
"Loh, ayah saya pergi kemana?"
Suara Alea terdengar lantang, saat menanyakan ayah nya, yang tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa memberi kabar. Bahkan Mila pun ikut bersama ayahnya.
"Maaf bu, bapak tadi hanya memberikan ini." Asisten rumah tangganya memberikan secarik kertas pada Alea. Sepertinya sebuah surat yang di tulis langsung oleh ayah Alea.
Adila yang berdiri sejak tadi, di samping Alea, langsung mengajaknya untuk duduk di sofa, agar lebih tenang. Ia mengedipkan matanya pada asisten rumah tangga nya, agar ia pergi meninggalkan Alea dan juga dirinya.
"Coba kamu baca dulu, siapa tau ayah nitipin pesan disana." Ucap Adila seraya mengelus pucuk kepala Alea.
Tanpa menunggu lama, Alea pun membaca isi surat itu, yang mengatakan jika ayahnya meminta maaf atas apa yang terjadi selama ini. Ia juga meminta maaf, karena pergi begitu saja tanpa memberikan kabar terlebih dulu pada Alea. Namun ayahnya tidak memberitahu kemana ia pergi bersama Mila.
"Tuh kan, ayah ngga bilang mau kemana nya sayang. Ini gimana?" Tanya Alea dengan wajah panik.
"Bentar aku cek cctv dulu." Adila lalu mengeluarkan ponselnya, dan melihat rekaman cctv yang ada di depan rumahnya.
Ayah Alea dan Mila pergi mengunakan taksi online. Namun Adila sudah mendapatkan nomor polisi mobil yang di tumpangi oleh ayah Alea dan Mila.
Setelah semuanya sudah jelas, Adila lalu menghubungi asisten pribadinya, untuk mencari supir mobil itu. Seperti biasa, Adila tidak perlu menunggu lama. Koneksinya ada dimana-mana. Jadi, jika hanya mencari supir seperti ini saja, bukan hal susah baginya.
"Halo, ini dengan siapa?" Suara seorang laki-laki terdengar dari ujung telpon.
"Saya Adila Wijaya. Apa benar, kamu tadi menjemput pria paruh baya, dan wanita berusia 20 tahun, di area perumahan elite, no 2?" tanya Adila sembari mengenggam tangan Alea.
"Ini pak Adila yang punya hotel dan mall itu ya? Pengusaha terkenal pemilik Wijaya Group?" Jawab supir taksi dengan penuh antusias.
Siapa yang tidak kenal pria seperti Adila. Yang punya kekayaan melimpah. Bahkan nama Wijaya Group sudah masuk daftar orang terkaya nomor 2.
"Betul saya Adila Wijaya. Bapak bisa kasih tau saya kemana anda mengantar ayah mertua saya?" Tanya Adila sembari terus menatap Alea.
"Saya kirim alamatnya di pesan saja boleh pak. Kebetulan saya sedang antar penumpabg."
"Oke baik pak. Sekalian nomor rekening bapak ya. Saya ada hadiah untuk keluarga."
"Ba..ba...ba..pak serius?" Tanya nya gugup.
"Ya saya serius. Kirim sekarang juga ya, saya tunggu." Jawab Adila yang langsung mengakhiri panggilan telponya.
__ADS_1
"Udah? Kamu dapat alamatnya?" tanya Alea sembari menatap suaminya.
"Ini mau di kirim sayang. Kamu tenang ya." Adila lalu mencium kening Alea dengan lembut.
Tidak berselang lama, satu pesan masuk ke ponsel Adila. Ternyata ayah Alea kembali ke rumah istri nya, yang tidak lain adalah ibu tiri Alea.
Sesuai.janji Adila, ia pun mengirim uang untuk Supir taksi online itu, sebagai imbalan, karena sudah memberikan alamatnya pada Adila.
"Ngapain kesana lagi coba?" tanya Alea.
"Kita kesana sekarang." Adila lalu mengandeng tangan Alea, dan mengajaknya untuk pergi ke rumah ibu tirinya.
Sepanjang perjalanan, Alea terus memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Karena tadi malam, ayahnya dan juga Mila nampak sudah tidak mau pulang kerumah itu.
Sesampainya di rumah ibu tirinya, Alea dan Adila harus berjalan kaki, dan meninggalkan mobil mereka di ujung gang.
Suasana rumah itu nampak sepi. Seperti tidak ada orang sama sekali.
"Ayah!! Buka!!" teriak Alea sambil mengetuk pintu dengan kasar.
"Ayahny apergi ke rumah sakit. Anaknya yang kecil jatuh dari tempat tidur." Jawab perempuan itu.
"Anak? Ada anak lain, selain Mila?" Tanya Alea bingung.
"Ada, namamya Natan. Langsung saja kerumah sakit mba. Ngga jauh dari sini." Jawab perempuan paruh baya itu.
"Makasih bu." Tanpa menunggu lama, Alea dan Adila bergegas pergi kerumah sakit, yang tidak jauh dari area rumah ayahnya. Dm
Hanya ada satu rumah sakit didaerah itu. Untung saja Alea sudah di beritahu nama anaknya oleh perempuan tadi. Mungkin jika tidak, ia akan bingung mencari nama pasien disana.
"Kamarnya Natan dimana?" tanya Alea pada petugas rumah sakit.
"Maaf, ibu siapanya? Selain saudaranya di larang masuk." Jawab perempuan itu.
"Saya kaka nya." Ucap Alea.
Namun sepertinya perempuan itu tidak percaya dengan perkataan Alea. Alhasil, Adila harus mengunakan namanya agar perempuan itu mau memberitahukan dimana kamar Natan.
__ADS_1
"Saya mohon maaf pak. Saya tidak tahu." Petugas itu lalu memberitahu, jika Natan saat ini tengah di ruangan operasi. Karena kakinya yang patah, jadi harus di lakukan operasi.
Tanpa menunggu lama, Alea dan Adila bergegas ke ruangan operasi. Ternyata benar, ayahnya dan juga Mila ada disana. Mereka hanya berdua, tanpa ibu tirinya.
"Loh, kalian tau darimana, kami disini?" tanya Mila. Matanya sembab, seperti habis menangis.
"Ini ada apa? Kenapa kalian ngga bilang sama aku?" jawab Alea lalu duduk di samping ayahnya.
Mila hanya menatap ayahnya, yang nampak sedih dan merasa bersalah.
"Ini semua gara-gara ayah. Ayah ngga becus jagain anak." ucap ayahnya sembari terisak tangis.
"Ngapain nyalahin diri sendiri sih pah? Ini bukan salah papah. Si Intan itu yang ngga becus jagain anak. Buktinya sekarang dia ngga tau kemana." Jawab Mila.
Pantas saja Alea tidak melihat batang hidung perempuan licik itu.
"Emangnya kemana dia?" tanya Alea penasaran.
"Dia langsung pergi, setelah kami datang. Katanya dia ngga mau ngurusin Natan lagi. Karena dia udah punya calon yang baru." Jawab Mila.
"Calon? Maksudnya? Calon apa?" Sembari mengernyitkan dahinya, Alea tidak paham dengan apa yang di katakan oleh Mila.
Akhirnya Mila menjelaskan jika ibu tirinya kembali bekerja sebagai perempuan malam, di salah satu Klub malam. Ia tidak tahan dengan kondisi keuangan rumah tangganya.
Alea sampai tidak habis pikir, ada perempuan yang tega, meninggalkan anak dan suami, hanya karena tidak ada uang.
"Ya udah, kalian tenang ya. Yang penting Natan gapapa." Ucap Alea sembari mengusap punggung ayahnya.
"Makasih ya Lea. Makasih kalian sudah mau peduli sama Natan." Jawab ayah Alea.
Adila dan Alea hanya menganguk pelan. Alea sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan ibu tirinya itu. Ia harus membalaskan semua dendamnya pada perempuan itu.
"Sayang, kamu bisa cari dimana dia kerja?" bisik Alea.
"Gampang sayang. Nanti malam kita cari kesana ya."
"Apa kamu sudah tau dimana alamatnya?"
__ADS_1