CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 42 | Bertekuk lutut


__ADS_3

Hari pembukaan mall baru telah tiba. Pagi ini, Alea sudah berdandan rapih dan cantik. Ia sudah siap untuk mengahadiri grand opening pembukaan hotel miliknya.


Setelah berdandan satu jam, ia turun ke lantai bawah, untuk menyusul suaminya, yang sudah lebih dulu turun dari kamar.


"Sudah siap?" Tanya Adila.


"Udah beb. Yuk, nanti kesiangan." Sembari mengembangkan senyumnya, ia mengandeng tangan suaminya, keluar dari rumahnya.


Sudah dua hari ini, keduanya selalu di antar oleh supir pribadi. Adila merasa lelah, jika harus menyetir sendiri. Kondisi tubuhnya, akhir-akhir ini, memang kurang membaik. Tidak seperti biasanya.


Sepanjang perjalann, wajah Alea terus tersenyum. Ia sudah tidah sabar ingin melihat mall baru miliknya. Langit yang begitu cerah, seolah tahu perasaan Alea saat ini. Setidaknya suaminya sudah berhasil membuat ia kembali tersenyum, setelah mengetahui keadaan yang cukup sulit.


Setelah menempuh perjalanan dua jam, akhirnya Alea sampai di depan mall. Suasana nya sudah sangat ramai. Antusias warga yang ingin melihat langsung acara grand opening mall itu, serta ingin melihat seorang Adila wijaya dengan ketampananya.


"Yuk sayang." Ajak Adila pada sang istri. Ia dengan sigap mengandeng tangan istrinya, dan berjalan menuju pintu utama.


Riuh suara teriakan perempuan yang menyebut nama Adila, membuat Alea merasa bangga, karena ia menjadi perempuan yang berada di samping pria tampan itu.


Acara peresmian pun di mulai. Setelah mendengar sebuah kata sambutan dari sang pemilik mall.


......................


"Ini ruangan kaku sayang. Kemarin masih belum selsai." Ucap Adila.


Sebuah ruangan yang di desain sangat bagus, dengan furniture yang sangat mewah.


"Pak, saya tinggal dulu sebentar, tidak apa-apa?" tanya Pengawal Adila.


"Mau kemana?"


"Ada keributan di ruangan HRD pak." Jelas pria bertubuh besar itu.


"Ada apa?" Tanya Alea sembari menatap Adila dan pria bertubuh besar itu.


"Ada keributan sayang, di ruangan HRD." Jawab Adila.


Pikiran Alea langsung tertuju pada Alvi. Siapa lagi yang berani membuat keributan di tempat milik Alea ataupun Adila, kalau bukan Alvi.


Tanpa menunggu lama, Alea langsung keluar begitu saja. Adila dan juga pria bertubuh besar itu, bergegas mengikuti Alea dari belakang.


"Anak saya sudah keterima disini, tapi kenapa di tolak sekarang?" Suara seorang pria dengan lantang menunjuk perempuan yang tidak lain adalah pegawai Alea.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu, Alea langsung menerobos masuk begitu saja. Betapa kagetnya, saat ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal, kini tengah berdiri di hadapanya.


Siapa lagi kalau bukan ayah kandung Alea, san saudara tirinya yang bernama Mila. Ntah kebetulan apa yang saat ini terjadi di hidup Alea. Berkali-kali ia di pertemukan dengan pria yang sudah menghancurkan mental ibu nya.


"Alea." Ucap pria itu lirih.


"Bapak tolong sopan, ibu Alea adalah CEO mall ini." Jawab pengawal Adila.


Ayah Alea hampir saja terjatuh, setelah mendengar perkataan pria bertubuh besar itu. Mungkin ia kaget, anak yang sudah ia tinggalkan, kini menjadi seorang pengusaha sukses.


Di depan orang yang sudah meninggalkanya bertahun-tahun, Alea berusaha kuat dan tegar. Bahkan ia menunjukan wajah angkuhnya, pada ayah kandung nya itu.


"Ada apa ini?" Tanya Alea pada staf HRD.


"Bapak ini, memaksa anaknya agar di terima bekerja disini bu. Tapi sudah tidak ada lagi, lowongan pekerjaan disini bu. Dan saya sudah menjelaskan, jika disini tidak menerima lagi." Jawab Intan, staf HRD itu.


"Baik, terimakasih penjelasanya Intan." Ucap Alea.


Ayahnya masih terdiam tanpa kata, ia terlihat malu dan bingung melihat anak yang sudah ia tinggalkan itu.


"Bisa ikut saya pak? Mari kita bicara di ruangan saya." Ajak Alea pada ayah kandung nya.


Alea menyungingkan senyumnya, lalu bergegas kembali keruangan miliknya. Di dalam pikiranya, ini waktu yang tepat, untuk membuat ayahnya merasaka sakit hati yang pernah ia rasakan selama ini.


Ayahnya, dan adik tirinya, ikut masuk ke dalam ruangan Alea. Sementara Adila, meminta pengawal, untuk berjaga di ruangan itu.


"Perkenalkan saya Adila Wijaya, pemilik perusahaan wijaya corps." dengan wajah angkuh, Adila bersalaman denga ayah mertuanya, dan juga adik iparnya.


Jauh sebelum kejadian ini terjadi, Alea sempat membayangkan jika ia akan membalaskan dendamnya pada sang ayah. Dan kini, waktu itu sudab datang.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alea dengan wajah angkuh.


"Alea, maafin aya..."


"Maaf, jangan membahas masalah itu disini. Saya disini bukan.keluarga anda. Saya hanya ingin menanyakan ada kesalah pahaman apa, antara bapak dengan pegawai saya." dengan berani Alea menyela pembicaraan ayahnya itu.


Mila, gadis yang sempat bertengkar denganya kemarin, langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo pah, kita ngga butuh bantuan orang sombong ini!" ucap Mila pada ayah Alea.


"Jadi, anak ini, anak kandung anda?" tanya Alea pada ayahnya.

__ADS_1


"Ngapain kamu tanya hal itu? Bukankah kamu yang bilang, jangan membahas masalah itu disini?" jawab Mila dengan berani.


Alea tersenyum sinis, lalu menatap ayahnya, yang masih tertunduk malu.


"Sayang, jangan terlalu keras pada mereka. Mereka adalah saudaramu." Ucap Adila.


"Bukan begitu sayang, tapi saya hanya ingin bertanya, lowongan pekerjaan seperti apa yang ayahku inginkan, saya akan membantunya." Jawab Alea.


Ayahnya tiba-tiba berlutut di kaki Alea sembari terisak tangis. Adila dan juga Mila nampak kaget, melihat sikap ayah Alea.


"Maafin ayah Alea, ayah menyesal." Ucap ayah Alea sembari terisak tangis.


Alea berusaha mati-matian menahan air matanya, agar tidak jatuh di depan ayahnya itu. Harga dirinya tidak ingin terinjak begitu saja.


"Tolong jangan begini." Jawab Alea.


"Ayah menyesal." Ucap ayahnya yang terus terisak tangis.


"Pah bangun." Mila jelas tidak terima melihat ayahnya seperti ini. Ia berusaha membangunkan ayahnya, yang masih berlutut di kaki Alea.


"Mila, jangan halangi papah. Papah sudah bersalah pada kakamu." Ayah Alea menepis tangan Mila dan terus meminta maaf pada Alea.


Adila tersenyum manis, melihan situasi ini. Inilah yang ia inginkan. meski masih ada satu hal yang ia inginkan, yaitu membuat ayahnya bertekuk lutut di depan ibu mertuanya.


"Saya tidak akan pernah memaafkan anda." Ucap Alea dengan tegas.


"Kamu jangan angkuh! Ini ayah kamu!!" bentak Mila.


"Jangan bentak saya! Kita tidak saling kenal!!" Teriak Alea.


Mila terlihat ketakutan, dan tidak berani menatap Alea lagi. Ia kembali menundukan wajahnya.


"Jangan terlalu keras baby. Kasih mereka kesempatan untuk mendapatkan maafmu." Ucap Adila.


Alea tersenyum sinis, lalu menatap dua orang yang ada di hadapanya itu.


"Kalian mau bekerja disini kan?" Tanya Alea.


Ayahnya menganguk pelan sembari menatap Alea pilu.


"Kamu bisa bekerja disini, sebagai cleaning service."

__ADS_1


__ADS_2