
Kali ini, Alea berhasil menolak permintaan Adila. Ia sungguh tidak berani melakukan hal itu dirumah orang tua Adila. Meski dirumah itu hanya ada asisten rumah tangganya, tapi Alea yakin dirumah sebagus itu, sudah pasti ada kamera cctv. Dan ia tidak ingin, saat ibu Adila pulang nanti, ia akan tau, jika Adila mengajaknya ke kamar.
"Mamih aku, jarang ada dirumah. Kadang bisa sampai satu bulan. Jadi kamu ngga perlu takut." Sembari mengelus pucuk rambut Alea, pria itu berusaha membuat Alea tenang.
Keduanya tengah duduk di ruang tamu sembari menonton televisi. Alea tidak bisa membayangkan, rumah sebagus dan semewah ini, hanya di tempati oleh ibunya dan juga Adila.
"Jadi, kalau orang tua kamu pergi, kamu disini sendiri?" Tanya Alea sembari menatap Adila.
"Aku jarang disini. Aku lebih suka di apartment. Kesini kalau hanya ada mamih dan papihku."
"Papih kamu dimana?"
"Papih ku di Singapura. Kedua adiku kuliah di London, dan hanya aku yang tinggal disini, karena harus mengurusi perusahaan. Mamihku, kerjanya pulang pergi."
"Jadi kamu bener-bener sendiri, kalau ibu kamu lagi ngga ada?"
"Yes baby. Tapi sekarang ada kamu. Makanya aku ngga kesepian." Sembari mencium pucuk kepala Alea, Adila kembali merangkul Alea.
Disaat seperti ini, Adila terlihat seperti orang yang membutuhkan kasih sayang. Uang yang banyak, dan kekayaan melimpah, sepertinya tidak cukup untuk membuatnya bahagia.
Pembicaraan mereka harus terhenti, saar Adila mendapat telpon dari seseorang. Ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke luar ruangan.
Melihat gelagat mencurigakan Adila, Alea diam-diam keluar ruangan mengikuti Adila. Ia berdiri di balik pintu kaca, dan melihat ke arah luar sembari mendengarkan pembicaraan Adila.
"Ngga usah ganggu gue lagi! Kita udah selsai!" Bentak Adila.
Meski jaraknya keduanya tidak terlalu dekat, dan terhalang pintu kaca, tapi Alea masih bisa mendengar perkataan Adila.
"Silahkan! Gue ngga takut! Asal lo tau, lo itu cuma sampah bagi gue!" Dengan wajah kesal, Adila menyudahi pembicaraanya dan kembali masuk ke dalan rumah.
Alea terpaksa berpura-pura melihat semua foto yang ada di dalam ruangan, agar Adila tidak curiga padanya.
"Liat apa sih?" Adila kembali memeluk Alea dari belakang sembari mencium tengkuk Alea dengan lembut.
__ADS_1
"Liatin foto kamu." Dengan grogi Alea menjawab asal saja. Ia tidak ingin Adila tau, jika dirinya sudah mendengar pembicaraanya di telpon. Meski ia tidak tau, dengan siapa Adila berbicara.
"Mau tidur disini atau pulang?" Tanya Adila tiba-tiba. Ia lalu melepaskan pelukanya dan menatap Alea dengan serius.
Alea semakin curiga dengan tingkah Adila. Padahal sebelum mendapat telpon, ia memaksa Alea untuk menginap di rumah itu bersamanya.
"Pulang aja." Jawab Alea lalu melengos pergi, dan duduk kembali di sofa.
"Ya udah yuk sekarang aja. Sebelum malam banget." Tingkah Adila semakin mencurigakan. Ia langsung mengambil tas milik Alea, dan mengandeng tangan Alea, Dengan langkah tergesa-gesa.
Alea semakin curiga. Ia tau, perbuhan sikapnya saat ini, sudah pasti ada hubunganya dengan orang yang menghubunginya. Tapi Alea tidak berani untuk bertanya pada Adila. Ia takut Adila akan marah padanya.
"Aku malam ini tidur di apartment ku ya. Soalnya besok pagi ada meeting. Kamu gapapa kan tidur sendiri?" Ucap Adila sembari fokus pada kemudinya.
Disisi lain, Alea senang, jika Adila tidak tidur denganya. Tapo disatu sisi ia curiga, dan bertanya-tanya. Ada apa dengan pria ini.
"Apartment kamu dimana emang?" Tanya Alea.
"Deket ko dari apartment kamu."
"Kamu mau ikut kesana?" Pria itu malah balik bertanya dan menatanya dengan penuh senyuman.
"Kalau kamu ijinin, ya aku mau." Kali ini Alea menjawah tantangan dari Adila. Karena ia benar-benar penasaran dengan pria ini.
"Besok aja ya. Malam ini ada Mika. Kamu ingatkan, temen aku yang cowok waktu itu? Dia mau datang ke apart." Jelas Adila.
Alea hanya menganguk pelan. Karena ia yakin, ada yang di sembunyikan Adila darinya.
Hingga akhirnya, setelah 30 menit perjalanan, mereka sampai di plataran parkir apartment. Adila yang bisa memperlakukan Alea dengan sangat baik, kali ini membiarkan Alea naik sendirian ke unitnya. Ia beralasan, jika mika sahabatnya sudah menunggu di apartment nya.
Dengan berat hati, dan tanpa melawan sama sekali, Alea pergi seorang diri naik ke lantai atas. Ia di sambut oleh mba Marni yang masih terjaga.
"Belum tidur?" Tanya Alea pada mba Marni.
__ADS_1
"Belum mba. Nungguin mba pulang." Jawab perempuan paruh baya itu.
Seketika Alea teringat pada ibunya. Jika ia tinggal bersama ibunya, sudah pasti, ibunya akan melakukan hal yang sama padanya. Meski akan sedikit berbeda, karena ibunya sudah pasti akan marah padanya.
"Maaf ya bu, jadi buat ibu begadang." Ucap Alea dengan suara lembut.
"Gapapa mba. Mba mau makan malam? Atau mau minum jahe hangat?" Tanya perempuan itu pada Alea.
"Ngga usah bu." Alea lalu duduk di sofa. Dan tiba-tiba terlintas untuknya bertanya tentang siapa Adila.
"Bu, apa ibu tau Adila tinggal dimana?" Tanya Alea sembari menatap mba Marni.
"Loh emang mba ngga tau? Pak Adila tinggal di gedung sebelah. Di lantai 5." Jawab mba Marni..
Gedung sebelah, adalah gedung mewah. Bisa di katakan apartment ter elit di antara semua yang ada di gedung itu.
"Oh gitu. Makasih ya bu. Tadi aku lupa tanya sama Adila. Dia suruh aku bangunin besok pagi." Jelas Alea sembari tersenyum.
"Mau ibu yang bangunin kesana ngga?"
"Ngga usah. Lea aja."
"Oke deh kalau begitu. Ibu ke kamar ya. Mau tidur dulu." Sembari terkekeh pelan, mba Marni kembali masuk ke dalam kamarnya.
Berbeda dengan Alea, karena masih penasaran, akhirnya ia bergegas pergi keluar kembali. Ia benar-benar ingin tau apakah Adila ada di apartment sebelah.
Dengan langkah tergesa-gesa ia menaiki Lift menuju lantai lima. Meski gedung mereka terpisah, tapi ada akses yang bisa langsung ke gedung tempat tinggal Adila.
Sesampainya di lantai lima, ternyata yang tinggal hanya satu unit saja. Dan bisa di pastikan itu hanya Adila. Di saat yang bersamaan, ada dua orang perempuan berambut pirang, dan memakai pakaian seksi. Ia langsung masuk begitu saja ke apartment itu.
Alea terpaksa harus bersembunyi, agar tidak ketahuan oleh siapapun. Sampai tidak berselang lama, Adila dan Mika datang. Keduanya masuk ke dalam apartment yang sama dengan kedua perempuan tadi.
Betapa sakit hati Alea melihat itu semua. Ternyata dugaanya benar, jika Adila menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
"Ba*ingan!"