CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 30 | Direktur utama


__ADS_3

Proses pengalihan kepemimpinan hotel sudah selesai. Alea kini sudah resmi, menjadi direktur utama hotel Wijaya. Dengan perbekalan ilmu seadanya, hanya tamatan Sekolah Menengah Atas, yang buta akan dunia bisnis.


Seluruh karyawan membungkuk, memberi penghormatan pada Alea, saat ia keluar dari hotel bersama Adila. Risih, dan tidak biasa di perlakukan dengan sangat istimewa seperti ini. Tapi, mulai sekarang Alea harus membiasakan dirinya.


"Sayang, hari ini, akan ada sekretaris baru buat kamu. Yang akan bantu kamu dalam mengelola hotel. Tapi sebelum itu, kamu harus ikut aku dulu ke suatu tempat." Ujar Adila.


"Kemana?" Tanya Alea bingung.


"Pokonya ikut saja." Adila menyeringai, dan kembali fokus pada kemudinya.


Cuaca pagi itu sangat cerah. Awan biru dan matahari yang mulai menyengat, menemani perjalanan pasangan suami istri itu.


Mata Alea mulai terasa berat. Tadi malam ia harus bergadang, untuk melayani suaminya. Tujuh ronde permainan, tanpa jeda mereka lakukan. Dan pagi ini, mereka harus memulai aktifitas nya kembali.


Alunan suara piano klasik, membuat Alea semakin merasa nyaman. Sampai akhirnya ia terlelap.


......................


Sayup bisikan lembut Adila, terdengar di telinga Alea. Ia mencoba membuka matanya, dan melihat wajah sang suami, berada di hadapanya dengan jarak yang sangat dekat.


"Bangun udah sampai." Bisik Adila. Satu kecupan manis mendarat di bibir Alea.


Kebiasaan, yang harus Alea pahami mulai sekarang dan selamanya. Tidak boleh ada bantahan, atau penolakan.


"Dimana ini?" Alea memicingkan matanya dan melihat ke arah luar.


Banyak orang yang berlalu lalang di sekitaran plataran parkir. Perempuan dan laki-laki, yang mungkin seusia denganya.


"Universitas..." Alea menghentikan perkataanya dan menoleh ke arah sang suami.


Tanpa di duga, Adila ternyata mengajak Alea, ke sebuah universitas ternama di kota Jakarta.

__ADS_1


Dulu, Alea pernah bermimpi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun karena kondisi ekonomi keluarganya tidak stabil, ia harus mengubur mimpi itu dalam-dalam.


"Mulai hari ini, kamu akan kuliah disini. Karena kamu sebagai direktur hotel, kamu harus punta ilmu dan gelar yang sempurna. Jangan sampai orang lain akan menghujatmu," Ujar Adila. Lembut belaian tanganya, terus mengelus pucuk rambut Alea.


"Kamu suruh aku kuliah disini?"


"Ya, sayang. Kamu akan kuliah disini. Dan aku, sudah mengurus semua berkasnya. Hari ini, kamu masih boleh bolos kuliah. Tapi besok, kamu harus mulai masuk." Terangnya.


Mimpi apa Alea, sampai ia mendapatkan semua ini, dalam waktu singkat. Pria yang ia kenal satu malam, di club malam ini, mengubah seluruh hidupnya.


Alea si gadis desa yang miskin, kini berubah menjadi Alea seorang direktur utama hotel, sekaligus menantu dari keluarga Wijaya. Keluarga terhormat, yang mempunyai perusahaan dimana-mana.


Keluarga yang biasa ia lihat di televisi, tentang berita sahamnya, kini ia resmi menjadi bagian dari keluarga itu.


"Sayang, ini berlebihan banget. Aku ngga mungkin bisa fokus kuliah, kalau aku dirumah ada kamu, yang harus aku urusin." Kata Alea dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tenang aja sayang, masih ada bibi yang akan urusin kita. Tugas kamu, hanya belajar, dan menjadi sarjana." Jawab Adila. "Abis itu, kamu puasin aku di ranjang." Bisiknya. Ia mengedipkan sebelah matanya genit, lalu mencubit pipi Alea dengan gemas.


Matanya berbinar penuh semangat. Tidak sabar ingin segera melanjutkan pendidiknya, dan bisa meraih gelar sarjana.


"Mau turun?" Tanya Adila.


Alea mengeleng pelan. Ia kembali menatap suaminya, dan mengenggam tangan Adila, dengan erat.


"Makasih banyak. Kamu sudah merubah duniaku menjadi lebih berwarna." Jawab Alea.


"Sama-sama baby. Kita kemana sekarang? Hari ini Adila Wijaya akan menjadi supir pribadi ibu Direktur." Tangan Adila kembali pada kemudinya, dan sudah bersiap untuk menancap gas.


Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Alea, toko kue yang di berikan oleh Adila untuk nya. Kali ini ia mengajak Adila untuk pergi ke toko kue itu.


Seperti perkataanya, Adila tidak menolak, ataupun membantah keingin Alea. Ia langsung menancap gas, menuju toko kue milik Alea.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Alea terus bergelayut manja di lengan besat sang suami. Parfume nya, membuat Alea betah lama-lama di dekat pria tampan itu.


"Beb, kamu mau punya anak berapa?" Celetuk Adila memecah keheningan.


Refleks, Alea melepaskan genggaman tanganya, dan menatap ke arah suaminya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba bahas masalah anak, yang bahkan belum terpikir di kepala Alea.


"Sayang, kamu gapapa kan?" Alea langsung menempelkan punggung tanganya di dahi suaminya. Ia bertingkah seolah suaminya tengah sakit.


"Beb, aku serius. Kamu mau punya anak berapa? Kalau aku pengen punya anak 6. Biar rumah kita rame."


"Apartment sekecil itu, mau di tambah 6 orang anak? Mau tidur dimana mereka?" Mata Alea mendelik kesal. Bukan karena apartment yang kecil, tapi ia tidak bisa membayangkan bagaimana, ia harus melahirkan 6 orang anak.


"Aku lupa kasih tahu kamu. Kalau mulai malam ini, kita akan pindah kerumah baru. Bukan apartment lagi. Nanti setelah ini, kita akan kesana."


"Baru lagi?"


"Iya sayang. Ngga usah panik gitu dong. Lagian, mana mungkin aku mau tinggal di apartment. Bisa-bisa anaku ngga akan pernah nginjek rumput." Terangnta dengan menaikan satu alis nya.


Bagiamana bisa ia sudah memikirkan soal anak. Padahal mereka baru saja menikah. Perkenalan yang hanya satu minggu, dan langsung menikah, adalah hal yang luar biasa. Mungkin di luaran sana, tidak akan ada yang sepertu Alea juga Adila.


Setelah 20 menit perjalanan, keduanya sudah sampai di depan toko kue itu. Dari kejauhan, tampaknya tokp kue tengah ramai pengunjung. Alea menjadi tidak berani untuk masuk. Ia takut pelanggan akan mengenalinya. Apalagi kebanyakan dari mereka, adalah para tetangga dekat rumahnya.


"Yuk turun." Ajak Adila. Ia membuka seatbelt nya, dan menatap Alea.


"Nanti aja ya beb. Aku takut ada tetangga ku, di antara orang-orang itu. Nanti mereka akan bergosip tentang aku. Kasian ibu." Jelas Alea.


"Tetangga mana? Ibu kamu sudah bukan warga sini lagi. Ibu kamu sudah pindah ke apartment milikmu. Aku tidak akan tega membiatkan ibu mertuaku, tinggal di lingkungan seperti ini." Ujar Adila.


Mata Alea menatap tidak percaya. Kenapa bisa Adila mengatur semua itu tanpa diskusi denganta terlebih dulu. Ia selalu sati langkah di depan Alea.


"Kenapa kamu ngga ngomong sama aku?" Tanya Alea.

__ADS_1


"Ngapain harus bilang beb. Ibu kamu sudah jadi ibuku. Aku berhak buat dia bahagia dan nyaman."


__ADS_2