CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 31 | Rumah mewah


__ADS_3

Benar saja, saat Adila juga Alea turun dari mobil, semua mata langsung tertuju pada mereka. Sebagian dari mereka, adalah tetangga dekat rumah Alea, yang mengenal Alea dengan baik.


Selama tinggal dirumah lamanya, Alea dikenal sebagai gadis baik hati, yang selalu membantu ibunya berjualan kue. Tak heran, mereka menyapa Alea dengan sopan, dan penuh rasa bangga.


"Ya ampun, ini Lea? Cantiknya kamu sekarang." Ujar salah seorang perempuan paruh baya, yang sedang mengantri di depan toko kue.


"Terimakasih bu." Jawab Alea dengan sopan.


Mendengar sang istri di puji seperti itu, Adila semakin bangga. Ia terus mengandeng tangan Alea, sembari membusungkan dadanya.


Keduanya menerobos masuk ke dalam toko. Sapaan manager toko, membuat semua pengunjung yang sedang antri, menoleh ke arah Adila dan juga Alea.


"Lanjutkan saja. Saya hanya mengecek situasi." Dengan suara yang khas, Adila mengatakan itu pada manager toko, yang saat ini berdiri di depan meja kasir.


"Lea?" Sapa seorang perempuan paruh baya. Ia melangkah mendekati Alea, dan menatapnya dari atas sampai bawah. Seolah ia tidak percaya, dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Ternyata ini beneran toko kue kamu?" Tanya perempuan itu penuh selidik.


"Punya ibu saya." Jawab Alea.


"Hebat kamu ya. Baru sehari bekerja, sudah dapat uang sebanyak ini, sampai bisa membuka toko kue. Kerja apasih kamu?"


"Aku kerja..."


"Dia menantu keluarga Wijaya. Istri saya, Adila Wijaya, anak dari pemilik perusahaan Wijaya." Dengan tegas, Adila menyela perkataan Alea.


Sebagai seorang suami, ia tidak suka melihat istrinya di perlakukan seperti itu. Ditanya dengan penuh intimidasi, apalagi di saat banyak orang seperti ini.


Perempuan itu, menatap tidak percaya. Matanya terus meneliti seluruh pakaian yang dikenakan oleh Adila juga Alea.


"Masa sih? Ngga keliatan kalau anak konglomerat. Masa pakaianya begini." Tanya perempuan itu sarkastik.


"Bu, permisi, ini kue pesanan ibu sudah jadi." Seorang pegawai menghampiri ibu itu, dan memberikan kue yang ia pesan.


Tapi, perempuan itu mengabaikanya, dan terus menatap Adila juga Alea. Tidak tahu maksudnya apa. Tapi, yang jelas, sepertinya ia kurang menyukai Alea juga Adila.


"Udah di bayar? Kasih gratis saja. Sebagai tanda perkenalan saya." Ujar Adila.


"Halah, kalau hanya kue, saya juga mampu membelinya." Jawab perempuan itu. "Denger-denger, kamu itu kerja di klub malam ya?" Tukas nya. Dengan suara lantang.

__ADS_1


Seluruh pengunjung yang sedang mengantri, kembali menatap Alea juga Adila. Kali ini mereka berbisik pada teman mereka.


Tanpa menunggu lama, Adila mengeluarkan satu bendel uang pecahan seratus ribuan, dan memberikanya pada perempuan di hadapanya.


"Untuk mulutmu, agar bisa sekolah!" Ujar Adila dengan tegas.


"Baru kaya segini saja sudah sombong." Perempuan itu menjengit kesal, lalu pergi dengan membawa uang itu pergi.


"Kalau ada yang berani hina istri saya lagi, kalian bisa bilang sama saya, agar saya memberikan kalian uang!" Ujar Adila dengan suara lantang.


Seluruh pengunjung tidak ada yang berani menjawab. Mereka kembali fokus pada meja kasir, dan kue pilihan mereka.


"Kita pulang." Ajak Adila. Ia menarik tangan istrinya, dan membawanya keluar. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil.


Satu pukulan keras, mendarat di setir mobil Adila. Matanya menyalang. Ia tidak terima istrinya di hina seperti itu, didepan banyak orang.


"Kamu kenapa?" Tanya Alea.


Adila tidak bergeming. Ia langsung mengeluarkan ponselnya, dan mulai menghubungi seseorang. Setelah nada panggilan kedua, akhirnya telpon tersambung.


"Carikan perempuan yang baru saja saya kirim foronya. Cari keluarganya, semuanya, buat dia datang kerumahku besok pagi. Paham?!" Ujar Adila. Ia lalu mengakhiri panggilan telponya begitu saja.


Tapi, lagi-lagi ia tidak peduli, dan langsung menancap gas.


Alea tidak berani membuka matanya, dan terus berpegangan pada seat belt nya. Mobil Adila melaju sangat kencang. Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah perumahan elite.


"Maafin aku." Suara Adila kembali terdengar sangat lembut. Ia meraih tangan istrinya, yang masih berpegangan pada seat belt.


Perlahan Alea membuka matanya, dan menatap Adila dengan rasa takut. Ia seolah trauma dengan Adila yang marah seperti tadia.


"Yuk masuk. Ini rumah kita." Ajak Adila sambil membuka sabuk pengaman.


Alea menatap takjub perumahan elite, yang saat ini ada di hadapanya. Rumah megah, dua lantai, seluruh dinding nya full kaca, seperti Aquarium. Taman di depan rumah yang sangat luas, membuat Alea tidak bisa berkedip.


Semenjak bersama Adila, hidupnya sangat penuh dengan kejutan. Semua kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.


"Sayang, ayo." Ajak Adila lagi. Ia turun lebih dulu, dan membuka pintu mobil untuk Alea.


"Welcome home." Teriak Adila penuh semangat.

__ADS_1


"Ini rumah kita?" Tanya Alea.


"Ya sayang. Ini rumah kita. Kita akan tinggal disini."


"Aku tidak sedang bermimpi kan?" Alea lalu turum dari mobil, dan terus menatap rumah megah itu.


Tangan Adila mengandeng Alea, dan membawanya masuk ke dalam. Sapaan seorang asisten rumah tangga, menyambut ke datangan mereka. Tidak tanggung-tanggung, Adila mempekerjakan tiga orang sekaligus.


Mereka berbaris, mengenalkan dirinya masing-masing, pada majikanya itu.


"Tolong siapin makan siang untuk istri saya. Menu nya sudah saya kirim kan ke ponsel kalian." Ujar Adila.


"Baik pak." Mereka menganguk sopan, dan bergegas pergi ke dapur.


Bahkan menu makanan saja, sudah Adila siapkan untuk sang istri. Tentunya, menu kesukaanya.


"Sayang, ini terlalu besar untuk kita berdua." Ujar Alea.


Ia melihat-lihat sudut ruangan dengan penuh rasa takjub. Perabotan rumah yang sudah sangat canggih, bahkan ada lift untuk naik ke lantai atas.


"Aku sudah bilang, rumah ini untuk kita dan juga anak-anak." Jawab Adila. Ia memeluk istrinya dari belakang.


"Tapi aku belum hamil sayang."


"Tenang saja. Aku akan membuatmu hamil dua anak sekaligus." Kedipan mata genit nya, membuat Alea merinding.


Pria di hadapanya ini sungguh sangat sempurna. Tampan, dan kaya raya. Tapi tidak banyak yang mengidolakanga. karena sifat angkuh dan sombong nya.


"Akan aku tunjukan kamar kita." Adila lalu mengenggam tangan Alea dan membawanya naik ke lantai atas.


Kamar mereka ada di lantai paling atas. Adila sudah menyiapkan rumah ini sejak lama.


"Ini kamar kita." Adila membuka pintu kamarnya, dan taburan bunga mawar di lantai, menyambut kedatangan Alea.


Kasur berukuran king, lengkap dengan segala isi perabotan kamar lainya. Meja rias Alea, yang sudah tersusun rapih dengan kosmetik merk brand ternama, yang harganya mencapai puluhan juta.


Kamar yang sangat sempurna, bak kamar tuan puteri kerajaan.


"Kamu siap membuat anak denganku?" Tanya Adila.

__ADS_1


"Siap sayang."


__ADS_2