CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 64 | Sahabat baik


__ADS_3

Alea masih belum percaya, jika ia bisa mengunakan kekuasaan Adila sebagai pemilik Wijaya grup. Bukan hanya hotel, dan perusahaan, keluarga Wijaya juga mempunyai rumah sakit, dan sekolah swasta, yang di beri label sekolah elite di kota itu.


Siapa saja yang sekolah disana, tentu nya akan merasa dirinya paling kaya raya. Karena uang masuk, dan biaya perbulanya tidak main-main.


Untung saja, seminggu yang lalu, Nia memberitahu, apa saja aset yang di milik oleh kelyarga Wijaya.


Bela, Adik Nadia nampak kaget, saat mendengar, jika Alea adalah pemilik sekolah, tempat ia belajar.


"Kenapa? Kaget? Saya bisa dengan mudah, menuntut anda, karena sudah memeras Nadia, secara tidak langsung, belum lagi, anda melanggar perjanjian anatara panti asuhan dan juga suami anda. Saya bisa lakukan itu semua." Alea menjeda perkataanya. "Dan kamu, kamu masih kecil, jadi jangan pernah kamu berlaku tidak sopan pada Nadia, karena dia adalah kaka kamu. Atau kamu, akan tau akibatnya." Ucap Alea sembari menatap ibu angkat Nadia dan juga Bela adiknya bergantian.


"Jangan mimpi! Sekolah saya milik keluarga Wijaya! Kamu siapa? So mengaku, itu punya kamu. Aku tau, kamu itu temenya Nadia yang paling miskin kan?" jawab Bela dengan angkuh dan sombong.


Sebagai asisten, Nia sangat tidak terima, melihat bosnya di perlakukan seperti itu. Ia langsung memberikan kartu nama milik Alea pada anak kecil itu.


"Jaga bicara kamu. Atau bu Alea, akan buat perhitungan sama kamu." Ucap Nia.


"Al, udah ya. Jangan di bahas lagi. Biarin mereka pergi." Nadia terlihat ketakutan dengan dua perempuan, yang jelas-jelas membuat hidupnya sengsara.


Mungkin di awal, Nadia menolak untuk bekerja malam. Tapi setelah ia terjun langsung, dan menikmati hasilnya, ia pun mulai nyaman. Tapi semua itu tidak akan abadi, sampai akhirnya, Nadia harus menimpa hal seperti ini.


"Alah, ini palingan editan!" Dengan sombong, Bela melemparkan kartu nama milik Alea.


"Palingan juga halu, kaya si Nadia ini." Jawab ibu angkat Nadia sembari tersenyum sinis.


Nia yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan kedua perempuan itu, langsung menghubungi Komite sekolah SMA Nusantara.


Dengan sengaja, Nia menghidupkan speaker ponselnya, agar kedua perempuan itu mendengar pembicaraan mereka.


"Selamat siang ibu Nia." Sapa pak Edward, dari ujung telpon.


"Siang pak. Saya mau memberikan informasi, jika murid SMA Nusantara, bernama Bela, melakukan tindakan tidak terpuji, pada ibu Alea, istri dari pak Adila Wijaya." jawab Nia.

__ADS_1


Alea hanya terdiam, dan menatap kedua orang yang ada di hadapanya itu.


"Waduh, saya meminta maaf bu. Saya akan menindak lanjutinya besok di sekolah. Sampaikan permintaan maaf saya pada bu Alea, atas nama perwakilan sekolah." Jelas pak Edward.


"Kalau bisa keluarkan saja dia dari sekolah itu pak. Karena dia sudah mencoreng nama baik sekolah, dan juga nama yayasan Wijaya." ucap Nia.


"Baik bu. Saya pastikan, murid itu akan menerima hukuman yang setimpal." Jawab pak Edward.


"Terimakasih pak Edward." Nia pun langsung mengakhiri panggilan telponya.


Akhirnya, ibu angkat Nadia dan juga Bela, terdiam dan menunduk malu, karena ulahnya sendiri.


"Sebenarnya, saya paling tidak suka mengusik kebahagiaan orang lain. Apalagi, saya harus membuat orang keluar dari sekolah impianya. Tapi, saya tidak akan tinggal diam saja, kalau yayasan yang sudah di bangun oleh keluarga suami saya, melahirkan murid tidak sopan seperti kamu." Ucap Alea dengan tatapan sinis.


"Mah ini gimana?" bisik Bela pada ibunya. Ia terlihat sangat ketakutan. Padahal tadi, ia sangat belagu, dan sombonng.


Wajah ibu angkat Nadia, yang semula terlihat sombong dan angkuh, kini ia tersenyum pada Alea, dan berusaha mengenggam tangan Alea, tanpa tahu malu.


"Yang berbuat itu anak ibu. Saya hanya mengikuti arah permainan yang kalian buat." Jawab Alea.


"Saya mohon. Jangan buat anak saya keluar." Perempuan itu nampak terus memohon pada Alea, tapi kali ini, Alea menepis tangan perempuan itu, dan berjalan mendekati tempat tidur Nadia.


"Saya bisa saja, mempertahankan anak ibu. Asal dengan satu Syarat." Ucap Alea.


"Apa bu? Saya akan penuhi semua.syaratnya." jawab ibu angkat Nadia.


"Jangan pernah, ganggu hidup Nadia lagi. Dan jangan pernah meminta uang, ataupun memeras Nadia lagi. setuju?" Tanya Alea lalu menatap Nadia.


"Tapi, bagaiamana dengan hutangnya? Terus siapa yang akan bayarin kebutuhan kami?" Perempaun ini benar-benar tidak tahu malu. Ia bahkan masih sempat bertanya siapa yang akan memenuhi kebutuhanya.


"Ya itu urusan kalian. Yang jelas, urusan Nadia sudah selsai. Itu juga, kalau masih mau sekolah di SMA Nusantara." Jawab Alea.

__ADS_1


"Al, please, jangan gini. Nanti gue yang kena." bisik Nadia.


"Lo ngga akan kenapa-napa. Lo tenang aja, selama ada gue, lo bakalan aman." Ucap Alea.


"Gimana? Kalau setuju, saya akan meminta pak Edward untuk tidak mengeluarkan anak anda dari sekolah." tanya Nadia.


"Please, saya mohon. Saya sangat mohon, jangan buat saya memilih ini." Jawab perempuan itu.


"Sudah lah Nia, suruh mereka pergi. Saya muak melihatnya." Ucap Alea.


"Mah, udah lah. Kita bebasin ka Nadia. Demi sekolah ku. Aku ngga mau ya, sekolah di tempat biasa." Dengan wajah sinis, Bela meminta hal itu pada ibunya.


Benar-benar sangat tidak tau malu, dan tidak tau di untung.


"Tapi, siapa yang akan kasih makan kita? Terus kebutuhan kamu, shoping mamah, darimana?" tanya perempuan itu.


"Ya udah, kita pikirin nanti." Jawab Bela.


Akhirnya, perempuan itu setuju dengan permintaan Alea, untuk tidak menganggu Nadia lagi. Kedua perempuan itu pun keluar dari ruangan Nadia.


Alea tidak bisa membayangkan, bagaiaman tertekanya Nadia selama ini. Ia di tuntut, untuk memenuhi keinginan gila orang tua angkatnya, dan juga adik angkatnya.


"Al, makasih." Nadia kembali menitikan air matanya, sembari mengenggam tangan Alea.


"Sama-sama. Untuk sementara waktu, lo tinggal sama nyokap gue aja. Dia juga cuma berdua sama adik gue." ucap Alela. Akan lebih aman, jika Nadia tinggal di apartment ibunya. Sekaligus, Nadia juga bisa belajar, dari ibu Alea.


"Bu, saya permisi dulu." bisik Nia. Ia pun keluar dari ruangan Itu, meninggalkan Alea juga Nadia.


Sebagai seorang sahabat, Alea harus menolong Nadia, agar ia tidak terlalu terjerumus kedalam lubang yang salah. Karena ia tau, Nadia adalah anak yang baik, yang bisa di arahkan.


"Besok-besok, lo jangan pendem masalah sendirian. Lo cerita sama gue." Ucap Alea lalu mengenggam tanganya.

__ADS_1


"Iya, gue janji. Makasih banyak ya Al, lo sahabat terbaik gue."


__ADS_2