
Karena rasa malu nya, ayah Alea dan juga Mila, akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bandung. Mereka tidak ingin membuat Alea dan juga Adila, terus terbebani dengan kondisi mereka.
Tapi, bukanya iba atau kasihan, Alea kembali marah pada ayahnya. Karena ayahnya sama sekali tidak memperdulikan dirinya dan juga adiknya, yang jelas-jelas adalah anak kandung nya sendiri, ayahnya malah pergi bersama dengan Mila dan juga Natan, yang sudah jelas bukan anak kandung nya.
Di rumah kontrakan yang sempit itu, kini Alea duduk bersama ayahnya, Mila dan juga Adila. Sejak tadi, ayah Alea hanya bisa tertunduk malu.
"Ayah harusnya jangan pernah ulangi kesalahan yang kedua kalinya, dan malah pergi gitu aja. Apa ayah ngga mikirin perasaan Lea?" tanya Alea dengan nada suara meninggi.
"Ayah lo bukan ngga peduli, tapi dia malu sa..."
"Lo diem! Gue ngga bicara sama lo!" bentak Alea, yang memotong pembicaraan Mila begitu saja.
"Gue cuma mau jelasin. Biar lo ngga nyalahin ayah lo terus." Ucap Mila.
"Lo ngga pernah ngerasain di posisi gue, dimana gue butuh sosok ayah, tapi ngga pernah gue dapetin. Lo berdua beruntung, walaupun lo berdua bukan anak kandung ayah, tapi lo berdua dapetin itu dari ayah!" Lagi-lagi, Alea harus menitikan air matanya. Padahal ia sudah berusaha agar tidak menangis di depan ayahnya dan juga Mila.
Adila yang kini duduk di samping nya, ia terus berusaha menenangkan Alea, sembari mengusap punggung istrinya. Sementara Mila, akhirnya terdiam.
"Alea baru aja, mau maafin ayah, mau menerima semua yang udah ayah lakuin sama Lea selama ini, tapi nyatanya apa? Ayah malah buat Lea kecewa lagi." ucap Alea sembari terisak tangis.
"Maafin ayah Lea. Ayah, bukan ayah yang baik untuk kamu." Jawab ayah nya lirih.
"Hanya itu yang bisa ayah ucapkan? Apa ayah ngga merasa bersalah sama adik? Dia anak kandung ayah! Bahkan ayah meninggalkan adik, disaat dia masih di dalam kandungan!!" Teriak Alea. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi.
Sang ayah, akhirnya ikut menitikan air mata. Apa yang ia lakukan sekarang, malah membuat anaknya kembali marah padanya.
"Ayah itu ngga mau ngerepotin lo! Dia malu sama lo!" Bentak Mila.
"Malu? Malu kenapa? Apa yang membuat ayah malu? Harusnya ayah bersyukur, Lea udah mau nerima ayah lagi, bahkan Lea korbankan waktu, untuk ngurusin masalah ayah. Tapi balasan ayah ke Lea kaya gini? Lea kecewa!!" Alea beranjak dari tempat duduknya, lalu hendak pergi. Namun Adila menahan lengan Alea, dan mengangukan kepalanya.
Pergi bukan lah jalan keluar untuk masalah ini. Sebagai seorang suami, Adila ingin Alea dan adik iparnya kembali bersama dengan ayahnya. Terlebih adik Alea, setidaknya, ia harus bertemu dengan ayah kandung nya, walau hanya sekali.
"Kita bicarain baik-baik sayang." Ucap Adila dengan suara lembut.
__ADS_1
"Apanya yang baik-baik? Ayah saja ngga mau lagi repotin aku. Semuanya udah jelas, ayah lebih memilih yang bukan anak kandungnya, di bandingkan aku sama adek." jawab Alea, lalu menepis tangan Adila dan keluar sembari terisak tangis.
Kali ini Adila gagal, membuat Alea tenang.
"Ini ada uang buat ayah. Kalau ayah berubah pikiran, Dila mohon temuin adik. Setidaknya sekali saja." Ucap Adila lalu memberikan amplop berisi uang, dan pergi mengejar Alea.
Rasanya sia-sia, sudah pergi jauh-jauh ke Bandung, dan mengorbankan waktunya, namun yang Alea dapatkan hanyalah kekecewaan.
Akhirnya, Alea memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dengan hati terluka. Sepanjang jalan, ia terus menangis di pelukan Adila.
Andai saja tidak ada Adila, ia tidak tahu, akan jadi apa nasibnya. Di tengah suasana hatinya yang tidak karuan, Adila menjadi penenang untuk dirinya.
"Sayang, jangan nagis terus dong. Nanti matanya bengkak loh." Ucap Adila sembari menghapus air mata Alea.
"Salah ya, kalau aku mau ayah sayang sama aku, dan juga adik? Apa permintaan aku terlalu berat?" Tanya Alea.
"No sayang. Kamu ngga salah. Setiap anak, juga pasti akan menginginkan hal yang sama. Mungkin ayah butuh waktu, buat nenangin dirinya. Kamu yang sabar ya, suatu hari, ayah akan kembali sama kamu dan adik." Jawab Adila.
Setidaknya, perkataan Adila membuatnya kembali terasa tenang. Walaupun hatinya masih terasa sakit.
"Sayang bangun. Kita udah sampai." Bisik Adila. Tanganya terus mengusap pipi Alea dengan lembut.
"Udah sampai?" jawab Alea lirih. Ia membuka matanya, dan melihat tengah berada di depan lobi apartment ibunya.
"Ko disini?" Tanya Alea bingung.
"Siapa tau, kamu mau ketemu ibu dulu, yuk?" Ajak Adila dengan penuh semangat.
Alea lalu, keluar lebih dulu, dan membenahi pakaianya. Seperti biasa, security dan recepsionist, menyapa Alea dan Adila dengan sopan.
Mereka tentu sangat mengenal baik, Alea juga Adila.
"Sayang, jangan bicara apa-apa ya, sama ibu. Aku ngga mau ibu jadi kepikiran." Ucap Alea pada suaminya.
__ADS_1
Adila hanya menganguk pelan, sambil tersenyum. Hingga akhirnya, mereka sampai di depan unit apartment ibunya.
"Loh darimana?" tanya ibu nya dengan wajah kaget.
"Abis kerja ke Bandung, pulang mau makan masakan ibu." Jawab Alea yang langsung memeluk ibunya.
"Bandung?" tanya ibunya kaget.
"Iya bu, Adila ada proyek disana." Jawab Alea.
Ibunya hanya terdiam, lalu tersenyum pada Adila. Ada yang aneh dari ibunya. Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.
"Ka Dila!!" Teriak adik Alea, yang baru saja keluar dari kamar. Ia langsung memeluk Adila dengan erat.
"Apa ini?" Tanya Adila menunjuk mainan di tanganya.
Tidak biasanya adik Alea membawa mainan seperti ini.
"Ini mainan dari ayah." Jawab adik Alea.
Alea dan Adila tersentak kaget, lalu menatap ibunya. Ternyata dugaan Alea benar, jika ibunya memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ayah? Ayah siapa?" tanya Alea lalu menghampiri adiknya
"Ayahnya adik dong kak. Kemarin, ayah kesini, terus ngasihin mainan. Tapi, ayah pergi lagi, soalnya ibu ngga suka ayah datang." Jawab adik Alea.
Kini tatapanya beralih pada sang ibu, yang berdiri di samping meja makan.
"Bu, ini maksudnya apa?" tanya Alea.
"Itu cuma..." Ibunya menghentikan perkataanya, lalu duduk di meja makan. Matanya berkaca-kaca, sembari menatap adik Alea dan juga Alea bergantian.
"Ayah kesini bu?" Tanya Alea lagi.
__ADS_1
"Iya ka Lea, kemarin ayah kesini, sama kaka Mila dan adik Natan. Terus ayah ngasihin ini sama adik."