
Setelah menempuh perjalanan 3 jam lebih, akhirnya Alea juga Adila sampai di Bandung, tepatnya di kota Cimahi. Perjalanan yang cukup lumayan lama, di sertai macet jalanan, yang bertepatan dengan jam pulang kerja.
Sejak tadi, Alea terus memanndangi jalanan. Kota itu, sudah banyak berubah, dari sejak terkahir Alea datang kesana. Lebih ramai daripada dulu.
Namun hanya satu yang tidak akan berubah, sekolah dasar, yang ada di samping rumah keluarga ayahnya.
"Udah inget jalanya belum?" Tanya Adila.
"Udah, di depan ada belokan ke kiri, terus lurus aja. Nanti di ujung jalanya, ada sekolah dasar." Jawab Alea.
"Baik bu." sang supir pun langsung mengikuti petunjuk dari Alea.
Ia berharap, ayahnya ada disana. Jika memang tidak ada, ia tidak tahu lagi, harus pergi kemana, untuk mencari ayahnya.
"Yang ini bu?" tanya Supir menunjuk sekolah dasar, yang ada di seberang jalan.
"Iya itu betul." Alea dengan penuh semangat menunjuk rumah kecil, dengan taman yang masih sama di depan halaman rumahnya.
Dulu, Alea sempat akan di sekolahkan, di sekolah dasar itu. Namun, tidak jadi. Karena keluarga Alea, akhirnya kembali ke Jakarta.
"Bentar bu, saya puter balik dulu." Ucap supirnya.
"Saya turun disini aja." Jawab Alea, dan hendak membuka pintu mobilnya.
"Nanti sayang. Sabar." Ucap Adila, menahan lengan Alea.
Akhirnya Alea mengurungkan niatnya, dan mengikuti perkataan Adila, hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah itu.
Alea dan Adila turun dari mobil, sementara supirnya memarkir mobil di bahu jalan, agar tidak terjadi macet. Halaman rumah yang sempit, membuat supirnya tidak bisa parkir disana.
Dengan langkah gontai, Alea dam Adila masuk ke dalam. Dari kejauhan, ia mendengar tawa riang anak kecil.
"Permisi." Dengan sopan Adila mengetuk pintu rumah itu.
"Ya siapa?"
Teriakan seorang perempuan, lalu membuka pintu rumahnya, dan tersentak kaget, saat menatap Alea, yang berdiri di ambang pintu.
"Lea? Ya ampun." perempuan itu lalu memeluk Alea dengan erat. Ntah apa yang terjadi, tapi ia menagis saat memeluk Alea.
"Ini kamu kan? Ini Lea kan?" Perempuan itu memastikan Alea dengab menatap wajahnya lebih lama.
__ADS_1
"Iya tante, ini Lea."Jawab Alea dengan sopan. Ia mencium tangan perempuan itu, lalu di ikuti oleh Adila.
"Ayo masuk." Sembari mengandeng tangan Alea, perempuan itu mengajkanya masuk ke dalam rumah.
Suasana rumah nya, benar-benar masih sama. Tidak banyak yang berubah sama sekali. Kursi yang terbuat dari rotan, masih menghiasi ruangan tamu. Bahkan foto Alea kecil pun, masih terpampang jelas di ruangan itu.
"Ini suami Alea." Ucap Alea menunjuk Adila.
Perempuan itu, menatap Adila lebih lama. Tentu saja ia pasti mengenal Adila, seorang pengusaha sukses, yang biasa hadir di layar kaca televisi.
"Ini anaknya keluarga Wijaya itu ya?" tanya perempuan itu.
"Tante ko tau?" Dengan senyuman manis, Adila menanyakan hal itu.
"Ya ampun, beneran? Tante biasa lihat kamu di tv. Jadi ini suaminya Lea?" Ia memastikan dengan penuh wajah yang terlihat bangga.
"Iya tante. Ini suami Lea. Lea kesini mau cari ayah." Ucap Alea. Ia tidak ingin basa-basi lebih lama. Karena tujuanya kesini, untuk mencari ayahnya, dan bukan memamerkan suaminya
"Ayah? Ayah kamu ngga ada disini sayang." jawab tante nya.
"Tante serius? Ayah ngga ada kesini? Tante ngga lagi bohongin Lea kan?" Tanya Alea yang kembali panik.
"Beneran sayang. Tapi, kemarin dia sempat tanya kontrakan rumah di daerah sini." jawab tante nya.
"Iya, tante kasih tau. Bentar, tante ambil handphone dulu." perempuan itu lalu masuk ke dalam kamarnya, lalu kembali dan memperlihatkan isi pesan dari ayah Alea.
Ternyata ayah Alea menganti nomor ponselnya. Untung lah, Alea datang kesini. Jadi ia bisa lebih mudah mencari keberadaan ayahnya.
Tanpa menunggu lama, Alea meminta Adila untuk melacak keberadaan ayahnya. Meski hanya melalui nomor ponsel, tapi Adila bisa mencari keberadaanya.
Sembari menunggu kabar, Alea banyak bercerita dengan tante nya. Ia menceritakan semua yang terjadi padanya selama ini.
Tentu saja, tante Alea sangat kaget. Ia bahkan tidak tau, jika ibu Alea dan ayahnya berpisah. Dan tantenya juga baru berkomunikasi kembali, dengan ayah Alea setelah sekian lama.
"Tante bener-bener ngga tau, kalau kejadianya begini. Sekarang, tante paham, kenapa ayah kamu pinjam uang tante kemarin." Ucap tante nya
"Pinjam uang? Berapa? Buat apa?" Alea kaget mendengar ayahnya meminjam uang. Karena yang ia tahu, Adila sudah membayarkan biaya rumah sakit adiknya kemarin.
"Katanya buat bayat rumah sakit. Tapi yang di pinjam, cuma 1 juta. Makanya tante bingung, ko rumah sakit murah banget." Jelas tante nya.
"Nanyi saya bayar ya tante." Ucap Adila.
__ADS_1
"Ngga usah nak Dila, tante ikhlas ko."
"Ngga tante, pokonya nanti saya bayar."
Uang satu juta, bukan masalah buat Adila. Ia bisa nemberikanya lebih dari itu.
Setelah menunggu, akhirnya Adila berhasil mendapatkan posisi ayah Alea. Ternyata posisinya tidak jaih dari sana. Tanpa menunggu lama, Alea dan Adila pamit pada tante nya, tentu saja, setelah membayar hutang ayahnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, ke tempat ayah Alea.
"Ini bener alamatnya?" Tanya Alea kaget. Jalanan yang sempit, serta pemukiman yang sangat padat, dan kumuh, membuat ia tidak yakin, Ayahnya tinggal disana.
"Di sini, rumahnya yang itu bu." Jawab supir, menunjuk rumah di ujung jalan.
Tidak ingin membuang waktu, Alea dan Adila kembali turun. Mereka berjalan ke arah rumah itu. Seluruh tetangga, melihat Adila dan juga Alea dengan wajah bingung.
"Pak, ini rumah siapa ya?" Tanya Alea pada pria yang ada di sebelah rumah, yang di tunjukan sebagai rumah ayah Alea.
"Kontrakan bu. Yang sewa tapi lagi pergi." jawab pria itu.
"Kemana ya pak?"
"Ke bengkel mobil, di ujung jalan sana. Kalau yang perempuanya, pergi ke pabrik roti. Itu ada disana." Pria itu menunjuk pabrik roti yang hanya terhalang tiga bangunan rumah dari sana.
Perempuan yang di maksud, pasti Mila. Alea dan Adila pun pergi kr pabrik roti itu.
Mereka berdiri di luar, menatap satu-satu karyawan, yang tengah duduk di luar.
"Cari siapa bu, pak?"
Suara seorang perempuan, membuat Adila dan Alea menoleh.
"Yang sewa rumah disana, kerja disini ya bu?" tanya Alea.
"Betul bu. Sebentar saya panggil." perempuan itu lalu masuk ke dalam, sementara Alea dan Adila menunggu di luar.
Tidak berselang lama, perempuan itu keluar bersama Mila. Ternyata benar, itu Mila.
"Lo? Ngapain disini?" Tanya Mila kaget.
"Ayah mana?" Alea langsung menanyakan keberadaan ayahnya.
__ADS_1
"Lo tau gue disini darimana?"