CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 66 | Istri cantik


__ADS_3

Untung saja, ibu Alea bisa pergi ke rumah sakit, untuk memberikan persetujuanya, agar Michael bisa di operasi. Karena nyatanya benar saja, Adila dan Alea, sampai lebih lama, daripada perkiraanya.


Kemacetan kota Jakarta, membuat Adila dan Alea terlambat, sampai di rumah sakit.


Dengan langkah cepat, Adila langsung menyusul ibu Alea yang tengah menunggu, di luar ruangan operasi. Karena saking paniknya, Adila sampai lupa, jika ia datang dengan Alea. Langkah kakinya yang dua kali lipat lebih cepat dari Alea, membuat Alea tertinggal di belakang.


"Tadi aja marah, karena istrinya ngurusin terus sahabatnya. Dia sendiri ngga ngaca." Gumam Alea. Ia terus berjalan, menyusul Adila yang sudah jauh di depanya.


Tidak bisa di pungkiri, Adila nampak panik, saat bertemu dengan ibu Alea.


"Bu, gimana kondisinya?" Tanya Adila setelah ia mencium tangan mertuanya.


"Belum ada kabar. Ibu udah satu jam setengah disini. Semoga saja, ngga terjadi apa-apa." jawab ibu Alea.


"Ibi sendirian?" Tanya Alea, yang baru saja sampai. Ia mencium tangan ibunya. Matanya mengitari area tunggu itu, mencari sosok Nadia dan juga Adiknya.


"Ibu sendiri. Ada Nadia dirumah. Jadi adik kamu sama dia. Tadi, ibu buru-buru kesini, setelah kalian telpon." Jawab ibu Alea.


Adila terus mondar-mandir, sembari mencoba menghubungi keluarga Michael.


Menurut cerita Adila, saat dalam perjalanan tadi, Michael bernasib sama dengan Alea. Kedua orang tuanya berpisah, dan ayah nya memilih menetap di Amerika. Sementara ibunya, tetap bersama Michael, meski kadang, ibunya selalu pergi bersama pria asing.


Michael adalah sahabat Adila sejak kecil. Mereka tumbuh besar bersama. Sampai Adila menikah, dan fokus pada Alea juga bisnisnya, intensitas pertemuanya dengan Michael akhirnya hanya bisa di hitung jari. Tidak sesering dulu.


"Kamu sabar. Mungkin ibunya lagi sibuk." Alea berusaha menenangkan suaminya, dengan mengelus punggung suaminya.


"Sibuk? Sibuk apa? Pacaran? Sampai ngga inget anaknya?" Suara Adila terdengar tidak seperti biasnya. Karena panik, ia sampai lupa, jika yang kini berada di hadapanya, adalah Alea, istrinya.


Untung saja, Alea sudah terbiasa, dengan sikap Adila yang seperti ini. Hingga membuat ia, hanya mengangukan kepalanya sembari tersenyum.


Tidak berselang lama, seorang suster keluar dari ruangan operasi. Ia mengabarkan, jika Michael kehilangan banyak darah. Dan ia butuh 4 kantong darah segera. Jika tidak, nyawanya tidak akan tertolong.


"Sus, disini emang ngga ada stok golongan darah itu?" tanya Alea.


"Kebetulan lagi kosong bu. Tadi saya sudah minta ke PMI, tapi mereka juga sama. Kalau begitu, saya kembali masuk lagi ya bu. Jika bisa, secepatnya." Jawab suster itu lalu kembali masuk ke dalam ruangan operasi.

__ADS_1


Golongan darah AB resus Negatif. Golongan darah yang sulit di cari. Golongan darah Adila dan Alea, tidak ada yang sama dengan Michael. Begitupun dengan ibu Alea.


"Gimana ini?" karena saking paniknya, ia sampai tidak bisa berpikir jernih. Padahal bisa saja, Adila mengirim pesan di grup chat nya.


Tanpa menunggu lama, Alea menyebarkan kabar itu di grup pegawai hotelnya. Dari sekian banyak pegawai, ia yakin pasti ada golongan darah yang sama. Tidak lupa, Alea juga membuat status di media sosialnya.


Setelah selsai memposting, ponselnya menjadi sibuk. Banyak pesan masuk, dan juga panggilan masuk. Salah satunya dari Nadia.


"Halo Nad? Lo udah baca status gue?" Tanya Alea, setelah panggilan terhubung.


"Udah. Kebetulan golongan darah gue juga itu. Gue kerumah sakit sekarang ya?" jawab Nadia dari ujung telpon.


"Lo yakin? Lo aja baru keluar dari rumah sakit."


"Yakin Al. Gue gapapa ko. Udah, gue kesana sekarang sama adek lo." Panggilan pun terputus begitu saja.


Sebenarnya, Alea tidak yakin, jika Nadia ingin mendonorkan darahnya untuk Michael. Tapi, hanya Nadia yang baru merespon. Sisanya, mengatakan, jika golongan darah mereka tidak sama.


"Gimana?" Tanya Adila.


Melihat suaminya terus mondar mandir, yang ada bukanya menyelsaikan masalah. Malah membuat kepala Alea lebih pusing, dan tidak bisa berpikir jernih.


Tiba-tiba satu panggilan masuk dari Nia. Tanpa menunggu lama, Alea langsung menjawab panggilan dari Nia.


"Bu, ini saya baru baca status ibu. Kebetulan adik saya punya golongan darah yang sama. Saya kesana langsung ya bu." Sapa Nia dari ujung telpon.


"Makasih Nia. Saya tunggu ya." Jawab Alea lalu mengakhiri panggilan telponya.


Akhirnya, dua orang sudah bersedia menjadi pendonor. Setidaknya, itu sudah lebih dari cukup.


Alea lalu duduk di samping suaminya, sembari mengengam tanganya.


"Udah ya, itu pendonornya udah ada. Mereka lagi di jalan." Ucap Alea.


"Kamu serius?" Jawab Adila kaget.

__ADS_1


Alea hanya menganguk pelan, lalu tersenyum manis.


"Makasih sayang." Satu pelukan hangat, di sertai ciuman di pipi, membuat keduanya lupa, jika ibu Alea ada disana.


"Lea, ini ada temen ibu. Dia mau kesini katanya."


Ternyata sejak tadi, ibu Alea sibuk mencari pendonor juga, untuk Michael.


Begitulah, jika di hadapi dengan kepala dingin, masalah akan cepat teratasi.


......................


Setelah menunggu satu jam kurang, akhirnya Nadia dan juga Nia datang bersamaan. Mereka langsung masuk ke ruangan, di antar oleh suster, untuk di cek, apakah bisa menjadi pendonor atau tidak.


"Temen kamu itu, ngga akan pingsan? Dia aja baru keluar dari rumah sa...."


Belum selsai Adila bicara, Alea langsung mencium bibir suaminya, untuk membungkam mulutnya. Jika tidak begitu, suaminya pasti akan banyak pertanyaan.


"Lea! Ada adikmu!" Ibu Alea langsung menutup mata Adiknya, karena tidak ingin anak di bawah umur itu, harus melihat kejadian, yang belum saatnya ia lihat.


"Maaf bu. Abisnya, mantu ibu ini, cerewet. Udah panikan, sekarang udah dapat pendonor malah banyak tanya." Ucap Alea lalu mendeli kesal pada suaminya.


"Saya juga jomblo bu." Jawab Nia lalu tersenyum manis.


"Nanti saya carikan." Sahut Adila.


Suster yang tadi membawa Nadia dan adik Nia masui, kembali keluar, menemui Alea dan Adila. Ia memberikan kabar, jika keduanya bisa menjadi pendonor. Namun, masih membutuhkan dua kantong lagi.


"Darimana kita carinya?" tanya Adila. Ia kembali panik. Ia lupa, jika teman ibu mertuanya ada dua orang, yang sudah siap mendonorkan darahnya untuk Michael.


"Ada temen ibu. Dia lagi di jalan. Dia sama anaknya sama golongan darahnya." Jawab ibu Alea.


"Oh iya." Adila menepuk jidatnya sendiri, dengan wajah malu.


"Makanya, jadi orang jangan panikan. Sabar aja. Kamu harus yakin Michael itu akan selamat." Jelas Alea.

__ADS_1


"Amin sayang. Makasih ya, kalau ngga ada kamu, aku ngga tau jadinya gimana. Kamu emang istriku yang paling cantik."


__ADS_2