
Siapa yang akan mengira, jika Nadia adalah cinta pertama Michael. Pria tampan, yang sama-sama dari keluarga kaya, seperti Adila.
Alea dan Adila begitu kaget, saat mendengar cerita Michael. Dan bahkan selama ini, Michael terus mencari keberadaan Nadia.
"Lo bisa bawa dia kesini?" Tatapan mata Michael begitu penuh harap.
"Lo aja masih sakit. Nanti aja." Jawab Adila ketus.
Meski Michael sudah bercerita awal mula pertemuanya dengan Nadia, yang sangat-sangat tidak di sengaja, bahkan terbilang sangat random, dan sudah sejak lama, jauh sebelum Nadia masuk ke dunia kelam, tapi Adila tetap tidak yakin jika sahabatnya itu akan benar-benar bahagia.
"Tapi kan, gue ngga akan ngajakin dia jalan juga. Gue cuma mau kenalan doang. Udah hampir sepuluh tahun, gue cari dia Dil. Apa lo ngga kasian sama gue?"
"Jangan lebay!"
"Gue ngga lebay, gue cuma mau ketemu doang."
Perdebatan mereka sudah seperti ayah dan anak, yang meminta ijin untuk membeli mainan.
"Kalau lo udah sembuh, gue janji bakalan temuin lo. Lagian, Nadia juga baru semuh. Kasian dia." ucap Alea mencoba menengahi perdebatan kedua pria itu.
Tanpa menjawab, wajah Michael nampak berubah. Kecewa sudah pasti, mungkin itu yang sedang ia rasakan.
"Lo lupain aja deh. Lo cari lagi, yang lebih baik." Sahut Adila.
"Lo ngga ngerti sih, apa itu cinta pertama." Jawab Michael.
"Tapi, dia udah ngga sepoloa dan sebaik, seperti yang lo bilang tadi. Dia udah banyak berubah. Ya, walaupun sekarang dia mau mencoba buat berubah. Tapi, gue ngga yakin, lo akan mau sama dia lagi." Jelas Alea.
Mengingat masa lalu Nadia, yang sangat kelam, bahkan mungkin, keluarga Michael tidak akan bisa menerima Nadia begitu saja.
"Cinta itu, bukan karena kelebihan seseorang. Tapi bagaimana, caranya kita melengkapi kekurangan orang itu." Ucap Michael.
Perkataanya terdengar sangat tulus. Alea lalu menatap Adila. Ia benar-benar tidak tega, membiarkan Michael seperti ini. Karena sepertinya, cinta yang Michael punya untuk Nadia sangatlah besar.
"Besok gue ajak kesini! Puas lo?!" Rutuk Adila.
"Thanks Dil. Gue tau, lo ngga akan tega, liat gue sedih."
Akhirnya wajah pria itu kembali nampak ceria dan semangat.
__ADS_1
Setelah beberapa jam berbicara, akhirnya dokter menyarankan, untuk Michael beristirahat kembali. Dan dengan sangat terpaksa, Alea dan Adila harus pulang.
Sepanjang perjalanan, Adila terus melamun. Sampai Alea mengajak bicara padanya, tapi ia tetap tidak fokus.
"Kamu kenapa?" Tanya Alea untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, ia sambil mengelus lembut tangan Adila.
"Dunia emang sempit." Jawab Adila.
"Maksudnya?" Alea nampak bingung dengan jawaban Adila.
"Ya, sempit. Michael bisa kenal sama Nadia bahkan sudah lama. Tapi aku ngga tau itu sama sekali." Ucap Adila sembari menghela nafas.
"Ya udah, siapa tau, ini jalan untuk Nadia bisa berubah." Jawab Alea.
Adila hanya menganguk pelan, dan kembali fokus menatap jalanan.
......................
Keesokan harinya.
Pagi itu, Alea dan Adila pergi menjemput Nadia ke apartment. Sebelumnya, Alea sudah menceritakan tentang Michael pada Nadia. Dan ternyata, Nadia pun sama. Ia sudah tau pria itu, saat Alea mengirimkan foto Michael. Tinggal di komplek perumahan yang sama, membuat Nadia dan Michael saling tahu satu sama lain, tapi tidak berani berkenalan.
"Makasih Al, Dil, kalian udah nemuin aku sama gadis, yang dulu gue temui." Ucap Michael.
"Aku ngga sebaik dulu." Jawab Nadia lirih.
"Its oke. Kita bisa memperbaikinya sama-sama." Michael lalu mengenggam tangan Nadia.
"Jadi, lo mau nikah ni?" Tanya Adila yang masih terlihat sinis dan ketus.
"Kalau dia berserdia, gue akan nikahin dia." Jawab Michael.
"Orang tua lo?" Adila yang sudah lama mengenal Michael, tau persis siapa ibunya. Perempuan yang lebih galak dari ibu Adila.
"Itu urusan gue. Yang penting, apa Nadia setuju?" Michael lalu menatap Nadia lekat-lekat.
"Aku ngga tau. Karena aku merasa kurang pantas buat kamu. Bahkan sangat tidak pantas." Jawab Nadia lirih.
"Yang menilai itu aku. Bukan kamu. Kamu cukup jawab, mau, apa ngga?" Tanya Michael dengan wajah serius.
__ADS_1
Alea tau, jika Nadia memiliki perasaan yang sama. Karena curhatanya tadi malam, membuat Alea menyimpulkan seperti ini.
"Kalau cinta, kamu tinggal bilang. Kamu ngga perlu malu Nad. Aku tau, kamu orang baik. Tapi keadaan yang memaksa kamu jadi seperti ini." Ucap Alea sembari mengenggam tangan sahabatnya.
Nadia hanya terdiam dan menundukan kepalanya.
"Kalau ngga mau, jangan di paksa sayang." Jawab Adila.
"Kamu apaan sih? Dari kemarin, kayanya kamu yang ngga suka Nadia sama Michael. Kamu cemburu? Atau kamu ngga rela, temen kamu sama temen aku?!" Bentak Alea. Kesabaranya sudah habis menghadapi suaminya itu. Walaupun ia tau, apa yang di lakukan Adila, karena ia sayang pada sahabatnya.
Akhirnya Adila memilih diam, dan tidak menjawab apapun. Ia tidak ingin sang istri lebih marah pada nya.
"Gimana? Udah lebih dari 10 tahun, aku menunggu waktu ini. Bahkan aku sampai meminta alamat sama pemilik rumah kamu yang baru. Tapi sayang, mereka tidak tau. Dan sampai pada akhirnya, hari ini kita di pertemukan lagi. Apa namanya kalau bukan jodoh?" ucap Michael panjang lebar.
"Tapi aku ngga sebaik dan ngga sesuci dulu. Aku udah kotor!" Jawab Nadia lalu terisak tangis.
"Akupun demikian. Tapi aku mau, kita menua bersama, dan membenahi diri kira masing-masing." jelas Michael.
"Kamu yakin? Mau nerima aku apa adanya?" Tanya Nadia lalu menghapus air matanya.
"Aku yakin. Dan aku, akan bahagiakan kamu seumur hidup aku." jawab Michael.
Akhirnya, Nadia menerima lamaran Michael. Sungguh tidak menyangka, perjalanan dua orang sahabat, yang berawal dari dunia yang kelam, berakhir bahagia, dengan CEO tampan dan kaya raya.
Adila dengan Alea, dan Nadia bersama Michael. Kedua pasangan itu, akhirnya menikah dengan sahabat pasanganya.
Melihat Nadia bahagia, Alea kini merasa lega. Dan hutang budinya selama ini, akhirnya bisa terbayarkan, dengan bertemunya Michael.
Kalau bukan karena Nadia, mungkin hidup Alea masih seperti dulu, miskin, dan bahkan Alea tidak akan bisa memberi pelajaran pada ibu tirinya.
Kedua pasangan itu, nampak ceria. Tanpa menunggu lama, Michael menghubungi ibunya dan meminta restu.
Sementara Nadia, yang tidak punya siapa-siapa, dia hanya bisa mengabari ibu Alea, yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Akhirnya, wanita malam bertemu dengan CEO." Ucap Alea sambil tertawa.
"CEO tampan, memang untuk perempuan malam, seperti aku dan kamu."
...~SELESAI~...
__ADS_1