
Kaget dan tidak percaya, mendengar perkataan Adila, jika hotel yang tadi malam ia tempati, kini akan menjadi miliknya. Tapi, itu kenyataanya. Ibu Adila mempercayakan Alea, untuk memegang kendali hotel mewah itu.
"Kamu serius dengan ucapanmu itu?" Dengan tatapan tidak percaya, Alea menatap suaminya yang kini duduk di samping nya.
Anggukan dan senyuman manis menjadi jawaban sang suami. Ia pun meraih ponselnya, dan menghubungi sekretaris ibunya, lalu memintanya untuk datang menemuinya di hotel.
Adila bukan tipikal laki-laki yang selalu menberitahu apapun yang terjadi. Termasuk soal ibunya, yang akan memberikan hadiah hotel itu untuk Alea.
"Kamu ganti baju dulu sayang, kita pergi ke restoran di bawah." Seraya mencium kening istrinya, Adila lalu beranjak dari tempag tidur lebih dulu. Ia bergegas ke kamar mandi.
Sementara Alea masih terdiam mematung di atas tempat tidur. Seolah apa yang di bicarakan oleh Adila hanyalah lelucon. Bagaimana bisa, ia di beri kepercayaan untuk mengelola hotel sebagus dan semewah itu.
Sembari menunggu Adila keluar, Alea meraih ponselnya, lalu mencoba menghubungi ibunga. Karena sesaat setelah pernikahan, ibunya menanyakan dimana keluarga Adila. Namun sang ibu tidak berani bertanya pada Alea saat di depan Adila.
Nada sambung mulai terdengar. Hingga setelah nada sambung kedua, suara ibunya terdengar dari ujung telpon. Suaranya yang lembut, menjadi ciri khas yang tidak bisa Alea lupakan.
"Iya nak. Kenapa?" Sapa ibunya dari ujung telpon.
"Lea tadi udah telponan sama ibu Adila. Dan beliau sudah tau kami menikah bu, beliau juga..."
"Memberikan hotel itu untuk kamu kan?" Ibu Alea langsung menyela perkataan Alea.
"Ko ibu tau?" Tanya Alea kaget. Hampir saja bola matanya jatuh dari kelopak mata, karena saking kaget nya.
"Tau dong. Barusan ibunya sudah telpon ibu. Dan kami bicara panjang lebar."
Mendengar perkataan ibunya, membuat Alea tidak percaya dan mengernyitkan dahinya bingung. Adila sama sekali tidak mengatakan jika ibunya meminta nomor ponsel ibu Alea.
__ADS_1
"Halo Lea, masih disana?" Suara ibunya kembali terdengar dari ujung telpon.
"Iya bu, Lea masih disini. Lea kaget, kok bisa ibu teleponan sama ibunya Adila? Lea sama sekali ngga kasih nomor telpon ibu loh."
"Kamu ini gimana sih, Adila kan punya nomor ibu. Mungkin Adila yang kasih nomornya." Ibunya terdiam sejenak. "Lea, bentar, adikmu nangis, ibu tutup telponya dulu, nanti kita sambung lagi." Ibu Alea lalu mengakhiri panggilanya begitu saja.
Disaat yang bersamaan, Adila baru saja keluar dari kamar mandi. Kali ini ia sudah memakai pakaian rapih, membuat ketampananya bertambah berkali-kali lipat.
"Loh, belum ganti baju?" Tanya Adila dengan wajah bingung.
Tanpa menjawab, Alea langsung berlarian ke kamar mandi. Senyuman manis terlihat dari wajah Adila, saat melihat tingkah lucu istrinya itu.
......................
Sudah satu jam mereka menunggu di restoran hotel. Namun sekretaris ibunya tak kunjung tiba. Adila sudah mencoba menghubunginya beberapa kali. Tapi tetap saja tidak ada jawaban.
"Kemana sih ini orang?!" Gumam Adila. Ia terus berusaha menghubungi Sekretaris ibunya itu.
Nafasnya tersenggal-senggal. Sembari memenahi kacamatanya, ia membungkuk pada Adila dan juga Alea. Tanda pemberian penghormatanya untuk Adila juga Alea.
Dari baunya, sepertinya pria itu baru tercebut got. Dari jarak seratus meter saja, sudah membuat kepala pusing mencium baunya. Apalagi Adila dan Alea saat ini, yang harus berhadapan denganya langsung.
Seluruh pengunjung restoran menatap dan berbisik pada teman di sebelah mereka. Tatapanya terus fokus pada sekretaris ibu Adila. Baunya yang menyengat, membuat selera makan pengunjung restoran itu menjadi hilang.
"Ikut saya!" Adila beranjak dari tempat duduknya, sembari mengandeng tangan Alea dan bergegas keluar. Ia tidak ingin, karena bau got yang semerbak, membuat pengunjung lain menjadi tidak nyaman.
Adila memilih berbicara di plataran parkiran hotel. Setidaknya, jika di tempat terbuka seperti ini, baunya tidak akan terlalu menyengat.
__ADS_1
"Katakan, apa alasan kamu terlambat, dan datang dengan bau got seperti ini." Tanya Adila, sembari mendelik kesal.
"Aaa....aaa...aaa...nu... Saya di seret sama ibu Alvi pak." Jawab pria itu gugup.
Lagi-lagi Alvi. Perempuan yang tidak tau malu, dan terus berusaha mengejar Adila, sampai melakukan hal yang tidak wajar seperti ini. Ia menghalalkan segala cara, agar Adila dan Alea tidak bisa hidup tenang karena ulahnya.
"Kenapa bisa di seret? Kamu bodoh apa bagaiamana?" Bentak Adila.
Bukanya mendapat pembelaan, sekretaris ibunya itu, malah dapat cecaran pertanyaan dari Adila.
"Jangan gitu. Kasian mas nya." Bisik Alea sembari mengusap punggung tangan suaminya itu.
"Untung istri saya masih baik sama kamu! Padahal dia sudah rela menahan lapar, hanya karena menunggu kamu yang telat datang!" Ucap Adila sembari menunjuk wajah sekretaris ibunya itu.
Pria malang itu, hahya menundukan kepalanya, tanpa berani menatap anak bos nya itu. Bekerja di keluarga Adila selama sepuluh tahun lamanya, membuat ia paham bagaimana sifat Adila.
"Maafkan saya pak, bu. Saya benar-benar tidak sengaja datang terlambat. Tadi saya sudah sampai setengah jalan, dan saya lupa membawa map yang bapak minta. Dan akhirnya saya kembali. Namun di tengah jalan, mobil bu Alvi menghadang mobil saya. Beliau memaksa saya untuk mengatakan dimana bapak saat ini. Dan saya tidak memberitahu bu Alvi. Tapi bu Alvi malah mendorong saya jatuh ke dalam got pak." Jelas pria itu panjang lebar.
"Ya ampun. Pantesan jidat bapak luka-luka. Bapak di obatin dulu aja." Alea merasa iba dengan pria di hadapanya ini. Karena ia sudah berusaha menjaga rahasia, dimana keberadaan Adila pada Alvi.
Kali ini, Adila tidak terlalu keras pada pegawainya, karena sikap Alea yang lembut. Ia berusaha mengimbangi istrinya itu.
"Ya sudah. Kamu pulang saja. Biar nanti saya yang urus. Jangan lupa, bersihkan pakaian mu dulu, sebelum kamu pulang." Ucap Adila. Akhirnya ia harus menunda penandatanganan surat pengambil alihan hotel untuk Alean.
"Terimakasih banyak pak, bu. Kalau begitu saya permisi." Setelah memberi hormat pada Adila dan Alea, ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Dengan wajah kesal, Adila meraih ponselnya, dan mulai menghubungi seseorang. Ia sengaja menghidupkan speaker telponya, agar Alea mendengar pembucaraan mereka.
__ADS_1
"Hai sayang. Aku tau, kamu pasti akan menghubungi ku lagi." Suara perempuan yang tidak asing di telinga Alea. Siapa lagi kalau bukan Alvi, mantan kekasih Adila.
"Hari ini kamu mungkin menang. Tapi kamu jangan lupa, kamu berurusan dengan Adila wijaya. Kamu tau kan, apa akibatnya jika bermain dengan ku?" Adila menyeringai bak seorang pemain antagonis. "Kamu akan hancur seperti selingkuhan kamu itu!"