
Sesuai perkataan Diana, akhirnya Adila membuka semua rahasia tentang Alvi di media sosial. Bukti video dan sebuah pesan singkat, Adila unggah semua bukti itu. Tidak lupa, ia juga memberitahu ibu Alea, agar ia tidak termakan berita yang menyebar.
Seharian Alea di permak oleh Diana. Penampilanya sudah berunah menjadi lebih baik. Tapi, perasaanya yang kembali tidak enak. Ia sudah melihat semua bukti video dan pengumuman yang Alvi buat di media.
Bukan masalah cemburu, tapi ia tidak ingin di usik akibat permasalahan ini. Karena ia tau, dirinya akan terkena imbas dari masalah ini.
"Sip, semuanya beres. Tinggal fitting baju pernikahan lo." Diana kembali menyimpan sisir, dan pergi membawa baju pengantin untuk Alea.
Namun sebelum Diana kembali, Alea turun ke lantai bawah, dan menghampiri Adila. Ia mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan berita itu pada Adila.
"Ini apa??" Tanya Alea dengan wajah kesal.
"Kerjaan orang gila sayang. Aku udah klarifikasi. Jadi kamu ngga usah hawatir. Ibu kamu juga udah aku kasih tau."
"Kamu ngga mikir, gimana kalau dia buka tentang siapa aku?"
"Ngga akan berani. Udah, sekarang kamu coba gaun dulu, abis itu kita ke kantor. Ada yang perlu aku urus disana." Tanpa menoleh Adila terus menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat pucat. Tidak tenang seperti biasanya.
Alea pun kembali ke lantai atas, menghampiri Diana yang sudah siap dengan gaun pengantin. Ada tiga pilihan warna yang sudah Diana siapkan. Tapi Alea lebih memilih warna putih.
Diana pun meminta Alea untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia meninggalkan Alea seorang diri, lalu menunggunya di luar.
"Cantik." Gumam Alea. Ia menatap dirinya di cermin, dengan penampilan yang sudab berbeda. Potongan rambut dan gaun yang saat ini ia pakai, nampak serasi dan cocok. Namun ia enggan keluar.
Lima menit sudah ia menatap dirinya di cermin. Hingga akhirnya Diana memanggilanya untuk keluar.
"Waw, amazing. You look so beautiful." Ucap Diana saat melihat Alea keluar dari ruangan fitting baju.
Namun mata Alea terus mencari sosok Adila, yang seharusnya ada di ruangan itu. Seharusnya ia yang mengatakan hal itu padanya.
"Mau coba yang lain?" Tanya Diana yang kini berdiri di hadapan Alea.
"Ngga mba. Ini aja." Jawab Alea sungkan.
"Ngga perlu di pikirin. Sudah lama gue ngga suka sama perempuan itu." Diana tiba-tiba mengatakan hal itu pada Alea. Seolah ia bisa membaca pikiranya saat ini.
"Adila mempertaruhkan perusahaanya demi lo. Dia membuka aib Alvi di media sosial, sama aja dia bunuh diri." Jelas Diana.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Perusahaan Adila membuat kesepakatan dengan perusahaan Alvi. Yang isinya gue ngga tau. Dan sekarang, demi lo, dia buka aib Alvi. Dia ngga mau kehilangan lo. Sebaiknya, lo beri dukungan buat Adila."
"Mba kenapa bisa tau semua ini?" Sejak tadi pertanyaan ini terus muncul di kepalanya. Namun Alea tidak berani menanyakan hal itu. Karena sepertinya, perempuan cantik ini tau semua hal yang Adila lakukan.
Diana kembali duduk di sofa, dan memberikan album foto pada Alea.
"Gue sama dia sepupuan. Dan dia juga sahabat gue dari kecil. Kita tumbuh bareng. Jadi, gue minta sama lo, jangan buat dia sakit hati, sama seperti apa yang Alvi lakuin." Jelas Diana.
Alea kembali terdiam. Ia tidak tau jika kejadianya seperti ini. Dengan cepat ia kembali keruangan fitting, dan menganti pakaianya kembali. Setelah itu, ia buru-buru turun, bahkan ia lupa pamit pada Diana.
Wajah Adila masih sama. Ia terus fokus pada layar ponselnya, sembari mengacak-acak rambutnya.
Tanpa tau malu, Alea langsung memeluk Adila dan mencium pipinya.
"Kita hadapi sama-sama." Bisik Alea dengan lembut.
Pria tampan itupun menoleh ke arah Alea dengan wajah bingung. Namun Alea mengembangkan senyumnya, lalu mengenggam erat tangan Adila.
"Aku tau, ini ngga mudah buat kamu. Tapi aku akan terus ada di sisi kamu." Ucap Alea sembari mengangukan kepalanya.
"Makasih sayang. Akhirnya kamu paham apa yang aku rasakan." Ucap Adila sembari mencium pucuk kepala Alea.
"Ayo kita pergi sekarang. Jangan biarkan masalah ini larut." Alea lalu beranjak dari tempat duduknya, dan mengandeng tangan Adila keluar.
Apa yang Diana katakan pada Alea, membuat Alea kembali semangat. Ia salah, karena menakutkan rahasianya terbongkar dan semuanya hancur, yang padahal, Adila lebih banyak mempertaruhkan semuanya untuk Alea.
Sepanjang perjalanan, Alea terus mengenggam tangan Adila. Meski ponsel Adila sejak tadi terus berdering, namun Adila mengabaikanya begitu saja. Sampai akhirnya mereka tiba di perusahaan Adila. Perusahaan yang sangat besar dan megah. Siapa yang tidak kenal dengan Wijaya grup.
Sebelum turun, Adila meraih paper bag yang ada di bangku belakang. Blazer berwarna putih untuk perempuan, ia berikan pada Alea. Serta tas mahal yang baru saja ia beli.
"Pake ini. Kamu ikut aku rapat dengan direksi." Ucap Adila.
Seumur hidup, ini kali pertama Alea berdandan seperti perempuan kantoran. Bahkan ia di ajak meeting dengan dewan direksi, yang biasanya ia lihat di drama televisi.
"Aku ngapain nanti?" Tanya Alea bingung.
__ADS_1
"Ikut aja." Adila turun lebih dulu, dan membuka pintu mobil untuk Alea.
Ia tidak segan mengandeng tangan Alea masuk ke dalam perusahaan itu. Seluruh karyawan menyambut kedatanganya dengan sopan. Namun pandangan mereka tidak luput dari Alea yang berjalan di samping Adila.
Bisikan para karyawan, yang ntah membicarakan hal apa, membuat Alea tidak percaya diri. Tapi lagi-lagi ia teringat perkataan Diana, yang memintanya untuk menjaga Alea.
"Siang pak. Rapat sudah mau di mulai." Sapa seorang pria dengan jas dan dasi serta tatanan rambut super rapih.
"Saya kesana." Jawab Adila lalu masuk ke dalam ruangan bersama Alea.
Ruangan itu begitu tegang. Tidak ada senyuman dan sapaan untuk Adila.
"Saya minta, pak Adila turun dari posisinya sekarang." Ucap seorang perempuan paruh baya, yang duduk di kursi paling ujung.
"Alasanya?" Tanya Adila dingin. Ia terus membaca semua berkas yang ada di hadapanya.
"Pak Adila sudah membuat harga saham kita turun."
"Iya bener. Kalau begini, perusahaan akan mengalami kerugian."
"Sebaiknya ibu Adel yang memimpin ini kembali."
Tidak ada satupun di antara mereka yang membela Adila. Semua menyudutkan Adila, karena sudah menyebarkan rahasia Alvi.
"Dan bapak malah sengaja membawa perempuan ini kesini, di tengah-tengah berita panas?" Teriak perempuan tadi. Kali ini ia berani menunjuk Alea.
"Jangan berani bicara seperti itu pada calon istri saya!" Bentak Adila. Kesabaranya sudah habis, ia mengebrak meja yang ada di hadapanya.
"Bener sepertinya, perempuan ini yang sudah membuat bapak dan perusahaan ini jadi kacau!"
"Jangan berani ben...."
"Jangan buang energi kamu. Sepertinya, yang ada disini sudah menerima bayaran yang sesuai, untuk akting nya." Ucap Alea memotong pembicaraan Adila.
"Maksud kamu apa? Perempuan malam seperti kamu tau apa?" Teriak perempuan itu lagi.
Dugaanya benar, Alvi sudah tau jika Alea perempuan malam, dan menyebarkanya pada semua orang.
__ADS_1
"Saya memang perempuan malam, tapi saya tau mana yang baik dan yang buruk! Saya tidak akan membela orang yang salah, hanya demi uang! Seandainya posisinya di balik, dan suami anda selingkuh dari anda, lalu orang lain membela suami anda, dan menyudutkan anda wanita terhormat, apa yang akan anda lakukan!!"