CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 6 | Perempuan malam


__ADS_3

Baru kali ini, Alea merasa takut pada seorang laki-laki. Padahal ibunya saja, ia lawan agar bisa bekerja malam. Ia takut jika Adila akan meninggalkanya setelah puas mengambil kesucianya.


Meski tidak bisa di tolak dengan cara nya sekarang, Alea punya cara lain untuk mendapatkan ijin dari Adila. Ia mulai memasang wajah memelas, dan berusaha mengeluarkan tetes air matanya, agar Adila bisa mengijinkanya untuk bisa bekerja.


"Tolong ijinin aku kerja. Aku ngga enak sama yang lain, kalau hari ini aku harus bolos kerja." Ucap Alea dengan suara lembut.


Namun sayang, Adila sama sekali tidak bergeming. Ia terus fokus pada kemudinya, dan mengubah arah perjalananya. Tentu saja, ini bukan arah kos Nadia. Tapi ini arah menuju hotel yang ia tempati tadi malam.


"Aku harus kerja bantuin ibuku. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bakalan bantu ibuku." Rengek Alea. Ia sudah seperti anak kecil yang meminta ijin untuk membeli balon pada ibunya.


Tapi sayang, rengekan dan wajah memelas yang di perlihatkan Alea, tidak membuat Adila merasa iba, atau bahkan menyetujuinya. Ia terus fokus pada kemudinya, sampai akhirnya mereka sampai di lobi hotel.


"Turun!" Ucap Adila dengan tegas. Ia lalu keluar lebih dulu, dan memberikan kunci mobilnya pada petugas valet. Maklum orang kaya, parkir saja meminta bantuan orang lain.


Alea yang terlihat bingung, akhirnya mau tidak mau harus keluar dan mengikuti langkah Adila dengan perlahan. Alea masih belum bisa berjalan normal seperti biasanya. Karena bagian inti tubuhnya, masih sangat terasa sakit.


Sesampainya di kamar hotel, Adila langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Wajahnya sama sekali tidak bersahabat. Sepertinya ia sangat kesal pada perempuan yang tadi ia temui di parkiran mall.


"Sini tidur." Ucap Adila yang baru saja melihat Alea duduk di sofa.


Antara takut, dan malu, Alea memilih duduk di sofa. Ia benar-benar trauma jika harus melayani nafsu Adila seperti tadi pagi.


"Aku pulang aja ya? Nanti malam kamu bisa dugem lagi kaya semalam. Aku nanti temenin deh." Bujuk Alea sembari tersenyum.


"Ngapain? Kalau mau sama kamu, disini juga bisa. Disana lampunya gelap. Ngga asik." Jawab pria sombong itu.


Alea baru menemui pria yang benar-benar aneh, bisa berubah dalam kurun waktu semenit saja. Padahal tadi ia masih menjadi sosok pria lembut dan penuh perhatian. Tapi sekarang ia menjelma menjadi pria yang sombong dan arogan.


"Aku harus kerja. Kalau aku ngga kerja, orang tua sama adiku, siapa yang mau kasih biaya?" Ucap Alea lagi. Ia berharapa pria itu mempunyai sedikit belas kasih setelah mendengar perkataanya ini.


"Masih kurang? Tadi pagi aku udah transfer 10 juta buat ibu dan adik kamu. Masih kurang juga? Atau mau saya kasih lagi?" Jawab Adila sembari terus fokus pada layar televisi.


Mata Alea membulat sempurna. Ia benar-benar kaget mendengar perkataan Adila. Pantas saja ibunya tidak ada menghubunginya lagi. Padahal biasanya, Alea hilang sebentar saja, langsung di cari. Tapi kali ini, sama sekali tidak ada telpon ataupun pesan masuk dari ibunya.


"Ka...ka...ka...mu, kirim uang buat ibuku?" Tanya Alea mendadak gugup.


"Ibu kamu ngga bilang? Bahkan ibu kamu sudah tau kamu disini sama saya. Jadi sekarang mendingan kamu ikuti mau ku!" Jawab pria sombong itu.


Meski kondisi ekonominya cukup sulit, tapi Alea tidak akan mau menerima begitu saja pemberian uang dari Adila. Ia tidak ingin semakin terhalang oleh pria ini, yang sudah seolah membelinya dengan uang.


"Aku bakalan balikin semuanya sama kamu! Aku ngga sudi ya, harus layanin suami orang!" Bentak Alea lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Kalu aku duda, kamu mau sama aku?" Tanya Adila sembari menyeringai penuh arti.


Senyumanya kali ini benar-benar menyebalkan dan membuat Alea merasa kesal.


"Kamu jangan palsuin iden...."


"Bentar ada telpon." Ucap Adila menyela pembicaraan Alea.


Kali ini wajahnya terlihat panik, dan buru-buru menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

__ADS_1


"Halo mih?" Sapanya dengan nada lembut.


Kali ini, Alea hanya menyimak pembicaraan Adila dengan seseorang di telpon. Ia sudah menduga, jika yang menghubunginya itu adalah istrinya.


"Iya mamih sayang. Aku pulang ya. Tunggu ya mih. Love you." Ucap Adila lalu mengakhiri panggilan telponya.


Bisa-bisa nya ia bermesraan setelah apa yang sudah ia lakukan bersama Alea tadi malam. Bahkan ia menyebutnya dengan sebutan mamih.


"Aku harus pergi. Kamu disini aja, nanti malam aku kesini lagi." Ucap pria itu lalu pergi dengan tergesa-gesa.


Bisa-bisanya ia pergi, dengan pamitan seperti itu. Alea benar-benar merasa dirinya sampah. Yang sudah di pakai, lalu di buang begitu saja. Walaupun Adila tidak membuangnya, tapi perlakuanya barusan, membuat ia merasa sakit hati.


Setelah Adila pergi, Alea memutuskan untuk pulang ke kosan Nadia. Untung saja ia menyelipkan uang kembalian saat berbelanja tadi. Jika tidak, ia sama sekali tidak bisa pulang, karena tidak punya uang sepeserpun.


Sesampainya di kosan Nadia, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya benar-benar letih melayani pria seperti Adila seharian penuh.


"Eh, kapan datang?" Tanya Nadia yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Leher jenjang dan dadanya, penuh tanda merah bekas ciuman siluman kepala besar. Ntah pria mana lagi yang tidur dengan Nadia tadi malam.


"Daritadi. Lo udah mandi? Tumben?" Jawab Alea sembari menatap sahabatnya itu.


"Iya, bentar lagi ada mas Adi kesini. Dia katanya mau ngajakin dinner dulu sebelum gue kerja." Jelas Nadia sembari memasang pakaianya.


"Terus itu leher sama dada, siluman mana lagi?" Tanya Alea sembari mendelik kesal.


Sebagai sahabat, ia tidak ingin Nadia keluar jalur terlalu jauh. Tapi ia juga tidak bisa menasehati sahabatnya yang berkepala batu itu.


"Udah punya istri? Pasti udah tua?" Tanya Alea lagi.


"Ya mana gue tau. Yang jelas, dia kasih uang buat gue, dan gue kasih kepuasan sama dia. Eh, bye the way, tamu yang semalam gimana? Dia pengusaha tajir loh Al. Perusahaanya ada dimana-mana. Dia selalu datang tuh, tapi ngga pernah mau di temenin ladies kaya gue. Cuma gue selalu jadiin tumbal vocalis band. Karena dia suka gitu sama penyanyi." Jawab Nadia.


Alea seolah tidak mendengar perkataan Nadia yang satu ini. Ia buru-buru ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.


................


Malam haripun tiba. Dimana Alea harus pergi ke pub sendirian, karena Nadia sudah pergi lebih awal bersama tamunya.


Alea sengaja datang tepat waktu. Agar ia langsung bekerja, dan tidak banyak melamun di bar seorang diri. Rasanya masih canggung berada di club malam seperti ini.


"Lea ya?" Sapa seorang perempuan dengan pakaian super seksi. Ia memakai dress mini yang sangat ketat, dan memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Belahan dadanya, terlihat kemana-mana.


"Iya? Siapa ya?" Jawab Alea dengan sopan.


"Saya Indri. Saya mamih disini. Eh, tadi ada bos nanyain kamu. Kamu bisa ikut sama saya?" Tanya Indri sembari tersenyum.


"Oh boleh. Tapi saya harus kerja." Jawab Alea. Ia berusaha menolaknya dengan cara halus.


"Ini manager yang mau bicara sama kamu." Ucap Indri lalu menarik tangan Alea dan membawanya ke bar.


Disana ada dua orang pria yang memakai jas, tengah duduk sembari menikmati minuman alkohol.

__ADS_1


"Beb ini." Ucap Indri lalu mendorong tubuh Alea agar lebih mendekat pada pria itu.


"Alea ya?" Tanya pria yang kini memakai jas. Sepertinya pria ini, pria hidung belang yang sama seperti Adila.


"Iya. Ada apa ya om?" Jawab Alea dengan sopan.


"Malam ini kamu ngga usah nyanyi. Karena bos saya mau di temenin sama kamu." Jelas laki-laki itu.


Jantung Alea berdetak lebih kencang dari biasanya. Pria mana lagi yang harus ia temani malam ini. Padahal Nadia bilang, penyanyi tugasnya hanya bernyanyi. Bukan menemani tamu seperti yang sering di lakukan Nadia.


"Ayo ikut saya." Ucap lelaki itu lalu menarik tangan Alea, dan membawanya ke meja paling ujung.


Pria paruh baya, dengan perut buncit, kini tengah tersenyum ke arahnya. Pria itu lebih cocok menjadi ayahnya. Alea benar-benar ketakutan.


"Sini sayang." Ucap pria itu sembari menepuk sofa di sebelahnya yang masih kosong.


"Silahkan bos. Enjoy ya." Jawab pria yang memakai jas itu.


"Pak, saya ngga kerja sebagai ladies. Saya penyanyi." Tolak Alea.


"Udah temenin aja. Lumayan, kamu bisa di kasih tips. Apalagi kalau mau open BO. Kamu bisa dapat uang lebih." Bisik pria itu.


Seketika bulu kuduk Alea merinding mendengar perkataan pria yang memakai jas itu. Bisa-bisanya ia mengatakan jika Alea harus menemani pria hidung belang ini.


"Saya ngga sudi!" Bentak Alea.


"Eh kamu mau kemana! Disini aja!" Ucap pria itu lalu menarik tangan Alea.


"Pak Niko!" Sapa seorang pria yang datang dari arah belakang.


Alea dan pria bernama Niko menoleh dan melihat sosok pria tampan, yang menemani Alea tadi malam, hingga siang tadi.


Ia berajalan menghampiri Alea dan Niko, lalu mengenggam tangan Alea dengan erat.


"Pak Adila? Ya ampun. Kenapa ngga bilang kalau mau datang kesini?" Sapa Niko dengan sopan. Senyumanya begitu manis seolah ingin mendapatkan pujian dari Adila. Ia bahkan mengabaikan pria hidung belang yang kini tengah duduk di sofa.


"Harus lapor dulu sama kamu? Kamu siapa saya? Atau saya perlu pindah ke sebelah saja? Disana lebih nyaman dan sopan sepertinya." Jawab Adila dengan tegas.


"Maaf pak. Bukan begitu maksud saya. Tapi saya bisa siapkan meja untuk bapak." Ucap Niko gelagapan.


"Hei, mana perempuan itu? Saya udah ngga sabar ini." Teriak pria hidung belang yang sejak tadi duduk di sofa.


"Perempuan ini maksudnya?" Tanya Adila sembari menunjuk wajah Alea.


"Maaf pak, Alea sudah di booking lebih dulu sama pak Adam. Bapak biar saya carikan yang baru ya. Kebetulan ada anak baru, dia lebih cantik pak." Jawab Niko.


"Kamu sudah lancang ya. Berapa dia bayar Alea? Saya bayar 10 kali lipat!!" Bentak Adila.


"Tapi pak, Alea sudah...."


"Siapin meja, atau saya tutup club malam ini!"

__ADS_1


__ADS_2