CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 55 | Kabur


__ADS_3

Karena kejadian kemarin, Alea lupa dengan kondisi adik tirinya, yang masih ada dirumah sakit. Meski kondisi Alea masih belum pulih, ia memaksa untuk pergi ke rumah sakit. Dengan di antar Adila tentunya.


Sejak kejadian kemarin, Adila menjadi lebih over protektif pada Alea. Ia tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang kembali.


"Sayang, apa kamu ngga istirahat aja dirumah?" tanya Adila, saat di perjalanan.


Sebenarnya, pertanyaan ini sudah ia tanyakan sejak tadi. Namun ia ingin memastikan jika Alea baik-baik saja.


"Bosen deh, itu mulu pertanyaanya." Jawab Alea lalu mendelik kesal.


"Bukan gitu sayang, aku cuma mastiin aja, kamu gapapa."


"Aku gapapa. Cuma masih sedikit sakit aja, tapi kayanya wajar."


"Ya udah maaf ya." Adila lalu meraih tangan Alea, dan mencium tanganya dengan lembut.


Hari ini, mereka di antar supir, untuk pergi ke rumah sakit. Demi kenyamanan sang istri. Ia juga menunda jadwal meeting nya, hanya demi mengantar istrinya ke rumah sakit.


......................


Setelah perjalanan 30 menit, akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Keduanya langsung menuju ruangan adik tiri Alea.


Namun saat tiba, mereka kaget, kamar sudah kosong. Tidak ada siapapun yang di rawat di ruangan itu.


"Ini kemana?" tanya Alea panik.


"Sabar, kita tanya ke recepsionist." Jawab Adila.


Keduanya kembali keluar, menuju recepsionist.


Betapa kagetnya, saat mereka mendengar ayahnya sudah membawa pulang adik tirinya.


"Coba kamu telpon." Ucap Adila pada Alea.


Tanpa menunggu lama, Alea meraih ponsel di dalam tas nya. Lalu menghubungi Ayahnya. Namun, ponsel ayahnya tidak aktif.


"Ngga aktif." Mata Alea sudah berkaca-kaca. Ia lalu duduk kursi yang ada di ruang tunggu.


"Aku coba telpon Mila." Kini Adila langsung menghubungi Mila. Hanya Adila yang mempunyai nomor telpon Mila. karena kemarin, Adila memang memintanya, saat Mila datang ke restoran.


"Gimana?" Tanya Alea, sembari menatap Adila.


"Ngga aktif juga." Jawab Adila.


"Kita susul aja kerumahnya." Alea lalu beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan lebih dulu.


Hal yang ia takutkan akhirnya terjadi. Ayahnya pergi begitu saja tanpa memberikan kabar. Ia takut, ayahnya akan hilang kembali, seperti dulu, yang tidak ada kabar sama sekali.


Sepanjang perjalanan, Adila tidak berhenti begitu saja. Ia terus mencoba menghubungi Mila. Bahkan ia meminta Asistenya, untuk mencari tahu cctv di rumah sakit.

__ADS_1


"Kamu sabar ya, aku udah suruh orang untuk lihat cctv di rumah sakit." Ucap Adila.


"Aku cuma takut, ayah akan hilang lagi." Jawab Alea.


"Selama ada aku, ayah kamu ngga akan pernah kemana-mana." jelas Adila mencoba meyakinkan Alea.


Akhirnya, mereka sampai di rumah ibu Intan, ibu tiri Alea. Namun rumah itu terlihat sepi, tidak ada seorang pun disana. Bahkan, Alea sudah menanyakan pada tetangga nya, tapi tetap saja tidak ada yang melihat ayahnya juga Mila.


"Kerumah nenek kamu." Adila langsung mengajak Alea untuk pergi kerumah neneknya.


Hanya itu tujuan mereka satu-satunya. Meski Adila tahu, nenek Alea pasti tidak akan menerima kedatangan Alea.


......................


Sesampainya di rumah nenek Alea, mereka di sambut dengan cacian seperti biasanya. Bahkan perempuan itu, tidak membuka pintu sama sekali. Ia hanya berteriak dari dalam rumahnya.


"Pergi kalian! Karena kalian, rumah tangga anaku hancur!" teriak perempuan itu.


"Nek, tolong jangan gini. Ayah dimana?" Tanya Alea sembari mengetuk pintu rumahnya dengan kasar.


"Pergi!!" Teriaknya neneknya.


"Udah sayang, kita pergi aja." Ucap Adila lalu merangkul tubuh istrinya, dan membawanya ke mobil.


Tidak ada gunanya, berbicara dengan perempuan tua itu. Yang seharusnya membela Alea, dia malah mengasingkan Alea, dan membencinya.


"Padahal aku mau ajak ayah ketemu sama adik ku. Tapi sekarang malah gini." Ucap Alea sembari terisak tangis.


"Sabar ya sayang, kita pasti temuin ayah kamu. Selama masih ada aku, kamu ngga usah hawatir. Aku akan usahakan yang terbaik." Jawab Adila lalu menghapus air mata Alea.


Meski sang suami, pasti akan bisa menemukan ayahnya, tapi Alea tidak yakin jika ayahnya mau di ajak bertemu denganya lagi.


Tiba-tiba ponsel Adila berdering. Tanpa menunggu lama, Adila langsung menjawab telpon itu.


"Gimana?" tanya Adila.


"Udah ketemu pak. Katanya, mereka pergi ke stasiun. Dan sekarang, saya lagi minta rekaman cctv di stasiun pak." Jawab asistenya dari ujung telpon.


"Ini valid kan?" Tanya Adila memastikan. Ia tidak ingin asistenya salah informasi.


"Valid pak. Saya sudah tanya ke supir taksi, yang di pakai oleh bapak itu." Jawab asistenya.


"Oke. Kabarin terus saya." Adila langsung mengakhiri panggilan telponya begitu saja.


Setidaknya, ia sudah menemukan titik terang, jika ayah Alea benar-benar pergi dari Jakarta.


"Gimana? Udah ketemu? Apa kata asisten kamu?" Tanya Alea panik.


"Sabar sayang, masih di cari. Katanya mereka ke stasiun." Jawab Adila.

__ADS_1


"Stasiun?"


Adila hanya menganguk pelan, sembari menghapus air mata Alea.


Seketika, ia teringat, jika Ayahnya memiliki keluarga di Bandung. Hanya itu satu-satunya keluarga ayahnya, yang berada di luar kota.


Dulu, saat Alea masih kecil, orang tuanya sempat di usir oleh sang nenek. Hingga akhirnya, ayah Alea membawa ibunya, dan juga Alea ke tempat saudaranya itu.


Untung saja, Alea masih ingat dimana tempatnya.


"Sayang, coba kamu telpon lagi. Tanya ke orang stasiunya langsung." Ucap Alea.


"Sayang, ini lagi di cari. Sabar." Jawab Adila.


"Masa kamu ngga bisa turun sendiri? Tanya sama orang stasiun. Kalau kamu yang tanya, aku yakin, mereka pasti akan langsung kasih jawaban." jelas Alea.


Tidak ingin melihat istrinya sedih, dan kecewa lagi, Adila langsung menghubungi salah satu temanya, yang bekerja di stasiun. Walaupun, tidak akan mudah, tapi Adila berusaha demi istrinya.


Tanpa menunggu lama, Adila langsung menghubungi salah seorang temanya.


"Halo Di, dimana?" sapa Adila setelah panggilan terhubung.


"Wah bos Adila. Saya kerja pak, di stasiun. Ada apa pak?" Tanya Adi teman Adila dari ujung telpon.


"Di, saya minta tolong, carikan nama penumpang kereta api hari ini." Jawab Adila.


"Makdudnya pak?" tanya Adi yang terdengar bingung.


Adila lalu menatap Alea.


"Ke Bandung." Bisik Alea.


"Ke Bandung Di, penumpang kereta ke Bandung, pagi tadi." Jelas Adila.


"Oke pak, kirim saja namanya ya." Ucap pria itu.


"Ini saya kirim." Jawab Adila yang langsung mengirimkan nama ayah mertuanya kepada temanya.


"Baik pak, tunggu ya." Ucap temanya.


Hening sejenak, karena Adi tengah memeriksa daftar penumpang. Sementara Adila, terus mengenggam tangan Alea.


"Ada pak. Tujuanya, Cimahi Bandung." Ucap Adi.


"Makasih Di. Nanti saya kirim uang." jawab Adila langsung mengakhiri panggilanya begitu saja.


"gimana?" tanya Alea penasaran.


"Ada sayang. Tujuan Cimahi."

__ADS_1


__ADS_2