CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 53 | Pembuat onar


__ADS_3

Bukanya lebih baik, tapi malah lebih parah. Perempuan yang tiada habisnya menganggu rumah tangga Alea dan Adila. Siapa lagi kalau bukan Alvi. Merasa tidak puas, mencari keributan di depan klub, tadi malam, kini Alvi datang ke hotel, tempat Alea bekerja.


Kali ini, ia tidak datang sendiri, ia bersama dengan Kintan, sepupunya, yang baru saja kemarin datang untuk meeting bersama Alea.


Kedua perempuan itu, langsung menerobos masuk, ke ruangan Alea, seperti tidak memiliki sopan santun.


Alea yang tengah duduk di meja kerjanya, tersentak kaget, saat melihat kedua perempuan itu datang.


"Seorang wanita malam, yang sukse merebut calon suami orang, dan sekarang duduk dengan tenang di meja ini. Hebat ya?" Suara Alvi yang sangat lantang, terdengar jelas di ruangan itu.


Sementara Kintan langsung duduk di sofa yang ada diruangan Alea.


"Jangan cari ribut Vi, nanti dia nangis, terus ngadu sama suaminya." Ucap Kintan.


"Duh, yang paling punya suami." Ejek Alvi lalu tertawa puas.


Alea hanya terdiam, tanpa ingin menjawab perkataan dua orang gila ini. Rasanya percuma meladeninya, karena ia pasti akan kalah, satu orang lawan dua orang, tentu saja bukan tandingan yang kuat.


"Lo tau ngga, kalau dia ini, punya ibu tiri, yang ternyata sama-sama lo*te, kerjanya di tempat hiburan malam juga." Alvi lalu duduk di samping Kintan.


Keduanya kembali tertawa puas. Meski Alea tidak menjawab apapun, tapi ia merekam pembicaraan Alvi dan Kintan, yang akan ia kirim langsung pada ibu mertuanya.


"Padahal, gue udah punya rencana, kalau lo jadi nikah sama keluarga Wijaya, hotel ini akan gue kelola. Eh, malah cewek kampung, yang tiba-tiba jadi kaya." Jawab Kintan sembari mendelik pada Alea.


"Kenapa ngga lo rebut aja sekarang?" Tanya Alvi.


"Rencananya gitu, tapi kayanya susah. Semua pegawai, udah mihak dia semuanya. Bahkan, pak Adam aja sampai ngga bisa berkutik. Gue yakin sih, dia pake ilmu hitam." Jawab Kintan.


Tiba-tiba Nia masuk, dan kaget saat melihat dua orang perempuan, dengan pakaian tidak senonoh, duduk di sofa ruangan Alea.


"Masuk Nia." Ucap Alea.


Sembari terus menatap kedua perempuan itu, Nia pun masuk dengan membawa map di tanganya.

__ADS_1


"Heh, jangan belagu lo! Baru jadi asisten aja belagu!" Ucap Alvi pada Nia.


"Dia orang kepercayaanya keluarga Wijaya. Belum aja, palingan bentar lagi jadi pelakor." Jawab Kintan lalu tertawa puas.


Hampir saja Nia menjawab perkataan perempuan itu. Namun Alea melarang nya, dan hanya mengeleng pelah.


"Kenapa? Ngga berani? Sini lawan!!" Alvi lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Saya heran, yang katanya orang kaya, lahir dari keluarga terhormat, tapi etika dan sopan santun nya ko ngga di pake ya? Apa jangan-jangan, sebenarnya yang orang miskin itu kalian?" ucap Alea lalu tersenyum sinis.


Alvi dan juga Kintan, nampak tidak terima. Kedua perempuan itu, beranjak dari tempat duduknya, lalu mengebrak meja kerja Alea, sampai barang Alea terjatuh.


"Lo kalau punya mulut di jaga ya! Gue ngga serendahan lo!" bentak Kintan sembari menunjuk Alea.


"Bu, yang sopan ya! Anda disini cuma bawahan bu Alea!" Nia tentu tidak terima, dan balik membentak Kintan.


"Heh, lo ngga usah so ngatur gue!" Kintan dengan berani mendorong tubuh Nia.


Kedua perempuan ini sudah terlihat sangat emosi. Sejak terkahir bertemu dengan Kintan, Alea merasa ada yang tidak beres dengan perempuan itu. Ia bahkan sudah ada niat untuk mencari tahu kinerja nya pada pak Adam. Namun ternyata, tidak perlu susah mencari tahu, kini Alea sudah tahu dengan sendirinya.


"Lo punya asisten ini di jaga dong!" Bentak Alvi, yang kembali mengebrak meja kerja Alea, lalu meghempaskan laptop Alea sampai pecah.


Ponsel Alea tiba-tiba berdering. Ternyata panggilan dari ibu mertuanya. Sepertinya, ibu mertua Alea sudah membaca pesan suara dari Alea. Tanpa menunggu lama, Alea menjawab panggilan telpon itu.


"Hai baby, are you oke?" Sapa ibu mertuanya dari ujung telepon.


Alea lanhsung mengubah panggilan telponya, ke panggilan video. Ia lalu menunjukan barang nya, yang sudah jatuh ke lantai, serta laptop yang sudah pecah.


"Astaga! Kasih telponya pada Kintan." Ucap ibu mertuanya.


Alea pun meletakan ponselnya di atas meja. Kedua perempuan itu, nampak kaget, saat melihat ternyata ibu Adila ya, menghubungi Alea.


"Ayo ambil, ibu mertua saya mau ngomong sama kamu!" Ucap Alea lalu tersenyum sinis.

__ADS_1


"Biar gue aja." Alvi lalu meraih ponsel Alea, dan menjawab panggilan telpon ibu Adila.


Seketika sikapnya berubah menjadi manis. Padahal tadi, ia sangat emosi.


"Halo tan..."


"Saya tidak ada urusan dengan kamu, berikan handphone nya pada Kintan!" Ibu Adila langsung menyela pembicaraan Alvi dengan tegas.


Mau tidak mau, Alvi langsung memberikan handphone nya pada Kintan.


"Iya tante." Sapa Kintan. Wajahnya ketakutan, dan bahkan tidak berani menatap layar ponsel.


"Segera ambil uang gaji kamu, saya sudah transfer. Dan kemasi barang-barang kamu. Mulai hari ini, kamu bukan lagi karyawan di hotel saya!" Ucap ibu Adila.


"Tapi tan...."


"Ngga ada tapi-tapi! Jangan main-main dengan saya, saya bisa memberikan rekaman video kamu, pada orang tua kamu!" Ibu Adila terdengar sangat marah pada Kintan. Ntah rekaman video apa yang di maksud dengan ibu Adila.


"Baik tante. Kintan minta maaf, Kintan cuma di ajak aja, sama Alvi." Ucap Kintan.


"Susah kalian pulang dari sana!" Panggilan pun terputus begitu saja.


Alea dan Nia hanya tersenyum penuh kemenangan. Padahal tadi, dua orang perempuan ini, nampak terlihat bangga, dan percaya diri. Namun kini, nyali mereka langsung ciut.


"Saya sudah pernah bilang, jangan pernah anggap remeh saya. Karena kalian yang akan menanggung akibatnya. Jadi, saya ingatkan sekali lagi, jangan pernah ganggu saya, ataupun menginjakan kaki di hotel ini lagi. Atau saya, akan sebar video me*um kalian ke media sosial!" Ancam Alea.


Sejujurnya, Alea hanya mengancam, karena ia juga tidak mempunyai bukti rekaman apapun. Tapi, setelah mendengar ancaman ibu mertuanya, pikiran Alea langsung mengarah kesana.


"Maksud lo? Lo punya video i..."


"Tentu saja gue punya, dan gue, bisa kapan aja sebarin itu, untuk buat harga diri lo jatuh! Tapi, gue ngga akan sebarin itu, asal kalian, berhenti buat onar, dan jangan pernah perlihatkan batang hidung kalian lagi!" Ancam Alea.


Seketika vas bunga yang ada di meja, melayang dan membuat dahi Alea terluka.

__ADS_1


"Bu, ibu gapapa?" Tanya Nia panik.


Darah bercucuran di kening Alea, kepalanya mulai terasa pusing, dan pandanganya kabur, ia lalu terjatuh begitu saja.


__ADS_2