CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 32 | Alea berubah


__ADS_3

"Morning sayang."


Suara lembut yang terdengar di telinga Alea, membuat ia menoleh dan tersenyum, pada suaminya. Sapaan hangat, dan ciuman manis di kening, membuat Alea semangat mengawali harinya di pagi ini.


Kedua nya baru saja terbangun, setelah kelelahan bermain panas tadi malam.


"Morning. Udah bangun?" Jawab Alea.


Sang suami hanya mengangukan kepalanya, lalu memeluk istrinya dengan erat. Keduanya masih, belum memakai pakaian, dan hanya selimut yang menjadi penutup tubuh mereka.


"Hari ini, hari pertama kamu masuk kuliah. Jadi kamu harua semangat." Ujar Adila.


"Pagi ini ya?"


"Iya sayang. Kamu udah siap kan?"


"Siap!" Dengan semangat, Alea mengeliat, dan mencium bibir suaminya, lalu berlarian ke kamar mandi. Meski sudah menjadi istri sah Adila, tapi ia masih tetap merasa malu, pada suaminya.


Setelah selsai mandi, Alea melihat suaminya masih terbaring di ataa tempat tidur, sembari memainkan ponselnya.


"Kamu ngga mandi?" Tanya Alea. Ia tengah duduk di meja riasnya, sembari memoles wajahnya dengan make up.


Suaminya tidak bergeming, dan terus sibuk dengan ponselnya. Kerut kening wajah suaminya, menandakan bahwa ada sesuatu hal yang terjadi.


Karena rasa penasaran, Alea beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri suaminya.


Ternyata benar. Lagi-lagi, Alvi sang mantan kekasih Adila, yang membuat ulah. Ia memberitahukan seluruh jajaran direksi, bahwa Alea, seorang perempuan malam. Dan Alvi menyebarkan foto Alea saat sedang bernyanyi di klub malam.


"Dia ngga bisa di biarin." Adila buru-buru ke kamar mandi, tanpa peduli Alea yang duduk di samping nya.


Saat Adila di kamar mandi, ponsel Adila berderin. Ia melihat nama Alvi di layar ponselnya. Tanpa ragu, Alea lalu menjawab panggilan telpon dari Alvi.


Suara tawa penuh kemenangan, terdengar dari ujung telpon. Alvi memang menepati janjinya, untuk menghancurkan hidup Alea.

__ADS_1


"Gimana? Kamu suka sama kejutan yang aku kasih? Sampai kapanpun, kamu ngga akan pernah bahagia. Karena kamu sudah membuat hidupku hancur Adila!" Ujar Alvi dari ujung telepon.


"Silahkan saja, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Selagi itu membuat kamu senang, lakukan lah. Tapi satu hal yang harus kamu tau, apapun yang kamu lakukan, aku tetap jadi pemenangnya!" Jawab Alea.


Tanganya berubah menjadi terasa lebih dingin. Jantung nya berdetak sangat kencang. Ia tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Waw! Ternyata pela*ur ini yang menjawab teleponku. Bagus lah, itu tandanya, kamu tau, kalau kamu, ngga akan bisa jadi direktur hotel Wijaya. Karena semua direksi sudah tau, siapa kamu sebenarnya!"


"Oh iya? Apakah kamu seyakin itu, kalau kamu sudah berhasil? Bukan kah, kamu sudah di tinggalkan oleh selingkuhan kamu? Karena kamu tidak berhasil merebut tender dari suami ku? Saya pikir, kamu sedang menyesali perbuatan kamu, dengan cara merendahkan saya. Dan kamu berpikir, suami saya akan kembali kepadamu? Jangan mimpi!! Kita lihat, siapa yang akan jatuh setelah ini!" Alea lalu menutup panggilan telponya begitu saja.


Niatnya untuk pergi kuliah pagi ini, terpaksa ia urungkan. Ia kembali berganti pakaian yang lebih formal, karena setelah ini, ia harus pergi ke hotel bersama Adila.


......................


Setelah perdebatan cukup panjang, akhirnya Adila memutuskan untuk mengajak Alea ke hotel. Awalnya, Adila tidak ingin Alea datang dan ikut bersamanya. Karena ia takut, Alea akan jadi bahan pembicaraan para karyawan.


Keduanya turun dari mobil, dan masuk ke dalam hotel. Sapaan para karyawan, tidak seperti kemarin. Mereka terlihat menyimpan banyak pertanyaan, tentang gosip yang sudah beredar.


"Pagi. Tolong siapkan meeting sekarang." Jawab Adila tanpa basa-basi.


"Baik pak." Nia kembali keluar, dan mulai menyiapkan ruangan meeting.


Tegang, deg-degan, tidak tenang, itulah yang di rasakan Alea saat ini. Jantung nya berdegup dengan kencang.


"Kamu ngga usah ikut meeting ya. Biar saya Saja." Ujar Adila.


"Ngga sayang. Aku direktur disini, dan aku harus membereskan kekacauan ini." Terang Alea.


"Kamu yakin?"


"Ya, aku yakin." Alea menganguk tegas.


Setelah sepuluh menit, mereka pun pergi keruangan meeting. Disana, sudah ada 5 orang pimpinan hotel. Wajahnya nampak tidak ramah, saat Alea masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Bisa kita mulai?" Tanya Adila.


"Bisa pak." Jawab salah seorang pria.


"Biar aku saja." Bisik Alea, lalu duduk di samping Adila.


"Selamat pagi." Sapa Alea.


Namun tidak ada seorangpun yang menjawab sapaan Alea. Adila hampir saja terpancing emosi. Namun Alea mencoba menenangkanya, dengan mengelus punggung tangan suaminya.


"Maaf pak, saya rasa, kita tidak bisa meeting, dengan orang yang tidak tau, cara mengelola hotel." Ucap pria yang kini duduk di hadapan Adila juga Alea.


Alea menyungingkan senyumnya. Serendah itu, ia di mata orang-orang yang ada di ruangan ini. Tapi, Alea harus kuat menalaninya. Karena ia sudah di beri kepercayaan oleh ibu mertuanya.


"Anda mengatakan hal ini, karena baru melihat satu foto, yang di sebar oleh perempuan, yang hampir saja membuat hotel ini bangkrut?" Tanya Alea.


Adila menatap istrinya tidak percaya. Ia pikir, istrinya akan lemah, dan ketakutan, menghadapi orang-orang itu. Tapi ternyata ia salah. Istrinya sudah berubah.


"Bukankah, itu benar ibu Alea? Ibu Alea seorang pekerja malam kan? Atau ibu Alea, hanya seorang wanita panggilan saja?" Tanya pria itu lagi. Yang lainya, tidak ada yang berani bertanya. Sepertinya, dia di tunjuk menjadi juru bicara dewan direksi.


Alea beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiri pria itu.


"Kalau saya, mantan seorang pekerja malam, kenapa? Ada yang salah? Apakah hotel ini akan menjadi bangkrut, setelah tau, kalau direkturnya seorang mantan pekerja malam?" Tanya Alea.


Semua orang terdiam. Teramsuk Adila. Ia membiarkan istrinya menangani masalah ini, dengan caranya.


"Sekarang saya tanya, apakah kalian tau, siapa ibu Alvi?" Tanya Alea dengan suara lantang.


Dan hening. Tidak ada yang menjawab sama sekali. Mereka hanya saling berbisik, sembari menatap Alea.


"Lebih parah mana, perempuan yang sudah punya tunangan, dan dia memanfaatkan tunanganya, hanya untuk kepentingan selingkuhanya? Atau, saya yang pekerja malam, yang sudah menyelamatkan kalian, agar tetap bekerja disini, sebagai pimpinan direksi disini? Bisa kalian jawab?!" Suara Alea terdengar bergetar. Ia seolah menahan tangisnya, di depan semua orang.


"Saya mamang mantan pekerja malam. Dan saya disana, bukan sebagai perempuan, yang menjual tubuhnya pada lelaki hidung belang. Saya disana menjadi penyanyi band, yang di kontrak di klub malam itu." Jelas Alea. "Saya memang bukan anak orang kaya, tapi saya punya harga diri! Ibu Wijaya, bukan perempuan bodoh, yang mau menerima perempuan malam seperti saya, kalau saya memang menjijikan. Kalian paham?!"

__ADS_1


__ADS_2