
Berada di tengah-tengah orang mabuk, membuat Alea merasa risih. Apalagi melihat perempuan yang kini sudah hilang kendali. Yang tidak segan bercumbu mesra di depan Alea dan juga Adila.
Begitulah kehidupan perempuan yang bekerja di dunia malam. Harus rela menjual dirinya pada setiap laki-laki yang datang ke Club malam. Dengan imbalan yang seimbang.
Sudah banyak uang yang di berikan oleh Mika pada perempuan itu. Mungkin lebih dari puluhan juta. ia juga meminta untuk pergi ke hotel, di depan Alea dan juga Adila.
"Kita pulang yuk. Udah ngga bener lagi disini." Ucap Adila lalu menarik tangan Alea.
Alea hanya mengikuti Adila tanpa protes apapun. Karena ia juga sudah merasa risih melihat kelakuan temanya.
Manager club malam yang sempat ingin menjual Alea pergi dengan Adila, ia berlarian mengejar Adila. Sepertinya ia tidak suka melihat Alea pulang bersama Adila.
"Pak, mau kemana?" Dengan tubuh yang sudah tidak seimbang lagi, ia berdiri di hadapan Alea dan juga Adila. Sepertinya pria itu sudah mabuk berat.
"Apa urusanya sama kamu?" Tanya Adila dengan suara lantang.
Sejak melihat Alea di perlakukan seperti tadi, Adila sudah merasa ada yang lain dari pria yang kini berdiri di hadapanya ini.
"Bapak mau ngajak Alea pulang? Kalau mau ngajak pulang, bapak harus minta ijin dulu pada saya. Saya disini manager pak. Dan saya berhak memutuskan siapa saja yang boleh pergi di jam seperti ini." Gaya bicaranya sudah seperti jagoan. Padahal tadi, ia terlihat sangat sopan.
"Ini gimana?" Bisik Alea yang mulai panik.
"Kamu berani melawan saya?" Tanya Adila dengan suara lantang.
"Bapak jangan mentang-mentang punya duit ya. Anda hanya tamu disini!" Bentak manager club pada Adila.
Melihat kelakuan manager club yang sudah tidak tau diri ini, Adila lalu menarik kerah bajunya dan membawanya ke plataran parkir.
Alea sungguh ketakutan melihat Adila yang sudah emosi. Ia mengikutinya dan berdiri dari keajauhan. Untung saja, saat Adila hendak memukul lelaki itu, tiba-tiba datang pria menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya pria itu pada Adila.
Dengan tatapan kesal, Adila menoleh lalu melepaskan kerah baju manager club itu.
"Vin, tolong urusin manager lo ini! Dia ngga tau siapa gue?" Ucap Adila pada pria itu.
Sepertinya mereka sudah saling kenal. Karena pria itu langsung menganguk pelan, lalu menarik Adila agar menjauh dari manager club itu.
"Sayang sini!" Teriak Adila pada Alea yang masih berdiri mematung.
Dengan langkah gontai, Alea menghampiri Adila dan juga pria, yang sepertinya bos club malam itu. Dilihat dari wajahnya, sepertinya usia mereka sama. Keduanya sama-sama tampan.
"Bos, dia mau bawa penyanyi kita pulang tanpa pamit bos. Jadi saya halangin." Jelas Niko. Berdirinya saja sudah sempoyongan.
"Siapa yang suruh kamu minum saat bekerja hah?" Teriak bos club malam yang bernama Kevin itu.
"Ma...ma..ma..af bos. Saya ngga mabuk ko." Jawab laki-laki itu gugup. Sudah tertangkap basah masih saja mengelak.
Alea terlihat kaget dan ketakutan. Ternyata bos club malam ini, lebih galak daripada yang ia bayangkan. Padahal wajahnya terlihat sangat baik. Berbeda dengan Adila yang sombong, dan angkuh.
"Urus pegawai lo itu! Gue mau balik!" Ucap Adila lalu mengandeng tangan Alea dan membawanya ke mobil.
Lagi-lagi, Alea harus melihat kemarahan Adila. Padahal ia sudah berharap, malam ini akan pulang ke kosan Nadia. Karena rencananya, siang nanti, Alea akan pulang kerumahnya, untuk menanyakan uang yang sudah di berikan Adila pada ibunya.
"Mulai besok, kamu ngga usah kerja lagi!" Ucap Adila sembari fokus pada kemudinya.
Alea memicingkan matanya, dan menatap kesal pada pria yang ada di samping nya ini. Baru kenal dua hari, sudah banyak aturan yang ia berikan padanya.
"Kamu siapa? Ngapain kamu nyuruh-nyuruh aku keluar? Kamu bukan siapa-siapa aku! Jadi lebih baik kamu turunkan aku disini!" Jawab Alea dengan tegas.
__ADS_1
Mobil pun berhenti mendadak. Hingga kepala Alea harus kepentok dashboard mobil.
"Sakit." Gumam Alea sembari mengusap kening nya.
"Kamu ini mau jadi apa? Kamu ngga sadar, kamu hampir saja di jual sama laki-laki hidung belang tadi! Kalau aku ngga datang, mau jadi apa kamu?" Bentak Adila yang kini menatap Alea, seolah ia ingin melahapnya.
Alea melihat sekitaran jalan yang sepi. Karena hari baru menunjukan pukul tiga pagi. Ia tidak mungkin turun disini dan meninggalkan Adila. Selain ia tidak punya uang untuk naik angkutan umum, ia juga tidak berani menunggu taksi sendirian di jalanan sepi.
"Kamu masih bisa cari kerjaan yang lain. Atau kamu ngga usah kerja juga ngga masalah. Aku masih sanggup kasih kamu apapun. Termasuk ibu dan juga adikmu!" Ucap Adila lagi.
Sebenarnya apa yang di katakan Adila memang benar, ia bisa memberikan apapun yang ia mau. Tapi Alea masih berpikir tentang status Adila, yang sampai saat ini belum ia ketahui dengan jelas. Ia takut, suatu saat ada seorang perempuan yang mendatanginya, yang tidak lain adalah istrinya.
"Ngga usah so ngatur! Aku bisa jaga diri sendiri. Kamu mendingan pulang, terus kamu temuin deh istri kamu yang kamu panggil mamih itu. Jangan sampai kamu tinggalin orang seenaknya, dan nyuruh nungguin kaya tadi!"
"Mamih? Mamih maksudnya?" Adila menatap Alea dengan tatapan bingung.
"Ngga usah ngeles! Mendingan kamu balik sana!" Meski takut, Alea berpura-pura membuka pintu mobilnya, karena ia tau, Adila pasti akan menahanya. Dan ternyata benar, dengan sigap Adila menahan lengan Alea.
"Jangan pergi!! Kamu mau di culik? Kamu ini masih polos! Perawan aja baru hilang kemarin! Atau kamu mau kaya Nadia teman kamu itu? Yang selalu ganti laki-laki setiap malam?" Tatapan Adila saat ini benar-benar membuat Alea ketakutan. Ia bahkan tau, jika Nadia sering gonta-ganti laki-laki dan tidur dengan beda laki-laki setiap malam.
"Mau kamu apasih? Aku ngga mau sama laki-laki yang udah punya istri! Aku ngga mau di bilang pelakor!" Bentak Alea lalu menepis tangan Adila.
Seketika, Adila tertawa puas mendengar perkataan Alea. Ia lalu menarik Alea kedalam pelukanya dan mengusap kepala Alea.
"Kamu gila?" Ucap Alea lirih. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki satu ini. Baru saja marah, bisa langsung tertawa tanpa sebab.
"Kamu takut di bilang pelakor?" Tanya Adila lalu melepaskan pelukanya.
Alea hanya menganguk pelan sembari menatap pilu.
__ADS_1
"Kamu takut di bilang pelakor, tapi kamu ngga takut di cap pelacur, dengan kerja di tempat itu."