksud oleh ibu Laksmi? Tanpa menunggu lama, Alea pergi ke kamarnya dan meninggalkan ibu Laksmi seorang diri di ruang tamu.


Saat Alea masuk, suaminya nampak tengah santai di atas tempat tidur, sambil menonton serial kartun favoritnya. Ada satu keunikan dari sosok Adila. Pria satu ini, memang sangat hobi menonton film kartun. Sembari menikmati popcorn.


"Beb, aku mau tanya?" Tanya Alea. Ia duduk di tepian tempat tidur, sambil menatap suaminya, yang masih fokus pada layar televisinya.


"Apa?" Jawabnya dingin. Matanya terus fokus pada layar televisi yang ada di hadapanya.


"Kamu yang udah lakuin semua ini pada keluarga ibu Laksmi? Dan kamu yang sudah mecat suaminya?"


"Yes baby." Jawab aAdila dengan tenang.


Ternyata dugaanya benar. Adila yang sudah membuat suami dari perempuan ini kehilangan pekerjaan.

__ADS_1


Sebenarnya, Alea memang kesal pada perempuan itu, karena sudah merendahkanya. Tapi, ia juga merasa kasihan, jika pekerjaan suaminya yang harus jadi korbanya. Karena ia tau, bagaimana susahnya mendapatkan pekerjaan.


"Kenapa kamu lakuin itu?" Tanya Alea.


"Sebagai balasan. Karena dia sudah merendahkan menantu keluarha Wijaya."


"Tapi yang menghina bukan suaminya. Kenapa kamu libatkan dia?"


"Karena suaminya tidak becus mendidik istrinya. Andai dia bisa mendidik istrinya dengan baik, sudah pasti, istrinya tidak akan bersikap seperti itu."


"Beb, kalau dia kehilangan pekerjaanya, ada berapa orang yang bergantung sama penghasilanya? Apa kamu ngga kasian? Sementara anak dan istrinya butuh makan." Alea berusaha memelas, agar Adila mau merubah keputusanya.


"Udah lah sayang. Ngga usah di bahas. Itu sudah konsekuensi dia."


"Please sayang. Jangan begini, aku mohon." Pinta Alea. Ia mengenggam tangan suaminya dan mencium tangan suaminya. Berharap suaminya akan luluh dengan bujukanya itu.


Namun Adila sama sekali tidak bergeming. Ia masih terdiam tanpa kata, dan terus menatap layar televisi.


"Jadi ngga akan mau bantuin aku?" Tanya Alea lagi.


Adila tetap tidak bergeming dan terus menatap layar televisi. Sampai akhirnya, Alea beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamarnya. Ia kembali menemui perempuan itu di bawah.


"Maaf bu lama." Ujar Alea.


"Gapapa bu." Jawab perempuan itu dengan sopan.


Ia lalu duduk di samping perempuan paruh baya itu, sembari mengenggam tangan perempuan itu.


"Maafkan saya bu. Saya sudah berusaha, tapi suami saya tidak mau merubah keputusanya. Saya mohon maaf." Ucap Alea lirih.


Perempuan paruh baya itu meneteskan air matanya. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Andai saja perempuan ini, bisa menjaga kata-katanya, pasti semua ini tidak akan terjadi.


"Bagaiamana dengan biaya sekolah anak saya? Harus darimana saya mencari?" Tanya perempuan itu sembari meneteskan air matanya.


"Makanya, punya mulut itu di jaga!!"

__ADS_1


__ADS_2