CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 36 | Pembalasan Alvi


__ADS_3

Pagi ini, Alea akan kembali memulai aktifitas seperti biasanya. Di awali dengan pergi ke hotel, untuk mengecek situasinya, lalu di lanjut perg ke kampus.


Kali ini, Alea pergi bersama supir pribadinya, sekaligus sekretaris dan juga Asisten pribadinya. Sedangankan Adilan ia harus berangkat meeting keluar kota pagi tadi. Hingga akhirnya Alea di antar oleh Nia.


"Bu, saya tunggu atau bagaiaman?" Tanya Nia setelah mereka sampai di plataran parkiran.


Usia Nia dan Alysa, terpaut 3 tahun, lebih tua Nia. Namun sebagai bawahan, Nia tetap harus menjaga sopan santunya.


"Mba Nia pulang aja dulu. Kalau saya sudah selsai, nanti saya kabarin mba lagi." Jawab Alea.


"Tapi bu, nanti pak Adila akan marah pada saya. Karena beliau mengatakan, saya harus menunggu bu Alea disini." Terang Nia.


Suami posesifnya itu, sudah pasti tidak akan mengijinkan Alea sendirian. Namun, Alea merasa tidak enak, jika Nia harus menunggunya dua jam di parkiran. Alea tau, bagaiamana rasanya tidak enak saat harus menunggu seseorang, selama berjam-jam. Di tambah, terik matahari sudah mulai menyengat.


"Bos nya kan saya, bukan pal Adila. Jadi, mba Nia.pulang saja." Sembari mengedipkan mata, Alea lalu turun dari mobilnya, dan segera masuk ke dalam kelas.


Hari ini, hanya ada satu mata kuliah saja. Dan akan selsai, pukul 11 siang nanti.


Saat Alea masuk ke dalam ruangan kelas, ternyata masih sepi. Hanya ada dua orang yang duduk di ruangan itu. Padahal seharusnya, pelajaran sudah di mulai.


"Kelasnya belum mulai ya?" Tanya Alea pada kedua gadis yang duduk di kelas itu. Sebagai mahasiswa baru, Alea belum mengenal siapapun di kelasa ini. Maklum, ia datang di saat pelajaran akan di mulai saja, lalu setelah itu, ia akan pulang.


"Dosenya ngga masuk. Jadi hanya tugas saja. Kamu ngga buka grup kelas?" Jawab perempuan itu.


"Grup kelas? Belum sih. Aku mahasiswa baru soalnya."


"Oh gitu. Ya udah, sini nomor handphone kamu, biar gue masukin ke grup." Perempuan itu memberikan ponselnya pada Alea.


Tanpa menunggu lama, Alea langsung menuliskan nomor handphone nya, di ponsel perempuan itu.


"Ini mba. Nama saya Alea." Ucap Alea lalu memeberikan ponselnya kembali pada pemiliknya.

__ADS_1


"Gue Prita, ini Vira. Salam kenal." Jawab perempuan bernama Prita, sembari mengulurkan tanganya.


"Alea. Salam kenal juga. Bye the way, makasih ya, udah ngasih tau grup kelas. Ini undanganya udah masuk." Terang Alea, sembari fokus pada layar ponselnya.


"Sama-sama." Ucap keduanya kompak.


Setelah selsai, berkenalan dan berbicara sebentar dengan kedua teman barunya, Alea pun pamit pulang. Saat ia berjalan ke parkiran, ia baru teringat jika Nia asisten nya, sudah ia suruh pulang. Dan Alea tidak mungkin menyuruh Nia untuk kembali menjemputnya di kampus.


Tidak ada pilihan lain, Alea memilih naik taksi, yang kebetulan lewat di depan kampusnya. Hari ini, tidak ada jadwal yang begitu penting di hotel. Semua sudah ia cek, tadi pagi. Semuanya aman terkendali.


"Kemana ini mba?" Tanya supir taksi.


Alea terdiam sejenak. Jika pulang kerumahnya, ia akan bosan karena hanya sendirian disana. Meski ada tiga Asisten rumah tangganya, tapi ketiganya seperti menjaga jarak dengan Alea. Mungkin mereka tidak enak dengan Alea sebagai majikan. Hanya apartment ibunya, satu-satunya pilihan yang tepat.


"Apartmen boulevard pak." Jawab Alea.


"Baik mba." Sang supir mengangukan kepalanya, tanda ia paham dengan perkataan Alea.


Perjalanan dari kampus menuju apartment ibunya, cukup lumayan jauh. Hampir menempuh satu jam perjalanan. Di tambah, dengan macetnya kota Jakarta, yang tidak pernah berhenti. Hingga akhirnya, perjalanan pun sampai.


"Bu, Ini Lea." Teriak Alea sembari memijat bel berkali-kali.


Derap langkah kaki dari dalam, mulai terdengar mendekat. Tidak berselang lama, ibu nya menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Kamu? Ibu pikir siapa." Setelah memastikan yang datang adalah anaknya, ibunya pun membuka pintu lebar-lebar.


Bau apartment pagi itu, membuat perut Alea keroncongan. Sejak memutuskan keluar dari rumah, Alea sudah tidak pernah lagi mencicipi masakan ibunya.


"Ibu masak apa?" Tanya Alea.


"Masak sup ayam. Adik kamu, tadi pagi demam. Tapi maksain pergi kesekolah. Katanya ada ulangan." Jawab ibunya lalu kembali ke dapur.

__ADS_1


Masakan ibunya, meski sangat sederhana, dan tidak se mewah makanan restaurant yang selalu ia makan bersama Adila, tapi mempunyai cita rasa yang khas. Bisa di katakan, masakan ibunya adalah makanan terenak yang pernah ia rasakan.


Sambil melihat ibunya memasak, Alea memilih duduk di meja makan. Tatanan apartment belum ada yang berubah. Tapi sedikit lebih bersih.


"Mba Ijah kemana?" Tanya Alea lagi.


"Lagi jenguk anaknya yang sakit. Seminggu ini dia libur. Makanya ibu masak lagi."


"Oh gitu. Jadi ibu disini berdua? Ngga takut lagi sama ketinggian?" Tanya Alea. Dari dulu, ibunya pobia pada ketinggian. Sementara apartment itu berada di atas ketinggian, bukan seperti rumah pada umumnya.


"Adik kamu senang. Di sini ada kolam renang nya. Ada juga lapangan basket nya. Jadi ya sudah, ibu beranikan diri saja." Jawab ibunya, sambil meletakan panci sup di atas meja makan. Wanginya benar-benar sangat menggoda. Alea sampai tidak sabar ingin mencicipi sup ayam itu.


Seperti biasa, ibu Alea menyiapkan sepiring makanan untuk Alea. Suatu kebiasaan yang tidak pernah berubah. Meski kini Alea sudah menikah.


"Makan yang banyak. Kayanya kamu kurusan sekarang." Ucap ibunya.


"Ngga kurusan gimana, makananya aneh-aneh terus. Yang Lea ngga pernah makan sama sekali bu." Jawab Alea sambil melahap makananya.


Ibi Alea beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi ke kamar, dan kembali sembari membawa amplop berwarna putih.


"Itu apa bu? Ibu mau kasih uang buat Lea?" Tanya Alea.


Ibunya menghela nafas berat, lalu membuka amplop itu, yang ternyata berisi foto. Ia lalu memperlihatkan foto Adila bersama Alvi saat tunangan.


Hampir saja Alea memuntahkan makananya, karena kaget. Ntah darimana ibunya mendapat foto itu.


"Ini istrinya Adila?" Tanya ibu Alea. Matanya mulai berkaca-kaca seolah menahan tangis nya.


"Ibu dapat darimana foto ini?" Jawan Alea.


Ibunya hanya memberikan secarik kertas, yang juga berada di dalam amplop itu. Ia lalu memberikanya pada Alea.

__ADS_1


Dan ternyata, foto itu di kirim oleh Alvi. Ia mengaku dirinya adalah istri sah Adila, dengan memberikan foto preewedding mereka pada ibu Alea.


"Kamu merebut suami orang? Kenapa kamu lakuin itu? Harusnya kamu tau, bagaiaman sakitnya ibu kamu di hianati ayahmu."


__ADS_2