CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 22 | Lamar


__ADS_3

Alea terbangun dari tidurnya, dan kaget saat melihat Adila memeluk nya dengan erat. Meski sudah beberapa kali ia tidur bersama, tapi Alea masih sering kaget, saat melihat pria tampan yang kini ada di samping nya.


Tidak pernah terpikir sebelumnya, Alea akan bertemu dengan seorang pria tampan dan kaya seperti Adila. Kehidupanya benar-benar berubah drastis. Dari seorang wanita muda yang hanya mengurusi rumah, dan membantu ibunya berjualan, kini harus menemani pria kesepian, yang ternyata baru patah hati.


"Udah bangun?" Suara berat yang keluar dari mulut laki-laki itu, kembali menbuat Alea tersentak, dan menoleh ke arah Adila. Matanya masih terpejam, tapi ia bisa tau, Alea sudah membuka mata lebih dulu.


Hembusan nafas yang terdengar jelas di telinga Alea, membuat jantung nya berdetak kencang. Di tambah tangan yang terus mengerayangi dada Alea.


"Aneh!" Gumam Alea lalu memalingkan wajahnya.


"Apanya yang aneh?" Tanya Adila lalu menghujani ciuman di wajah Alea, yang menbuatnya tidak bisa berkutik. Tubuh dan tangan yang terlalu besar, sehingga Alea tidak bisa melawan.


"Bangun yuk. Hari ini, kita banyak acara. Ngga boleh telat!" Pria itu lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi, tanpa memakai busana. Ia benar-benar membuat Alea sport jantung di pagi hari ini..


Meski tidak tau acara apa yang di maksud Adila, tapi Alea bergegas memakai pakaianya selagi Adila di kamar mandi. Ia lalu keluar dari kamar, menyapa bu Inah, yang sudah menyiapkan sarapan di meja makan.


"Pagi mba. Ayo sarapan dulu." Sapa bu Inah.


"Mandi dulu. Ngga enak, kalau sarapan belum mandi." Jawab Alea lalu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur.


Betapa kaget nya, saat melihat leher dan dada nya yang penuh dengan bekas merah, tanda siluman tadi malam. Ia baru tersadar, permainan yang ia lakukan tadi malam, sangatlah di luar batas normal.


Di bawah guyuran air, ia kembali mengingat semua yang terjadi tadi malam. Malam yang panjang, yang berujung semburan lahar panas yang keluar di dalam tubuh Alea.


"Ya tuhan! Gimana kalau aku hamil?" Gumam Alea saat teringat semua yang terjadi tadi malam. Ia mencoba memukul perut nya, agar yang ia takutkan tidak akan terjadi.


Setelah 20 menit, Alea keluar dari kamar mandi, dan melihat Adila sudah duduk di meja makan, dengan pakaian rapih. Kemeja putih, dan celana formal yang ia kenakan sekarang, menambah ketampananya naik 50%.


Tidak ingin terlihat bekas merah yang ada di leher nya, Alea berlari kecil ke kamar, lalu mengunci pintunya. Ia meraih kaos warna putih, dan celana panjang. Hari ini, ia harus memakai scraft untuk menutupi lehernya.


Setelah selsai memoles wajahnya, dengan natural, yang hanya di balut lipstik dan bedak, ia memakai blazer dan scraft nya. setelah itu, ia keluar menghampiri Adila.

__ADS_1


"Makan dulu yuk." Ajak Adila. Ia memberikan sepotong roti yang sudah ia oles dengan selai kacang, dan satu gelas susu.


"Mba Lea sakit?" Mata bu Inah menatap scraft yang kini menempel di leher Alea.


Mungkin bagi orang tua seperti bu Inah, memakai scraft tanda orang sakit. Ia tidak tau itu salah satu style anak jaman sekarang, sekaligis untuk menutupi bekas merah di leher nya.


"Ngga bu. Ini cuma biar cantim aja." Jawab Alea. Untung saja ia punya alasan untuk menjawab pertanyaan bu Inah. Tanpa menunggu lama, ia pun mulai melahap roti yang di berikan Adila, dan meneguk susu vanila dalam gelas sampai habis.


"Yuk. Nanti keburu siang." Adila lalu beranjak dari tempat duduknya, lalu merapikan kemeja yang ia pakai, dan membawa tas kecil miliknya.


"Kita mau kemana?" Tanya Alea bingung.


"Ikut aja dulu." Jawab Adila. Ia lalu meraih tangan Alea dan mengandeng nya. Keduanya berjalan keluar beriringan, menuju plataran parkiran.


Sesampainya di plataran parkir, Adila membuka pintu mobil untuk Alea.


"Silahkan tuan puteri." Ucap Adila dengan senyuman mengembang.


Adila pun mulai melajukan mobilnya. Suara musik favoritnya, mengalun kencang di telinganya. Nyanyian sumbang yang keluar dari mulut Adila membuat Alea menoleh ke arah pria itu.


"Shutt!!" Alea menempelkan telunjuk di bibirnya. Berharap Adila akan berhenti bernyanyi. Karena merusak keindahan lagu.


Tanpa perduli, Adila terus bersenandung ria. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah toko kue, yang tidak lain toko Alea. Toko kue pemberian Adila untuk orang tua Alea.


"Loh ngapain kesini?" Tanya Alea bingung.


"Kamu udah tau kan, kalau ini punya kamu?" Jawab Adila.


Alea hanya bisa menganguk pelan, tanpa mengatakan apapun.


"Nanti, kalau kamu serius, kita akan buat cabang baru lagi." Jelas Adila. Ia kembali melajukan mobilnya, menuju sebuah gang kecil, yang hanya cukup untuk satu mobil. Dan jika ada dua mobil saling berpapasan, terpaksa salah satu harus mundur. Itu adalah jalan menuju rumah Alea.

__ADS_1


"Kita mau kemana?" Tanya Alea panik.


"Menurut kamu? Kita mau kemana?" Jawaban yang terdengar menyebalkan dengan senyuman penuh arti, membuat Alea ingin mencubit pria yang kini duduk di samping nya itu.


Hingga akhirnya, mobil pun berhenti tepat di depan rumah Alea. Seluruh tetangga menatap mobil Alea yang berhenti di depan rumah Alea.


"Duh, jangan keluar ya. Aku malu." Alea tidak berani keluar dari mobil, karena takut menjadi bahan gosip di kampung nya. Apalagi saat ini, Alea turun dari mobil mewah, dengan seorang pria tampan seperti Adila.


Lagi-lagi Adila tidak menghiraukan perkataan Alea. Ia langsung keluar, dan membuka pintu untuk Alea.


"Silahkan tuan puteri." Ucap Adila sembari membungkukan setengah badanya.


Mau tidak mau, Alea harus turun dari mobil. Meski sekarang para tetangga tengah menatap ke arahnya, dan berbisik.


"Lea, lo sama siapa? Cowo lo? Tajir juga ya!!" Teriak seorang perempuan paruh baya, yang kini tengah memegang sapu di depan rumahnya.


Alea benar-benar ingin kabur dan lari yang jauh rasanya. Tapi itu semua tidak mungkin.


"Bentar." Bisik Adila.


Tanpa di duga, Adila lalu menghampiri perempuan itu, dan memberinya selembar uang pecahan seratus ribuan. Ia membagikanya kepada seluruh tetangga Alea.


"Saya calon suaminya!" Adila lalu tersenyum dan kembali menghampiri Alea.


Keduanya lalu masuk ke dalam rumah. Alea tidak habis pikir dengan tingkah pria satu ini. Bisa-bisanyania membagikan uang sebanyak itu pada tetangganya.


"Eh pak Adila." Sapa ibu Alea. ia sudah berdiri di ambang pintu, seolah ia sudah tau Adila dan Alea akan datang kerumahnya.


"Ibu sehat? Gimana udah siap?" Tanya Adila lalu mencium tangan Ibu Alea dengan sopan.


"Apanya yang udah siap?" Dengan wajah bingung, Alea menatap ibunya dan juga Adila bergantian.

__ADS_1


"Saya mau lamar kamu."


__ADS_2