CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 52 | Kenyataan pahit


__ADS_3

Alea tidak pernah menyangka, jika Intan ibu tirinya, bekerja di klub malam, tempat ia bekerja dulu. Tentu saja ia bekerja sebagai mami disana.


Dengan bantuan Adila, semuanya menjadi mudah. Alea tidak perlu waktu lama, untuk mengetahui dimana ibu tirinya itu berada.


Setelah pulanh dari rumah sakit, Alea dan juga Adila pergi ke tempat klub malam itu. Meski sebenarnya Alea takut bertemu Nadia, dan akan membuat keributan di tempat itu.


Setelah satu bulan tidak pernah datang kesana, suasana nya sudah beda, Adila dan Alea di sambut langsung oleh pemilik klub malam itu, yang tidak lain adalah Kevin, teman dari Adila.


"Mana Vin orang nya?" bisik Adila pada Kevin.


"Nanti gue panggil. Tapi kalian di room aja ya, jangan di sana." Jawab Kevin.


Karena niat kesana ingin balas dendam pada Intan, akhirnya Adila setuju dan memilih room karaoke.


Seperti biasa, Adila mengajak Mika sahabatnya, yang akan memilih perempuan di klub malam itu.


"Ini ko kesini?" tanya Alea bingung.


"Sabar sayang, kita ikutin saran Kevin." Jawab Adila.


Diruangan itu, ternyata sudah ada Mika, dan satu orang temanya. Sebelum memanggil Intan, Kevin meminta Adila untuk tidak buat keributan. Karena walau bagaiamanapun, klub malam ini adalah tempat usahanya.


Setelah mereka sepakat, Kevin pun memanggil Intan dan dua orang perempuan lainya untuk masuk.


Perempuan yang sudah tidak muda lagi, dengan perawakan yang terlihat seperti nenek-nenek, masuk dengan pakaian seksi.


"Malam pak." Sapa Intan dengan sopan pada Kevin. Ia belum sadar, jika Alea dan Adila juga ada di ruangan yang sama.


"Oh, jadi ini kerjaan mu?" Tanya Alea, yang sudah tidak bisa menahan emosinya, sata melihat Intan.


Perempuan itu terperanjat kaget, dan menatap Alea juga Adila. Namun ia tidak bisa keluar begitu saja, karena disana ada Kevin bosnya.


Dua orang perempuan yang ikut bersama Intan, juga terlihat kaget, dan manatap Adila juga Alea.

__ADS_1


"Mik, kita diruangan lain saja." Ajak Kevin pada Mika dan seorang temanya.


"Oke bro." Mika pun beranjak dari tempat duduknya, lalu keluar bersama temanya. Di susul Kevin, dan dua orang perempuan yang ikut bersama Intan.


"Loh pak, terus saya?" tanya Intan bingung.


"Kamu selsaikan masalahmu." Jawab Kevin. Ia pun menutup pintu ruangan itu.


Kini, hanya ada Alea, Adila juga Intan. Perempuan itu nampak sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, dan mengepal tanganya.


"Butuh ini kan?" Adila mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tas nya, lalu melemparkanya pada perempuan itu.


"Ambil! Itu kan yang lo mau selama ini hah? Lo udah buat keluarga gue hancur, dan lo tinggalin anak lo, yang butuh lo!" Bentak Alea.


Hampir saja Intan melemparkan gelas ke wajah Alea, namun Adila dengan cepat mencegahnya.


"Kalau kamu berani lempar ini, saya akan pastikan, tidak akan ada lagi tempat yang menerima pekerjaan kamu!" ucap Adila.


"Lepas!" Intan lalu menepis tangan Adila dengan kasar. Perempyan itu pun akhirnya duduk, dengan wajah gusar.


"Mau kalian apa? Belum puas buat gue hancur?" Tanya Intan dengan mata menyalang.


"Yang buat hancur duluan itu, lo! Bukan gue! Lo yang udah buat ibu dan adik gue menderita! Lo buat jebakan sampai ayah gue harus nikahin lo, dengan alasan lo punya anak dari bokap gue! Dan taunya, Mila bukan anak kandung lo!" Jawab Alea.


Ia sudah tahu semua ceritanya dari sang ayah. Selama ini, ayahnya selalu di ancam oleh Intan. Dan ayahnya begitu takut, sampai ia tidak bisa melakukan apapun.


"Terus mau lo apa? Gue udah relain bapak lo buat kembali sama lo, apalagi sekarang?" Tanya Intan dengan suara lantang.


"Lo ngerasa udab puas, terus lo pergi? Inget, Natan butuh lo! Dia anak lo, lo tau gimana kondisi Natan sekarang?" Jawab Alea.


"Udah lah, ngga usah so baik. Nanti juga ayah kandung nya jemput dia." Ucap Intan dengan enteng.


Alea dan Adila saling menatap satu sama lain. Mereka terlihat bingung dengan perkataan Intan.

__ADS_1


"Jadi, Natan bukan anak nya..." Alea menghentikan ucapanya, sembari menatap Adila.


Perempuan ini sungguh licik, ia bahkan rela menghalalkan segala cara, demi keinginan dan nafsunya.


"Iya bukan lah. Orang bapak lo udah tua gitu. Mana bisa dia ngasilin anak lagi. Udah, ngga usah sibuk urusin gue, gue juga udah relain, tu laki-laki tua bangka buat lo dan keluarga lo. Ambil aja. Selama ini, dia cuma gue jadikan pembantu dirumah gue. Dan sekarang gue udah ngga butuh lagi." Jelas perempuan itu panjang lebar.


Ingin sekali Alea menamparnya, namun ia sudah janji dengan Kevin untuk tidak membuat keributan di tempatnya. Untuk pertama kalinya Alea melihat perempuan seperti ini. Tidak punya hati, dan perasaan.


"Lo bener-bener jahat! Inget, karma akan di bayar kontan!" ucpa Alea lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Ngga usah so suci deh lo, lo punya suami juga hasil ngerebut kan? Lo juga sama kaya gue, cuma wanita malam yanh murahan!" jawab Intan sembari menunjuk Alea.


"Jaga mulut anda ya!" Bentak Adila. Tentu saja ia tidak terima istrinya di hina seperti ini. Bahkan apa yang di katakan Intan, tidak sesuai dengan faktanya.


"Emang faktanya gitu kan? Bukanya kamu udah mau nikah sama pengusaha sukses itu? Dan perempuan ini yang mengoda kamu, sampai akhirnya kalian menikah kan?" perempuan itu menyeringai bak iblis jahat.


Tidak ingin menanggapi perempuan gila itu, Alea lalu melemparka uang pada wajah Intan.


"Lo jangan berani hina gue, atau lo akan tau akibatnya!" Alea lalu keluar dan berlarian ke arah parkiran. Ia sudah tidak bisa lagi menahan tangisanya.


Tidak berselang lama, Adila pun ikut menyusul Alea ke luar, lalu memeluknya dengan erat. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, jika Alea akan mengetahui semua kenyataan pahit ini.


"Udah ya, jangan nangis. Kamu kuat sayang." ucap Adila sembari mengusap punggung Alea.


"Dia keterlaluan, dia udah buat ayah menderita selama ini." Jawab Alea sembari terisak tangis.


Adila hanya menganguk pelan. Ia terus mengusap punggung Alea dan mencium pucuk kepalanya.


"Widih, ada adegan romantis ni."


Suara seorang perempuan yang sangat tidak asing, terdengar dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Alvi. Perempuan itu sepertinya, sudah mabuk parah. Jalanya saja tidak karuan.


"Ayo sayang, kita ngga perlu layanin orang kaya dia." ajak Adila yang langsung menarik tangan Alea ke mobil.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu ngga mau sama aku lagi?" Teriak Alvi tidak tau diri.


"Ngga usah di hiraukan. Kita pergi aja."


__ADS_2