
Mila, ternyata hanyalah seorang anak angkat, yang sengaja di adopsi oleh ibu tiri Alea, hanya untuk menipu ayah kandung Alea.
Lututnya terasa lemas, detak jantung nya pun terasa terhenti sejenak, setelah melihat semua kebenaran ini. Ternyata, perempuan itu benar-benar licik. Ia menghalalkan segala cara, hanya demi memenuhi semua keinginanya.
"Aku minta maaf, kalau aku selama ini hanya diam saja. Aku ingin membantu papah keluar dari rumah tangga yang tidak sehat itu. Tapi aku bingung, bagiamana caranya. Sampai akhirnya, pak Adila memaksaku untuk menceritakan semua ini." Ucap Mila sembari terisak tangis.
Alea benar-benar merasa bersalah, sudah menghakimi ayahnya seperti kemarin, tanpa tahu kebenaranya seperti apa.
Setelah Mila menceritakan semua yang terjadi selama ini, ternyata ayahnya lebih menderita di bandingkan dengan hidupnya.
Ayah Alea di paksa terus bekerja, di saat ia sakit keras. Bahkan, ibu tirinya sudah berulang kali selingkuh. Namun sampai saat ini, ayah Alea belum mengetahui hal yang sebenarnya. Mila masih tidak sanggup menceritakan semuanya pada ayah Alea. Ia takut, penyakit jantung nya akan kembali kumat, jika mendengar semua kebenaranya.
"Kamu haru selametin papah. Hanya kamu yang bisa menolong papah. Aku selalu di ancam oleh ibu Intan. Bahkan nenek, dia tidak percaya, jika ibu Intan melakukan hal itu pada papah." Ucap Mila sembari mengenggam tangan Alea.
"Gimana caranya? Kalau ibunya saja tidak percaya dengan ayah." Jawab Alea. Butiran air mata terus membasahi pipinya.
"Udah sayang, kalian ngga perlu hawatir, aku yang akan bereskan semuanya. Sekarang tugas kalian, hanya berpura-pura, jika kalian masih belum baikan. Kita akan mulai dari sekarang." jelas Adila.
"Maksudnya?" tanya Alea bingung.
Suaminya memang selalu punya cara, untuk melakukan apapun. Seperti sekarang ini, ntah mengapa ia bisa membuat Mila berbicara jujur padanya.
"Malam ini, aku akan pulang kerumah nenek, dan aku akan memulai sandiwaranya." Ucap Mila.
Alea hanya terdiam, karena ia masih bingung dengan apa yang akan Mila dan juga Adila rencanakan.
Tidak berselang lama, Mila pun pamit pergi. Ia meninggalkan surat dari panti asuhan itu pada Alea juga Adila.
Kini, hanya ada Adila dan juga Alea. Adila terus memeluk Alea dengan erat.
"Apa ini bukan sandiwara?" tanya Alea lalu melepaskan pelukan suaminya.
"Tentu saja bukan sayang. Malam ini, kita pergi kerumah nenek kamu, setelah kita mendapat telepon dari Mila." Jawab Adila.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Apa kamu mau, ayah kamu terus di perbudak oleh perempuan licik itu?"
Alea hanya mengeleng pelan. Di satu sisi, ia benci dengan ayahnya. Tapi disisi lain, ayahnya tetap lah orang tua yang harus ia hormati. Setelah apa yang kemarin ia lakukan pada ayahnya, kini saatnya untuk menebus semua kesalahanya.
Setelah Alea mulai tenang, Adila lalu mengajak Alea untuk pergi ke rumah neneknya.
Sepanjang perjalanan, ia masih tidak percaya dengan Mila. Karena bisa saja, Mila berbohong dan bersekongkol dengan perempuan jahat itu.
"Sayang, Mila udah disana." Ucap Adila.
"Ya udah, kamu jalankan saja misi kamu. Aku hanya akan mengikutinya. Aku percayakan sepenuhnya sama kamu." Jawab Alea. Di saat seperti ini, ia tidak bisa konsentrasi. Pikiranya kacau.
Adila lalu meraih ponselnya, dan mencoba menghubungi seseorang yang tidak lain adalah ayah Alea. Ia meminta ayah Alea untuk datang kerumah Neneknya, atau yang tidak lain adalah ibu kandung nya sendiri.
......................
Setelah perjalanan, 30 menit, akhirnya ia sampai di depan rumah neneknya. Kedatanganya langsung di sambut oleh neneknya, yang terlihat marah padanya.
Mila yang sudah berada di dalam rumah, tiba-tiba keluar dan melihat dengan sinis.
"Rumah ini, sepertinya akan segera terjual. Karena sebentar lagi, akan ada pembangunan hotel disini." Jawab Adila dengan gaya arogan.
"Jangan sembarangan kalau bicara!" Ucap nenek Alea.
Tidak ada yang berubah dari perempuan paruh baya itu. Ia masih tetap sombong dan kasar.
"Kalian mau apalagi kesini? Belum puas menghina aku dan juga papah?" tanya Mila.
"Wow, papah. Laki-laki mana yang kamu bilang papah? Apakah laki-laki yang selama ini, tinggal bersamamu?" Jawab Adila.
Sejak tadi, Alea hanya terdiam membisu, tanpa mengatakan apapun. Ia hanya menjadi penonton setia.
__ADS_1
"Maksud kamu? Kamu mau cari-cari kesalahn lagi? Setelah ayahku meninggalkan istrimu ini?" Tanya Mila.
"Sudah lah Mila, kamu ngga usah hiraukan mereka. Kita masuk sa.. "
"Saya berhasil menemukan sebuah panti asuhan, yang dimana, panti itu adalah tempat asal Mila." Adila lalu melemparkan surat itu kehadapan Mila dan neneknya.
"Maksud kamu? Jangan ngarang! Sudah cukup istrimu ini menghina Intan menantuku! Sekarang jangan tambah hinaan kalian pada cucu saya!" Ucap nenek Alea.
"Buka mata anda, jangan sampai anda di bodohi oleh perempuan seperti Intan, yang jelas-jelas sudah membohongi anda selama bertahun-tahun. Anda sudah membuang seseorang yang tulus mencintai anak anda, dan juga anda." jawab Adila.
"Maksud kamu? Perempuan tukang selingkuh itu? Yang sudah membuat malu keluarga sa..."
"Cukup!!" Teriak Alea histeris. "Jangan pernah hina ibuku seperti itu! Ibuku bukan orang yang seperti anda bilang!! Dia perempuan baik-baik! Justru yang sudah menghancurkan keluarga, dan berselingkuh adalah menantumu!" tukas Alea.
Nenek Alea hampir saja menampar Alea. Namun Mila menahanya, dan membawanya menjauh dari Alea. Ia lalu memungut kertas yang di lemparkan Adila tadi.
"Kamu jangan kurang ajar ya!" Ucap nenek Alea sembari menunjuk Alea.
"Nek, ini beneran?" Mila lalu memberikan surat itu pada neneknya.
"Apa ini?" Tanya neneknya dengan wajah bingung. Ia lalu merebut kertas itu, dan mulai membaca isi suratnya.
"Kalian dapat ini dari mana?" Tanya Mila lalu menatap Adila dan Alea.
"Ngga perlu tanya dari mana, mending sekarang, kamu panggil ibu mu, dan juga ayahmu kesini." jawab Alea.
"Kamu jangan fitnah!!" teriak nenek Alea lalu merobek kertas itu
"Fitnah? Tidak ada yang memfitnah siapapun disini. Di surat itu sudah terlihat jelas, jika Mila bukan anak kandung dari anak anda, dan juga menantu anda. jujur saja, saya kasihan pada anda. Sudah tua, tapi anda harus mengetahui sebuah rahasia ini." Jelas Adila panjang lebar.
"Ini pasti karangan kalian kan? Karena kalian tidak suka dengan keharmonisan orang tua Mila?" Ucap nenek Alea sembari tersenyum sinis.
Mendengar perkataan neneknya, Alea lalu melepaskan genggaman tangan suaminya, dan mendekati neneknya. Jika bukan orang tua yang harus di hormati, Alea sudah pasti menampar perempuan sombong ini.
__ADS_1
"Untuk apa saya tidak suka? Untung nya apa bagi saya? Tanpa kalian, hidup saya sudah jauh lebih baik!!"