CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 43 | Berbalik


__ADS_3

Balas dendam memang salah satu tujuanya. Alea bahkan ingin membuat ayah dan keluarga barunya, merasakan apa yang ia dan ibunya rasakan. Tidak ada lagi maaf bagi ayah yang sudah membuat hidupnya selama ini menderita.


Kali ini, Alea sudah cukup puas dengan melihat ayahnya menangis pilu di hadapanya. Walaupun ia juga harus merasakan sakit hati, karena ayahnya sangat memperjuangkan Mila, berbeda dengan dirinya, yang tidak pernah merasakan hal itu. Apalagi, adiknya, yang sejak dari kandungan, tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah.


"Jaman sekarang cari kerjaan susah, kalau mau ya silahkan ambil, kalau tidak ya sudah. Saya tidak akan memaksa." Ucap Alea. Tatapan kebencian, sangat jelas ia perlihatkan pada kedua orang yang ada di hadapanya saat ini.


"Pah udah, ayo kita pergi. Masih banyak yang mau terima Mila." Perempuan bernama Mila itu langsung menarik tangan ayah Alea dengan kasar, namun kembali di tepis, hingga Mila hampir saja jatuh.


Adila dan pengawal yang ada di dalam ruangan yang sama, hanya terdiam dan tersenyum. Adila terus membiarkan istrinya melakukan apa yang ia inginkan.


"Lea, ini ayah kamu, dan ini adik kamu Lea. Tolong kamu pikirkan la..."


"Ayah Lea sudah meninggal, sejak Lea masih kecil!" Dengan suara bergetar, akhirnya Alea berani mengatakan hal itu. Perkataan yang selalu ia pikirkan, sejak saat ibunya di usir oleh neneknya sendiri.


Dengan senyuman manis, Adila beranjak dari tempat duduknya, lalu membantu ayah mertuanya untuk berdiri.


"Bapak tidak perlu begini. Biarkan Alea tenang untuk beberapa saat ini. Sekarang, lebih baik bapak pulang dulu. Nanti saya akan coba bujuk Alea." ucap Adila.


Pria paruh baya itu, nampak percaya dan menganguk pelan. Akhirnya ia mau pergi dari ruangan itu, setelah Adila mengatakan hal itu padanya.


Setelah kedua orang itu pergi, Alea menangis terisak di pelukan suaminya. Berusaha tegar di depan orang yang sudah membuat hidupnya terluka, memang susah. Tapi Alea sudah berhasil membuktikanya, meski pada akhirnya ia juga menangis.


"Sabar sayang. Lebih baik, sekarang kita pulang saja dulu." Ucap Adila, dengan suara lembut sembari terus mengusap punggung istrinya.


Ia lalu membawa Alea keluar dari ruanganya, dan bergegas menuju parkiran. Untung saja tidak ada yang melihat Alea menangis saat ia keluar dari ruanganya.


"Kita kemana pak?" tanya sang Supir sembari fokus pada kemudinya.


"Ke rumah aja." jawab Adila.


"Aku mau ke apart." sahut Alea dingin. Wajahnya terus menatap ke arah jalanan. Yang bisa menenangkanya saat ini, hanyalah ibu nya sendiri.


"Are you sure? Apakah ibumu akan baik-baik saja, kalau kamu bertemu dengan dia sekarang?" tanya Adila.


"Aku yakin."


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Supir pun harys mengubah rute perjalananya, menuju ke apartment ibunya Alea.


......................


Alea tak kuasa menahan tangisnya, saat melihat ibunya. Ia langsung memeluknya begitu saja, tanpa mengatakan apapun.


Ibunya nampak bingung, sembari terus menatap Adila. Namun ia berusaha menenangkan anaknya terlebih dahulu, sebelum ia menanyakan ada masalah apa dengan anaknya.


"Anak ibu kenapa?" tanya ibunya sembari berusaha mengusap air mata anaknya.


"Bu, Lea udah jahat sama ayah." Jawab Alea lirih.


"Maksudnya?"


"Ayah Alea tadi datang ke mall bu." Jelas Adila.


"Mall?" Tanya ibu Alea kaget. Ia belum tau, jika Alea dan Adila baru saja membuka mall baru.


Adila kembali menceritakan semua kejadian tadi dari awal padanibu Alea. Ternyata ibu Alea sangat kaget. Ia juga menitikan air matanya, namun buru-buru ia hapus lagi.


"Kamu hebat. Tidak perlu kamu sesali." Ucap ibu Alea dengan nada bergetar.


"Siapa bu?" Tanya Alea lalu menghampiri ibunya. Ia menatap layar ponsel ibunya dan langsung merebut ponselnya begitu saja, setelah melihat nama ayahnya di layar ponsel ibunya.


Nomor ponsel, dan nama ayahnya, tidak pernah ibu Alea ganti. Ntah apa alasanya, namun ia selalu berharapa nomor itu akan kembali menghubunginya seperti dulu lagi.


Tanpa menunggu lama, Alea langsung menjawab telpon dari ayahnya, dan menghidupkan speaker telponya.


"Akhirnya, kamu menjawab telpon ku juga. Aku tau Ni, kamu akan menjawab telpon ini lagi. Hanya kamu sekarang satu-satunya harapanku." Ucap ayah Alea panjang lebar.


"Ada apa?" jawab ibu Alea dingin.


"Tolong bujuk Alea, untuk menerima lamaran kerja Mila. Walau bagaiamanapun, Mila adalah adiknya, sudah sewajarnya, Alea membangu adiknya sendi...."


"Jangan pernah suruh ibuku!" Bentak Alea.


Hening, tidak ada jawaban apapun dari ayahnya. Ia pasti kaget mendengar Alea yang menjawab telpon darinya.

__ADS_1


"Jangan pernah bermimpi, aku akan bantu keluarga kalian! Mulai detik ini, aku akan pastikan, keluarga kalian akan sengsara!" teriak Alea dengan suara lantang.


"Lea ini aya..."


Alea langsung mematikan panggilan telponya begitu saja, dan melempar handphone ibunya ke jendela. Masalah handphone, ia bisa membelikanya lebih dari itu.


"Lea, kenapa kamu buang handphone ibu nak?" tanya ibunya sembari menatap Alea dengan pilu.


"Lea ganti yang belih bagus besok. Yang penting, ibu jangan pernah komunikasi dengan dia lagi." Jawab Alea.


Ibunya hanya terdiam, lalu kembali duduk di sofa. Wajahnya kembali sedih.


Alea sangat mengerti perasaan ibunya saat ini, tapi, ia tidak ingin membuat masalahnya semakin panjang, jika ibunya harus terlibat.


"Sayang, kamu bisa bantu aku?" Tanya Alea pada suaminya.


Adila seolah sudah paham, apa yang Alea inginkan. Ia langsung memberikan ponselnya, dan menunjukan sebuah foto pada Alea.


Sebuah rumah yang kecil, dan terlihat ayah Alea tengah menyapu halaman. Sementara ibu tirinya duduk di kursi seperti tuan rumah dan pembantu.


"Ini kamu dapat darimana?" Tanya Alea kaget.


"Kamu mau lihat kesana sekarang?" Ajak adila pada Alea.


"Kenapa? Ada apa?" tanya ibunyq penasaran.


Alea langsung memberikan ponsel Adila pada ibunya. Bukan hanya Alea yang kaget, ibunya pun demikian. Padahal, saat berumah tangga dengan ibunya, ayah Adila bak raja, yang selalu di layani dengan baik oleh ibinya.


"Lea, kamu harus bantu ayah kamu. Ibu sudah feeling, kalau perempuan itu memang jahat." ucap ibunya sembari mengenggam tangan Alea.


"Ngga bu, itu sudah resiko dia." jawab Alea.


"Sayang, benar apa kata ibumu. Aku sudah mencari tau, dan ayahmu hidup menderita selama ini." Bujuk Adila sembari memeluk istrinya dari belakang. Hanya Adila yang mampu membujuknya seperti ini.


Bukan Alea tidak menghargai ibunya, tapi ibunya selalu menutupi kejadian yang sebenarnya. Dan itu membuat ia tidak percaya pada ibunya.


"Apa kamu yakin?" Tanya Alea.

__ADS_1


"Yakin sayang. dua hari ini, aku sudah menyuruh orang untuk mencari informasinya."


__ADS_2