
Akibat lemparan vas bunga, kening Alea harus di jahit, jarena terluka. Untunh saja, hanya 3 jahitan, dan tidak terlalu panjang. Dan Alea kini, baru sadar setelah pingsan beberapa saat.
Adila dan Nia sejak tadi menjaga Alea di rumah sakit. Nia terpaksa harus menelpon Adila, untuk mengabari kondisi Alea, yang terluka.
Melihat kondisi Alea, yang sudah pingsan, Adila tidak bisa lagi menahan amarahnya pada Kintan dan juga Alvi. Hampir saja ia melakukan hal yang sama, namun Nia mengingatkanya.
Sampai saat ini, Adila masih belum terima, Alea di perlakukan seperti ini.
"Aku dimana?" Tanya Alea. Ia melihat ruangan yang asing. Ada selang infusan di tanganya, dan kening nya pun terasa sangat sakit.
"Kamu udah bangun sayang?" Adila langsung mencium bibir Alea, dan memeluknya. Ia lupa, sang istri masih kesakitan.
"Pak, ibu Alea masih sakit." Dengan sungkan Nia mengingatkan bos nya itu, karena melihat wajah Alea yang sepertinya tertindas.
"Oh iya saya lupa. Maaf sayang, aku ngga inget." Adila lalu melepaskan pelukanya. "Maksih sakit? Atau perlu kita berobat ke luar negri?" Tukasnya.
"Ngga usah. Orang aku gapapa. Cuma kenapa aku disini? Ini dahiku kenapa ya?" Tanya Alea lalu memegang dahinya, yang ternyata memakai perban.
Sejenak, ia kembali mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan.
"Maaf bu, saya tadi lengah, sampai ngga bisa jaga ibu. Karena saya pikir, ibu Kintan tidak akan senekat itu. Tapi ternyata, dia sangat nekat." Jawab Nia.
"Kamu udah membuat laporan ke kantor polisi kan? Pokonya, saya mau dia menerima balasanya." Ucap Adila.
"Sudah pak. Polisi sedang mendalami kasusnya." Jawab Nia.
Adila hanya menganguk pelan. Dan tiba-tiba, ponselnya berdering. Adila meraih ponsel di dalam sakunya, ternyata satu panggilan dari ibunya.
Sebelum pergi ke rumah sakit, Adila mengabari ibu nya, jika Alea terluka akibat Kintan dan juga Alvi.
"Gimana Alea?" Suara ibu Adila terdengar sangat panik.
"Udah sadar mih. Ini lagi nunggu infusanya habis, kening nya harus di jahit." Jawab Adila sembari memperlihatkan Alea yang masih lemas.
"Ya tuhan. Mamih ngga terima, menantu mamih di perlakukan seperti ini! Lihat saja, mamih akan buat perhitungan." Telpon pun terputus begitu saja.
Jika ibunya sudah semarah ini, Adila bisa memastikan, bahwa sebentar lagi, Kintan akan datang, dan bertekuk lutut di depan Alea.
__ADS_1
Seorang dokter perempuan pun masuk. Ia kembali memeriksa ke adaan Alea, dan memperbolehkan Alea untuk pulang, setelah infusnya habis.
Padahal tadi, Adila hanya asal menjawab pada ibunya. Tapi ternyata perkataanya sama, dengan apa yang di katakan oleh dokter.
"Kalau begitu saya permisi, pak, buk." Ucap sang dokter itu, lalu kembali keluar, dari ruangan Alea.
Alea merasa tidak nyaman dengan bau obat di ruanganya. Akhirnya, ia meminta Adila intuk membawanya pulanh, meski cairan infusnya masih belum habis.
"Sayang, Infusnya belum habis." ucap Adila.
"Aku alergi bau obat. Nanti bisa muntah." Jawab Alea.
Akhirnya, mau tidak mau, Adila membawa Alea pulang, dan mencabut selang infusanya.
......................
Setelah perjalanan 30 menit, Akhirnya mereka sampai di depan rumah. Namun, ada sebuah mobil sedang berwarna Merah, tengah terparkir di depan rumah Adila.
"Mobil Alvi?" tanya Alea.
Adila hanya menganguk pelan. Siapa saja pasti akan tau, jika itu adalah mobil Alvi, karena nomor polisinya, sesuai dengan namanya.
"Ngapain lagi kalian disini?" Tanya Adila.
Asisten rumah tangganya, langsung menghampiri Alea, juga Adila.
"Maaf kan saya pak, bu, saya di paksa untuk bukain pintu, karena saya di ancam." Ucap asisten rumah tangganya sembari menundukan kepalanya.
"Gapapa bi, lanjutkan aja pekerjaanya." Jawab Alea.
Perempuan itu, lalu kembali ke dapur.
Tidak ingin di bohongi, Adila langsung mengecek CCTV dari handphonenya.
Ternyata benar, asisten rumah tangganya di todong pisau, oleh Alvi, sampai akhirnya ia terpaksa membuka pintu.
"Lo berdua pikir, dengan lo ngancam asisten rumah tangga gue, gue bakalan diem aja? Lo pikir, gue ngga akan balas semua?" ucap Adila.
__ADS_1
Kintan pun langsung bersimpuh di kaki Adila, dan meminta maaf pada pria itu. Ia sungguh ketakutan.
"Bangun." Ucap Alvi tidak terima, sepupunya di perlakukan seperti ini oleh Adila.
"Mendingan sekarang, lo bawa sepupu lo, sebelun kesabaran gue habis!" Bentak Adila.
"Heh, lo harusnya mikir!" Alvi mendorong bahu Adila dengan kasar. "Lo ini udah di guna-guna sama cewek miskin ini! Apa hebatnya dia? Sampai lo buta kaya gini. Lebih bagus lo sama gue lagi!" Tukasnya
Adila menyeringai licik. Sungguh tidam tabu malu, perempuan di hadapanya ini. Ternyata di dunia nyata, Adila bisa menemukan perempuan yang tidak tahu diri, seperti Alvi.
"Dil, gue mohon, tolong bilang ke nyokap lo, jangan sampai kirim video itu sama bokap gue." Rengek Kintan yang masih terus terisak tangis.
Sejak tadi, Alea hanya terdiam. Ia muak melihat dua orang perempuan, tidak tahu malu ini.
"Lo telat Kintan. Video itu udah sampai di tangan bokap dan juga nyokap lo. Mendingan sekarang lo siap-siap, dan lo liat, apa yang akan terjadi." Jawab Adila.
Kintan dan Alvi terlihat kaget. Keduanya saling menatap satu sama lain. Ancaman ibu Adila ternyata tidak main-main.
"Kamu kenapa tega sama Kintan? Dia pernah bantuin ki..."
"Jangan sentuh gue!" Dengan kasar, Adila mencengkram lengan Alvi.
"Kalian berdua ini maunya apa sih? Kalian udah buat keributan di kantor, dan sekarang datang kesini juga buat keributan? Kalian ngga sadar, apa yang udah kalian lakuin?" tanya Alea. Akhirnya ia berbicara juga, saking kesalnya pada kedua perempuan ini.
"Heh lo, diem! Gue ngga ada urusan sama lo!" Bentak Alvi.
"Tentu ada dong, yang kalian datangi ini, adalah rumah saya! Jadi tentu saja saya ada urusan dengan kalian. Karena saya tidak sudi, rumah saya di datangi perempuan murahan seperti kalian!" jawab Alea.
"Heh, lo yang murahan!" Alvi hampir saja mendorong tubuh Alea. Namun Adila dengan sigap menahanya.
Tanpa menunggu lama, Adila menyeret Kintan dan Alvi keluar dengan kasar. Ia tidak peduli lagi, siapa Alvi dan Kintan.
"Sakit Dila!" bentak Alvi.
"Kalian pergi, jangan pernah datang lagi. Kalian ingat, kalau sampai, kalian cari gara-gara lagi sama Alea, kalian akan dapat balasan lebih sakit dari ini." Ancam Adila, buru-buru menutup gerbang rumahnya.
Ia tidak peduli dengan teriakan kedua perempuan itu, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kamu tenang aja, aku pasti akan balas dendam."