
Ntah datang dari mana keberanian Alea siang hari itu. Orang yang tidak biasanya berbicara di depan umum, kini berani dan lantang membela Adila.
Ia kembali teringat dengan kisah pilu ibunya, yang malah di tuduh selingluh oleh mertuanya, alias nenek dari Alea. Kala itu, Alea tidak punya keberanian untuk melawan neneknya dan membela ibunya. Karena ia masih belum mengerti apapun. Sampai akhirnya, ia dan ibunya di usir dari rumah neneknya.
Dan kini, Alea harus melihat semua orang menyudutkan Adila, bahkan mereka menyuruh Adila untuk turun dari jabatanya.
"Tolong pak, yang tidak berkepentingan disini, saya minta untuk keluar dari ruangan ini. Karena kita sedang masalah inti perusahaan." Ucap perempuan itu, menunjuk Alea.
"Bukankah anda yang tidak berkepentingan disini?" Suara Adila terdengar lebih tenang. Karena kini Alea mendukungnya.
"Maksudnya?"
"Anda disini hanya sebagai sekretaris, perusahaan keluarga ibu Alvi yang terhormat. Dan saya sudah memutuskan, untuk mengakhiri kerja sama dengan perusahaan bos anda. Jadi, sebaiknya anda keluar dari ruangan ini!" Ucap Adila dengan tegas.
Semua orang kini, menatap ke arah perempuan itu. Ia tidak bisa berkutik sama sekali.
"Yang mau ikut bergabung dengan perusahaan saya, boleh tetap disini. Dan yang tidak, boleh keluar." Jelas Adila.
Tidak ada yang keluar sama sekali. Semuanya masih berada diruangan itu. Hanya perempuan tadi yang memilih pergi, setelah Adila mengusirnya.
"Kamu tunggu di ruangan ku dulu ya." Bisik Adila pada Alea.
Alea hanya menganguk pelan, lalu keluar, dengan di antar sekretaris Adila. Namun dari kejauhan, ia melihat perempuan tadi, masih berdiri di lobi perusahaan. Ruangan kerja Adila berdinding kaca, tidak seperti ruangan pada umumnya, membuat ia bisa melihat situasi di lobi itu.
Tidak berselang lama, perempuan yang tak lain adalah Alvi, datang dan langsung menerobos masuk. Alea sudah bersiap untuk melayani perempuan itu. Kali ini, ia tidak akan kalah dengan ancamanya.
"Keluar Adila!!" Teriak Alvi yang langsung masuk ke dalam ruangan Adila.
Dengan santai, Alea duduk di sofa dan menatap Alvi. Wajahnya nampak berantakan, tidak seperti saat ia mempermalukan Alea tempo hari lalu.
"Ngapain kau disini?!" Sembari berkacak pinggang, perempuan itu menatap Alea dengab tajam.
__ADS_1
"Masih berani datang kesini? Setelah tidak berhasil membuat Adila turun dari posisinya?" Jawab Alea. Ia menunjukan senyuman penuh kemenangan, di depan perempuan itu.
Tangan Alvi sudah mengepal, ia dengan cepat menghampiri Alea, dan hampir saja memukul Alea. Namun Adila menahan tangan Alvi dan mendorong nya sampai ia terjatuh.
Keduanya saling berpandangan satu sama lain. Alvi dengan wajah kagetnya, sedangkan Adila dengan senyuman sinis.
"Ngapain? Mau cari pembenaran? Mau cari pembelaan? Atau mau cari masalah baru, yang bakalan buat hidup kamu lebih menderita?" Tanya Adila lalu duduk di samping Alea. Ia dengan sengaja mengenggam tangan Alea, dan bahkan mencium bibir Alea.
Alvi kembali berdiri, dan berkacak pinggang di hadapan Adila juga Alea. Tatanan rambut yang sudah tidak karuan, bahkan make up yang sudah tidak sempurna lagi, menandakan Alvi sudah kalah dari Adila.
"Kamu harusnya terimakasih sama aku, kalau bukan karena tunangan sama aku, kamu ngga akan ada di posisi ini dan kalau bukan karena aku, kamu ngga akan...."
"Ngga akan tau kebusukan kamu, dan ngga akan pernah sadar, kalau kamu cuma manusia murahan, yang hanya bisa mengandalkan kecantikan kamu yang tidak seberapa itu?" Ucap Adila memotong pembicaraan Alvi.
Alvi yang semakin kesal, ia mengacak-acak meja kerja Adila, bahkan membanting komputer dan telpon yang ada disana. Semua berkas ia lemparkan ke lantai. Sembari berteriak tidak terima.
Namun Adila hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Ia masih terlihat santai dan tersenyum pada Alea.
Adila seolah tidak peduli, ia malah mengajak Alea pergi dari ruangan itu, dan mengabaikan Alvi. Ia meminta sekretarisnya, untuk membereskan ruanganya kembali.
Sementara ia pergi dengan Alea ke sebuah mall yang ada disana. Senyuman Adila terus mengembang. Ia bersenandung ria, sembari mendengarkan lagu kesukaanya. Tidak ada kesedihan seperti tadi. Wajahnya sudah kembali seperti biasa lagi.
"Senyum terus." Gumam Alea lalu mengeleng pelan. Terlihat Aneh tapi nyata adanya, laki-laki yang ada di samping nya ini.
"Makasih ya sayangku, kamu audah bantuin aku, melawan perempuan ular seperti Alvi. Kalau bukan karena kamu, aku ngga tau harus gimana." Ucap Adila. "Jujur, aku tadi takut. Takut kamu dan keluarga kamu ninggalin aku, karena berita murahan tadi. Tapi ternyata, ibu kamu malah mendukung aku buat melawan Alvi. Begitupun juga kamu. Makasih sayang." Tukasnya. Ia lalu meraih tangan Alea dan mencium punggung tanganya berkali-kali.
Melihat senyuman dan semangatnya kembali, Alea merasa lega. Akhirnya, ia bisa membantu permasalahan pria ini dengan caranya sendiri.
"Sama-sama. Kamu ngga usah hawatir, ibu dana aku, bakalan terus dukung kamu. Selagi kamu ada di jalan yang benar."
"Kalau ada di jalan yang salah gimana?"
__ADS_1
Refleks Alea mencubit lengan Adila sampai ia meringis kesakitan.
"Sakit sayang. Ampun!!" Rengek Adila dengan manja.
"Siapa suruh malah main-main! Orang lagi serius juga!" Ucap Alea dengan wajah kesal.
Adila lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan. Tidak lupa, ia memasang lampu sein agar tidak terjadi pelanggaran.
Ia meraih kedua tangan Alea, dan menatapnya lekat-lekat.
"Makasih, kamu udah hadir di hidup aku. Karena kamu, aku menjadi lebih semangat. Makasih juga, kamu udah percaya dan bantuin aku." Ucap Adila lalu mencium bibir Alea dengan lembut.
Kaca mobil yang transparan, membuat Alea ketakutan. Ia melepaskan ciuman Adila dan mendorong tubuhnya perlahan.
"Ko di lepas?" Tanya Adila dengan wajah bingung.
"Ini jalanan. Kamu mau di tilang?"
"Ya ngga akan lah sayang. Aku udah berhenti di tempatnya. Lampu sein juga udah aku nyalain. Siapa yang berani nilang aku?"
"Udah, sekarang kita lanjutin perjalananya. Kita mau kemana?" Tanya Alea. Ia merasa risih berada di tepi jalan, meski di dalam mobil seperti ini.
"Ah ngga asik!" Adila memasang wajah cemberut, dan berpangku tangan. Bukanya pergi, ia malah terdiam membisu.
Sungguh terasa lucu pria ini, Alea lalu memcium pipi Adila sekilaa, dan memeluknya dengan erat.
"Pak Adila yang terhormat, kalau mau mes*m jangan disini. Ini jalanan, jadi kalau mau cium aku yang lebih lama, sebaiknya kita pulang. Karena kepalaku mulai sakit." Ucap Alea dengan suara lembut.
Seketika Adila menoleh ke arah Alea, dan tersenyum manis.
"Kamu gemesin. Kita ke hotel."
__ADS_1