
Rasanya tidak cukup untuk membahas apa yang terjadi, selama belasan tahun, dalam satu malam saja. Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi. Alea dan juga ayahnya, serta Mila, menceritakan bagaimana kehidupan mereka selama ini.
Dimulai dari ayahnya yang di jebak oleh ibu tirinya, sampai perlakua ibu tirinya selama ini, dan akhirnya Mila tahu siapa dia sebenarnya.
Alea merasa bersalah, selama ini sudah beeprasangka buruk pada Ayahnya. Yang nyatanya, ia pun hidup dalam kesengsaraan.
"Ya udah, ayah tidur. Ini udah hampir pagi, besok kita lanjut cerita lagi." ucap Alea. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Makasih ya Lea. Kamu sudah mau percaya sama ayah, dan mau memaafkan kesalahan ayah." jawab ayah Alea.
"Sama-sama. Lo Mil, kamar lo yang depan sana ya. Biar ayah tidur dikamar ini." Alea menunjuk kamar tamu, yang ada di dekat ruangan tamu. Sementara ayahnya, tidur di ruang tamu yang lebih besar.
"Thanks Al."
Alea hanya menganguk pelan, lalu bergegas pergi ke kamarnya.
Perasaanya sedikit lega, setelah mendengar ceritanyang sebenarnya. Tidak adalagi rasa penyesalan. Sekarang, tinggal ia memikirkan, bagaimana caranya agar ia bisa membuat ibu tirinya jera.
Saat ia masuk, Alea melihat suaminya tengah tertidur pulas. Sembari mengendap-ngendap, Alea masuk ke dalam kamar nya. Ia tidak ingin Adila terbangun dari tidurnya.
Sembari menatap suaminya, Alea merasa bersyukur, karena bisa bertemu pria sebaik Adila, yang merubah segalanya. Kalau bukan karena Adila, mungkin ia tidak akan pernah tau kebenaran yang terjadi selama ini.
"Makasih sayang." Ucap Alea sembari mencium kening Adila dengan hati-hati.
"Sama-sama."
Alea terperanjat, saat mendengar Adila menjawab perkataanya. Ternyata ia masih belum tidur.
Pria itu membuka matanya, lalu tersenyum pada Alea.
"Sini bobo." Adila menengadahkan tanganya.
Tanpa menunggu lama, Alea memeluk Adila dengan erat. Sudah lama, mereka tidak bermesraan seperti ini. Karena banyaknya masalah yang datang, membuat keduanya selalu kelelahan di saat masuk ke dalam kamar.
"Gimana? Udah selsai bicara sama ayah?" Tanya Adila sembari mengelus pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
"Udah. Makasih ya, kamu udah mau bantuin aku. Mungkin, kalau bukan karena kamu, aku masih belum tahu kebenaranya." Jawab Alea.
"Sama-sama sayang. Kamu istriku, sudah sepantasnya aku membantu kamu." Adila lalu mencium kening Alea.
Kini, rasa kantuk pun mulai menyerang. Alea mencoba memejamkan matanya, hingga akhirnya ia tertidur pulas.
......................
Pagi ini, Alea sudah siap pergi ke kantor. Meski tertidur pukul 4 pagi, tapi ia tetap terbangun jam 7 pagi, karena ia harus pergi ke hotel. Mempunyai jabatan di hotel, membuat Alea harus bertanggung jawab, atas pekerjaanya.
"Bi, ayah saya belum bangun ya?" Tanya Alea saat ia baru saja keluar dari kamarnya.
"Belum bu." Jawab asisten rumah tangganga dengan sopan.
"Kalau mereka sudah bangun, tolong siapin makan, dan pakaian ganti mereka ya. Saya sama suami saya mau ke kantor dulu." Jelas Alea.
"Baik bu." Asisten rumah tangganya pun kembali ke dapur.
Tidak berselang lama, Adila baru saja keluar dari kamarnya. Keduanya pun bergegas pergi ke hotel.
"Iya gapapa dong. Orang biasanya juga sendirian ko." Jawab Alea lalu menatap suaminya yang tengah fokus pada kemudinya.
Pagi ini mereka memang tidak di antar oleh supir. Karena Adila sedang tidak ingin di antar oleh siapapun.
"Ya, maksudnya, aku ngga bisa nungguin kamu sampai selsai nanti. Jadi kamu pulanh sama Nia ya."
"Baik pak Adila, nanti saya akan pulang dengan Nia."
Adila hanya terkekeh pelan, sembari fokus pada kemudinya. Tidak berselang lama, akhirnya mereka sampai di lobi hotel. Setelah pamit pada Adila, Alea pun bergegas masuk ke dalam.
Sapaan para karyawan pagi ini, menyambut kedatangan Alea. Sebagai direktur hotel, Alea memang selalu ramah pada siapapun. Maka dari itu, banyak karyawan yang menyukainya. Ia juga tidak membedakan karyawan yang bekerja denganya. Semua ia anggap sama.
"Pagi bu." Sapa Nia yang terus mengikuti Alea masuk ke dalam ruanganya. Seperti biasa, Nia memberikan setumpuk map, yang harus Alea tanda tangani.
"Bentar lagi, Artis kalah sama saya ya." Ucap Alea lalu menatap map yang ada di meja nya.
__ADS_1
Sembari tersenyum, Nia hanya menganguk pelan. Terkadang Alea masih bisa bercanda dengan Nia. Tidak seperti direktur yang sebelum Alea. Judes, sombong, dan angkuh. Tidak pernah mau menyapa karyawan, tapi sekalinya karyawan melakukan kesalahan, langsung di tindak dengan tegas.
"Jadwal kita hari ini apa?" Tanya Alea setelah selsai mendatangani file dokumenya.
"Pagi ini kosong bu. Hanya saja, siang nanti akan ada tamu bu." Jawab Nia.
"Siapa?"
"Koleganya keluarga Wijaya bu. Beliau dari hotel yang ada di Bali."
"Bali? Keluarga suami saya ada hotel di Bali juga?" Tanya Alea sembari mengernyitkan dahinya. Selama ini yang ia tahu, hanya perusahaan yang ada di Jakarta. Ia tidak tahu, jika keluarha suaminya mempunyai hotel di Bali.
"Iya benar bu. Pak Adila mempunyai 3 hotel di Bali. Dan itu semua di bawah naungan hotel ini. Itu artinya, ibu masih tetap direktur utamanya." Jawab Nia.
Sebagai karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan Wijaya, Nia sudah tahu apa saja aset keluarga Adila.
Ponsel Alea tiba-tiba berdering, ia lalu meraih ponselnya yang ada di dalam tas, dan melihat nama ibu Adila yang ada di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, Alea lalu menjawab panggilan telpon itu.
"Good morning sweety." Sapa ibu mertuanya. Suaranya terdengar lembut dan ceria.
"Morning mam. Apa kabaf?" Tanya Alea.
"Im good baby. How are you? How about Adila? He's good?"
"Yes good mam. Makasih ya, udah lahirin pria sebaik Adila."
"Ah, mamah terharu. Begini sayang, siang ini, akan ada pak Adam dan Ibu Kintan. Beliau yang memegang hotel kita di Bali. Mereka akan membicarakan evaluasi hotel selama dua bulan terkahir ini. Karena investor kemarin setuju untuk mendanai hotel baru kita, jadi mereka mamih minta untuk bertemu dengan kamu dulu." Jelas ibu Adila panjang lebar.
"Baik mam. Nanti Lea akan jamu dengan baik."
"Yes baby. I know, kamu orang yang pintar. Tapi, ada satu hal yang harus kamu tau, Kintan adalah sepupu dari Alvi. Jadi mereka pasti akan berusaha menjatuhkan kamu. Mamih, hanya ingin mengingatkan, be smart oke. Jangan terpancing emosi."
"Baik mam." Ucap Alea sembari menganguk pelan. Pantas saja, ibu mertuanya menelpon.
"Pokonya, tunjukan kalau kamu memang menantu pilihan mamih, yang terbaik."
__ADS_1