CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 19 | Mengasingkan diri


__ADS_3

Setelah membereskan dapur yang seperti kapal pecah, Alea kembali duduk di sofa dan menghela nafas berat. Rasanya sunggu melelahkan. Padahal dulu, bukan hanya dapur yang ia bersihkan, tapi semua isi rumah, yang ia bersihkan.


Melihat Alea nampak lemas dan kelelahan, Adila membawakan secangkir lemon tea, yang baru saja ia pesan dari restaurant di bawah. Niat ingin membuat sendiri, namun Alea melarang nya. Hingga akhirnya Adila memesan makanan dari luar.


"Ini untuk calon istri, yang sudah kelelahan membersihkan dapur." Adila lalu meletakan secangkir lemon tea itu di atas meja. Dan ia duduk di hadapan Alea. Ia mengembangkan senyuman manis nya pada Alea.


Melihat tatapan Adila yang sangat aneh baginya, Alea lalu melengos kesal, dan mencoba memejamkan matanya. Ia masih marah karena kejadian tadi malam. Di tambah Adila belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Ia tidak ingin bertanya, namun ia menunggu Adila yang akan menceritakan semua pada nya, seusai janjinya.


"Beb, ko malah tidur? Ini di minum dulu loh." Ucap Adila dengan suara lembut.


Namun Alea tetap tidak bergeming. Ia terus terdiam tanpa mengatakan apapun.


"Sayang. Ini loh minum, ini bagus buat kamu. Kamu kan baru siap bersihin dapur, ini buat kamu seger lagi." Kali ini Adila bedsikap seperti sales penjual lemon tea. Menawarkan, dan memberikanya langsung ke tangan Alea.


Alea tersentak kaget, saat melihat Adila sudah berada di sampingnya, dengan secangkir lemon tea di tanganga. Senyuman manis di bibir pria itu mengembang sempurna. Jika tengah seperti ini, ia seperti menjelma sebagai malaikat. Berbeda saat marah, ia akan berubah seketika.


"Simpan aja. Ngga haus." Alea masih saja ketus dan jutek. Ia tidak ingin memberikan harapan. Walaupun kenyataanya, malam tadi ia sudah memberikan yang lebih dari harapan.


"Kamu masih marah?" Mata Adila menatap Alea penuh harapan, agar Alea kembali lagi seperti sebelum ia tau kejadian tadi malam.


"Ngga usah ngajak ngomong ya, kalau sekiranya ngga penting." Jawab Alea kesal. Karena Adila masih belum peka dengan apa yang ia inginkan.


Namun, bukan Adila namanya, jika ia menyerah begitu saja. Ia lalu mengenggam tangan Alea dan menciumnya berkali-kali.


"Alvi namanya. Dia mantan tunanganku." Ucap Adila seraya menatap wajah Alea.


Akhirnya hal yang di tunggu oleh Alea datang juga. Alea mulai membuka matanya, dan mendelik kesal. Karena ini baru sebuah nama yang ia beritahu. Bukan bagaimana, dan kenapa bisa ia memutuskan pertunangan itu.


"Dia selingkuh sama klien aku. Dan ya, akhirnya aku membatalkan tunangan itu." Jelas Adila.

__ADS_1


"Darimana kamu bisa tau dia selingkuh?" Tanya Alea lagi.


Berkaca pada pengalaman hubunganya dengan Rio. Yang selalu mengatakan dirinya selingkuh, kepada semua perempuan yang tengah dekat denganya. Hingga akhirnya Alea tidak mudah percaya begitu saja.


"Dari mataku." Ucap Adila lirih. "Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri." Tukasnya.


Dari pandangan matanya, ada seberkas kesedihan yang mendalam. Namun tidak dapat ia ungkapkan. Meski pada Alea sekalipun.


Iba dan kasian, tapi Alea tisak mau begitu mudah percaya pada pria di hadapanya ini. Karena masih ada pertanyaan yang kini menganjal di hatinya. Tentang kejadian tadi malam.


"Udah kan? Semuanya udah jelas? Jadi kamu ngga perlu hawatir lagi. Aku udah bener-bener free." Ucap Adila dengan senyuman manis di bibirnya.


"Terus, yang semalam itu apa? Kamu mau pijat aama dua wanita itu?" Sembari mengernyitkan dahinya, Alea menatap Adila.


"Janjinya kan cuma bahas masalah Alvi. Jadi yang itu ngga perlu di bahas."


"Kapan aku janji? Yang ada kamu yang janji, buat ceritain semuanya."


"Oke." Alea lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar. Ia langsung mengambil tas miliknya, lalu kembali keluar. Namun Adila menahan tanganya dan kembali memeluknya.


"Aku minta maaf. Tadi malam aku hilaf. Aku ngga akan ulangi lagi." Ucap Adila lirih.


Akhirnya, Adila mau membahas masalah itu. Walaupun Alea harus berpura-pura pergi seperti ini.


Sakit? Tentu sangat sakit. Disaat Alea sudah memberikan semuanya, tapi Adila masih mencari kepuasan itu dari perempuan lain. Sampai-sampai ia rela memanggil tukang pijat seperti itu.


"Mika yang ngajak. Makanya aku iya aja." Jelas Adila.


"Oh. Oke deh. Aku juga nanti malam mau kerja lagi. Udah ya, aku mau pulang!" Ucap Alea dengan tegas.

__ADS_1


"Ngga! Kamu ngga boleh kerja lagi. Sudah ya, aku minta maaf. Jadi jangan di bahas lagi." Jawab Adila dengan enteng.


Laki-laki memang selalu seperti itu. Menanggap enteng semua masalah yang sudah terjadi. Mereka tidak sadar, apa yang sudah dilakukan pada perempuan.


"Apa hak kamu? Kamu bukan siapa-siapa aku! Aku cuma wanita malam, yang di bayar buat laya in nafsu kamu. Dan di saat aku ngga bisa turutin itu semua, kamu cari sama orang lain."


"Ngga gitu. Kamu jangan berasumsi sendiri."


"Asumsi? Terus kalau kamu anggap aku calon istri kamu, ngapain kamu sewa tukang pijit kesini? Ngapain?" Tanya Alea dengan suara lantang.


"Aku kan udah bilang, jangan di bahas. Udah, aku salah. Dan aku menyesal." Jawab Adila. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.


"Udah ya. Kali ini, biarin aku mikir dulu. Biarin aku fokus dulu sendiri, sampai kamu bisa berubah dan pastiin kalau apa yang kamu lakuin sama aku, ngga akan pernah kejadian lagi." Jelas Alea. Ia langsung melepaskan genggaman tangan Adila, dan bergegas keluar dari apartment itu.


Dengan langkah gontai, Alea kembali ke apartment yang sudah Adila berikan padanya. Ia tidak tau lagi harus pergi kemana disaat seperti ini. Hanya itu satu-satunya tempat, yang akan membuatnya merasa lebih tenang.


Sambutan mba Marni, membuat Alea kembali tersenyum. Tapi ia tidak bisa berpura-pura lebih lama di depan mba Marni. Ia langsung memilih masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu nya.


Membaringkan tubuh, di atas tempat tidur itu, kembali membuat Alea teringat. Matanya menatap langit-langit kamarnya.


"Andai saja, ayah dan ibuku tidak berpisah. Mungkin aku ngga akan seperti ini." Gumam nya. Air matanya kembali menetes di pipinya.


Menjadi anak broken home memang bukan pilihan dan keinginanya. Tapi itu semua takdur yang harus ia jalani.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan malas, Alea meraih ponselnya dan melihat nomor baru. Tanpa menunggu lama, Alea mengeser tombol hijau, dan memulai percakapan.


"Lea, nanti malam bantuin mba ya." Suara seorang perempuan terdengar dari ujung telpon.


"Ini siapa maaf?" Tanya Alea.

__ADS_1


"Ini mba Kiki. Vocalis yang kemarin nyangi sama kamu."


__ADS_2